
Kasus pak Rangga semakin mendekati titik terang dalam penyelidikan oleh Rey, dan Maura pun semakin dekat dengan Rey. Kedekatan Rey dengan Maura tidak luput dari perhatian Latya yang masih terbaring di atas kasur namun syukur nya Latya sudah di rumah Nisa saat ini, Latya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena memang sudah merasa pulih, hanya saja Latya harus rutin terapi kakinya.
Saat sewaktu-waktu Latya masih di rumah sakit dan tiba-tiba Maura datang sendirian dengan membawa kotak makan untuk ia berikan kepada Rey. Namun dia terlihat kecewa sekali karena waktu itu Rey sedang pergi bertugas, saat itu Latya sedang di temani oleh Nisa sebagai mertua nya karena Via dan Aris sudah kembali ke tempat tinggal mereka karena urusannya pekerjaan.
*Saat masih di rumah sakit*
"Emh Rey nya gak ada ya tante." gumamnya pelan terlihat kecewa.
'Sebenarnya dia itu mau jenguk aku atau mau lihat bang Rey sih?!' kesal Latya dalam hatinya.
'Bang Rey harus jaga jarak sama Maura, aku gak mau sampai bang Rey dekat dengan nya!' lanjut nya.
"Makasih ya Maura karena selalu nengokin aku ke sini. Tapi maaf bang Rey sibuk." ujar Latya mencoba untuk tenang.
"Apa sih Latya... Aku kan kesini memang mau jenguk kamu aja." kilah Maura dengan salah tingkah nya.
'Bohong kamu Maura, bilang aja kamu memang mau lihat bang Rey dengan alasan jenguk aku.' geram Latya dalam hatinya namun Latya tersenyum tipis menatap Maura walaupun hatinya sangat kesal.
'Maura... Maura kamu kalau jadi Pinokio hidung kamu pasti sekarang sudah panjang karena kebanyakan bohong!' senyum sinis Latya melihat nya.
"Ini aku titip untuk Rey ya, ini bukan apa-apa kok hanya mau bilang terima kasih sama Rey karena dia selalu membantu aku." ujar nya malu-malu.
"Oh ya nanti aku akan sampaikan dan aku kasihkan sama bang Rey ya." balas Latya menahan rasa cemburunya.
"Terima kasih ya Latya, emh ini udah sore aku pamit ya. Kamu cepat sembuh." ucapnya manis semanis gula buatan yang terasa ada pahitnya yang di rasakan Latya.
"Oh ya, maaf sudah merepotkan!" sungkan Latya berucap.
Setelah kepergian Maura Latya menghirup napas nya panjang. "Bang Rey kamu kasih apa sih sampai-sampai banyak perempuan yang ingin mendekati kamu, lalu perlakuan apa yang kamu kasih sama Maura sehingga dia menginginkan kamu." gumam Latya kesal.
"Aku bisa tambah sakit kalau terus-terusan di jenguk oleh Maura!" gerutu nya sebal. "Aku harus pulang dan istirahat di rumah saja." gumam nya.
Nah setelah kejadian itu Latya terus saja meminta dokter agar ia bisa di ijinkan untuk pulang dan beristirahat di rumah saja. dengan syarat Latya harus cepat pulih dan dengan upaya yang kuat dan tekad yang bulat Latya berusaha untuk bisa secepatnya pulih dan bisa pulang ke rumah.
***
Rey pulang ketika malam tiba, ia melihat istrinya sudah terlelap dengan damai di ranjang yang ia sering tiduri membuat Rey merasa tenang karena istrinya itu sudah pulang ke rumah.
__ADS_1
Di lihat nya wajah cantik dengan lampu kamar yang menyala sedikit temaram itu, lalu di kecup nya kening Latya dengan lembut, menghirup aroma tubuh istrinya yang sekarang ini ia selalu rindukan.
"Aku sayang kamu." bisik nya tepat di telinga Latya membuat Latya mengerakkan kepalanya karena merasa geli akan hembusan napas Rey yang menyentuh telinga membuat Rey kelabakan untuk mencari alasan apa saat istrinya bangun dan menanyakan sedang apa yang ia lakukan.
Namun Rey menghembuskan napas nya lega istrinya itu tidak sampai bangun tapi hanya bergumam saja. Rey tersenyum. "Untung dia tidak bangun!" gumam nya.
Lalu ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket itu.
Setelah selesai membersihkan dirinya ia langsung pergi tidur dan curi-curi pelukan pada Latya.
Rey malam ini benar-benar lelah dengan pekerjaannya. Dan esok pagi ia akan menangkap pelaku itu karena Rey sudah menemukan siapa pelaku atas kasus pembunuhan pak Rangga dan pelaku yang membuat Latya mengalami kecelakaan.
flash back
"Maura aku punya ide untuk menjebak asisten pak Rangga, apa kamu memiliki sesuatu yang bisa selalu di bawa oleh asisten papa mu itu?" tanya Rey serius.
Maura berpikir sejenak ia mencari tahu apa yang selalu di pakai atau di gunakan oleh asisten papanya itu. "Hemm aku gak tahu Rey, karena aku tidak pernah memperhatikan asisten papa." sesalnya.
Rey pun berpikir. Lalu tak lama ia tersenyum tipis. "Pulpen!" ucap Rey membuat Maura mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maksud kamu sebuah pulpen? Bagaimana caranya kita bisa mendapatkan informasi melalui sebuah pulpen?" Maura bingung dengan ide Rey tersebut.
"Bagaimana caranya?" tanya Maura semakin tidak mengerti. "Emh apa ini pulpen papa bisa membantu?" tanyanya penuh harap.
"Iya ini sepertinya akan membantu kita. Ok kita akan mulai ya." ucap Rey dengan santai.
"Dre elu pasang perekam di sini!" titah Rey pada Andre yang paham akan pekerjaan yang di perintahkan oleh Rey.
"Ok siap!" sahut Andre.
Andre menempelkan sebuah perekam suara yang berbentuk sangat tipis di bagian atas pulpen, perekam itu sudah di siapkan oleh Rey sebelum mereka menemui Maura. Perekam suara itu di desain secara khusus agar bisa mendengar percakapan sekaligus untuk merekam apa yang di bicarakan oleh orang yang membawa nya.
Setelah selesai Rey menyuruh Maura untuk meyakinkan asisten pak Rangga itu untuk selalu membawa dan menggunakan pulpen tersebut.
"Bagaimana bisa Rey aku meyakinkan asisten papa, bagaimana kalau dia curiga dan bisa saja dia jadi lebih berhati-hati." ucap Maura khawatir terjadi seperti itu.
"Aku yakin kamu bisa, aku harap kamu bisa meyakinkan asisten pak Rangga itu, agar kita bisa dengan cepat menangkap pelaku yang sesungguhnya." Rey dengan lembut dan pelan meyakinkan Maura agar ia bisa asisten itu bisa masuk perangkap nya.
__ADS_1
Maura yang diberikan semangat oleh Rey laki-laki yang ia sukai membuat dirinya menjadi lebih semangat dan percaya diri. "Ok Rey aku bisa!" ucapnya mantap.
"Bagus!" Rey tersenyum lega.
Rey dan rekan nya pergi kembali ke kantor untuk menyempurnakan penyelidikan itu sedangkan Maura mencoba untuk bete dengan asisten papanya untuk bisa membuat asisten itu tidak curiga padanya yang tengah menyelidiki dia apa ada hubungannya dengan kasus pembunuhan papa nya itu atau tidak.
"Jika kamu memang ada hubungannya dengan meninggal nya papaku, aku berjanji aku tidak akan pernah memaafkan mu!" janji Maura dengan kesal jika itu benar.
Kini Maura sedang menunggu asisten papanya itu, untuk melancarkan aksinya bersama Rey.
"Selamat siang nona Maura apa kabar?" tanya Semi asisten papa nya itu berbasa-basi membuat eneg bagi Maura jika memang Semi ada hubungannya nya dengan papanya.
"Begini pak Semi aku ingin menyampaikan sesuatu padamu!" ucapnya lembut seperti tidak ada kebencian agar ia tidak di curigai.
"Apa yang ingin nona sampaikan?" tanyanya penasaran.
Maura mengeluarkan sebuah pulpen milik papa nya yang berharga lumayan tidak seperti pulpen biasanya. "Ini." serahnya Maura pada Semi.
Semi mengerutkan keningnya. "Saya tidak mengerti nona?" tanyanya heran.
"Pulpen ini untuk anda gunakan pak Semi, anda tahu kan ini pulpen kesayangan papa, papa sering sekali menggunakan pulpen ini untuk di pakai, jadi aku pinta pergunakan pulpen itu untuk kepentingan perusahaan seperti menandatangani atau apapun yang berhubungan dengan perusahaan, ya kamu bisa gunakan yang lain pun terserah asalkan pulpen itu jangan sampai hilang!" ucap Maura semakin membuat Semi merasa heran.
Semi tersenyum aneh membuat Maura sedikit panik karena bisa gagal rencana Rey dan kepolisian lainnya jika Semi menolak untuk menggunakan pulpen itu. Memang terasa aneh tapi semoga rencana ini bisa berhasil dengan lancar.
"Kenapa? Kamu seperti nya bingung?"
"Ya saya bingung kenapa nona mempercayai saya untuk menggunakan nya padahal anda tahu jika harga sebuah pulpen itu sangat lah mahal. Apa nona tidak takut jika saya pergunakan nya lalu hilang?" tanyanya membuat Maura bingung untuk menjawab namun dengan tenang Maura pun mencari alasan yang tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ya saya percaya karena kamu adalah asisten papa, orang kepercayaan papa selama ini, jadi apa salahnya saya memberikan kepercayaan itu lagi kepada anda!" ucapnya santai.
Semi tersenyum. "Baiklah jika itu alasan nya, saya akan menggunakan nya untuk di gunakan oleh perusahaan." dengan bodohnya Semi tidak mencurigai Maura yang setengah mati dengan detak jantung yang sangat kencang, ia takut jika Semi akan menolak nya lalu ia mencurigai Maura.
Maura mengatur nafasnya menjadi lebih lega. "Ok Pak Semi, tapi ingat jangan sampai hilang itu peninggalan papa yang sangat berharga untuk ku." ucapnya serius.
"Baik nona terimakasih sudah mempercayakan saya lagi sebagai penanggung jawab perusahaan sementara ini." ujarnya polos.
"Baik." Maura dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Semoga ini akan menjadi jalan untuk bisa menemukan pelaku itu." gumam Maura penuh harap. Melihat Semi keluar dari ruangan papa nya.