Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
sebuah ancaman


__ADS_3

Cekrek... cekrek... cekrek. Suara gagang pintu terdengar di sana saat Rey menggoyang-goyangkan, namun pintu kamar itu terkunci dari dalam.


"Hemmm di kunci." gumam Rey sedikit kecewa padahal ia berharap jika pintu nya di biarkan tidak terkunci.


Rey berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan agar Latya bisa tidur di kamar nya setiap malam, namun dia tidak mau sampai Latya tahu jika Rey menginginkan hal itu, gengsi dong!


Rey tersenyum simpul merasa mendapatkan sebuah ide agar istrinya bisa tidur bersamanya tanpa Latya ketahui jika suami nya itu lah yang akan membuat nya tidak tidur terpisah seperti ini.


Rey pun menuruni tangga, ia berniat menemui bundanya untuk meminta kunci cadangan.


"Bunda belum tidur?" tanya Rey saat ia melihat ibunya yang masih betah menonton televisi.


"Hemm belum, ada apa Rey?" tanya Nisa balik seraya memutar pandangan nya ke arah Rey yang berdiri di belakangnya.


"Emh aku mau minta kunci cadangan kamar yang dulu Latya tempati boleh?" pintanya ragu.


"Kunci cadangan? Untuk apa Rey?" tanya Nisa penasaran.


"Emh itu... anu... emh Latya tidur di sana, aku mau bangunkan dia tapi pintu nya terkunci dan takut ganggu juga sih kalau dia sudah tidur." ujar Rey menjelaskan kenapa ia meminta kunci cadangan pada Nisa.


"Kenapa Latya tidur di sana, apa kalian bertengkar?" tanya Nisa dengan selidik.


"Emh gak! Rey tidak ada masalah kok dengan Latya, tapi mungkin Latya kangen pada kamar lamanya." kilah Rey agar Nisa percaya padanya.


"Oh gitu, ya udah bunda ambil dulu ya kuncinya." ucap Nisa seraya pergi ke kamarnya. Dan Rey menunggu ibunya itu mengambil kunci.


Tak lama Nisa pun keluar dari kamarnya lalu memberikan kunci cadangan itu pada Rey. "Ini." Nisa memberikannya lalu Rey mengambilnya dengan senyum puas menghampiri nya.


"Makasih bunda." ucap Rey dengan nada terdengar bahagia.


Nisa tersenyum melihat tingkah laku Rey. "Hemm dasar pengantin baru bilang saja gak mau tidur berjauhan pake alasan begitu lagi." gumam Nisa.


Adam menghampiri Nisa yang tidak sadar akan keberadaan nya dan melihat Nisa tengah senyum sendiri dengan tatapan mengarah ke arah tangga. "Ada apa bunda kok senyum-senyum begitu?" heran Adam melihat istrinya itu.


"Rey, anak kamu ayah malu-malu meong. Dia minta kunci cadangan kamar Latya yang dulu, sekarang Latya sedang tidur di kamar itu. Ketahuan banget anakmu itu yah dia gak mau tidur sendirian di kamarnya." jelas Nisa pada membuat Adam mengerutkan keningnya.


"Kenapa Latya bisa tidur di kamar itu lagi?" tanyanya heran.


"Rey bilang karena Latya kangen sama kamarnya yang dulu." jawab Nisa tidak ada masalah.


"Tunggu! Bukannya bunda suka bilang kalau kamar Latya itu sering berantakan?" tanya Adam mengingatkan pada cerita Nisa yang membuat dirinya heran karena kamar itu selalu kurang rapi padahal kamar itu kosong. "Apa jangan-jangan Rey dan Latya selama ini tidak pernah tidur satu kamar?" sambung Adam meyakinkan hal itu.


Nisa terdiam mengingat nya. "Benar juga ya, jadi selama ini mereka tidur terpisah? Wah ini harus kita bicarakan dengan mereka, gak bisa di biarkan! Masa iya suami istri tidur terpisah begitu?" heran Nisa semakin yakin jika antara Rey dan Latya tidak pernah tidur sekamar selama ini dan Nisa juga pernah mengingat saat malam pertama Rey dak juga Latya, ketika pagi itu Latya sudah berada di depan pintu kamar Rey dan Nisa pun mendengar jika Latya mengetuk pintu kamar Rey itu dengan memanggil nama Rey.

__ADS_1


"Ya kita harus membuat mereka tidur bersama bun, gak baik kan suami istri begitu. Walaupun pernikahan mereka belum resmi di negara dan juga kantor tapi kan secara agama mereka sudah sah." ujar Adam meyakinkan Nisa agar ia membantu anak dan mantu nya mengerti akan suatu hubungan berumah tangga.


Sedangkan di kamar dimana Latya tertidur, ia tidak sadar jika Rey sudah berada di dalam ruangan itu dan kini Rey sedang memandang wajah Latya yang sedang terlelap itu.


Rey tersenyum melihatnya lalu ia duduk di tepi ranjang dekat dengan posisi Latya yang sedang tertidur. Melihat nya sedang tertidur pulas membuat Rey bebas untuk menatap Latya dengan penuh perasaan.


"Kamu pasti capek karena tadi Abang sudah mengajak kamu berkeliling karena tersesat." gumam nya seraya mengelus wajah cantik Latya dengan begitu lembut takut membuat dia bangun.


Dan memang benar saja Latya bergumam pelan saat Rey mengusap nya. "Hemm pergi sana hus hus hus." gumam Latya mengusir dengan pelan dan kedua matanya yang masih terpejam sempurna.


Rey yang refleks karena terkejut pun tersenyum lega karena istrinya itu hanya bermimpi saja. Dengan pelan Rey mengangkat tubuh Latya ia berniat untuk membawa ke kamar nya.


"Uh dasar kebo!" ejek Rey melihat istrinya tidak terbangun saat ia di gendong masuk ke kamarnya.


Rey tidur di samping Latya dengan senyum tipisnya. "Kamu bakalan kaget setelah esok pagi kamu sudah berada di kamar ku." ucap Rey pelan menatap wajah Latya yang sedang tidur dalam posisi miring menghadap Rey yang menatapnya.


***


Pagi harinya Latya terbangun dari tidurnya manakala ada sesuatu yang ia peluk dengan begitu hangat dan terdengar hembusan nafasnya. Posisi Latya kini tengah memeluk Rey dengan kepala Rey yang menelusup pada dada Latya yang hangat dan juga empuk itu. Dan Latya memeluk Rey dengan begitu nyaman nya seakan dia sedang memeluk boneka kesayangan.


Latya menundukkan wajahnya ke bawah dimana Rey tengah terlelap dengan nyaman di dada Latya itu.


Latya melototkan kedua matanya karena terkejut apa yang dilakukan nya pagi ini, dan lebih terkejut nya kenapa dia bisa tidur di kamar Rey sedangkan ia mengingat semalam dirinya itu tengah tidur di kamar lama nya dan pintu pun terkunci dari dalam.


"Huh kesempatan deh kamu bang! Untung nya kamu lagi tidur coba kalau kamu lagi sadar aku jitak kamu bang!" gumam nya kesal penuh ancaman.


"Coba saja!" balas Rey dengan suara pelan sedangkan kedua matanya masih terpejam membuat Latya mengjingkrak karena terkejut.


"Abang udah bangun?" tanyanya gugup.


"Aku belum bangun, tapi dia sudah bangun dari tadi." sahutnya tanpa sadar. Rey tadi hanya berpura-pura tidur saat Latya memindahkan nya.


"Apa maksudnya?" Latya mengerutkan keningnya bingung apa yang di ucapkan Rey. "Apanya yang sudah bangun?" tanya Latya polos.


Rey tiba-tiba membuka kedua matanya dan melotot pada Latya membuat Latya takut. "Kenapa Abang melototi aku?" tanya Latya takut.


Rey menetralisirkan hatinya yang terkejut karena ucapannya yang hampir mengarah ke arah yang tidak akan Latya ketahui. "Hemm gak apa-apa!" ucapnya datar.


***


"Hallo bos sepertinya keamanan pihak kepolisian kini di perketat, kami sudah mendapatkan informasi jika di kantor dimana penyelidikan kasus pak Rangga tidak bisa semua orang masuk kesana hanya para karyawan nya lah yang bisa masuk kesana." terang salah satu anak buah dari pelaku tersangka atas kematian Rangga.


Si pelaku tampak geram mendengar nya. "Apa kasus itu masih di selidiki?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya bos, sepertinya ancaman kita tempo lalu tidak membuat polisi muda itu takut, malah dia semakin menunjukkan dan mencari bukti lain yang dapat menguatkan jika kasus ini kasus pembunuhan." ujarnya menjelaskan.


Si pelaku semakin marah. "Berengsek polisi itu, dia berani sekali melawan ku!" ucapnya penuh dengan emosi. "Kamu cari tahu kelemahan dia, cari tahu tentang keluarga nya atau orang yang paling dekat dengan nya saat ini. Dan pastikan jika hal itu akan membuat nya menghentikan penyelidikan ini." ucapnya memerintahkan pada anak buahnya itu.


"Siap bos akan saya lakukan apa yang anda perintahkan."


"Bagus!"


"Lihat saja kamu polisi muda, saya akan membuat kamu menghentikan kasus ini dan kamu akan kehilangan orang-orang yang sangat kamu cintai!" ucap si pelaku dengan nada penuh ancaman sesaat telepon sudah ia matikan.


"Tidak ada satu orang pun yang berani melawan saya apalagi kamu yang hanyalah seorang polisi muda yang belum tahu bagaimana saya melakukan segala sesuatu tanpa ada belas kasih!" sambung nya dengan wajah jahatnya.


Tak lama si pelaku itu pun mendapatkan apa yang ia mau. Sebuah informasi tentang Rey dan juga keluarga nya. Si pelaku tersenyum senang.


"Ayok polisi muda saya akan mengajak kamu bermain-main." ucapnya dengan senyum sinis nya.


Setelah ia menerima informasi itu ia oun memerintahkan anak buahnya itu untuk melakukan apa yang dia mau. Setelah memerintahkan pada anak buahnya si pelaku menelpon pada nomor Rey yang ia dapatkan dari anak buah nya itu.


"Hallo pak polisi muda?" ucapnya santai. "Anda tahu anda sudah salah membuat masalah dengan saya. Anda pikir saya akan diam saja? Saya sudah mengingatkan pada anda pak polisi muda." ucapnya.


"Siapa anda?" tanya Rey penasaran.


si pelaku tersenyum. "Jangan pura-pura bodoh Briptu Rey, anda adalah orang yang berani melawan saya, saya minta untuk menghentikan penyelidikan kasus kematian pak Rangga, apa ancaman saya kurang membuat anda bisa menghentikan nya?"


"Oh jadi anda adalah pelaku yang akan saya tangkap karena kasus pembunuhan itu? Siapkan diri anda baik-baik nyonya karena sebentar lagi anda akan saya masukan kedalam penjara dan menerima hukuman seadil-adilnya!" ucap Rey dengan nada serius.


"Oh anda mengancam saya?" si pelaku tersulut emosi mendengar ancaman Rey. "Briptu Rey anda harus tahu jika Anda masih saja menyelidiki kasus ini saya akan membuat orang yang anda sayangi menerima apa yang sudah anda perbuat!" ancamnya tidak main-main.


"Silahkan saja saya tidak akan takut dengan ancaman anda ini, anda pikir saya akan percaya begitu saja?" telak Rey membuat si pelaku semakin marah.


"Baiklah jika itu yang anda mau Briptu Rey, anda akan menyesal dengan apa yang anda lakukan karena sudah membuat saya marah dan terusik." ucapnya lagi.


"Anda tahu saya sekarang sedang memperhatikan salah satu perempuan yang akan menjadi korban kesombongan anda polisi muda dan saya akan pastikan anda akan menyesalinya!" Tut panggilan terputus.


Ucapan yang penuh dengan ancaman itu membuat Rey sedikit terusik depan ancaman itu. "Sepertinya dia tidak main-main. Aku harus waspada! Tapi....apa maksudnya? Korban kesombongan? Perempuan?" ejah Rey tidak mengerti.


Rey pun langsung menelpon Nisa ibunya karena si pelaku mengatakan jika dia sedang memperhatikan seorang perempuan apa benar perempuan itu ibu nya? Rey mulai terpancing dengan ancaman dia.


Setelah menelepon Nisa Rey merasa lega karena kini ibunya sedang bersama Adam ayah nya, bundanya bilang jika dia dan Rio tengah menemani ayahnya bertemu dengan para komisaris rekan dari Adam di acara pertemuan santai mereka.


Namun setelah sadar ia baru teringat jika sore ini dia tidak bisa pulang bersama Latya karena dirinya sedang ada pekerjaan yang berhubungan dengan kasus yang sedang ia tangani.


Dengan mimik muka panik Rey tiba-tiba mengingat istrinya itu. "Latya?" ucapnya panik.

__ADS_1


__ADS_2