
Setelah menyuruh asisten Rangga tentang ruangan yang jangan sampai ada yang memasuki, mereka pun dengan cepat membawa Rangga ke rumah sakit, ya siapa tahu Rangga masih bisa di selamatkan jika sebuah mukjizat datang pada keluarga Rangga.
Sesampainya di rumah sakit Rangga langsung di bawa oleh para petugas medis untuk segera di cek apa dia masih bisa di selamatkan atau tidak. Rahma, Maura dan juga Rey menunggu di ruang tunggu dengan hati yang cemas. Sedangkan Maura ia masih menangis, menangisi papanya dengan keadaan seperti itu.
Tak lama dokter yang menangani Rangga pun keluar, dengan segera Rahma dan Maura menanyakan keadaan Rangga, Rey ikut berdiri di samping Maura.
"Bagaimana keadaan papa saya dok?" tanya Maura cepat saat ia melihat dokter yang menangani papanya keluar ruangan.
"Mohon maaf, saya dan juga petugas medis yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien sudah tidak bisa di tolong lagi, karena racun yang sangat berbahaya masuk ke dalam tubuhnya itu. Kemungkinan yang saya tahu pasien meminum racun *******, racun itu sungguh sangat berbahaya. Apa pasien memiliki riwayat depresi? Sehingga ingin mengakhiri hidupnya?" ucap dokter menjelaskan bagaimana kondisi Rangga.
"Kami tidak tahu dok, tapi kami merasa dia baik-baik saja saat berbicara dengan kami tidak menunjukkan apa om saya itu sedang mengalami depresi. Dan sepertinya juga om saya tidak akan melakukan hal seperti itu walaupun dia memiliki masalah." ujar Rahma tidak percaya jika om nya berniat untuk bunuh diri.
Maura menangis histeris mendengar jika papa nya sudah tiada. "Papa..." teriak nya histeris. "Papa gak boleh tinggalkan aku... aku sendirian pa. Jangan tinggalkan aku." teriaknya.
Tak lama setelah ia berteriak histeris ia pun pingsan karena tidak bisa menahan kesedihannya, untung nya Rey berdiri di samping Maura, dengan cepat Rey menangkap dan menahan tubuh Maura yang lemah itu. Lalu Rey membawa Maura ke dalam ruangan untuk di periksa.
Rahma dan Rey kini menunggu Maura yang sedang di periksa oleh petugas medis. Rahma terlihat panik dan juga sedih, karena Rangga yang meninggal dan Maura yang tidak sadarkan diri.
Kini Rahma dan Rey sudah berada di dalam ruangan dimana Maura di rawat, Maura yang masih belum pulih dari keterkejutan nya. Rey menatap wajah cantik namun pucat itu. lalu ia menghela nafasnya panjang.
"Rey, maaf ya tante sudah merepotkan kamu." lirih Rahma tidak enak hati.
Rey tersenyum tipis. "Tidak apa-apa tante." balas nya.
Rahma menatap ke arah Maura. "Maura pasti sangat kehilangan papa yang ia sayangi, papa nya lah yang selalu ada untuk Maura. Dia pasti sangat terpukul atas kematian papanya. Apalagi dengan kondisi Maura yang sangat lemah." ucap Rahma merasa sedih dengan keadaan keponakannya itu. "Kamu tahu Rey Maura memiliki penyakit bawaan yang mungkin sulit untuk di sembuhkan, papanya lah yang selalu memberikan semangat untuk nya. Tapi sekarang papa nya sudah meninggal tante takut meninggal papanya akan membuat kondisi Maura menurun." Rahma dengan berucap dengan menahan tangan Isak tangisnya.
"Tante harus sabar ya, Maura butuh tante sekarang." ucap Rey menguatkan Rahma.
"Iya benar kamu Rey, Maura butuh tante sekarang, karena tante lah keluarga Maura satu-satunya." jawab Rahma seraya menyeka air matanya yang jatuh.
"Soal meninggal nya pak Rangga biar Rey saja yang urus, apa tante tidak keberatan jika kasus ini di selidiki lebih dalam?" tanya Rey memastikan mendapatkan ijin dari keluarga Rangga.
"Iya Rey terserah kamu, bagaimana baiknya saja, tante ijinkan kamu untuk menyelidiki kasus ini, tante juga merasa jika kepergian papanya Maura itu ada unsur kesengajaan. Ya walaupun tante percaya dengan takdir. Tapi apa salahnya kan jika kita mencari kebenaran nya." ujar Rahma yakin.
Rey mengangguk. "Iya, tante benar." jawabnya.
***
Latya menuruni tangga, ia mencoba mencari Rey apa dia sudah pulang atau belum. Namun setelah ia kebawah ia tidak menemukan Rey di sana hanya ada Nisa saja yang sedang memperhatikan nya.
__ADS_1
Dengan malu dan ragu Latya menanyakan keberadaan Rey pada mertuanya itu.
"Emh... bunda apa bang Rey sudah pulang?' tanya nya.
"Belum sayang, ini Rey baru saja telpon bunda, kalau dia akan pulang agak malam.' jawab Nisa namun belum beres Nisa menjawab Latya langsung memberikan pertanyaan lagi pada Nisa.
"Kenapa bang Rey pulang malam? Memang nya rumah Maura jauh sampai harus pulang terlambat." tanya nya dengan wajah cemberut. Latya tiba-tiba merasa semakin kesal.
Nisa tersenyum. "Rey bilang Maura tadi pingsan dan dia di bawa ke rumah sakit, Rey sekarang lagi nunggu di rumah sakit nememin tante Rahma." ujar Nisa menjelaskan.
"Kenapa bang Rey mesti nunggu di sana, kan pasti ada keluarga Maura yang tanganin." sebal Latya berucap.
"Kamu cemburu?" tanya Nisa menggoda Latya.
Latya salah tingkah. "Enggak! Siapa yang cemburu." aku nya. "Aku ke kamar ya Bun." ijinnya dengan cepat seraya menaiki tangga dengan terburu-buru.
"Latya... pelan-pelan kalau naik tangga." omel Nisa melihat mantunya itu.
"Dasar anak muda sekarang, kalau cemburu jawab aja cemburu." Nisa menggelengkan kepalanya. Lalu ia berpikir. "Emh ada kejadian apa ya, kok bisa Maura pingsan?" batin Nisa penasaran karena saat di telpon Rey tidak bicara apapun kenapa Maura bisa pingsan.
Di dalam kamar Rey dimana Latya kini tengah kesal pada suaminya itu. "Ah kalau saja bunda kasih ijin aku tidur di kamar aku, aku malas masuk kamar bang Rey. Sungguh menyebalkan!" gerutu nya.
"Aku harus di sini dulu sampai bunda tidur." kesal nya.
Ia pun melihat sekeliling kamar dan menemukan buku yang tadi Rey belikan untuk nya lalu dengan senang Latya meraih buku itu dan mempelajarinya.
Duduk di atas ranjang yang sering Rey pakai. "Ah nyaman sekali kasur ini kalau gak ada bang Rey nya." gumamnya cekikikan.
"Aku pinjam dulu ya bang Rey kasurnya, nanti setelah di luar aman aku akan masuk ke kamarku." ucapnya dengan menyunggingkan senyuman.
"Aku akan membuat kamar bang Rey berantakan! Karena bang Rey sudah buat aku kezzel!" ucapnya dengan senyum jahat menghiasi bibirnya karena Rey sudah membuat dirinya kesal.
Latya membuka buku halaman demi halaman, pindah tempat duduk dimana ia merasa nyaman, sampai akhirnya ia tertidur di kamar Rey karena lelah membaca buku yang di berikan Rey.
Pukul 22.30 malam, Rey baru saja sampai di depan rumahnya, lalu mengetuk pintu, dan Nisa yang membuka pintu tersebut, karena Nisa sengaja menunggu Rey pulang. Ia sungguh penasaran apa yang terjadi, sampai Maura jatuh pingsan. Tadi Nisa ingat tentang penyakit yang Maura derita. Sedangkan Rahma dia tidak membalas pesan atau pun panggilan telepon dari Nisa.
"Rey kamu sudah pulang? Apa yang terjadi? Kenapa Maura bisa pingsan? Apa tante Rahma baik-baik saja?" serentetan pertanyaan di lontarkan oleh Nisa pada Rey yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bunda banyak sekali pertanyaan yang bunda tanyakan." ucap Rey kesal.
__ADS_1
"Bunda penasaran, Rey..." seru Nisa.
"Nanti akan aku jelaskan, Latya mana?" tanya Rey, dia malah menanyakan keberadaan istri kecil nya.
"Latya sudah masuk kamar dari tadi, sepertinya dia cemburu karena kamu anterin Maura pulang sampai malam begini." ujar Nisa memberi bagaimana Latya.
Rey tersenyum tipis mendengar ucapan ibunya itu namun tidak memperlihatkan jika dia saat ini sedang bahagia karena di cemburui.
Lalu Rey pun menceritakan apa yang terjadi tentang kejadian yang terjadi pada keluarga sahabat bundanya itu.
"Apa? Kamu serius Rey?" tanya Nisa terkejut mendengar kabar Rangga yang baru saja meninggal. Sungguh ia tidak percaya jika pak Rangga yang dulu mengejar nya meninggal secara tidak wajar.
"Iya Bun aku lihat dengan mata ku sendiri." ujar Rey dengan menghela nafasnya berat.
Dan tante Rahma pun sudah meminta Rey dan pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini." sambung Rey.
"Emh kasihan sekali Maura ya, dia pasti sangat terpukul karena papanya sekarang sudah meninggal." Nisa merasa sangat kasihan pada Maura, apalagi Nisa sudah tahu bagaimana cerita kehidupan Maura.
"Ya semoga apa yang kita pikirkan tidak seperti yg kita pikirkan, tapi karena kematian pak Rangga itu sangat tidak masuk akal yang membuat kita yang melihat nya tidak percaya jika papanya Maura meninggal karena bunuh diri." ucap Rey merasa ada yang janggal.
Nisa mengangguk tanda mengerti. "Ya sudah kamu istirahat sekarang. Kamu belum istirahat dari kan pulang kerja." titah Nisa.
Rey mengangguk. "Aku kamar duluan ya, bunda juga istirahat." ucap Rey lembut dan di iyakan oleh Nisa.
Rey langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Lalu membuka pintu itu dengan pelan. Ia melihat Latya tidur di sofa yang ada di kamar Rey dengan buku yang ia baca di atas dadanya, sebelumnya Latya duduk di sofa sambil membaca bukunya.
Rey tersenyum melihatnya. Lalu ia membersihkan dirinya dan berganti pakaian nya, setelah membersihkan dirinya melihat Latya yang masih belum ganti posisi dari pertama Rey melihat, membuat Rey menghela nafasnya panjang. "Kamu itu tidur apa mati?" senyum Rey mengembang melihat istrinya tertidur.
Lalu dengan cepat ia menggendong tubuh Latya, memindahkan nya pada kasur, Rey tidak tega melihat istrinya tidur di sofa.
Saat Rey menggendong tidak ada reaksi dari Latya, ia masih saja tidak bergeming dari tidurnya. Dengan pelan Rey memindahkan tubuh Latya dari gendongan nya ke atas kasur. Namun ntah apa yang ia injak sehingga membuat tubuh Rey tak seimbang sehingga ia pun jatuh dengan wajah Rey menabrak tepat di dada empuk Latya yang sudah di baringkan oleh nya di kasur tadi.
Pluk... tubuh nya jatuh dan wajah membenam pada empuk dan hangatnya nya dada Latya yang terlelap dari tidurnya. Sehingga irama jantung Latya pun terdengar di telinga Rey yang masih terkejut dan takut dengan posisinya masih wajah di benamkan dari dada Latya.
"Ah kenapa jatuh nya pas begini sih?" rutuk nya dalam hati antara suka dan tidak suka.
Dengan pelan Rey mengangkat kepalanya yang terbenam di tangga itu dengan memicingkan kedua matanya mengarah ke arah wajah Latya yang ia lihat dari bawah wajah nya.
"Untung... untung. Aman! selamat." lega nya dalam hati karena Latya tidak mengetahui kejadian barusan.
__ADS_1
"Untung dia gak bangun!" gumam nya lega. Namun yang di bawah sana tiba-tiba bangun berdiri menantang.
Sebagai laki-laki normal Rey pun pasti akan merasakan apa yang di rasakan laki-laki dewasa lainnya. "Aduh Rey kenapa otak elu jadi kotor begini? Otak gue traveling kemana-mana nih!" kesal nya. Lalu ia pun dengan cepat berlari ke kamar mandi menuntaskan apa yang harus dituntaskan. Yaitu mandi air dingin di tengah malam yang dingin, mengguyur kepalanya yang tiba-tiba panas.