
"Eh tunggu!" gumam Rey saat ia mengingat jika hari ini Latya akan pulang ke rumah orang tuanya. "Ya ampun kenapa gue bisa lupa sih!" kesalnya menghentikan langkahnya. Dengan cepat ia pun meraih handphone yang ada di saku nya berniat untuk menelpon Latya, namun lama ia berpikir seakan ragu untuk menelpon istrinya itu. "Gue telpon Latya gak ya?" batinnya penuh keraguan. "Kalau gue telpon, gue kan lagi hindari pertemuan gue sama Latya sebelum masalah gue sama Maura selesai, setelah selesai gue akan langsung menemui istri kesayangan gue!" ucapnya dengan manggut-manggut mantap.
"Maaf ya Latya Abang harus menjaga jarak dulu, Abang gak mau lihat kamu nangis terus karena berpikir Abang akan pilih Maura." batin nya merasa bersalah. "Abang janji setelah masalah kita selesai satu persatu Abang akan jemput kamu pulang, kita akan hidup bersama lagi tanpa ada bayang-bayang pengganggu di rumah tangga kita." sambungnya.
Di tempat Latya kini Latya sedang berada di dalam pesawat, ia baru saja masuk dan mencari tempat duduknya. Sebelum pesawat terbang, Latya mengecek kembali handphone nya, ia berharap ada pesan dari Rey. Namun rasa kecewanya hadir kembali karena Rey tidak kunjung mengabarkan atau sekedar bertanya bagaimana keadaan istrinya itu.
Latya menghela nafasnya panjang merasa kecewa yang Rey berikan, padahal dirinya kini akan pulang dan mungkin takkan kembali, jika suami nya itu selalu bersikap seperti itu. "Hah." Latya menghirup nafas nya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan-lahan menetralisirkan hatinya agar dia tidak menangis, malu rasanya jika di tempat umum seperti ini ia menangis.
Namun Latya tidak sadar saat dirinya menghela nafasnya terus menerus seseorang yang berada di sampingnya yang tidak jauh darinya dan sama-sama menjadi penumpang dengan satu pesawat yang sama. ntahlah dia siapa yang pasti dia seorang laki-laki muda dan tampan, tapi Latya tidak memperhatikan nya selama di dalam pesawat.
Tak lama hanya cukup satu setengah jam Latya sampai di tempat dimana kedua orang tuanya tinggal, ia melihat sekeliling kota dimana ia tumbuh dengan dewasa, tiga bulan berada di Jakarta rasanya rindu sekali dengan kota yang sudah lama ia tidak tinggali.
"Emh... kotaku aku datang..." seru Latya dengan semangat karena ia bisa kembali ke tempat dimana kedua orang tuanya tinggal. Melupakan sejenak ingatan pada Rey yang anggap tidak pernah ia kenal. Kini Latya baru saja turun dari pesawat berjalan menuju bandara.
"Bang Rey selamat tinggal!" ucapnya lirih. Latya berpikir mungkin Rey memang akan menceraikan nya dan mencoba menjauhi Latya secara bertahap dengan pelan namun pasti.
Dengan menyeret sebuah koper di tangan nya, namun pikiran nya masih di Jakarta, memikirkan Rey, mungkin sekarang pasti sedang menemani Maura, membuat dirinya kesal dan tidak sadar jika ada seseorang yang ada di depannya sedang berjalan. Melangkah dengan pandangan menunduk sedangkan laki-laki yang ada di hadapannya itu berjalan dengan langkah yang pelan, karena ia sedang mencari seseorang yang akan menjemput dirinya yang tidak tahu sama sekali kota itu karena ini kali pertamanya tinggal di sana.
Brug... Langkah Latya terhenti, tubuhnya menubruk punggung laki-laki tersebut. "Aduh...Aww." Pekik mereka mengaduh bersama kesakitan karena Latya menabrak laki-laki itu dengan sangat keras.
Latya mengusap kening yang terkena punggung lebar dan kokoh itu. Laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah belakang dimana Latya berada.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Sakit lah!" sahutnya ketus. "Anda bisa gak sih kalau jalan jangan menghalangi begitu, bagaimana kalau tadi saya jatuh ke lantai, anda mau bertanggung jawab?" ucapnya kesal. Sebenarnya kesal pada Rey, tapi lumayan bisa marahi orang untuk melampiaskan kekesalannya.
Laki-laki yang ada di hadapannya itu pun berkerut heran dengan ucapan gadis cantik yang berdiri di depannya.
"Seharusnya saya yang harus bicara seperti itu!" balas nya sedikit sebal.
"Tapi kan anda yang menghalangi jalan saya, kalau anda tadi tidak menghalangi jalan, saya tidak akan menabrak tubuh anda!" balik nya kesal.
"Hemmm begitukah? Ok saya minta maaf." ucapnya mengalah. "Tapi kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanyanya memastikan.
"No." sahut nya ketus seraya menyeret kembali koper nya dengan langkah yang cepat.
Laki-laki itu pun tersenyum tipis melihat gadis yang memarahinya tadi. "Dasar perempuan jutek! Dia yang nabrak dia yang marah! Dasar aneh!" ucapnya kesal namun tidak ada sedikitpun marah. "Cantik sih tapi galak!" serunya tersungging senyuman di bibir nya.
"Huh kesal!" gumam Latya.
***
Sesampainya di rumah kediaman keluarga nya, Latya pun di sambut dengan senang oleh Via ibunya. Latya tersenyum lalu mencium tangan punggung kedua orang tuanya.
"Sayang kamu sehat?" tanyanya seraya clingak-clinguk seperti mencari seseorang. "Kamu sendirian, dimana Rey?" tanyanya heran.
Latya bingung untuk menjawab. "Emh bang Rey lagi tugas ke luar kota Bun jadi gak bisa anterin aku." jelas nya dengan senyum terpaksa nya.
"Ya gini deh kalau kamu nikah sama pengabdi negara, kamu harus siap untuk jadi yang kedua." terang bunda Via.
Jleb... Kata kedua dari bundanya itu seakan pisau belati yang menusuk buah semangka langsung menembus begitu saja ke dalam.
__ADS_1
"Aku memang udah jadi kedua kok." gumamnya pelan.
"Apa?" tanya bunda Via memastikan kembali ucapan anak nya itu.
"Hehehe, gak Bun gak ada apa-apa." balas nya cengengesan. "Aku boleh ke kamar aku kan?" ijinnya dan di ijinkan oleh Via dan juga Aris yang hanya diam saja setelah ia memeluk anaknya dengan penuh kerinduan.
*
*
*
Sebulan kemudian Rey yang masih belum memberikan kabar pada Latya pun setengah mati merindukan istrinya itu, sedangkan Maura ia masih saja bergelayut manja pada Rey, Rey sampai saat ini belum bisa berbuat apa-apa pada Maura, karena memang kondisinya yang sering keluar masuk rumah sakit membuat Rey sulit untuk lebih tegas pada Maura.
Nisa sudah bicara pada Rahma, juga sudah menjelaskan hubungan yang sebenarnya pada pada Rahma, jika Rey dan Latya sudah menikah, Nisa pun menceritakan bagaimana mereka bisa menikahkan Rey dan Latya. Nisa juga berbicara sebagai sahabat antara dirinya dan juga Rahma, dan akhirnya Rahma pun mengerti. Rahma mengakui jika dirinya sudah melakukan hal yang salah, memisahkan hubungan Rey dan juga Latya, tapi itu pun demi Maura karena dia merasa kasihan melihat ketidakberuntungan hidup Maura, Rahma pikir jika Maura bersama Rey dia akan merasakan kebahagiaan yang ia inginkan dari laki-laki yang sangat ia cintai.
Namun kini Rahma sudah mengerti dan akan berusaha untuk merayu dan mencoba mengerti kan Maura agar tidak memaksa cinta Rey untuk dia.
"Hah." Rey membuang nafasnya kasar, saat ini ia sedang berada di rumah Maura, karena dia meminta bertemu dengan nya.
"Rey." panggil Maura dengan lembut saat melihat Rey sudah berada di rumah nya seraya menuruni tangga untuk menghampiri Rey yang tengah duduk itu.
"Kamu mau minum?" tawar Maura dengan senyum manisnya ia tampilkan agar Rey terpesona dengan kecantikan nya, Maura sengaja berdandan dengan cantik agar Rey menyukai nya, laki-laki mana sih yang tidak suka dengan perempuan cantik. Imbuh Maura dengan semangat.
"Tidak usah!" tolaknya pelan. "Ada apa Maura kamu menyuruhku datang kemari, aku tidak bisa lama karena masih banyak tugas yang harus segera aku kerjakan." terangnya tanpa basa-basi.
"Ish kamu Rey, sibuk terus, apa tidak ada waktu untuk kita pergi bermalam mingguan atau sekedar jalan-jalan santai berdua." cebik Maura kesal.
"Aku tidak ada waktu untuk bermain-main Maura, lebih baik kamu istirahat saja." titah nya.
"Ya sudah, tapi sebentar saja!" ajaknya dengan dingin.
Maura dengan senang dan penuh semangat saat Rey akhirnya mengajak dia untuk berjalan-jalan. "Aku siap-siap dulu ya." ijinnya seraya berjalan ke arah kamar nya.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam setelah kepergian Maura, lalu memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
Maura turun dari kamar nya menghampiri Rey kembali setelah ia sudah siap untuk berangkat berjalan-jalan bersama Rey.
Rey yang mencium parfum Maura yang tiba-tiba tercium pun tiba-tiba perut nya mual dan ingin sekali membuang isi perut nya itu dengan segera.
Maura mendekat ke arah Rey berada, namun segera Rey tepis. "Jangan mendekat Maura, aku tidak tahan dengan bau kamu." cegah Rey dengan cepat karena semakin Maura mendekat semakin Rey terasa mual dan ingin muntah.
Maura cemberut ia kesal seraya mencium tubuh dan juga kedua ketiak nya bergantian. "Aku gak bau Rey, aku juga udah mandi dan pakai parfum." jelas Maura dengan kesal bisa-bisanya Rey mengatakan jika dirinya bau. Maura tidak terima jika di sebut bau oleh Rey. Mana mungkin seorang Maura bau badan secara dia anak orang kaya.
"Hoek..." Rey mencoba menutupi mulutnya yang seakan ingin muntah itu dan tangan satunya memegang perut yang terasa begah dan melilit. "Kamar mandi mana Maura, aku ingin ke kamar mandi." pinta nya cepat.
"Di sana." tunjuk nya.
Rey dengan cepat berlari menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang bergejolak itu.
"Rey kenapa sih dia? Aneh! Apa dia sakit ya?" gumamnya bingung.
__ADS_1
***
Sedangkan Latya sekarang tengah berdiri di depan sebuah apotek, ia berniat untuk membeli alat tespesk, selama sebulan lebih dari dua Minggu ini ia terlambat datang bulan tidak seperti biasanya yang selalu pas di setiap bulannya. Dan akhir-akhir ini ia selalu merasakan mual di pagi hari dan terasa pusing namun tidak separah orang yang biasa mengandung. Bunda Via yang seorang suster pun menyadari jika anaknya itu seperti kurang sehat tapi dia tahu bukan sakit karena penyakit tapi karena sesuatu yang di perbuat oleh menantunya. Pada akhirnya bunda Via menyuruh Latya untuk membeli alat tes kehamilan.
Latya menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum membeli alat itu, ya karena Latya tidak siap jika dirinya hamil di saat kondisi seperti ini. "Semoga saja apa yang aku khawatir tidak pernah terjadi." gumam nya penuh harap dengan mengelus perutnya yang masih rata itu. "Semoga tidak ada janin di dalam sini." ucapnya lagi dengan terus mengelus perutnya.
Latya pun pulang, setelah membeli beberapa alat tespesk, ya Latya membeli alat itu 5 buah agar ia yakin keakuratannya.
"Bagaimana?" tanya bunda Via penasaran dengan hasil alat kehamilan itu.
Dengan raut wajah yang tidak senang dan ada kesedihan Latya tampilkan pada ibunya itu. "Ada apa? bagaimana hasilnya sayang?" tanya bunda Via tidak sabar.
Dengan lemas Latya menunjukkan hasil alat tespesk tersebut pada Via yang terlihat sangat antusias.
Via melototkan kedua matanya dengan sempurna melihat hasil nya, terlihat dua garis sempurna disana.
"Sayang kamu hamil." ucap Via dengan semangat. "Bunda bentar lagi jadi grandma." teriak nya senang. "Abang... Abang lihat, kamu harus lihat." teriak bunda Via memanggil ayah Aris yang sedang duduk santai di ruang keluarga lalu menghampiri nya untuk memberi tahukan kabar yang bahagia ini.
"Ada apa sih yang teriak-teriak!" kesal Aris.
"Lihat bang! Positif!" ujarnya senang.
Aris meraih alat tes itu, terkejut. "Sayang kamu hamil?" tanya Aris menatap istrinya dengan tatapan serius.
Refleks Via memukul lengan suaminya dengan gemas. "Ish Abang!" cebik nya. "Bukan aku yang hamil tapi anak kita, Latya dan ini calon cucu kita." terang Via dengan semangat.
"Apa? Yang benar saja sayang, kita udah mau punya cucu ini? Oh my God, hahaha grandpa." Aris pun merasa senang mendapatkan kabar ini.
Sedangkan Latya dia merasa sedih karena calon anaknya ini tidak akan mempunyai seorang ayah karena ia masih berpikir jika Rey akan lebih memilih Maura di bandingkan dirinya.
Dengan mengelus perutnya itu mata Latya mulai berkaca-kaca mengingat bagaimana ke depannya ia akan menjalani hidup, sekarang saja ia bingung karena hamil di saat dirinya tidak di ketahui oleh orang lain dan ia juga tengah sibuk dalam mengerjakan tugas kuliah nya yang hampir selesai itu. Dan kedua orang tua nya percaya jika Rey masih bertugas di luar kota karena Latya yang selalu berusaha untuk menyembunyikan masalah dirinya dan juga suami nya.
Kembali lagi ke Rey
Setelah ia mengeluarkan isi perut nya itu Rey keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemas.
"Maura sepertinya aku tidak bisa mengajak kamu untuk berjalan-jalan, aku tidak enak badan, kepalaku tiba-tiba pusing dan perutku pun masih terasa mual, mungkin aku masuk angin." jelas nya dengan lemah.
Maura terlihat kesal namun mau bagaimana lagi masa ia tega mengajak Rey berkencan di saat Rey sedang sakit. Sungguh tidak enak juga. "Emh iya gak apa-apa, tapi lain kali bisa ya Rey." pinta dengan lembut seraya mendekat ke arah Rey.
"Ooooee. Jangan mendekat Maura aku tidak kuat dekat dengan kamu, maaf aku benar-benar mual." ujarnya seraya menjauh dari Maura.
"Maura menahan emosi nya kesal dengan sikap Rey yang seperti itu, bikin sakit hati.
"Aku pulang ya, tubuh ku lemas sekali." ucapnya jujur.
"Kamu istirahat saja di sini, aku bisa obati kamu Rey, mungkin kamu hanya masuk angin." tawar Maura dengan semangat.
Rey menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai penolakan dia atas tawaran Maura. "Tidak Maura terima kasih, aku istirahat di rumah saja." ucapnya.
"Emh ya sudah, kamu cepat sembuh ya Rey." balas Maura merasa kasihan juga karena Rey terlihat sangat pucat. "Kamu masih bisa bawa kendaraan?" tanya Maura khawatir Rey yang sedang sakit dan harus mengendarai motor nya seorang diri.
__ADS_1
Rey mengangguk. "Bisa." Ooooee. "Aku pulang." pamit nya.
"Ok deh, hati-hati Rey." ucapnya, lalu Maura pun menghela nafasnya dengan panjang. "Huh harus nya aku sekarang sedang bersama Rey dan berkencan berdua di taman." sendu nya dia berucap.