Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
terkejut


__ADS_3

"Latya kalau saja di sini tidak ada orang Abang bakalan peluk kamu!" batin nya masih dengan menatap ke arah Latya yang selalu berpura-pura tidak melihatnya padahal Rey sadar jika istrinya itu curi-curi pandang.


"Wajahnya nya pucat sekali sih, apa kamu sakit sayang?" tanyanya dalam hati penuh kekhawatiran.


Rey tidak lepas menatap wajah Latya yang duduk agak jauh dari pandangannya, tepatnya di tengah para mahasiswa dan mahasiswi yang hadir di sana.


Dengan senyum tipisnya Rey terus tersenyum membuat para mahasiswi di sana kasak kusuk membicarakan dan memuji ketampanan Rey, membuat Latya yang mendengar semakin sebal pada suaminya itu.


"Dasar tebar pesona!" gumam nya sebal.


Geisha yang mendengar gumaman Latya yang terdengar kesal pun tersenyum. "Yang sabar ya cantik, cowok tampan banyak yang doyan. Jadi yang sabar ya..." goda Geisha.


Pletak. Latya pun refleks memukul kepala Geisha dengan pulpen yang ia pegang.


"Aduh sakit tahu!" cebik Geisha seraya mengusap-usap kepalanya.


"Makanya jangan bikin gue kesal!" ucapnya penuh ancaman.


Geisha pun cemberut. "Kdbt elu!" kesal nya.


"Apaan tuh!"


"Kekerasan dalam ber teman." jawab nya dengan muka di tekuk.


"Hahaha Ngada-ngada elu!" balas Latya.


Pak Irham pun memulai pembicaraan nya, dia memberikan kata-kata pembangun untuk para mahasiswa dan mahasiswi di sana agar mereka lebih bersemangat lagi, apalagi dia tahu jika anak-anak yang ada di hadapannya itu akan segera lulus dan selesai masa kuliah nya.


"Saya bangga dengan kalian semua, karena kalian yang ada di sini adalah anak-anak yang berprestasi." ujar pak Irham itu.


"Pak dosen boleh saya meminta dua murid bapak? Satu mahasiswa dan satu mahasiswi untuk perwakilan mendampingi saya di sini, saya ingin tahu seantusias apa mereka dan sesuka apa mereka belajar di jurusan hukum ini dan saya juga akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang pembelajaran selama mereka menuntut ilmu di sini." ujarnya nya menatap pak dosen yang berdiri di belakang tubuhnya.


"Emh boleh pak silahkan!" ucapnya mempersilahkan.


"Pak dosen saja yang pilih." ucapnya dengan tersenyum ramah.


"Oh baik kalau begitu." balas pak dosen, seraya melihat ke arah dimana para muridnya itu menatapnya. Ia memilih murid yang sangat berprestasi di kampus tempat ia mengajar.


"Tio, kamu ke depan." panggil nya pada salah satu mahasiswa disana.


"Dan mahasiswi nya... kamu Latya!" panggil nya. "Latya..."


"Eh elu di panggil tuh sama pak dosen.


Latya yang tidak menyangka jika dirinya yang akan di pilih oleh dosen nya yang selalu mengajarkan nya pun terkejut.


"Saya pak?" tanyanya seraya menunjuk kearah dirinya sendiri.


"Iya kamu Latya." ucap pak dosen memastikan.


Latya pun dengan ragu berjalan ke arah depan, semakin dekat langkah Latya ke arah dimana Rey berada semakin jantung nya berdetak dengan kencang karena Rey suaminya semakin tersenyum melihatnya membuat jantung nya pun berdebar-debar tidak karuan.


"Hadeeeeh jantung ku berasa mau copot!" batin nya semakin menjadi-jadi.


"Ayok Latya, kamu jangan ragu bapak yakin kamu bisa menjawab pertanyaan dari pak Irham, bukan begitu pak Irham?" tanya nya meyakinkan pak Irham agar Latya yakin dia mampu.


Pak Irham yang melihat Latya yang terlihat gugup pun tersenyum. "Iya pak dosen, saya yakin sepertinya murid yang anda pilih pasti berprestasi lebih dari pada yang lain, begitu kah pak?" pak Irham pun menjawab pertanyaan pak dosen dengan sebuah pertanyaan dengan nada bercanda.


"Haha ya betul pak." jawab nya dengan tergelak tawa. Pak Irham tahu saja jika iantidak ingin kampus nya merasa malu jika murid nya tidak tahu apa-apa.


"Mereka murid saya yang paling saya banggakan, jadi silahkan anda mau bertanya apa saja pada mereka, saya yakin mereka mampu menjawab tantangan pak Irham." tantang pak dosen dengan nada bercanda.


"Haha baik-baik saya percaya itu." balas pak Irham.


Latya melangkahkan kakinya dengan sesekali melirik ke arah Rey yang tersenyum melihatnya.


"Istriku semakin cantik saja, malahan sekarang pipinya sedikit berisi, ah sayang bikin Abang pengen meluk aja ini." batin nya berteriak.


"Kalau saja orang-orang yang berada di sini bisa ku buat jadi batu, sudah habis kamu yang." batin nya gemas.


"Tapi wajahnya pucat sekali ya, apa dia memang lagi sakit? Pasti lupa sarapan, kebiasaan!" gerutu nya dalam hati.


"Nak Tio ya? Silahkan kamu berdiri di samping sebelah kiri bapak Briptu Rey ya dan kamu nak Latya kamu berdiri di samping sebelah kanan polisi tampan ini ya, pak polisi ini namanya pak Reypan ya, kalau mau berkenalan boleh nanti di belakang layar." goda pak Irham dengan candaannya.


"Aaaaaa mau...." teriak para mahasiswi yang hadir dengan begitu heboh.


"Hahaha kalian pintar sekali ya jika melihat laki-laki tampan." canda pak Irham dengan teriakan para mahasiswi.


"Huuuu norak kalian hahahaha." ejek para mahasiswa.


"Anak-anak tenang!" titah pak dosen karena murid nya menjadi gaduh.


"Tenang!" teriaknya.


Semua pun terdiam mendengar teriakkan pak dosen yang terlihat tegas.


Rey hanya tersenyum saja menanggapi kelakuan para murid di sana. Karena dia sedang bahagia bisa bertemu dengan istri tercinta tanpa ia duga.


Pak Irham pun berdiri di depan dimana Latya dan Rey berdiri, melanjutkan apa yang akan ia sampaikan, sebelum mengajukan beberapa pertanyaan pada murid-murid yang sudah berdiri di belakangnya.


Berdiri di samping Rey membuat Latya merasa tidak nyaman karena ia merasa jika Rey sedang menatapnya.


"Ekhemm." Rey berdehem di dekat telinga Latya membuat Latya mendongakkan kepalanya keatas tepat di depan wajah Rey yang sedang menyamping.


Dengan tangan yang ia tutupi pada mulutnya Rey membisikkan sesuatu pada telinga Latya.


"Miss you." bisiknya.


Deg. Jantung Latya seakan berhenti. Latya hanya melirik sekilas saja, membuat Rey semakin senang untuk menggoda nya.

__ADS_1


"Jaim." bisiknya lagi.


Latya yang mendengar bisikan dari Rey pun membuat dirinya kesal sekaligus gemas karena bisa-bisanya suaminya itu menggoda nya di saat waktu seperti ini, apalagi mereka sedang berdiri di depan orang banyak, bagaimana jika para teman kampus nya itu memperhatikan apa yang dilakukan Rey.


Dengan mendekatkan tubuhnya dengan cara menggeser tubuhnya ke samping Rey dan sedikit merapatkan posisi nya namun masih dalam batas tidak mencurigakan Latya pun mencubit tangan Rey yang tengah ia simpan di belakang tubuhnya.


Latya mencubit tangan Rey dengan sedikit keras karena kulitnya yang kencang membuat Latya kesusahan, dan anehnya suaminya itu seperti tidak merasakan apa-apa dia tetap bergeming dan senyum nya yang seakan mengejeknya.


"Tidak terasa." bisiknya.


"Ish." desis Latya kesal.


Latya pun berniat melepaskan tangan nya yang mencubit tangan Rey yang ada di belakang tubuhnya itu, namun ia terkejut saat tangan Rey tiba-tiba menahannya lalu tangan Rey sebelah kanannya itu menautkan jari-jarinya pada jari-jari tangan Latya dengan sentuhan sesekali meremas dengan gemas.


Latya mencoba menarik pegangan tangan Rey pada tangan nya, ia takut jika dosen yang berada di dekatnya mengetahui apa yang mereka lakukan. Namun semakin di tarik Rey semakin menguatkan pegangan itu, tanpa mau ia lepaskan.


"Ih lepas!" gumam nya pelan setengah berbisik.


Latya pun semakin keras untuk melepaskan pegangannya. "Sakit... " seraya memegang perut nya karena perutnya tiba-tiba terasa mual serta meringis membuat Rey langsung melepaskan nya karena ia tidak tega sudah membuat istrinya sakit.


Dengan panik Rey melepaskan pegangan tangan nya itu dari tangan Latya. Ia merasa bersalah sekali.


Latya langsung menutup mulutnya yang ingin sekali muntah dengan terus memegang perut nya yang sangat mual sekali.


Latya menghampiri dosennya yang berdiri tidak jauh darinya. "Emh... pak maaf, saya boleh minta ijin untuk ke toilet sebentar." ijin nya lembut dan sopan.


"Latya kamu nanti akan di tanya oleh pak Irham, memang nya tidak bisa di tahan untuk sebentar saja?!" tanyanya sedikit kesal.


"Maaf pak gak bisa, saya udah gak tahan." jelas nya memelas.


"Ya sudah, setelah selesai kamu dengan urusanmu cepat kamu datang kemari lagi, jangan lama-lama dan jangan membuat saya malu." ujarnya meyakinkan pada Latya. Dosen nya berpikir Latya buang air karena pihak kampus belum tahu Latya hamil.


"Baik pak." jawabnya pelan. Latya pun dengan cepat melangkah untuk keluar ruangan seraya tangan kiri ia tutup untuk mulutnya yang ingin sekali muntah sedangkan tangan kanannya ia memegang perut yang terasa sangat mual.


Melangkah tanpa memperdulikan sekitar, karena Latya takut muntah di depan teman kampusnya.


Rey yang melihat Latya seperti itu merasa khawatir dan juga heran. "Kenapa kamu sayang?" tanya nya dalam hati melihat begitu pucat nya wajah Latya dengan keningnya yang terlihat mengeluarkan keringat.


Di dalam toilet Latya pun benar-benar memuntahkan isi perutnya sampai benar-benar habis, tubuhnya lemas, kepala nya semakin pusing.


"Ya nak, jangan siksa bunda kayak gini, kamu tahu ya tadi yang ada di samping bunda ayah kamu, kamu mau ayah kamu tahu kalau di rahim bunda sudah ada kamu?" gumam Latya seraya mengusap-usap perutnya dengan lembut.


"Oh jangan dulu ya bunda masih jam kuliah, jangan bikin mual terus, bunda lemes." gumamnya pelan.


Latya pun meraih apapun yang tidak membuat dirinya mual, dengan memakan permen dan menghirup aroma mentol ya ia bawa di saku nya.


Setelah di kira lebih baik Latya pun kembali ke dalam ruangan yang masih belum selesai dan kembali berdiri di samping Rey seperti posisi semula.


Wajahnya yang pucat setelah dari toilet membuat Rey semakin khawatir, terlihat juga dari cara Latya berjalan seperti lemas.


Dengan berbagai pertanyaan dari pak Irham, Latya pun menjawabnya dengan lugas dan itu membuat pak Irham bangga dengan apa yang di ucapkan Latya, dan pak dosen pun terlihat puas akan apa yang di ucapkan oleh Latya dan juga Tio.


"Muka elu pucat amat kita ke kantin yuk!" ajak nya seraya memapah Latya di kiri dan kanan.


Latya diam saja menuruti apa yang di lakukan kedua sahabatnya. "Elu tadi ke kamar mandi pasti muntah-muntah ya?" tanya Geisha memastikan Latya mengangguk pelan.


"Ya udah elu mau pesan apa? Gue pesenin!" ucapnya.


"Emh teh panas aja deh gak pake gula." selorohnya pelan.


"Ok. Gue pesan, ada lagi?" tanyanya dan Latya menggeleng.


"Gak pesan makanan sekalian?" tanyanya.


"Gak..." jawabnya lemah.


"Ya udah elu tunggu di sini! Dan elu Heidi jaga Latya!" titah nya.


"Baik nyonya" jawab nya dengan bercanda.


Geisha mencebik kesal. "Jagain lho!"


Rey dan Adit pun ke kantin sedangkan pak Irham ia sedang mengobrol dengan para dosen di sana.


Rey yang melihat Latya berada di sana pun tersenyum, terlihat Latya duduk di pojok bagian kantin, sedangkan Rey duduk di dekat pintu luar.


"Sayang kamu baik-baik saja?" pesan Rey kirim karena dia melihat wajah Latya yang begitu pucat. Namun Latya tidak terlihat memegang handphone nya.


"Apa aku kesana saja ya?" batin nya. "Ah nanti jadi rame lagi." sambungnya.


"Nih teh pahit plus panas, minum deh elu biar gak enek." titah Geisha.


"Makasih ya." ucap Latya.


"Jangan sungkan biar Dede di sini anteng gak bikin mommy nya lemes." ucap Geisha seraya mengelus perut Latya dengan lembut dan itu tidak terlepas dari pandangan Rey ketika Rey menatap ke arah Latya dari jarak mereka yang cukup jauh.


Rey melihatnya dengan bingung kenapa dua perempuan yang bersama istrinya itu terus saja mengelus perut istrinya.


Latya belum menyadari jika Rey sudah ada di kantin.


"Eh itu pak polisi ganteng itu kan? Sejak kapan mereka duduk di sana?" tunjuk Heidi.


Latya dan Geisha pun menoleh berbarengan dan saat Latya melihat ke tempat duduk dimana Rey berada dan saat itulah suaminya melambaikan tangan nya seraya tersenyum.


"Dadah sama siapa elu Rey?" tanya Adit heran.


"Latya. Eh gue ke sana dulu ya, elu pesan makanan duluan aja." ijin nya seraya pergi meninggalkan Adit.


"Eh dia kesini gaes." ucap Heidi. Heidi sudah tahu kalau salah satu polisi di antara mereka adalah suami nya Latya, Geisha sudah menceritakan itu padanya tadi di dalam ruangan acara.

__ADS_1


Tak lama Rey pun mendekat dan menghampiri meja di mana Latya dan kedua temannya duduk "Hai boleh saya gabung di sini?" ijin Rey.


Dengan refleks kedua sahabatnya itu pun langsung mempersilahkan Rey untuk duduk di samping Latya.


"Emh maaf ya saya ganggu." ucapnya pada kedua sahabat Latya.


"Tidak apa-apa pak, lagian Latya kan istri bapak." ucap Heidi terbata.


"Kalian sudah tahu?" tanya Rey dan kedua sahabatnya itu pun mengangguk.


"Kalau begitu kami pindah saja, Latya kita duduk di sana aja ya." ijinnya namun bukan jawaban yang mereka dapatkan tapi pelototan dari kedua mata Latya.


"Di sini aja!"titah nya.


"Hehehe dadah. Selamat kangen-kangenan..." goda mereka, bukan takut mereka malah sengaja membuat Latya duduk dengan Rey.


Latya menarik nafasnya dalam-dalam setelah melihat kepergian kedua sahabatnya. Sedangkan Rey menatapnya dengan wajah berseri senang.


Lalu Latya pun memberanikan diri untuk menatap suaminya itu. "Ada apa?" ketus nya.


"Hemm kangen." sahut nya santai.


Latya mendengus sebal. "Abang lupa ya, aku kan udah pernah bilang kalau masalah Abang sama Maura belum selesai aku gak mau ngomong sama Abang!" masih dengan nada ketus.


"Hemmm ya Abang ingat kok, lalu?" tanyanya sok manis membuat Latya gemas dan ingin mencubitnya dengan keras.


"Lebih baik Abang pergi sana, nanti orang-orang pada tanya hubungan kita apa setelah melihat Abang berani samperin aku, nanti aku yang bingung buat jawab apa!" usir nya ketus.


"Ya gampang, kamu tinggal jawab Abang suami kamu, jelaskan!" sambung Rey santai.


"Udah ah aku gak mau debat sama Abang, lelah aku." ucapnya cemberut lemas.


"Yang kamu sakit?" tanya Rey diluar tema.


"Ya sakit karena Abang!" jawabnya.


"Aku? Hemm maaf ya Abang gak ada niat kok sakiti kamu, Abang akan jelaskan sama kamu bahwa sekarang Abang sama Maura sudah se...." ucapnya terpotong.


"Oeeeee." Latya pun tidak kuat dan Ingin memuntahkan kembali isi dalam perutnya dan memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing sekali.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


Latya mencoba berdiri tanpa menjawab pertanyaan kekhawatiran dari Rey. Namun belum sempurna Latya berdiri ia pun ambruk karena tubuhnya tiba-tiba lemas, untung saja Rey dengan sigapnya menahan tubuh Latya yang akan jatuh itu, dan Latya pun jatuh di pelukan Rey.


"Sayang bangun yang..." panggil nya.


"Latya... Latya." panggil nya seraya menepuk-nepuk pipi putihnya.


Semua orang yang ada di kantin pun menoleh pada Latya tidak tidak sadarkan diri termasuk kedua sahabatnya, mereka terkejut lalu mendekat ke arah Latya dan juga Rey yang sedang berusaha membangunkan nya.


"Dimana ruang farmasi?" tanya Rey cepat dengan Latya yang sudah ia gendong.


"Ayok pak kita tunjukkan dimana tempat nya bapak ikuti kita ya." ucap kedua sahabat Latya.


"Ayok." ucap Rey.


Rey pun membawa tubuh Latya ke ruang farmasi di dalam kampus itu dengan kedua sahabatnya.


Setelah sampai di sana Rey masuk dan berteriak panik membuat dokter dan petugas di sana merasa heran.


"Ayok pak masuk ke sini?" ucapnya menunjukkan ke ruangan tempat perawatan.


"Rey pun merebahkan tubuh Latya di atas bed ruangan itu dengan perlahan. "Dokter cepat periksa istri saya!" titah nya membuat para petugas farmasi di kampus itu terkejut.


"Istri?" ucapnya saling pandang antara dokter dan juga asistennya itu.


"Ayok Kenapa kalian hanya diam saja sih!" ucapnya kesal membuat mereka berdua gelagapan.


"Ah i...iya pak." sahut nya.


Dokter muda itu pun langsung memeriksa keadaan Latya terlihat sangat pucat dan kondisi nya yang sangat lemah.


Setelah beberapa menit kemudian, dokter itu selesai memeriksa kondisi Latya namun lebih terkejut lagi, karena ia tahu Latya mahasiswi di kampus tempat ia bekerja sedang hamil sedangkan dokter itu tahu jika Latya masih gadis, karena dia sangat mengenal anak kampus seperti Latya.


Latya mahasiswi cantik yang pintar dan berprestasi di kampus ini, dan dia belum menerima kabar bahwa Latya sudah menikah, tidak mungkin kan jika Latya ini melakukan hubungan yang bebas apa kelakuannya semines itu?


"Bagaimana dok keadaan Latya?" tanya Rey.


Dan ini laki-laki berseragam polisi ini pun sempat membuat dirinya terkejut karena mengaku Latya istrinya, dia tahu polisi ini yang mengawal keamanan motivator kampus ini tadi, ah sungguh rumit.


"Dokter kenapa anda diam saja? Bagaimana dengan keadaan Latya apa dia sudah sadar?" tanyanya kesal.


"Ah mari pak masuk akan saya jelaskan, tapi anda dan Latya ini apa hubungannya ya?" tanyanya.


"Nanti akan saya jelaskan, yang pasti saya dan Latya sangat mengenal dengan baik." jawab nya logis.


"Emh begini pak, Latya baik-baik saja dia juga sudah sadar, Latya tadi pingsan karena saat ini ia sedang mengandung." ujar dokter itu menjelaskan.


"Apa mengandung? Maksud anda Latya ku sedang hamil begitu?" tanya Rey memastikan.


"Iya pak." balas dokter itu heran melihat ekspresi pak polisi di hadapannya itu.


Rey melongo. "Apa dokter yakin?" tanyanya tidak percaya.


Dokter itu tersenyum lalu mengangguk membenarkan.


Rey terkejut setengah mati dengan kenyataan bahwa Latya hamil.


"Eh tunggu! Lalu dengan obat penunda itu bagaimana?" gumam nya mengingatkan Rey pada Latya saat pertama kalinya ia melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


"Aku butuh penjelasan kamu Latya???"


__ADS_2