Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
apa yang kalian lakukan?


__ADS_3

"Aaaaaaaa." teriak Latya seraya melompat-lompat di atas kasur nya. "Ih geliiii..." teriak nya sambil merinding membayangkan nya. "Hus hus hus sana!" teriak nya lagi.


Rey yang baru saja sampai dari tugas nya berlari ketika ia mendengar teriakkan dari dalam kamar Latya dan ia langsung menghampiri nya.


"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanyanya panik cepat masuk ke dalam kamar Latya.


"Bang Rey tolong usir kecoak itu dari kamar aku!" pintanya memohon.


Rey geleng-geleng kepala nya melihat tingkah laku Latya yang loncat-loncat di atas kasur. "Kamu takut kecoak?" Tanyanya heran.


"Iya... Buruan bang usir kecoak itu dari sini." Rengek nya.


Saat Rey akan mengambil kecoak itu tiba-tiba kecoak itu terbang ke arah Latya yang sedang ketakutan.


 "Aaaaa, bang Rey tolong aku!" teriak nya lagi.


Rey menghampiri Latya yang berada di atas kasur sedangkan Rey berada di bawahnya. Kecoa itu pun merayapi kasur dimana Latya berdiri. Semakin merayap terus mendekati Latya, seakan kecoak itu tahu jika Latya takut padanya.


"Bang kecoak nya jangan sampai terbang-terbang aku geli...." ucapnya merinding. "Gimana kalau kecoak itu nemplok di aku. Iiiiih." tambahnya semakin geli. 


Rey tersenyum melihatnya, namun ide jahil nya terlintas di pikiran nya. Rey berhasil menangkap kecoak itu.


"Yeay... Bang Rey hebat." puji Latya pada Rey dengan menepuk tangan nya bahagia karena binatang yang paling dia tidak suka sudah berhasil di tangkap.


"Buang bang Rey kecoak nya, buruan!" Titahnya Latya penuh semangat.


Namun Rey tidak langsung membuangnya karena dia memiliki ide jahil untuk Latya. 


Rey mendekat pada Latya berdiri di pinggir ranjang Latya dengan membawa kecoak itu di tangan nya, dengan di goyang-goyangkan binatang kecil itu ke arah Latya. Rey tersenyum jahil. "Latya aku akan melompat!" Hah hah hah. Rey terus saja mendekatkan kecoak itu pada Latya dan terus menggoda Latya dengan binatang itu.


Latya menjerit histeris. "Aaaaaa bang Rey jangan, jangan, jangan. Jauh-jauh kecoak itu dari hadapan aku!" teriak nya kesal. "Bang Rey ih Abang aku takut! Buang... Buang!" Latya terus saja berteriak untuk menjauhkan binatang itu darinya.


Saat Rey menakuti Latya dengan binatang itu Latya yang ketakutan pun berniat untuk melompat ke bawah kasur berniat untuk melarikan diri dan untuk menghindari dari kecoak yang Rey pegang. Rey yang melihat Latya yang akan melompat dan melarikan diri pun dengan refleks menangkap tubuh Latya. Namun Rey tidak kuat menopang tubuh Latya karena secara tiba-tiba. Brug... Latya terjatuh di atas tubuh Rey yang tidak kuat menahan tubuh Latya yang tiba-tiba melompat itu, saat tubuh mereka terjatuh bersamaan dengan itu bibir mereka pun saling bersentuhan, bibir dan bibir lalu cup. Latya melotot terkejut akan kejadian ini, Rey pun sama ia terkejut. 


"Apa yang kalian lakukan?" teriak bunda Nisa kencang, saat melihat Rey dan Latya saling berciuman dan posisi mereka yang sangat intim. 


Latya pun langsung melepaskan ciumannya itu dan dengan terburu-buru ia pun berdiri dari tubuh Rey lalu merapihkan pakaian nya yang sedikit berantakan karena jatuh tadi.

__ADS_1


Rey juga ia langsung berdiri dengan cepat saat bundanya melihat kejadian yang membuat ibunya terkejut, tidak hanya Nisa yang terkejut tapi Rey dan Latya pun terkejut karena kejadian itu murni tidak di sengaja. 


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya lagi dengan suara terdengar tinggi. "Kalian berduaan di dalam kamar dan melakukan hal yang tidak pantas?" Emosi Nisa saat melihat pasangan muda sedang bercumbu.


"Aunty... Ini tidak seperti yang aunty pikirkan. Aku sama bang Rey tidak mungkin melakukan hal seperti itu." urai Latya menjelaskan.


"Iya bunda aku dan Latya tidak melakukan hal yang ada dalam pikiran bunda." Rey ikut menjelaskan.


"Jadi kalian pikir bunda itu buta dan kalian pikir bunda itu bodoh bisa percaya begitu saja!" ucap Nisa kesal.


"Gak aunty bukan maksud kita seperti itu, tolong dengar kan dulu penjelasan kita." tutur Latya dengan nada bergetar.


"Apa yang akan kalian jelaskan hah? Semua sudah terbukti, aunty melihat kalian melakukan hal tidak pantas untuk kalian lakukan! Dan itu semua aunty melihat dengan mata kepala aunty." sambung nya kesal.


"Tapi kita memang tidak melakukan hal itu aunty, kita tadi hanya jatuh aku melompat dari atas kasur karena aku takut dengan kecoak. Bang Rey tadi masuk untuk bantuin aku usir kecoak nya aunty jadi kita gak mungkin melakukan hal serendah itu." jelas Latya semangat menggebu-gebu.


"Bang Rey ayok dong bantu aku jelasin sama aunty kalau kita gak berbuat hal tak senonoh itu." kesal Latya melihat Rey hanya diam saja.


Rey hanya mengangkat kedua bahunya acuh membuat Latya yang melihat nya sangat kesal dan geram. "Ih bang Rey bikin aku kesal!" Latya cemberut. "Ini gara-gara bang Rey tadi kenapa jahil sama aku nyodor-nyodoran kecoak nya sama aku!" sambung nya masih kesal.


"Aunty gak mau dengar alasan kalian, kalian itu sudah kepergok sedang berduaan di dalam kamar, dan itu mana kecoak, di sini tidak ada kecoak?" telisik Nisa seraya menyapu ruangan dengan pandangan nya mencari kecoak itu namun Nisa tidak menemukan nya.


"Aunty akan bilang sama ayah kamu Rey, ayah kamu harus tahu kelakuan anaknya seperti apa. Dan kamu Latya aunty akan bilang pada kedua orang tua kamu." ujarnya marah.


"Aunty please... Jangan bilang sama ayah dan juga bunda, aku takut mereka pasti marah sama aku, mereka akan salah paham nantinya. Please aunty jangan memperpanjang masalah ini, ini semua salah paham." Latya tak gentar membela diri nya.


"Salah paham? Salah paham bagaimana, aunty melihat kamu dan juga Rey sedang berciuman tadi dan tubuh kamu berada di atas tubuh Rey. Bagaimana aunty tidak terkejut, aunty bukan mau memperpanjang masalah ini tapi... kamu itu tinggal di sini jadi otomatis, kamu adalah tanggung jawab aunty dan juga om Adam di sini, karena kedua orang tua kamu sudah mempercayakan kamu sama aunty akan baik-baik saja, lalu dengan kejadian ini bagaimana dengan orang tua kamu, mereka pasti kecewa dan marah pada aunty karena aunty tidak bisa menjaga anak gadis nya, dan yang paling aunty sesalkan anak aunty sendiri yang melakukan hal itu sama kamu." isak tangis Nisa pun pecah karena merasa kecewa dan penuh kekesalan.


"Aunty aku dan bang Rey minta maaf. Tapi kami memang sungguh-sungguh tidak melakukan hal seperti itu!" Latya dengan sejujurnya dia berkata.


"Iya bunda salah paham, tadi kita memang tidak sengaja, aku masuk kamar Latya karena dia menjerit histeris saat aku masuk ke rumah, aku takut ada hal yang terjadi pada Latya, makanya aku langsung saja masuk." jelas Rey apa adanya.


"Sudahlah biar nanti ayah kamu yang bertindak tegas bagaimana menyelesaikan masalah kalian ini." ujar Nisa ketus seraya pergi keluar kamar Latya. Nisa tidak mau mendengar lagi alasan mereka.


Setelah Nisa keluar Latya menatap Rey dengan tatapan mata yang sangat tajam. "Ini gara-gara bang Rey!" kesal Latya.


"Lho kok gara-gara Abang? Kan kamu sendiri yang melompat tiba-tiba dan nindih tubuh Abang! Mana cium-cium lagi." sebal nya.

__ADS_1


"Aku gak akan lompat kalau Abang gak iseng tadi! Aku kan takut tapi Abang malah sengaja nakutin aku!" kesal Latya seraya cemberut sebal.


"Siapa yang isengin!" kilah nya tidak mau mengaku.


"Ah tahu! Abang harus tanggung jawab!" ancamnya.


"Tanggung jawab bagaimana, kamu kan gak hamil, kalau kamu mau aku tanggung jawab Abang harus bikin kamu hamil dulu." godanya dengan seringai senyum di bibirnya, Latya melotot tidak menyangka Rey akan berucap seperti itu.


"Apa Latya hamil? Rey kamu ya! Bunda benar-benar kecewa sama kamu Rey!" teriak Nisa marah seraya memukul mukul tubuh Rey dengan kesal. Ia tadi kembali lagi ke kamar Latya karena Rey yang masih di dalam, Nisa berniat mengajak Rey untuk keluar kamar Latya karena takut mereka akan melanjutkan kembali adegan plus-plus nya itu. Dan ketika Nisa sudah berada di depan pintu kamar Latya dan mendengar ucapan Rey membuat emosi Nisa menjadi memuncak kembali seketika.


Rey dan Latya terkejut tiba-tiba Nisa datang dan dengan wajah penuh kesal. "Aduh bunda sakit!" keluh Rey saat bundanya itu terus saja memukuli nya.


"Ayah mu akan marah besar Rey, karena kamu melakukan hal sebodoh itu!" geram Nisa pada Rey. "Bisa-bisanya kamu menghamili anak gadis orang, kamu itu seorang polisi Rey!" sambung nya mengingatkan Rey.


"Dan kamu tahu om Aris juga akan marah besar karena kamu menghamili anak gadisnya, bunda harus bagaimana sekarang?" Isak Nisa di tengah kekesalannya.


"Bunda Rey cuma bercanda mana mungkin aku menghamili anak gadis!" serunya tidak terima.


"Sejak kapan kamu suka bercanda, bunda gak percaya!" sergah Nisa.


Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar merasa terpojok karena memang benar apa yang di ucapkan bundanya, dia tidak pernah bercanda.


"Tuh kan kamu bohong!" telak Nisa menatap Rey.


"Aku memang tidak bercanda, aku memang tidak menghamili Latya. Memang Rey perlu di coba jika Latya tidak hamil." ancam Rey yang membuat Nisa semakin tidak mengerti akan sikap Rey.


"Reypan!" teriak Nisa.


Rey dan Latya menutup kedua telinganya karena Nisa berteriak begitu kencang. "Awas ya kalian, karena kalian buat bunda hari ini pusing." kesal nya seraya pergi keluar kamar.


Rey melihat Latya tertunduk lirih, ia tahu jika Latya merasa sangat terkejut akan kejadian ini. Membuat Rey menghirup nafas nya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


"Reypan keluar kamu!" teriak Nisa dari luar.


Rey pun dengan cepat tersadar dari diamnya. "Jangan terlalu di pikirkan!" ucapnya pelan mengusap kepala Latya dengan lembut seraya melangkahkan kakinya keluar kamar dengan gaya cool dan tenang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2