
"Sayang, terima kasih karena sudah berjuang untuk melahirkan putri kita, aku semakin tahu sekarang menjadi seorang perempuan itu tidaklah mudah, Abang gak bisa berkata apa-apa lagi, yang pasti perjuangan seorang ibu itu tidak akan pernah di beli oleh apapun." lirih Rey begitu terharu ketika ia menyaksikan bagaimana Latya melahirkan.
Latya tersenyum. "Ya sama-sama, aku bahagia bisa melahirkan seorang anak, apalagi ayahnya adalah kamu hihihi." balas Latya cengengesan agar Rey tidak jadi laki-laki yang melow.
Rey mengusap air matanya yang tiba-tiba membasahi kedua pipinya. "Apa kamu ingin sesuatu? Nanti Abang belikan." ucapnya.
Latya menggeleng. "Enggak usah bang, aku gak butuh apa-apa, yang aku butuhkan Abang selalu dekat dengan aku." balas Latya menarik tangan Rey dan ia usapkan pada pipinya.
Rey pun tersenyum. "Ya Abang akan tunggu kamu, ayok istirahat kamu pasti lelah setelah melahirkan." ucap Rey lembut.
Latya pun mencoba memejamkan kedua matanya, dan tak lama ia pun tertidur, Rey melihat Latya tertidur ia pun mengusap kepala Latya dengan lembut.
Rey menarik nafasnya seraya terus menatap wajah Latya yang tengah tertidur, lalu ia melihat ke arah keranjang bayi yang ada di sebelah dimana Latya tertidur.
Rey tersenyum, memancarkan kebahagiaan yang baru ia rasakan, yaitu menjadi seorang ayah dari putri pertama mereka. Rey melepaskan pegangan tangan nya pada Latya, lalu ia mendekati ke ranjang bayi yang sama terlelap seperti ibunya. Rey mengusap pipi merah bayi itu, dan bayi itu tersenyum dengan matanya yang terpejam saat Rey menyentuh pipinya.
"Oh cantik sekali kamu nak, kamu suka ya ayah sentuh seperti ini." gumam Rey seraya terus mengusap pipi merah itu.
Suara pintu terbuka. Rey pun menoleh pada arah pintu itu. "Rey." panggil nya.
"Bunda, ayah kapan baru sampai?" tanya Rey pada kedua mertua nya.
"Iya, setelah mendapatkan kabar dari kedua orang tua mu, kami langsung berangkat kesini, bunda kaget mendengar Latya melahirkan." ujar Via. "Bunda mau lihat cucu bunda." sambung Via penuh semangat mendekati ke arah ranjang bayi mungil itu.
"Latya tidur?" tanya ayah Aris.
"Iya aku tadi menyuruhnya untuk tidur, aku kasihan melihat lelah nya Latya setelah melahirkan." ujar Rey.
"Ya kamu sekarang merasakan kan? Bagaimana rasanya menyaksikan istri kamu melahirkan, kamu beruntung karena bisa menemani istri kamu saat melahirkan." ucap Aris menepuk punggung Rey.
"Iya aku beruntung, aku bisa tahu bagaimana semengerikan nya melihat seorang perempuan melahirkan, rasanya nano-nano yah, ada rasa takut, khawatir dan juga cemas." urai Rey dengan ketakutan yang ia rasakan pada waktu Latya melahirkan anaknya. "Tapi setelah seperti ini, melihat mereka hadir dalam kehidupan ku aku bahagia sangat bahagia." ujar Rey lirih.
"Jaga Latya dan putrimu baik-baik Rey." pinta Aris dengan wajah serius.
"Pasti." sahut Rey mantap.
"Rey, apa nama yang akan kalian berikan untuk cucu ku yang cantik dan menggemaskan ini?" tanya Via penasaran.
"Belum bunda, kami belum memberikannya nama, karena Latya ingin nenek dan kakeknya yang memberikan nama itu." jawab Rey.
"Ah berarti bunda boleh dong kasih nama untuk cucu ku ini." ucapnya antusias.
"Boleh, nanti Latya yang akan pilih nama yang cocok untuk bayi kita." ujar Rey menengahi.
"Kenapa seperti itu?" tanya Via tidak terima.
"Karena tidak hanya bunda Via saja yang ingin memberikan nama, bunda Nisa juga mau, bunda Nisa bilang kalau dia sudah mempunyai nama yang akan di berikan pada cucunya ini." jelas Rey yang membuat Via mengerucut.
"Ya sudah lah sayang, neneknya kan tidak hanya kamu saja, tapi ada Nisa juga." ucap Aris membujuk istrinya agar tidak cemburu.
"Tapi... hah ya sudahlah." pasrah nya.
"Sudah kita keluar dulu, Latya dan bayi nya sedang istirahat, takut mereka bangun karena berisik." ajak Aris pada Via. Dan Via menurut saja karena memang kasihan pada Latya.
Ketika keluar ruangan dimana Latya di rawat, Nisa dan Adam yang baru saja dari kantin menghampiri Via dan juga Aris.
"Kalian sudah sampai? Sejak kapan?" tanya Nisa yang ada di hadapannya berdiri bersama Adam yang ada di samping nya.
Via langsung memeluk Nisa besannya itu melepaskan rindu karena jarang nya bertemu. "Baru saja kok, tadi sudah masuk sebentar tapi Latya sedang tidur, kita gak mau ganggu Latya istirahat." ujar Via.
"Kalian apa kabar?" tanya Adam seraya berpelukan dengan Aris ala laki-laki.
__ADS_1
"Keadaan kita baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaan kalian juga?" tanya Aris balik.
"Baik juga alhamdulilah." balas Adam.
"Kami tadi sempat khawatir dengan Latya, kalian tahu bagaimana paniknya kita di saat Latya sedang kontraksi, jalanan yang akan kita lalui tiba-tiba macet, sedangkan Latya dia sudah lama mengalami kontraksi." jelas Nisa dengan raut cemas nya.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu Latya kontraksi?" tanya Via heran.
"Latya tidak bilang padaku Via, aku baru tahu kontraksi yang Latya rasakan sudah sering ia muncul, maaf Via aku tidak peka, padahal aku sudah melahirkan dua kali." ucap Nisa tidak enak hati.
"Kenapa kamu minta maaf Nisa, yang terpenting sekarang adalah keadaan bayi dan Latya baik-baik saja." balas Via menenangkan Nisa.
"Ya aku ngerasa bersalah saja, karena tidak tahu jika Latya sedang menahan kesakitan nya." lanjut Nisa lirih.
*
*
*
Beberapa bulan setelah melahirkan Latya dan Rey yang kini belajar hidup mandiri pun di buat kewalahan oleh putri kecil yang menggemaskan itu. Menjadi bayi yang sehat dan gemoy membuat Latya cukup senang menjalani sebagai mama muda yang sama gemoy nya membuat Rey sebagai seorang suami semakin gemas melihat istrinya dan semakin luar biasa posesif pada istrinya itu.
Kini Latya dan Rey mencoba tinggal di sebuah perumahan untuk para polisi. Sebagai istri dari seorang polisi Latya menjalankan segala kegiatan nya dengan para istri polisi lainnya, ya beginilah sekarang, Latya menjalani sebagai seorang istri dan menjadi ibu rumah tangga tanpa mengeluh karena Rey yang cukup dewasa dalam membimbing istrinya selalu berbagi dalam menjaga putri kecilnya yang sedang aktif dan tidak bisa di tinggal begitu saja.
"Sayang selamat pagi..." sapa Rey pada putri kecilnya yang sedang di susui oleh Latya.
Putri nya itu tiba-tiba melepaskan ****** ibunya sampai terlepas begitu saja dan tertawa melihat ayahnya yang baru saja pulang dari tugas malam nya.
"Oh... kamu bikin gemas papi deh, sini ayok papi gendong." tawar Rey seraya merentangkan kedua tangannya pada putri kecilnya itu dan putrinya pun mengulurkan kedua tangannya ingin di gendong.
"Hemm memang bang Rey gak capek, kan baru aja pulang?" tanya Latya menatap suaminya itu.
"Aku kangen sama anakku sayang, memang tidak boleh." cebik nya seraya memindahkan tubuh putri nya ke pangkuannya lalu menciumi pipi cabi nya.
"Gak, kamu saja gih yang istirahat, pasti kamu lebih capek nemenin putri kita semalam sendirian." titah Rey lembut tanpa melihat ke arah Latya yang sedang memandangi nya dengan tatapan penuh cinta karena Rey suaminya begitu pengertian pada nya.
"Ahhhh aku terharu..." ucap Latya langsung menarik wajah suaminya yang sedang mengecupi pipi putri nya, lalu menciumi wajah suaminya dengan gemas, dari kening, hidung, kedua pipinya dan terakhir bibir Rey dengan singkat, Rey menerima saja ciuman istrinya itu tanpa ada penolakan. Namun saat setelah Latya mengecup bibir suaminya itu dan melepaskan nya, Rey langsung menarik kepala Latya lalu ia dengan cepat ******* bibir manis istrinya itu sampai benar-benar sangat lama membuat putrinya yang mereka beri nama Khanza Putria Maharani itu sampai menangis cukup kencang karena terhimpit oleh pelukan kedua orang tuanya.
Latya langsung mendorong dada suaminya yang tidak tahu waktu dan tidak tahu kondisi itu, Latya hanya mengecup sekilas sedangkan suaminya malah menciumi sampai seperti itu. Rey melepaskan ciumannya itu dan tersenyum tanpa dosa.
"Bang Rey!" cebik Latya kesal dengan memukul lengan Rey.
"Hehe kamu yang mulai." ucap acuh.
"Oeeeee." suara tangis pun semakin kencang.
"Oh sayang, tuh mami kamu yang mulai bukan papi." adu nya seraya menenangkan putri yang sedang menangis. "Cup cup cup." sambung nya dengan mengelus punggung putri kecilnya dengan lembut.
"Ih enak aja, papi kamu tuh yang nafsu." Latya tidak terima begitu saja dan si anak pun tidak akan mengerti apa yang di bicarakan dan di lakukan kedua orang tuanya hanya saja tidak nyaman membuat anak itu menangis.
"Hahaha gimana gak bisa nahan begini coba." goda Rey seraya menabok bokong Latya yang sekarang lebih berisi dengan gemas menggunakan tangan kanannya.
"Abang ih." kesal Latya seraya mencubit pinggang Rey. "Pelecehan!" sambung nya.
"Adaw pedes cubitannya." ucap Rey dengan mengusap pinggang nya yang terkena cubitan istrinya. "Sama istri sendiri wew." goda nya semakin menjadi.
"Aku lapor ke Komnas HAM lho!" ancam Latya gemas.
"Hahaha cubit dikit ah..." goda Rey mencubit pipi Latya yang kemerahan.
"Ahhhh." teriak Latya dengan tawa di tahan seraya langsung memeluk tubuh suaminya dari samping dengan rasa sayang.
__ADS_1
"Tuh papi kamu nak bikin mami jatuh cinta terus." adu Latya masih memeluk tubuh suaminya itu.
"Harus dan wajib. Dengar ya kamu dan Khanza itu dua wanita yang membuat aku bahagia." ujar Rey dengan lembut.
"Aku juga bahagia, sangat bahagia." balas Latya dengan lembut.
Rey tersenyum. "Abang boboin Khanza dulu ya, nanti Abang boboin kamu juga." goda Rey nakal.
''Ih sekarang Abang jadi genit deh, mana bang Rey yang galak, dingin dan jutek itu." goda Latya dengan sikap Rey yang jauh berbeda.
"Iya sekarang yang galak kamu!" cibir nya.
"Masa sih! Aku gak ngerasa ah." sahutnya cuek.
"Uh dasar!" ucap Rey seraya mengusap kepala Latya dengan lembut. "Lupa ya, kalau udah marah ancamannya sadis." ujar Rey.
Latya tersenyum tertahan. "Apa memang?" tanyanya dengan candaan.
"Abang! Jangan tidur sama aku! Dan sampai aku gak marah Abang jangan harap minta jatah!" ucap Rey dengan memperagakan jika Latya sedang kesal padanya.
"Hahaha. Apa iya?!" goda nya cuek.
"Uh gak peka." Rey melengos melangkahkan kakinya menuju kamar untuk menidurkan putri kecilnya yang sudah terlelap dalam pelukannya.
"Hehehe kezel dia." ucap Latya cekikikan.
***
Pagi hari nya Rey tengah libur dalam tugas nya dak sedang bercanda dengan putri nya.
"Bang Rey, hari ini aku mau masak dan bikin kue, Abang bisa kan jagain Khanza dulu." pinta Latya lembut.
"Ok sayang, serahkan tugas menjaga anak ini pada Abang." sahut nya dengan antusias.
"Ok. Tapi bukan jagain aja, Abang juga harus memandikan, memberikan susu, mengajak main dan.... boboin. Bisa?" tanya Latya memastikan jika suaminya sanggup.
"Okk itu masalah gampang." ujarnya pede. "Kamu masak yang enak aja, biar Abang yang jagain Khanza." ucapnya menyanggupi.
"Baiklah." balas Latya yakin.
Beberapa jam kemudian. "Mana Khanza bang?" tanya Latya saat suaminya sedang asyik memeluk istrinya dari belakang.
"Tidur." sahutnya. "Kamu belum beres yang?" tanyanya.
"Belum dikit lagi kok, tinggal nunggu ini Mateng. Abang udah lapar ya?" tanya Latya.
"Ya laper banget." balas Rey terus saja menyelusup dan menciumi leher belakang Latya.
"Abang jangan gini lah, aku lagi masak." omel Latya seraya mendorong mundur dengan menyikut perut Rey dengan pelan.
"Gak apa-apa gak ada yang lihat." sahutnya seraya terus memeluk kembali.
Tanpa menghiraukan ucapan Rey, Latya pun mematikan kompor nya dan menata masakan ke atas piring. "Taraaaa masakan sudah siap..." ucapnya. "Ayok kita makan!" ajak nya dan Rey pun mengikuti Latya.
"Abang makan duluan aja, aku mau cek dulu Khanza di kamar." ujar Latya dan di angguki oleh Rey.
Sesampainya di kamar Latya terkejut. "Oh ya ampun bang Rey..." teriak nya pelan karena takut jika putrinya yang sedang tertidur akan bangun.
Di dalam kamar Latya melihat betapa berantakan nya di dalam kamar. Kamar mandi yang masih terisi bak bekas mandi putri nya, dan OMG Latya melihat pakaian yang di kenakan oleh putri nya yang sama sekali tidak serasi karena putrinya menggunakan pakaian bayi yang sudah agak kekecilan membuat perutnya sedikit terbuka, padahal pakaian di dalam lemari pun banyak. Lalu Latya melihat lemarinya dan di buka.
"Ya ampun bang Rey..." gumamnya pelan pakaian yang sudah bersih dan tertata rapi karena sudah ia setrika pun berantakan semua bahkan terlihat acak-acakan.
__ADS_1
"Bang Rey cari baju apa cari keributan sih!" kesal pun melanda hati Latya.
"Ah benar-benar ini." pusing Latya harus menata kembali apa yang sudah ia kerjakan. Latya hanya bisa menarik dan menghela nafasnya. "Sabar Latya..." ucapnya seraya mengelus dadanya.