Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
perasaan yang damai


__ADS_3

Sesampainya di rumah Latya langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Nisa mertuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga menemani Rio yang tengah membuat gambar yang ia sukai.


"Assalamualaikum." ucap salam Latya dengan lemas.


"Wa'alaikumussalam." jawab Nisa bersamaan dengan Rio pun menjawab salam dari Latya.


Latya langsung menghampiri Nisa setengah berlari menghambur sebuah pelukan kepada Nisa dengan sangat erat. Yang sekarang ia inginkan yaitu memeluk seseorang yang bisa membuatnya merasa tenang.


Nisa langsung mengerutkan keningnya heran dengan sikap Latya yang tiba-tiba saja seperti itu padanya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Nisa lembut seraya mengusap belakang kepala Latya dengan lembut. Latya mengangguk pelan dengan terus memeluk Nisa dengan erat dan semakin mengeratkan pelukannya itu.


"Hei apa ada masalah?" tanya Nisa penasaran.


Latya mencoba merenggangkan pelukannya pada Nisa. "Gak apa-apa bunda." sahutnya cepat.


"Apa Rey jahat sama kamu?" tanya Nisa menggoda Latya.


"Ya bang Rey jahat." ucapnya dengan cengengesan.


"Rey galak sama kamu, kamu serius?" tanya Latya.


"Hehe gak kok Bun, aku cuma bercanda." ucap Latya dengan menyembunyikan kesedihannya. 'Bang Rey jahat, karena dia punya banyak fans yang menggilainya.' batin Latya.


"Emh kamu ya, pasti lagi sedih karena di tinggal Rey pergi bertugas. Iya kan?" goda Nisa dan Latya mengangguk pelan.


"Uh dasar, jadi istri abdi negara harus siap lho kalau di tinggal pergi bertugas sama suami, walau kita sedang sakit atau di rumah sendiri sekalipun." terang Nisa meyakinkan Latya. "Rey masih jarang dia dapat tugas jauh, tapi nanti setelah semakin Rey mendapatkan jabatan yang tinggi semakin dia juga akan sering pergi bertugas jauh dan pasti lama juga saat ia pergi, jadi kamu harus persiapkan diri kamu mulai dari sekarang untuk terbiasa ditinggal Rey pergi bertugas." sambung nya lagi.


Latya terdiam perkataan mertuanya itu mengingatkan ia akan ucapan tante Rahma yang meminta dirinya untuk menjauhi Rey, apa Latya harus menjalankan nya atau dia harus egois jangan sampai merelakan suaminya untuk Maura. "Hah." Latya menghembuskan nafasnya berat dan terdengar oleh Nisa.


"Tenang saja bunda yakin walaupun Rey jauh sama kamu dia pasti menjaga perasaan untuk kamu, Rey pasti setia." Nisa seakan tahu kegelisahan yang di rasakan Latya saat ini mencoba untuk menghibur nya.


Latya tersenyum lalu melihat ke arah Rio yang tengah membuat gambar. "Wah Rio jago ya bikin gambar, kamu suka melukis ya?" tanya Latya merasa kagum pada Rio adik iparnya itu.


Rio mengangguk pelan tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mewarnai hasil gambar nya.


"Kamu suka gambar apa sih kalau kak Latya boleh tahu?" tanya Latya untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.


"Aku suka semua gambar kak, yang paling aku suka gambar mobil seperti ini?" jawab nya penuh semangat.


"Wah hebat kamu." puji Latya seraya mengusap kepala Rio dengan gemas. "Aku bangga deh punya Ade ipar kayak kamu." pujinya lagi.


"Ngomong-ngomong Rio bisa melukis gitu dari siapa Bun?" tanya Latya menatap ke arah Nisa.


"Dari bunda mertua kamu lah nak." sahut ayah Adam menjawab pertanyaan Latya seraya mendekati arah dimana mereka duduk berkumpul.


"Dari bunda Nisa? Serius ayah?"tanya nya meyakinkan.


"Iya, bahkan dulu ayah yang jadi gambar favorit bunda Nisa." goda Adam pada Nisa dan Nisa mencubit pinggang Adam dengan gemas karena ia malu kenapa suaminya itu menceritakan itu.


"Aduh bunda sakit." cicit Adam.


"Oh ya, kok ayah tahu? Apa ayah suka jadi model bunda saat di lukis?" kepo Latya semakin penasaran.


"Tahu lah kan bunda pengagum rahasia ayah." Adam dengan bangganya berucap semakin Nisa menjadi gemas mendengar ucapan suaminya itu.


"Ih sembarangan ayah, jangan percaya Latya sama ucapan ayah mertua mu ini, ayah suka Ngada-ngada." kilah Nisa merasa malu.


"Hahaha bunda malu ya." Adam semakin menggoda Nisa yang berpura-pura marah dan Latya tersenyum melihat kemesraan ayah dan bunda mertuanya itu, walaupun mereka adalah mertuanya tapi Latya merasa mereka seperti orang tua nya sendiri, ia merasa senang dan bahagia melihat kebersamaan mereka yang selalu penuh dengan cinta.


'Apa kisah cinta aku sama bang Rey akan sampai menua atau malah kandas di tengah jalan?' batin nya semakin teriris.

__ADS_1


Latya tersenyum. "Aku ke kamar dulu ya ayah bunda." pamit Latya dan di iyakan oleh kedua mertuanya itu.


"Rio kak Latya ke kamar dulu ya." ijinnya pada Rio dan di ok kan olehnya. "Lain waktu kak Latya mau dong di lukis seperti ayah Adam sama bunda Nisa ya." pinta Latya pada Rio dan di iyakan oleh Rio.


Adam dan Nisa pun jadi tersenyum mendengar permintaan Latya pada Rio, Nisa dan Adam jadi mengingat akan cerita cinta nya dulu saat mereka masih tahap pendekatan.


Latya langsung menuju ke kamar nya menaiki tangga dengan cepat.


***


Malam hari tiba Latya belum bisa tidur karena masih mengingat ucapan Rahma tadi sore saat di cafe.


Latya menangis di dalam kamar tanpa Nisa ketahui, sebenarnya Latya ingin bercerita pada Nisa, untuk bisa mencari solusi bagaimana hubungan nya dengan Rey, Setelah sahabat nya itu meminta Latya untuk menjauhi Rey dan mendekatkan Maura pada suami nya itu, namun Latya belum bisa bercerita apalagi dia mengingat jika Rahma melarang siapapun tahu jika Rahma meminta hal seperti itu.


Saat Latya tahu jika di depan pintu terdengar suara Rey yang seperti sedang berbicara dengan rekan nya lewat handphone nya, Latya pun dengan cepat mengusap air mata yang dari tadi mengalir deras membasahi pipinya, ia tidak mau sampai suaminya tahu jika Latya sedang menangis.


Ceklek... suara pintu terbuka dengan perlahan. Latya dengan cepat menutup kedua mata, ia berpura-pura tidur, karena tidak ingin Rey curiga dan bertanya-tanya jika mengetahui dirinya tengah menangis.


Rey seperti biasa melihat istrinya yang sedang tertidur pun tersenyum, merasa lega, dia bisa bertemu dengan istrinya saat seharian ini ia tidak berjumpa dengan nya.


Rey menghampiri dimana arah Latya berada. Tanpa lama Rey mengecup kening Latya dengan penuh cinta dan ia pun sepeti biasa membisikan kata-kata sayang pada Latya.


"Abang sayang kamu, dan sangat merindukanmu mu." bisiknya di telinga Latya.


Tanpa ada Jawaban seperti biasa karena Rey tahu jika Latya sudah tertidur lalu Rey pun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Latya yang mendengar Rey ke kamar mandi, ia pun membuka matanya yang terpejam itu dengan pelan lalu tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu saja tanpa permisi, Latya tiba-tiba merasa teriris oleh bisikan cinta dari Rey untuk nya. Bisikan itu terasa menyakitkan saat ini untuk ia dengar padahal kemarin-kemarin kata-kata itu lah yang Latya tunggu dan ia senang untuk di dengar.


"Aku juga sayang sama kamu bang." lirihnya dengan terus menahan kesedihannya dan dengan air mata yang terus tidak bisa ia tahan.


Tak lama Rey pun keluar dari kamar mandinya, dan langsung naik ke atas kasur dimana Latya tertidur di sampingnya.


Melihat istrinya masih dengan posisi yang sama ketika tadi ia ke kamar mandi membuktikan jika Latya sudah tertidur dengan pulas.


Rey yang mendadak mendapatkan pelukan dari istrinya nya itu tidak tampak curiga, ia tersenyum lalu membalas pelukan dari Latya sama dengan eratnya dan mencium pucuk kepala Latya berkali-kali.


"Abang pikir kamu sudah tidur, kamu sengaja tunggu Abang ya? Hemm Abang kangen sama kamu, seharian tadi Abang gak lihat kamu." ujar Rey terus mengecup pucuk kepala Latya, sedangkan Latya ia terus menelusupkan kepalanya itu dan memeluk Rey dengan posesif.


'Aku juga kangen sama Abang, aku takut...' batin Latya sedih.


***


"Siapa bang?" tanya Latya saat mendengar handphone Rey berbunyi.


"Tante Rahma." jawabnya seakan enggan.


"Coba di jawab aja bang, siapa tahu ada hal penting." sambung Latya.


"Ah gak usah lah pasti soal Maura." celetuk Rey malas.


Latya menghela nafasnya panjang, tanpa berkomentar apapun.


Rey melirik ke arah Latya yang terlihat terdiam. "Kamu cemburu?" goda Rey.


Latya melirik sekilas pada Rey. "Sedikit." sahut nya tanpa ekspresi.


Rey tersenyum merasa di cemburui oleh istrinya itu. Lalu ia mengusap belakang kepala Latya. "Tenang saja Abang cuma cinta nya sama kamu." ujar Rey menenangkan.


Latya hanya tersenyum miring. 'Kamu gak tahu bang kalau tante Rahma sedang gencar-gencarnya mendekatkan kamu dengan Maura.' batin Latya seraya menatap ke arah luar jalanan.


"Kenapa sayang kok diam aja? Kita kan mau jalan-jalan, selama kamu tinggal di sini Abang gak pernah ajak kamu jalan." terang Rey.

__ADS_1


Latya diam saja, ia masih saja fokus dengan lamunan dalam pikirannya. 'Aku harus bisa mempertahankan bang Rey. Aku tidak akan pernah melepaskan bang Rey begitu saja.' batinnya.


"Sayang... hei sayang!" panggil Rey berkali-kali membuat Rey mengerem rem mobil nya secara mendadak.


Cekittttt.... jedug. "Awww." aduh Latya merasakan kesakitan karena kepalanya terjedot pada mobil.


"Bang Rey kenapa rem mendadak sih, aku kan jadi kejedot." omel Latya kesal seraya mengusap kepalanya yang sakit itu.


"Kamu kenapa? Abang perhatikan dari tadi kamu bengong aja, apa ada masalah? Cerita sama Abang." Rey merasa Latya sedang ada masalah.


"Gak ada kok." jawab Latya dengan senyum kikuk.


"Latya... Kita kan suami dan istri, kita harus terbuka apapun itu, jangan di pendam sendirian apalagi ada rahasia diantara kita." terang Rey merasa kecewa dengan sikap Latya hari ini.


"Rahasia apa, aku gak ada rahasia apa-apa kok." ucapnya meyakinkan.


Rey menatap Latya secara intens. Lalu menghela nafasnya panjang. 'Apa yang kamu pikirkan sayang.' batin Rey saat ia melihat kedua mata istrinya seperti memendam kesedihan.


Rey melepaskan sabuk pengaman nya lalu memeluk tubuh Latya dan membawanya ke dalam dekapan nya. "Ingat Latya jangan pernah bohongi Abang, Abang tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Abang, apa ini ada hubungannya dengan hubungan kita atau yang lain?" ucap Rey penuh selidik.


Latya diam saja, ia pun menahan air matanya agar tidak jatuh dan di ketahui oleh Rey jika dirinya sedang merasa sedih.


Rey melonggarkan pelukannya pada Latya dan menatap kembali wajah istrinya itu, sedangkan Latya menatap ke arah lain agar ia tidak menangis di depan Rey.


Rey mendekat ke wajah Latya lalu mencium bibir Latya yang merah dan lembab itu dengan begitu lembut, Latya membiarkan suaminya itu mencium bibir nya, mereka saling memejamkan kedua matanya, Latya menikmati dan membalas ciuman dari suaminya itu, begitu lama mereka menikmati apa yang membuat mereka merasa tenang. Setelah merasa puas dengan nafas Rey yang begitu cepat karena semakin dalam semakin menuntut sedangkan Latya ia hanya ingin menyalurkan kesedihannya agar tidak membuat nya semakin merasa bersalah.


Rey menyatukan keningnya pada kening Latya dengan nafas yang masih terengah-engah. "Kita cek in ke hotel." bisik nya. Latya tersenyum kecil mendengar suaminya berbisik seperti itu.


Saat mereka sedang serius dalam kegiatannya panggilan dari Nisa membuat Rey dan Latya tersadar dan Rey langsung menjawab panggilan itu.


"Wa'alaikumussalam Bun, ada apa?" tanya Rey seraya mengusap bibir Latya yang basah itu oleh jarinya.


"Iya nanti Rey jawab panggilan tante Rahma."


"Iya." Tut panggilan pun terputus.


"Ada apa?" tanya Latya setelah suaminya selesai berbicara.


"Tante Rahma telpon bunda, dia bilang cari Abang karena dari tadi Abang gak jawab panggilan nya. Tante Rahma langsung telepon bunda makanya bunda langsung telepon." terang Rey.


"Oh...". ucap Latya pelan.


"Ya sudah gimana kalau kita ke hotel saja, kita cek in hari ini." goda Rey seraya sambil kedua alisnya ia naik turunkan.


Latya tergelak ia pikir permintaan suaminya tadi hanya bohong tapi nyatanya itu tidak main-main.


"Apa sih bang, kan niat kita mau jalan-jalan hari ini, dan lebih baik sekarang Abang telepon saja dulu tante Rahma, siapa tahu memang ada perlu sama Abang." jelas Latya.


"Ah biarkan saja dulu, Abang hari ini mau seharian bareng kamu, mumpung ada waktu berdua." ujarnya. "Kita cek in dulu ya hari ini." Rey masih kekeh.


Latya tersenyum. "Terserah."


"Yes." ucap Rey penuh semangat.


"Dasar kamu bang, kalau cuma untuk untuk tidur di rumah kan bisa." celetuk Latya dengan suara manja nya.


"Di rumah bakal ada yang ganggu apalagi hari ini orang rumah pada libur. Gak akan santai kita bikin adonan nya." canda Rey.


"Memang mau bikin kue, mesti di adonan!!!" cebik Latya.


"Hahaha." Rey tergelak dengan mencubit pipi Latya yang kemerahan itu dengan gemas.

__ADS_1


"Sayang deh Abang sama kamu." ucapnya serius.


Latya tersenyum ia senang hari ini, dekat dengan Rey membuat dirinya bisa melupakan kesedihannya yang sedang ia rasakan. Padahal kesedihannya itu ada hubungannya dengan Rey. Tapi Rey juga yang membuat hatinya melupakan sejenak.


__ADS_2