Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
kasus


__ADS_3

Setelah Rey memperkenalkan dirinya kepada Rahma dan juga Maura, dia izin untuk masuk kamar. Mendapatkan izin dari Rahma dan juga Nisa Rey pun bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.


Latya mengikuti karena Nisa yang menyuruhnya untuk bertanya apa dia akan makan bersama dengan mereka atau tidak, Latya mengikuti Rey yang akan masuk ke kamar. Rey menghentikan langkahnya saat sesudah ada di dalam kamar.


"Mau ngapain ikuti Abang?" tanyanya sedikit menggoda.


"Aku di suruh bunda, Abang mau makan bareng apa gak?" tanyanya.


"Emh ya tapi Abang mandi dulu." jawabnya.


Ketika Latya akan keluar kamar, Rey memanggil Latya. "Latya." panggil nya.


Latya pun berbalik. "Iya." sahutnya ketus karena dia merasa kesal saja melihat Rey yang di tatap oleh Maura.


"Ini." Rey menyodorkan sebuah buku yang ia bawa lalu ia berikan pada Latya.


Latya tersenyum karena buku yang di butuhkan dan belum ada waktu untuk membeli akhirnya ia dapatkan juga. "Hehehe makasih. Kok Abang tahu sih aku butuh buku ini." ujarnya heran.


"Emh rahasia." serunya. "Belajar yang rajin." sambung nya seraya mengusap kepala Latya. " Biar cepat lulus!" sambung nya.


"Ah cepat lulus memang mau ngapain lagi, nikah udah, punya suami juga udah." sahutnya sedikit kecewa karena apa yang ia cita-citakan dulu setelah lulus kuliah pun sirna, karena bagi Latya pernikahan ini membuat dia jadi terikat oleh Rey sebagai suami nya.


"Punya anak." sambung Rey dengan ekspresi datar nya.


"Punya anak?" tanya Latya terkejut karena mau memiliki anak bagaimana hubungannya mereka saja masih begitu canggung dan satu lagi Latya belum terpikirkan akan memiliki seorang bayi. "Bagaimana bisa?" gumam Latya pelan namun terdengar oleh Rey.


"Nanti akan Abang ajarkan!" serunya dengan senyum menggoda Latya.


"Apa sih, ajari apa coba!"


"Kamu mau tahu?" tanya Rey seraya mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Latya yang memerah karena mereka begitu dekat.


Latya menelan ludah nya kasar. Menggelengkan kepalanya lalu mengangguk membuat Rey tersenyum karena Latya begitu gugup saat di dekatinya. Dengan cepat Rey mengecup bibir Latya dengan lembut. Cup sebuah ciuman mendarat membuat Latya mematung dan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Latya tidak menolak dan tidak membalas ciuman Rey itu dia diam saja.


Rey melepaskan ciumannya itu. "Ini pelajaran pertama yang Abang berikan untuk kamu." bisik nya di telinga Latya yang masih diam mematung. Rey menatap Latya lalu tersenyum, ia pun pergi menuju kamar mandi meninggalkan Latya yang masih diam.


Latya mencoba menyadarkan dirinya, dengan menggelengkan-gelengkan kepalanya. Lalu dia menatap pintu kamar mandi terdengar suara gelak tawanya di sana. Latya berdesis kesal bisa-bisanya Rey mencuri ciuman nya dan lebih kesal nya kenapa dirinya diam saja seperti menikmati ciuman itu.


Latya langsung keluar kamar, namun sebelum itu Latya menghirup nafas nya dalam-dalam menetralisirkan hatinya yang masih campur aduk. Setelah di rasa hati nya sudah merasa nyaman Latya menemui Nisa dan kedua tamunya.


Saat makan pun tiba, semua sudah berkumpul, Rey pun sudah berada di sana setelah ia selesai mandinya. Duduk di dekat Latya dan berhadapan dengan Maura yang sama-sama ikut makan bersama di sana.


Maura masih curi-curi pandang pada Rey dan itu tidak luput dari pengawasan Latya yang sedang merasakan hatinya yang tiba-tiba panas melihat hal itu.


Namun Rey masih saja cuek fokus pada makanan yang ada di hadapannya, ntah menyadari atau tidak jika Maura dari sejak bertemu terus saja memperhatikan nya sampai di meja makan pun ia terus saja memperhatikan nya.


Saat Maura tersadar jika Latya memperhatikan nya yang sedang memperhatikan Rey, ia melirik ke arah Latya namun Latya dengan cepat mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada di piring nya dan berpura-pura sedang menikmati makanannya.


"Rey nanti antar tante Rahma dan Maura pulang ya, mereka tadi tidak membawa mobil, di sini kan tahu sendiri untuk cari kendaraan harus jalan dulu sampai depan." tutur Nisa memberikan instruksi pada Rey di tengah mereka sedang menikmati makanannya.


"Emh iya." sahut Rey pendek.


"Aduh Nisa aku jadi ngerepotin kamu deh harus nya tadi kita bawa mobil ya Maura, tadi aku malas banget kalau bawa mobil sendiri, tahu sendiri kan Jakarta macet." ujarnya.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa, kalian juga baru pertama kalinya mampir ke sini." seru Nisa.


"Ok deh tapi sebelumnya terimakasih lho Nisa." ucapnya sungkan.


"Iya sama-sama." balas Nisa.


Setelah selesai makan Rahma dan juga Maura pamit untuk pulang. "Nisa gue pulang ya, apa nanti boleh gue main lagi ke sini?" tanyanya dengan senyuman.


"Boleh, kapan pun kalian mau datang silahkan pintu rumah ku terbuka untuk kalian." ucap Nisa.


"Iya sudah kita pamit ya, makasih untuk hari ini." ucap Rahma tulus.


Nisa tersenyum. "Iya jangan sungkan."


Latya menghela nafasnya sebenarnya ia ingin ikut bersama Rey menemaninya untuk mengantarkan Rahma dan juga Maura, namun dia tidak mau memperlihatkan jika dia sedang tidak suka dengan keadaan seperti ini.


Melihat Maura yang terlihat sangat bahagia saat Rey akan mengantar nya. Dan yang paling sebal Maura meminta tante Rahma agar dia duduk di depan di samping Rey yang akan mengemudi.


Kendaraan pun melaju seperti biasa, tidak ada obrolan karena Rey yang dari tadi diam saja. Saat mereka dalam pikiran masing-masing sebuah panggilan telepon dari handphone Rahma berbunyi.


"Iya hallo?"


"Apa?"


"Iya saya akan segera kesana."


Itulah sepenggal kalimat yang terdengar oleh Rey dan juga Maura.


"Emh Rey maaf nih bisa tidak kamu antar tante dan Maura ke kantor papa nya Maura." ucap Rahma memohon.


"Iya, nanti tante akan tunjukkan. Terima kasih ya Rey." ucapnya.


"Iya sama-sama."


"Tante memang siapa tadi yang menelepon lalu kenapa kita harus ke kantor papa? Sebentar lagi juga papa pulang jadi untuk apa kita kesana?" rentetan pertanyaan yang Maura berikan pada Rahma penasaran karena tantenya terlihat begitu panik dan juga seperti khawatir.


"Maura, tadi orang kantor yang menelpon tante, dia beritahu tante kalau papamu di sana tidak sadarkan diri." tutur Rahma menjelaskan.


"Apa?" Kenapa bisa papa tidak sadarkan diri?" tanya Maura khawatir.


"Ntahlah tante juga gak tahu, makanya kita sekarang harus kesana." ucap Rahma juga khawatir namun ia sembunyikan itu karena ia takut jika Maura akan ikut panik.


"Rey bisa kamu percepat mobil nya aku takut sekali terjadi apa-apa dengan papaku." Maura dengan suara bergetar.


"Hemmm tenangkan hati kamu Maura." balas Rey lembut.


Tak lama mereka pun sampai di kantor papa nya Maura. Dengan langkah yang cepat Rahma dan Maura masuk ke dalam ruangan dimana Rangga berada di sana.


Di sana terlihat ada asisten Rangga yang selalu setia kemanapun Rangga pergi.


"Papa..." teriak Maura saat ia masuk dan melihat papa nya di sana terbujur kaku dengan mulut mengeluarkan busa.


"Papa..." teriak Maura lirih ia terkejut melihat kondisi papanya.

__ADS_1


"Om Rangga bangun om. Kenapa bisa seperti ini."


"Maaf Bu Rahma, nona Maura pak Rangga sudah tiada, saya baru mengetahui nya tidak lama ketika saya memberitahu anda tadi." ucap asisten Rangga yang tengah berdiri.


"Apa yang terjadi, anda kan asisten om Rangga dan anda setiap saat selalu bersama nya, pasti anda tahu kan apa yang terjadi pada om saya." ucap Rahma mencari tahu apa yang terjadi.


"Maaf Bu Rahma saya benar-benar tidak tahu, karena saya sebelumnya tengah pergi, pak Rangga menyuruh saya untuk menyiapkan berkas untuk besok pagi, karena ada agenda rapat." jawabnya. "Lalu setelah saya selesai menyiapkan nya dan kembali untuk melaporkan pada Rangga ternyata pak Rangga sudah seperti ini, saya sudah cek dan ternyata pak Rangga sudah tidak bernyawa lagi." ujarnya menceritakan.


"Tidak... Papa..." teriak Maura dengan Isak tangisnya membuat Rahma merasa sedih merasakan apa yang di rasakan keponakannya itu.


"Maura kamu harus tenang sayang, jangan seperti ini, ingat kondisi kamu juga lemah." ucap Rahma menenangkan Maura dengan terus mengelus punggung nya dengan lembut.


"Aku gak peduli tante, papa... papa bangun! Jangan tinggalkan Maura sendirian..." ucapnya dengan begitu sedih dan terus menggoyangkan tubuh papanya yang terbujur kaku itu.


Rey yang melihat kematian Rangga pun ia mendekat ke arah dimana Rangga tergeletak itu. Lalu Rey mengecek tubuh Rangga dan melihat itu Rey seperti merasa aneh dengan meninggal nya papa Maura itu.


"Ayok kita bawa ke rumah sakit." ucap Maura cepat. "Kenapa kalian diam saja!" teriak nya histeris.


"Maura papa kamu sudah meninggal sayang, kamu harus kuat mengetahui bahwa papa kamu sudah meninggal." ucap Rahma terus mencoba menenangkan Maura.


"Tante... papa gak mungkin meninggalkan aku sendirian, papa pasti masih hidup." isaknya ia berkata.


"Sayang kamu tidak sendirian ada tante di sini bersama kamu." balas Rahma memeluk Maura.


Rey mengelilingi setiap ruangan kantor pak Rangga, ia merasa jika meninggal nya pak Rangga seperti ada yang aneh dan begitu janggal. Karena dari mulut pak Rangga yang mengeluarkan busa seperti orang yang sedang keracunan. Tidak mungkin kan jika pak Rangga meninggal seperti biasanya. Apa pak Rangga bunuh diri atau di bunuh? Itu yang kini Rey pikirkan.


"Ayok kita bawa ke rumah sakit!" ucap Rey cepat.


Sebelum Rey membawa Rangga untuk di bawa ke rumah sakit, Rey pun berucap. "Tolong ruangan ini jangan dulu di bersihkan dan jangan sampai ada orang masuk sebelum kami para polisi menyelidikinya!" titah Rey tegas pada asisten Rangga itu.


"Ada apa Rey?" tanya Rahma jadi penasaran.


"Maaf tante sebelumnya, aku merasa jika meninggal nya pak Rangga seperti ada unsur kesengajaan." jawab Rey cepat.


"Maksudnya apa Rey?" tanya Rahma tidak mengerti.


"Sepertinya pak Rangga bunuh diri atau ada yang membunuhnya." ujar Rey menjelaskan kejanggalannya dengan serius.


Rahma mengerutkan dahinya tidak mengerti, kenapa om nya itu bunuh diri atau ada masalah apa sampai ada orang yang tega membunuh nya.


"Maaf tante ini hanya pikiran aku saja, tapi semoga apa yang aku pikirkan itu tidak benar adanya." ucap Rey agar tidak membuat keluarga pak Rangga tidak merasa apa yang di rasakan oleh Rey yang belum tentu ada benarnya.


"Kenapa kamu sampai mikir ke arah sana Rey?" tanya Rahma penuh selidik.


"Karena meninggal nya pak Rangga yang mengeluarkan busa di mulutnya, biasanya orang yang mengeluarkan busa itu jika dia meminum sebuah racun. Bisa kemungkinan kasus ini bunuh diri atau di bunuh." tutur Rey merasa yakin.


"Iya benar Rey, meninggal nya om Rangga begitu aneh." balas Rahma merasakan ada yang aneh.


"Apa tante mau masalah ini di laporkan ke polisi? Kalau tante tidak keberatan aku akan meminta kasus ini untuk di selidiki." tawar Rey serius.


"Bagaimana Maura apa kamu setuju?" tanya Rahma menatap Maura.


"Iya aku setuju." jawabnya lemah.

__ADS_1


"Ok aku akan meminta ruangan ini di tutup sementara sebelum kasus ini di selidiki, karena kita pasti akan mendapatkan bukti-bukti dari sini." ucap Rey mantap.


Rahma dan Maura mengangguk. Lalu Rahma pun menyuruh asisten Rangga untuk menutup dan mengunci ruangan kantor Rangga untuk sementara, dan tidak boleh ada satupun orang yang masuk ke dalam ruangan itu.


__ADS_2