Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
menikah


__ADS_3

"Apa menikah?" sahut Rey dan Latya bersamaan dengan ekspresi terkejut dan saling pandang.


Kini mereka berdua sedang duduk bersebelahan dengan di tatap oleh keempat orang tua mereka yang ada di hadapan mereka berdua.


Via dan Aris sudah berada di kediaman Nisa dan juga Adam saat ini, mereka sangat terkejut saat mendengar cerita dari Nisa. Sempat marah dan kecewa Aris pada Nisa karena Latya yang ia jaga dari kecil kini hamil di luar nikah, dan lebih kecewa nya lagi laki-laki yang menghamili anak gadisnya adalah Rey pemuda yang sangat ia sayangi seperti anaknya sendiri.


"Iya kalian harus segera menikah, karena bunda gak mau jika sampai kamu hamil tanpa status yang jelas. Bunda mau kalian menikah secepatnya!" ucap Via menatap Latya yang sedang menunduk.


"Tapi bunda aku gak hamil!" kesal Latya menatap ibunya.


"Walaupun kamu tidak hamil, tapi kalian sudah melakukan nya kan, jadi bunda gak mau jika kalian melakukan lagi saat kami sedang tidak mengawasi kalian. Kita gak akan mungkin mengawasi kalian selama 24 jam." ucap Via yang membuat Latya terdiam. "Maka kalian akan secepatnya kami nikahkan!" serunya.


Aris menghela nafasnya berat. "Rey sebenarnya om sangat kecewa sekali dengan perbuatan kamu itu yang tidak bisa menahan, padahal kalian tidak usah melakukan hal seperti itu jika kalian memang saling suka dan jatuh cinta, kalian bisa bicarakan dengan baik-baik, dan kamu Rey kamu bisa meminta om secara baik-baik jika ingin menikahi Latya, om dan tante Via pasti mengijinkan dan merestui kamu untuk menikah dengan Latya." ujar Aris dengan hembusan kecewa.


"Iya Aris, Via maafkan anak ku ya aku juga tidak percaya kejadian ini akan terjadi, mungkin memang kita ditakdirkan untuk jadi besanan, ya walaupun caranya harus seperti ini." lirih Nisa merasa tidak enak.


"Semuanya sudah terjadi Nisa, dan bukan karena Rey saja yang salah tapi Latya anak kami pun salah. Di sini kita sama-sama salah sebagai orang tua mereka, karena tidak bisa memperkuat iman mereka untuk tidak melakukan hal seperti itu." jawab Via menenangkan Nisa agar ia tidak selalu menyalahkan.


"Ya sudah sekarang kita cari waktu yang tepat untuk segera menikahkan mereka." sambung Aris.


"Tapi mungkin mereka akan menikah secara agama dulu Aris, karena Rey belum mendapatkan ijin untuk menikah, dia belum dua tahun berdinas, kamu tahu sendiri kan aturan negara untuk seorang abdi negara." jelas Adam pada Aris. "Sebentar lagi Rey akan mendapatkan ijin untuk menikah ya sekitar setahun kurang lagi." tambahnya.


"Oke tidak apa-apa, yang pasti mereka harus sah secara agama, untuk nikah kantor nanti kita akan bicarakan lagi. Tapi mungkin pernikahan mereka harus di sembunyikan dulu dari orang-orang karena saya takut akan jadi masalah nantinya." ujar Aris.

__ADS_1


"Benar apa kata kamu, ya paling saksi saja yang akan tahu pernikahan anak kita ini." ucap Adam membenarkan perkataan Aris.


"Iya aku setuju, yang terpenting sekarang mereka akan halal terlebih dahulu, jadi kita akan tenang dan mereka pun di jauhkan dari zinah." sambung Nisa dan di angguki Via.


Mereka sangat lega karena bisa menyelesaikan masalah mereka karena perbuatan anak-anak mereka. Namun tidak dengan Rey dan Latya mereka kesal karena bisa-bisanya orang tuanya menikahkan mereka secepat itu tanpa mereka tahu bagaimana perasaan mereka masing-masing selama ini.


***


Satu Minggu kemudian dua pasangan suami-istri itu sedang mempersiapkan acara ijab qobul sang putra putrinya, mereka kini sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan yang secara mendadak itu.


Pak RT dan juga wakil nya menjadi saksi untuk pernikahan mereka, karena Nisa dan Adam serta Aris dan Via tidak mau dulu pernikahan anak-anak nya di publikasikan karena suatu sebab. Adam juga meminta kedua saksi untuk tidak dulu memberi tahukan pada orang banyak dengan alasan yang sudah Adam jelaskan pada mereka, dan pak RT dan wakil nya pun mengerti akan hal itu. Jika memang sangat sudah harus di publikasikan baru lah Adam dan keluarga akan meminta pak RT dan wakil nya sekarang menjadi saksi bisa menjadi saksi nantinya jika diperlukan.


Kini Latya sedikit di rias oleh perias, ya walaupun ini pernikahan dadakan tapi keluarga Latya meminta untuk anaknya agar di dandani padahal Latya sendiri tidak menginginkan hal itu, karena ini pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.


Latya duduk di kursi dan menghadap ke arah cermin dimana cermin itu ada di depannya. Menatap wajahnya yang cantik akibat penata rias yang mendandaninya. Dalam hati Latya ia memang merasa sangat kagum dengan kecantikan nya sendiri karena sangat berbeda sekali.


"Aku tidak menyangka hari ini aku akan menikah." batinnya terus saja menatap wajahnya di depan cermin. "Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan! Aku ingin menikah dengan acara lamaran, pertunangan dan juga menggunakan acara adat saat aku menikah, tapi... malah seperti ini." lirih Latya dalam hatinya.


"Apa aku kabur saja, agar aku tidak menikah semuda ini. Tapi....aku harus kabur kemana? Ini Jakarta bukan tempat tinggal ku!" batin nya lagi seraya menghela nafasnya panjang.


Helaan nafas Latya terdengar oleh penata rias. "Gak usah deg degan mba dan juga jangan gugup, kan yang mengucapkan ijab calon suami nya." goda si penata rias.


Latya tersenyum kikuk, si penata rias dia pikir kalau dia deg degan karena pernikahan nya, padahal dia bukan nervous karena itu.

__ADS_1


"Hemm ya mba aku gugup, kapan ini berakhir." ucapnya pelan.


"Berakhir bagaimana mbak kan ijab nya juga belum di mulai. Mbak nya udah gak sabar untuk di pinang ya, sabar ya saya tahu kok calon suami mbak itu ganteng banget, tadi saya gak sengaja lihat pas saya tadi ijin ke toilet." jawab nya cekikikan karena ulahnya yang memuji calon suami Latya. "Ganteng banget ya, coba kalau saya masih muda hehehe pasti saya sudah jatuh hati." ucapnya cengengesan


Latya tersenyum saja dengan ucapan sang penata rias. "Ambil aja mbak kalau Mbak mau!" canda Latya.


"Wah si mas nya mau gak ya sama saya yang udah matang begini?" balas penata rias dengan candaan juga.


Waktu pun terus berputar, penata rias yang mendandani Latya sudah selesai. "Wah lihat mbak pangling banget, cantik tenan lho, pantas saja si mas ganteng nya mau nikahin mbak, wong cantik begini padahal saya cuma kasih polesan sederhana yang mbak pinta." puji penata rias merasa kagum. "Saya foto ya Mbak nanti saya masukan foto Mbak sebagai model saya nanti di akun saya. Gak apa-apa kan?" tanyanya.


Latya mengangguk. "Boleh mbak, tapi jangan lama-lama di pajang di akun sosmed ya, khawatir!" ucap Latya dengan senyum.


"Ok cantik." ucap nya.


Tak lama Via masuk ke dalam kamar Latya dimana Latya sedang di dandani.


"Apa sudah selesai?" tanya Via seraya melihat ke arah Latya. Iya sempat kagum akan cantik putrinya itu.


"Sudah Bu, ini sudah cantik." ucap penata rias.


"Wah cantik sekali anak bunda." puji Via dengan mata mulai berkaca-kaca karena anaknya itu akan segera menikah. "Ayok kita keluar sayang, semua sudah menunggu kamu di sana." sambung nya.


Latya mengangguk dan menghirup nafas nya dalam-dalam menghilangkan rasa gugupnya. Lalu ia pun berdiri dan berjalan melangkah bersama ibunya.

__ADS_1


Via tersenyum lembut melihat anaknya. "Jangan gugup, kamu hanya diam di samping calon suami kamu." ucapnya saat ia menggenggam tangan anaknya yang begitu dingin dan basah.


Latya tersenyum kaku, ibunya tahu jika dirinya sedang gugup, ntah kenapa dirinya bisa segugup itu padahal pernikahan ini pernikahan yang belum sepenuhnya ia inginkan.


__ADS_2