Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
penyelidikan


__ADS_3

Sesampainya di kantor, kini Rey dan juga Latya tengah berada di parkiran. Latya dengan terburu-buru cepat untuk keluar dari mobil suaminya itu. Iya sudah benar-benar merasa malu akan kejadian tadi di tengah perjalanan mereka. Dan sekarang suaminya itu terlihat sedang memperhatikan gerak-gerik nya membuat Latya menjadi semakin salah tingkah.


"Tunggu!" cegah Rey menahan tangan Latya saat istrinya itu akan pergi, dan terlihat bersusah-payah membuka sabuk pengaman yang ia pakai sebelumnya.


Latya menghentikan kegiatannya. Dan dengan cepat Rey mendekat pada Latya yang duduk di sampingnya. Latya tiba-tiba berdebar-debar kembali Jantung nya setelah tadi sudah ia normal kan saat Rey mencium nya.


Latya terdiam karena tingkah suaminya hari ini begitu sangat aneh dan mulai berani bersentuhan secara fisik. Ya memang sih suami tapi terlihat sangat aneh, ntahlah apa yang di pikirkan suaminya itu.


Rey melihat Latya yang begitu gugup saat dirinya mendekati nya. Rey tersenyum nakal, ia benar-benar merasa bahagia bisa terus menggoda istrinya itu. Saat sedang membuka sabuk pengaman nya Rey terus saja menatap wajah Latya dan terus mendekat dan semakin dekat.


"Bang... ingat kita sudah di lingkungan kantor jangan macam-macam!" ancam Latya tegas ia tidak mau kejadian tadi terulang kembali, apalagi ini sudah sampai di tempat lingkungan mereka bekerja. Bagaimana jika ada orang yang melihat mereka berduaan seperti itu.


"Oh ok Abang gak akan macam-macam di sini. Kita lanjutkan di rumah ya." goda Rey membuat Latya tersipu malu.


Dengan buru-buru dan tanpa menjawab setelah sabuk pengaman sudah terlepas dan Rey sudah menjauh, Latya dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar dengan tergesa-gesa.


Saat turun dengan tergesa-gesa Latya tidak memperhatikan orang yang berada di dekatnya. Brug... "Eh maaf." ucap Latya tidak enak hati. "Bang Andre?" kejut nya.


"Hallo Latya, kenapa buru-buru begitu? Kamu gak apa-apa?" tanyanya heran dan khawatir.


"Eh gak apa-apa bang." serunya.


Rey turun saat melihat Andre sahabat nya berbicara dengan Latya dan Andre melihat Rey yang menghampirinya.


"Eh Rey, jadi kalian berangkat bareng?" tanya Andre berbasa-basi, padahal dia tahu setiap saat Rey bertugas pagi pasti Latya pergi selalu bersama Rey di sampingnya.


Rey tersenyum. "Iya, kan dia ist..." ucapnya terpotong ia hampir menyebutkan jika Latya istrinya, untung saja ia segera sadar. "Dia kan tinggal sama gue." sambungnya.


"Emh gitu, wah lain kali gue bisa dong maen ke rumah elu." ijin Andre penuh harap.


Rey mengerutkan dahinya. "Mau apa elu ke rumah gue?" tanya Rey merasa keberatan namun bagi Andre itu adalah gurauan Rey sebagai sahabat nya.


"Mau maen lah, dah lama juga kan gue gak pernah ketemu sama tante Nisa dan Rio." kilah Andre seraya menatap ke arah Latya.


Rey yang tahu sahabat nya itu tertarik pada istrinya terlihat karena dari tadi ia melihat Latya dan memperhatikan terus padahal ia yang mengajaknya bicara.


Andre yang menatap Latya pun angkat bicara. "Oh ya beberapa hari ini kamu cuti? Ngomong-ngomong ambil cuti berhari-hari kamu pergi kemana Latya?" tanya Andre penasaran karena beberapa hari ia tidak melihat Latya. "Abang tanya sama Rey dia mah boro-boro jawab yang ada Abang kesel sama dia." sambung nya.


"Emh aku...aku cuti pulang karena ada urusan keluarga." jawabnya gugup. 'Yailah bang Rey gak akan jawab toh kita cuti kan karena dia nikah sama aku!' batin Latya dengan senyum kikuk.


"Oh gitu ya, Abang pikir kamu sakit." ujarnya merasa cemas.


Latya tersenyum, dia bingung harus menjawab apa, apalagi Rey sedang ada di sampingnya. Latya yang merasa sudah terlambat pun dengan cepat meminta ijin untuk masuk terlebih dahulu agar tidak selalu di tanya-tanya lagi.


"Emh bang Rey, bang Andre aku duluan ya." ijin Latya segera pergi meninggalkan dua laki-laki yang sama-sama sedang menatapnya.


Tanpa mendapatkan ijin dari Rey maupun Andre Latya langsung bergegas pergi menjauh dari mereka berdua.


"Eh Latya kamu mau kemana? kok buru-buru." teriak Andre menggoda Latya. "Dasar tuh anak ya." sambung nya.


Andre melihat kepergian Latya lalu beralih melihat Rey yang sedang senyam-senyum menyungging senyuman menghiasi bibirnya karena ia ingat kejadian tadi di jalan, membuat Andre yang melihat sahabatnya itu merasa aneh karena jarang-jarang Rey seperti itu.


"Kenapa elu senyum-senyum begitu? Kesambet? Jangan-jangan makhluk penghuni pohon besar itu yang rasuki elu!" Andre bergidik ngeri melihat Rey seperti itu.

__ADS_1


Rey hanya mendelik kedua matanya tidak suka. Karena kegiatannya tadi di ketahui oleh Andre.


"Apa jangan-jangan elu lagi jatuh cinta?" tanyanya penuh selidik dengan menatap langsung ke wajah Rey dengan seksama. "Cewek mana yang udah bikin elu senyum-senyum gini seperti orang gila?" tanyanya lagi.


"Apa sih elu!" Rey merasa tidak suka di tatap seperti itu. "Jangan ganggu!" ucapnya tegas.


Andre menghela nafasnya panjang. Sahabatnya ini tidak akan langsung bercerita jika dia belum ia paksa. Ya tapi lama-lama dia selalu cerita juga pada akhirnya.


"Eh Rey gimana kasus yang akan elu selidiki itu?" tanya Andre serius.


"Lagi dalam proses, rencana sih hari ini gue akan memulai penyelidikan nya." ujar Rey menjelaskan dengan serius juga.


"Emh good luck buat elu Rey, gue yakin elu bisa jalani tugas ini, karena pimpinan kita saja yakin kasus ini elu tangani apa lagi gue." ujarnya memberi semangat pada Rey.


"Ya akan gue selidiki sampai gue menemukan siapa pembunuh itu." ucapnya yakin jika dia akan menemukan orang yang membunuh pak Rangga pengusaha sukses sekaligus papa dari Maura keponakan Rahma sahabat ibu nya.


*


*


*


Rey beserta rekan nya yang membantu menangani kasus itu pun pergi ke tempat dimana kejadian perkara, yaitu ruangan dimana perusahaan yang korban pimpin.


Kejanggalan-kejanggalan ketika korban meninggal pun Rey dan rekan nya selidiki dengan begitu apik. Rey tahu jika tersangka pembunuhan itu bukan orang main-main karena terlihat sangat terencana dengan baik.


"Saya ingin para karyawan pak Rangga yang masih bekerja saat malam korban terbunuh datang ke ruangan ini, saya akan jadikan mereka sebagai saksi." titah Rey pada asisten pak Rangga yang mengetahui bagaimana kematian bos nya itu.


Rey menyuruh mereka bukan tanpa alasan, Rey dan rekannya sudah melihat cctv yang terpasang di dalam setiap ruangan, namun cctv itu tidak berfungsi, sudah cukup jelas jika pelaku ini bermain dengan cantik, mereka merencanakan rencana ini dengan begitu apik agar para pihak penyelidik tidak akan menemukan nya. Namun para polisi tidak akan menyerah begitu saja, mereka masih banyak cara untuk menemukan bukti yang akan di temukan, masih banyak cara dalam otak Rey mengenai kasus ini. Tidak mungkin kan jika cctv perusahaan besar tidak berfungsi dengan baik jika tidak ada yang merusak nya.


Siapa tahu di antara mereka lah salah satu tersangka pembunuhan korban.


Sedikit-sedikit kejanggalan itu di temukan, seperti bekas minum korban yang hampir kering semua di kumpulkan sebagai bukti penyelidikan.


Rey melihat ada satu gelas di atas meja kerjanya tepat di depan dimana korban duduk. Sekilas korban seperti sedang sendirian saat ia sebelum tewas tapi Rey dengan mata gesit nya melihat di sekitar ruangan. Ia tak sengaja melihat tempat pulpen dan alat tulis dengan menggunakan wadah seperti gelas. Tidak mungkin jika seorang pengusaha kaya menyimpan alat tulis di dalam gelas. Gelas itu pun Rey raih dan mencoba mencium nya, Rey mengerutkan keningnya tercium aroma disana.


"Bau kopi?" gumam Rey pelan. Rey pun memasukkan bukti itu, terlihat jelas jika sebelumnya korban bertemu dengan seseorang sebelum ia meninggal.


Lalu beralih Rey melihat ke bawah karpet di bawah sofa yang ada di ruangan itu, Rey melihat ada noda kopi di sana. "Hemm ambil gambar ini!" titah nya dengan menunjuk ke arah karpet yang ada noda kopi di sana.


"Apa kalian tahu tamu yang di temui pak Rangga sebelum dia meninggal?" tanya Rey menatap satu persatu karyawan korban.


Di tatapnya sekretaris pak Rangga. "Saya waktu itu sedang ke toilet pak, dan saya juga tidak tahu jika ada tamu yang menemui pak Rangga pada malam itu." tutur sekretaris korban menjelaskan.


Lalu beralih Rey menatap pada OB. "Saya waktu itu membawa dua gelas kopi dan pada waktu itu pak Rangga masih terlihat sendiri di dalam ruangan nya. Jadi saya tidak tahu pak." jelasnya jujur.


"Ok, lalu anda sebagai asisten pak Rangga pada waktu kejadian anda sedang pergi kemana?" tanya Rey penuh selidik.


"Saya waktu itu di perintahkan oleh pak Rangga untuk mengambil berkas untuk bahan meeting untuk esok harinya. Dan saya juga tidak tahu siapa tamu yang di temui oleh pak Rangga karena pak Rangga tidak memberitahu kepada saya jika malam itu beliau akan menemui seorang tamu." ujarnya menjelaskan.


Mendengar dari jawaban para karyawan pak Rangga, Rey belum bisa menyimpulkan siapa tersangka pembunuhan pak Rangga. Rey harus menemukan bukti yang lain agar semua lebih jelas. "Ok sepertinya cukup penyelidikan untuk hari ini." ucapnya serius dengan otak yang terus-menerus tidak diam ia terus menyapu ruangan itu siapa tahu Rey menemukan kembali bukti yang di sembunyikan oleh tersangka.


***

__ADS_1


Jam tugas selesai, bukti sedikit demi sedikit sudah terkumpul tinggal bagaimana menyambungkan bukti dimana tewasnya pengusaha kaya itu. Apa motif nya karena pribadi atau motif karena perusahaan yang korban jalankan.


Rey pun kembali ke kantor setelah ia bertugas di luar, dan menunggu Latya keluar dari ruangan dimana ia di tempatkan untuk magang nya.


"Abang tunggu di tempat biasa." sebuah pesan singkat terkirim pada nomor Latya.


Latya pun bergegas menemui Rey yang sedang menunggunya, karena tidak mau membuat orang lain untuk menunggu, karena menunggu adalah hal yang sangat membosankan!


Latya tersenyum kaku ia selalu malu jika bertemu dengan Rey. Ia jadi mengingat kejadian tadi pagi. Namun hatinya masih kesal karena ia juga ingat jika suaminya itu di peluk oleh Maura padahal istrinya sedang berdiri berada di samping nya. Sungguh sangat menyebalkan!


"Sudah selesai?" tanya nya saat ia melihat istrinya yang masih terlihat cantik walaupun hari sudah mulai Sore.


Latya mengangguk langsung masuk ke dalam mobil yang berada di samping Rey.


Rey tidak ambil pusing ia pun mengikuti Latya masuk ke dalam mobilnya. Dan tak lama mobil itu pun melaju.


Tidak ada obrolan atau pembicaraan di antara mereka, mereka masih sibuk dalam pikiran mereka masing-masing.


"Kamu sudah makan?" tanya Rey mencairkan suasana. Terlihat juga wajah Latya sedikit pucat.


Latya menggelengkan kepalanya lemah, ia memang belum makan setelah istirahat siang tadi.


"Mau makan?" tanya Rey dan di angguki oleh Latya terlihat oleh Rey begitu lucu, Rey seperti membawa Rio melihat tingkah laku Latya saat ini.


"Mau makan apa?" tanyanya lagi.


Latya berpikir dan melihat ke arah jalanan siapa tahu ia menemukan penjual makanan di sana. "Itu!" tunjuk nya dengan semangat. Menunjukkan pada jajanan di pinggir jalanan.


"Jangan jajan, makan saja biar langsung kenyang!" omel Rey tegas.


Latya mendengus kesal dan cemberut. Melihat istri kecilnya itu merajuk Rey berdecak. "Iya sudah Abang belikan tapi di bungkus aja ya, jadi kamu bisa makan di mobil." tawar nya dan di angguki oleh Latya dengan cepat dan tersenyum senang.


Rey pun turun dan membelikan jajanan yang Latya mau, setelah mendapatkan nya Rey langsung memberikan nya pada istrinya itu dan di sambut oleh Latya dengan penuh semangat.


Rey menggelengkan kepalanya, istri kecil nya itu memang masih suka jajan, maklum lah anak mami dan dia juga masih kuliah Rey memakluminya.


"Abang mau?" tawar Latya pada Rey.


Rey menggelengkan kepalanya cepat. Lagi pula di perjalanan tadi menuju kantor ia sempatkan untuk makan terlebih dahulu.


"Yakin Abang gak mau?" tanyanya menggoda Rey. Rey masih menggelengkan kepalanya yakin.


Latya mengangkat kedua bahunya masa bodoh, jika Rey tidak mau yang terpenting dia sudah menawarkan makanan itu pada Rey.


Rey melirik pada Latya yang asyik memakan jajanan itu dengan lahap nya, ntah karena lapar atau makanan nya itu enak, yang pasti Rey saat melihat istrinya dengan mulut penuh membuat Rey merasa tergoda. Ntah kenapa setelah adegan mencium bibir Latya membuat nya ketagihan, seakan ingin lagi dan lagi.


Saat Latya akan memasukan makanan itu kedalam mulutnya itu dengan cepat Rey melahap makanan yang ada di tangan Latya dengan cepat, membuat Latya merengek. "Ih Abang kenapa makanan aku di makan?" sebal Latya.


Rey hanya tersenyum senang seraya mengunyah makanan yang di rebut dari tangan istrinya itu.


"Siapa yang beli makanan itu?" tanya Rey.


"Ya Abang Rey, tapi tadi bilang gak mau!" seru Latya dengan cemberut.

__ADS_1


"Itu tadi sekarang beda!" tegasnya.


__ADS_2