Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
terus terang


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Nisa dan juga Rey langsung menghampiri Rahma yang sedang menunggu di dalam ruangan Maura. Terlihat jika Maura sudah sadar dan tengah duduk bersender dengan bantalan yang ia gunakan.


"Assalamualaikum..." sapa Nisa pelan dan mendekat ke arah dimana Rahma duduk.


"Wa'alaikumussalam Nisa." jawabnya merasa senang dengan kedatangan Nisa seraya dia berdiri menyambut Nisa dengan cipika cipiki.


Maura tersenyum melihat keakraban dua sahabat itu, terkadang Maura iri karena ia tak pernah memiliki seorang sahabat bahkan memiliki teman Maura tidak punya.


Maura melirik Rey yang ada di samping Nisa yang sedang menatapnya lalu Maura pun mengajak Rey untuk tersenyum.


Rey tidak membalas senyuman Maura. "Bagiamana keadaan kamu?" tanyanya langsung.


"Maura masih harus di rawat Rey, dia kan baru saja mengalami kecelakaan." celetuk Rahma menjawab pertanyaan Rey pada Maura.


"Lalu bagaimana kata dokter?" tanya Nisa penasaran.


"Dokter memang bilang kecelakaan yang Maura alami tidak begitu parah dan untung saja tidak ada luka serius di dalam tubuhnya dan syukur nya juga kecelakaan itu tidak mengenai kepala. Jadi Maura aman. Tapi dia harus beristirahat dulu sampai benar-benar pulih." ucap Rahma menjelaskan.


"Oh syukurlah." ucap Nisa merasa lega dan pun menghela nafas lega.


"Terima kasih Maura karena sudah menolong ku kemarin, maaf sudah membuat kamu mengalami kecelakaan seperti ini apalagi kamu sampai harus di rawat." ujar Rey dengan ikhlas. Ia memang merasa tidak enak juga karena gara-gara menolong dirinya Maura jadi mengalami kecelakaan itu.


Maura tersenyum. "Aku tidak apa-apa Rey, aku senang kalau kamu baik-baik saja. Aku bahkan lebih rela jika aku yang harus mengalami kecelakaan itu." balas Maura dengan tatapan penuh pada Rey.


Rey semakin tidak enak mendengar jawaban Maura, ia menjadi serba salah di buatnya. Rey diam saja ia tidak mengatakan apa-apa lagi.


Rahma menghela nafasnya panjang. "Jadi Rey, tante minta sama kamu jangan membuat Maura sedih, karena Maura saja begitu rela dengan nyawanya demi kamu." Rahma selalu membuat Rey merasa terpojok.


Merasa harus di bicarakan antara hubungan anak-anaknya dengan Maura Nisa pun mengajak Rahma untuk bicara sebentar di kantin sedangkan Rey dia menunggu Maura di dalam ruangan.


Kepergian Nisa dan Rahma dari ruangan Maura pun membuat Rey dan Maura saling terdiam. Rey yang tidak banyak bicara lebih menyibukkan dirinya dengan handphone yang ada di tangannya, membalas semua pesan dari rekan nya dan iseng-iseng mengirimkan pesan pada Latya yang pasti sedang sibuk magang.


"Sayang..."


"Sayang..."


"Sayang..."


Tiga kali pesan yang Rey kirimkan namun Latya tak kunjung membalas pesannya. Rey menjadi kesal di buatnya, padahal dia tahu jika Latya tengah sibuk. Latya pasti tengah menatap pada layar komputer yang ada di depannya, mengerjakan berbagai tugas yang diberikan pembina nya yaitu Bripda Desti.


Rey mendengus kesal namun pelan. Namun tidak lama istrinya itu pun membalas pesannya.


"Ada apa bang? Aku capek banget pusing!" keluh nya.


"Pusing kenapa sayang?" Rey pun dengan cepat membalas pesan itu dengan khawatir.


"Pusing sama huruf-huruf di depan mata aku ๐Ÿ˜ซ ๐Ÿ˜ซ." dengan emot yang membuat Rey tersenyum.


"Oh Abang kira pusing karena kangen sama abang ๐Ÿคจ!" Rey pura-pura merajuk.


"Ya itu salah satunya hehehe." balas Latya cepat membuat Rey tersenyum senang dan tanpa sadar Rey pun senyum-senyum sendiri.


"Nanti kamu pulang Abang pijat ya biar kamu gak pusing." balas Rey menawarkan dirinya dengan serius.


"Pijat plus-plus ya ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ." balas Latya mulai nakal.

__ADS_1


"Siap komandan cantik ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜." godanya membuat Rey geli sendiri dengan sikap istri kecilnya itu, semakin kesini Latya semakin membuat nya gemas saja. Dan dirinya juga sikap dinginnya menjadi panas dan liar jika sedang bersama istrinya.


Maura yang dari tadi memperhatikan Rey yang sibuk dengan handphone nya dan melihat Rey tersenyum sendiri membuat ia pun angkat bicara karena merasa di cueki. Ia tahu pasti Rey sedang membalas pesan dengan Latya.


"Rey." ucapnya pelan namun terdengar oleh Rey.


Rey mendongak mengarah pada Maura yang sedang memanggilnya tadi. "Ya Maura ada apa?" tanya nya.


"Apa aku boleh meminta satu permintaan sama kamu?" ucapnya menatap Rey dengan tatapan serius.


"Ya tentu, katakan saja!" ucapnya tanpa melihat ke arah Maura karena Rey masih sibuk dengan handphone yang ada di tangannya itu.


Maura mendelik tidak suka sikap Rey yang cuek padanya. Semakin ia mendekati Rey maka semakin jauh dan sulit untuk ia dapatkan, Rey terlihat sangat menjaga jarak dengan nya. "Sebelum aku meminta sesuatu dari mu jawab dulu pertanyaan ku. Apa kamu dan Latya benar menjalin sebuah hubungan?" tanya Maura tanpa menatap Rey.


Rey mematikan handphone nya. Lalu menatap wajah Maura yang terlihat pucat dan sendu, Rey seakan tiba-tiba tidak tega pada Maura, Maura gadis yang baik dan Rey akui dia gadis yang cantik juga. Maura bertanya seperti itu membuat Rey bertanya apa maksudnya?


"Iya aku dan Latya memiliki sebuah hubungan nya serius." jawabnya jujur.


Maura menghirup nafas nya dalam-dalam mendengar pengakuan Rey membuat dadanya tiba-tiba begitu sangat sesak. "Apa aku tidak ada artinya untuk kamu Rey?" lirih Maura berkata.


Rey terdiam ia bingung harus menjawab apa, ia tidak enak jika harus menjawab ya kamu tidak ada ada artinya di hatiku, ah sungguh sangat menyakitkan bila aku menjawab seperti itu padanya.


"Aku akui, kamu adalah laki-laki yang pertama yang pernah aku cintai setelah papa sebagai cinta antara laki-laki dan perempuan. Ntah kenapa aku merasa nyaman jika dekat dengan kamu." ucapnya lalu Maura tersenyum sinis. "Tapi sayang seperti nya kamu tidak akan pernah aku miliki. Cinta pertama ku adalah cinta yang membuat ku luka karena aku tidak pernah kamu anggap Rey. Apa aku boleh egois sekarang?" tanyanya menatap Rey dengan matanya yang mulai mengembun dengan tatapan tajam.


"Aku ingin egois Rey, aku ingin memiliki mu!" ucapnya dengan suara bergetar. "Aku akan memberikan apapun yang aku mau agar kamu bisa dengan ku Rey, please aku mohon sama kamu jangan membuat hatiku terluka, karena tubuhku sudah terluka." pintanya dengan penuh harap.


Rey menghela nafasnya panjang. "Maura aku minta maaf sebelumnya, aku harus berkata tegas sama kamu, aku tidak mungkin menerima perasaan kamu itu, mohon maaf Maura." ucap Rey dengan berat hati.


"Apa karena aku memiliki tubuh yang sakit sehingga kamu menolak ku Rey." ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Ya Latya memang cantik, dia juga sehat tidak seperti aku yang sakit-sakitan." ucapnya sendu. "Tuhan kenapa tidak kau ambil saja nyawaku saat kemarin aku mengalami kecelakaan supaya laki-laki yang aku cintai tahu jika aku rela mati untuk nya." isak Maura semakin pecah.


"Maura jangan seperti itu, kamu cantik pasti banyak laki-laki yang mau dengan mu." ucap Rey menenangkan namun bukan tenang ya Maura rasakan ia semakin menangis.


"Laki-laki yang aku mau itu kamu Rey bukan orang lain, kalau laki-laki lain akan menyukai ku kenapa kamu menolak ku?" tanya nya dengan nada tinggi.


"Maaf." lirih Rey.


Maura tersenyum sinis. "Aku tahu jawabannya Rey, karena aku sakit kan?" telak nya.


Rey menghirup nafasnya dengan berat. "Bukan karena kamu sakit Maura, tapi karena aku tidak memiliki perasaan cinta terhadap kamu, dan satu lagi yang harus kamu tahu Maura." ucapnya sedikit ragu namun Rey menghirup nafasnya dengan banyak agar ada keberanian dari dirinya untuk memberi tahukan yang sebenarnya. "Aku dan Latya sudah menikah, aku sudah menjadi suami dari istri yang bernama Latya." terang Rey jujur ia sudah tidak sabar lagi untuk memberi tahu hal ini pada Maura agar ia bisa mengerti.


Deg... jantung Maura seakan berhenti mendengar perkataan Rey tersebut. Namun di detik berikutnya Maura tersenyum sinis karena ketidakpercayaan terhadap ucapan Rey. "Kamu pasti bohong kan Rey, kamu berkata seperti itu karena kamu tidak mau membuat ku terus berharap sama kamu kan?" Maura menatap tajam pada wajah Rey mencari kebenaran yang di ucapkan oleh nya.


"Aku tidak bohong Maura, aku sudah menikah secara siri dengan Latya." jelas Rey berkata jujur.


Maura terdiam mencerna semua ucapan Rey. "Aku tidak percaya Rey, kamu pasti bohong!" ucapnya berteriak.


"Terserah apa kata mu Maura, aku sudah mengatakan yang sejujurnya." ucap Rey masa bodoh.


"Aku tidak percaya Rey." teriak nya dengan melemparkan barang yang ada di dekatnya sehingga membuat Rey mencoba menenangkan Maura.


"Tenang Maura, tenang. Aku mengatakan semua ini agar kamu mengerti, aku tidak mau kamu terus berharap padaku karena aku tidak mau menyakiti perasaan kamu." terang Rey terus menenangkan Maura.


Rey terus menenangkan Maura sedangkan Nisa dan juga Rahma mereka tengah di kantin untuk membicarakan bagaimana hubungan anak-anaknya sambil memesan makanan.

__ADS_1


"Nisa aku senang kamu kesini, aku sebenarnya lelah jika Maura terus masuk keluar rumah sakit, aku kasihan melihat dia." keluh Rahma pada Nisa sahabat nya.


"Ya aku juga merasa kasihan melihat Maura, maaf Rahma karena berniat menolong Rey Maura jadi kecelakaan seperti ini." ucap Nisa tak enak hati.


"Sudahlah Nisa tidak usah kamu merasa tidak enak hati, yang terpenting sekarang Maura tidak apa-apa dan Rey pun selamat, ya mungkin karena Maura begitu mencintai Rey dia rela saja mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Rey." ujar Rahma membuat Nisa semakin merasa dirinya harus berbalas budi pada Rahma dan juga Maura.


"Oh ya Rahma, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Nisa sedikit ragu untuk bertanya.


"Tanya aja Nis, kamu kok ragu begitu kita sahabatan udah lama jadi jangan ragu untuk apapun itu." Rahma berkata dengan senyumnya.


Nisa tersenyum tipis. "Emh apa kamu pernah mengancam Latya agar dia menjauhi Rey anakku?" Nisa menatap Rahma dengan serius.


Uhuk...uhuk. Rahma terbatuk-batuk ketika ia sedang meminum minumannya karena mendengar pertanyaan Nisa yang membuat Rahma terkejut.


"Maksud kamu apa Nisa?" kilah nya.


"Rey menceritakan itu padaku, bahwa kamu sudah mengancam Latya agar menjauhi Rey dan melepaskan Rey untuk Maura." jelas Nisa dengan tatapan penuh kecewa karena Rahma tidak langsung mengakui perbuatannya.


Rahma tersenyum tipis. "Untuk apa aku mengancam anak gadis itu, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan nya. Lalu bagaimana aku bisa mengancam nya." kilahnya lagi.


"Rahma, aku harap kamu jangan memaksakan kehendak kamu pada anak-anak ku apalagi soal perasaan mereka, mereka tidak bisa di atur begitu saja karena aku pun tidak akan mau jika hidup kita di atur dan di paksa, Rey sudah besar dia berhak untuk memilih siapa yang akan ia pilih untuk menjadi pendamping nya nanti. Latya maupun Maura aku tidak mempermasalahkan nya asal kan Rey bahagia." jelas Nisa sangat kecewa dengan Rahma yang mengatur anaknya, Ia saja selalu memberikan kebebasan pada Rey apapun itu yang penting tidak merugikan dirinya atau pun orang lain, menikahkan Rey dan Latya memang terpaksa karena Rey harus bertanggung jawab karena ia pikir Rey dan Latya melakukan hubungan terlarang, tapi di lihat sekarang jika Rey memang sudah menerima Latya menjadi istrinya.


Rahma terdiam mendengar Nisa yang seperti kecewa padanya. 'Gadis itu benar-benar ya, aku kan sudah menyuruh dia untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun.' geram Rahma dalam hatinya. 'Aku kan jadi bingung harus bagaimana menjelaskan nya pada nisa.' sambung nya lagi. 'Awas ya kamu Latya! Sudah membuat aku dan Nisa jadi salah paham begini.' ancam nya dalam hati.


"Aku... aku tidak memaksa Latya kok, aku hanya meminta dia untuk tidak begitu dekat dengan Rey, kamu tahu sendiri kan Maura begitu mencintai Rey, aku mau jika Maura lah yang akan mendampingi Rey nantinya. Ayok lah Nisa bujuk Rey agar ia mau menerima Maura, apa kurang nya Maura sih dia tidak jauh berbeda dengan Latya hanya kondisi nya saja Maura yang sakit. Harus nya kamu lebih memilih Maura Nisa, Maura sakit dia juga rela kan menyelamatkan Rey walaupun dia harus yang menggantikan posisi Rey yang akan tertabrak." Rahma terus saja membujuk Nisa agar ia mengerti dengan kemauannya.


Nisa mendesah kecewa mendengar pengakuan Rahma itu, tidak seharusnya dia seperti itu memaksakan keinginannya yang tidak diinginkan oleh Rey anaknya. Nisa jadi bingung dengan masalah ini membuat dia menjadi mendadak migran.


Sedangkan di dalam ruangan Maura, Maura semakin mengamuk karena Rey yang sudah mengakui hubungan nya dengan Latya yang sebenarnya.


"Kamu bohong Rey, kamu bohong!" teriak nya. Suster yang mendengar pasien berteriak-teriak pun langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa ini? Kenapa dengan pasien?" tanya suster saat melihat Maura tengah mengamuk di dalam ruangan nya.


"Tolong suster saya tidak bisa menenangkan nya." pinta Rey merasa bingung dengan sikap Maura saat ini.


Suster itu pun memanggil dokter dan tak lama dokter itu datang.


"Kamu bohong Rey, aku tidak mau!" racau Maura berteriak dan menolak suster yang mencoba menenangkan nya.


Semua barang di dalam ruangan Maura berantakan dan berjatuhan, ada pas bunga juga pecah karena Maura lempar. Rey pun tangan nya sedikit berdarah karena terkena lemparan itu. Maura benar-benar mengamuk setelah ia tahu hubungan nya dengan Latya.


"Ada apa ini?" tanya Nisa dan Rahma dengan terkejut melihat ruangan Maura begitu berantakan dan ada dokter beserta suster sudah siap untuk menyuntikkan obat penenang pada Maura.


"Ada apa Rey?" tanya Nisa penasaran.


Rey tidak menjawab ia hanya menghirup nafas nya dalam-dalam. Kejadian tadi benar-benar membuat Rey merasa serba salah.


Rey menatap ibunya. Lalu menceritakan apa yang terjadi pada Maura pada ibunya setelah dirinya merasa tenang, sedangkan Rahma ia menunggu Maura di dalam.


Nisa terkejut mendengar penjelasan Rey seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan nya. "Ya ampun Rey kamu itu kenapa bilang sekarang, harusnya tunggu Maura pulih dulu, kita jelaskan padanya pelan-pelan." ujar Nisa menghela nafasnya.


"Aku tidak sabar Bun, supaya Maura tahu yang sebenarnya dan tidak terus berharap pada Rey." jawab Rey mantap.


"Tapi kamu membuat Maura syok jadi seperti ini kan kejadiannya." Nisa merasa lelah juga tapi ada sedikit kelegaan dari dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2