Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
merasa cemburu itu tanda cinta


__ADS_3

Dokter itu tersenyum lega melihat pasien yang ia tangani sudah siuman. "Alhamdulillah ya nona Latya sudah sadar, saya sangat lega sekali karena nona Latya hanya koma dua hari. Apa yang kita takutkan tidak terjadi. Hanya saja nona Latya harus terapi kaki nya dulu, karena kecelakaan yang terjadi kepada nona ini membuat tulang kaki kanan anda sedikit retak. Untuk itu di sarankan anda harus banyak istirahat dan harus menjaga pola makan ya, karena ini berhubungan dengan tulang nona harus lebih memilih makanan yang akan dikonsumsi." urai dokter menjelaskan keadaan Latya sekarang ini.


"Iya baik dok saya yang akan memperhatikan apa kegiatan dan juga makanan yang akan di makan oleh istri saya." Rey langsung menyambar ucapan dokter itu sedangkan Latya dia hanya tersenyum lemah karena memang kondisinya yang masih belum begitu pulih.


"Wah nona Latya ini beruntung sekali mendapatkan suami seperti pak Reypan ini ya." puji dokter itu.


Latya menatap dan Rey sama-sama saling menatap lalu mengunci pandangan mereka, cukup lama mereka saling menatap membuat dokter yang berada di sana berdehem.


"Ekhemm. Sepertinya saya harus keluar, karena pemeriksaan saya sudah selesai. Jika ada yang nona Latya butuhkan bisa panggil saya kembali." ucap dokter dengan tersenyum ramah dan dokter merasa menjadi nyamuk di antara Rey dan juga Latya.


Rey tersadar dari tatapan mereka yang seperti terpanah api cinta. "Oh iya dok terima kasih, nanti jika Latya perlu apa-apa lagi saya akan segera panggil dokter kembali." ujar Rey di tengah salah tingkah nya itu.


Dokter yang bernama dokter Maya pun pergi ke luar ruangan di ikuti oleh suster yang dari tadi menemani dokter Maya. Latya yang masih lemah pun menatap kembali ke arah Rey yang masih salah tingkah itu.


"Abang Kenapa?" tanya Latya lemah.


"Hemm gak apa-apa." sahut nya. "Abang senang kamu sudah sadar." ucapnya datar.


Latya tersenyum. "Aku sadar karena aku sering mendengar ada orang yang selalu membisikkan aku kata sayang. Dan aku sebelum sadar melihat seorang laki-laki yang terus saja memanggil namaku padahal saat itu aku akan pergi karena melihat sebuah cahaya yang selalu bersinar terang." ungkap Latya pelan. "Seseorang itu terus saja memanggil nama ku sehingga membuat ku sadar. Aku seperti sedang bermimpi." tambahnya.


Deg... Rey terkejut dengan cerita Latya saat sebelum ia sadar. "Lalu kamu tahu dan mengenal seseorang yang selalu memanggil nama kamu dan yang selalu membisikkan kata sayang itu?" tanya Rey agak malu jika benar dia selalu mendengar kata-kata yang selalu ia bisikan pada Latya itu.


Latya menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak tahu, dan aku juga tidak mengenal. Namun aku yakin jika seseorang itu adalah seseorang yang mengharapkan aku untuk segera sadar dalam mimpi panjang ku." ujar Latya dengan senyum menghiasi bibirnya yang masih terlihat pucat.


Rey tersenyum tipis lalu mengelus kepala Latya dengan lembut. "Kamu yakin tidak tahu siapa seseorang itu?" tanya Rey meyakinkan Latya.


"Iya aku yakin." sahutnya dengan menatap kedua mata Rey yang begitu dekat. Ia tahu jika suara itu terdengar seperti suara Rey. Namun Latya tidak mau merasa percaya diri sebelum Rey mengakui nya sendiri.


Rey salah tingkah di tatap oleh Latya seperti itu. Karena tatapan Latya terlihat begitu berbeda. Rey dengan cepat memutuskan pandangan mata mereka dari Latya. "Abang telepon dulu orang di rumah, pasti mereka bahagia sekali kalau tahu kamu sudah sadar." kilah nya cepat dan di angguki oleh Latya dengan pelan.


Setelah Rey menghubungi dan memberi tahu kepada keluarganya tentang kabar Latya yang sudah sadar. Rey pun memutuskan kembali panggilan nya itu. "Orang tua kita senang sekali kamu sadar, mereka sebentar lagi akan kesini." ujar Rey.


Dua suster masuk ke dalam ruangan dimana Latya di rawat, salah satu suster itu membawa makanan untuk pasien sedangkan satu nya lagi membawa peralatan medis. "Permisi, mohon maaf, nona Latya sudah sadar? Tadi dokter menyuruh kami untuk pengecekan kembali." jelas suster itu.


Pengecekan Latya pun tidak membutuhkan waktu yang lama, pengecekan darah, denyut nadi dan yang lainnya yang biasa suster itu lakukan pun selesai.


"Suster saya boleh tidak mandi, soal nya gak enak banget rasanya badan saya terasa lengket sekali." ucap Latya meminta ijin.


Suster tersenyum. "Silahkan Nona asal di elap saja, supaya tidak begitu lengket. Jangan dulu mandi dengan air yang banyak ya nona karena luka di tubuh nona juga belum begitu kering. Biasanya pasien cukup di lap saja dan biasanya suami nona Latya yang selalu membersihkan tubuh nona."


"Apa?" ucap Latya terkejut lalu menatap ke arah Rey yang berdiri tidak jauh di belakang suster. Rey yang di tatap tajam oleh Latya hanya menampilkan sikap cueknya mencoba bersikap biasa saja saat istrinya itu menatapnya.


"Iya nona suami anda adalah suami yang begitu sayang kepada anda, jarang sekali laki-laki mau mengurus istri saat istrinya sakit apalagi banyak suster di sini, tapi suami anda mau melakukan nya sendiri." puji suster itu merasa kagum terhadap Rey.


Sekali lagi Latya menatap ke arah Rey yang masih memperlihatkan sifat datar nya. "Bang Rey aku butuh penjelasan nanti!" ucap Latya pelan.


Rey cuek pura-pura tidak mendengar ucapan Latya, membuat Latya cemberut menggemaskan saat Rey melihatnya.


Suster yang tidak tahu dan tidak mengerti dengan keadaan mereka, langsung berpamitan setelah mereka selesai memeriksa Latya. "Kami permisi ya, nona tolong sarapan nya di makan, agar cepat pulih." ucapnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya sus." ucap Latya.


"Sama-sama, tidak usah sungkan ini sudah tugas kami." ujarnya sopan.


Setelah dua suster itu keluar Latya langsung menatap Rey, ia butuh penjelasan dari suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Rey gugup melihat Latya menatap nya.


"Apa benar yang di ucapkan suster tadi?" tanya Latya dengan tatapan penuh telisik.


"Apanya?" Rey berpura-pura tidak mengerti.


"Jangan pura-pura." sebal Latya pada Rey. Lalu Latya menjerit frustasi saat ia mengingat kalau Rey membersihkan tubuhnya berarti Rey melihat semua bagian tubuh nya.


"Hei kenapa kamu?" tanya Rey khawatir.


"Abang serius kan apa yang di bilang dua suster itu bohong?" tanya Latya tidak percaya sekaligus juga takut jika itu benar.


"Kenapa memangnya kalau benar perkataan suster itu tadi?" Rey malah berbalik bertanya, ia pikir kenapa juga harus bohong toh itu urgent.


"Aaaaa Abang pasti bohong, Abang cuma mau godain aku aja kan?" Latya menatap Rey dengan telisik.


"Gak bohong, memang kemarin Abang bersihkan tubuh kamu, kan kamu masih belum bisa untuk mandi sendiri karena memang kondisi kamu begini." jelas Rey cuek.


"Aaaaa." teriak Latya pelan membayangkan jika tubuhnya di lihat oleh Rey, betapa malunya ia. "Apa buktinya ka... kalau Abang memang melakukan hal itu?" tanya Latya ia yakin jika Rey hanya mau menggoda nya saja.


Rey menyeringai. "Jadi kamu gak percaya? Emh akan Abang beri tahu bagian tubuh kamu yang paling tersembunyi. Kamu punya tanda lahir berwarna coklat di tengah perut di bawah dada kamu ia kan?" bisik Rey dengan senyum nakal nya.


'Ah benar sekali bang Rey sampai tahu keberadaan tanda lahir itu, dan aaaah oh my God tunggu-tunggu! Di bawah dada? Berarti bang Rey melihat... dadaku dong!' batin Latya mengingat-ingat dan dengan gerakan ia memegang kedua dada dan menyembunyikan dengan posesif takut. Di raba nya dada itu tanpa sadar. "Oh my God aku gak pakai daleman!" teriak nya tanpa sadar.


Rey tersenyum melihat Latya yang langsung bengong dan memegang dadanya lalu berteriak seperti itu. "Kamu habis di operasi jadi tidak mungkin mereka memakai nya." celetuk Rey santai, dia tidak tahu jika Latya begitu frustasi atas perbuatannya.


"Abang...! teriak nya geram tertahan.


"Tenang saja aku gak ngapa-ngapain kok, Abang gak ada niat untuk menyentuh atau pun memegang bagian tubuh kamu yang sensitif itu. Aku bukan laki-laki sebejad itu, masa ia Abang gerayangin tubuh kamu saat kamu tidak sadar. Gila apa? Aku hanya melihat saja, untuk mengelap kan Abang pakai waslap jadi tidak ada kontak fisik, ya memang cukup berat bagiku walau hanya melihat tubuh istri ku tanpa menyentuhnya." Rey meyakinkan Latya jika memang tidak terjadi apa-apa.


"Ah syukurlah aku lega." ucap Latya menghela napas nya lega.


"Kalau kamu sudah sadar mungkin Abang pasti akan khilaf!" gumam nya menggoda Latya.


"Ih Abang..." teriak Latya seraya mencubit tangan Rey yang berada di dekatnya.


"Aduh sakit! Ih kamu lagi sakit tapi cubitan nya pedes!" protes Rey saat ia merasakan cubitan dari Latya begitu terasa sakit.


"Syukurin itu bayaran untuk Abang karena udah berani lihat bagian yang aku sembunyikan!" cebik Latya cemberut.


"Ih mau bilang bagaimana kamu belum sadar. Seharusnya bayaran suami itu minimal di cium bukan di cubit." goda Rey semakin berani.


Latya mendengus kesal. Lalu menatap Rey dengan serius membuat Rey yang melihatnya menjadi heran. "Kenapa kamu lihat Abang seperti itu?"

__ADS_1


"Terima kasih ya Abang udah jagain aku dan merawat aku saat aku koma. Abang khawatir banget ya sama aku?" tanya Latya sendu.


Rey menatap Latya. "Bagaimana tidak khawatir Latya, kecelakaan yang terjadi sama kamu itu di sebabkan oleh Abang, aku merasa bersalah karena kamu sampai mengalami kecelakaan ini." jelas Rey akan perasaan yang begitu khawatir.


"Oh aku kira ada hal lain yang membuat Abang khawatir." ucap Latya sedikit kecewa akan jawaban yang Rey lontarkan. Karena Latya pikir jika Rey bersikap seperti itu karena ia sudah memiliki perasaan padanya tapi ternyata bukan. 'Hemm padahal aku mau jawaban kamu itu karena aku cinta sama kamu Latya atau karena aku sayang kamu.' batinnya sebal.


"Hal lain apa maksudnya?" Rey heran dengan ucapan Latya.


"Emh gak... gak ada kok." Latya gugup.


Rey memicingkan matanya menatap ke arah Latya sehingga membuat Latya salah tingkah. "Apa yang membuat mu sedih seperti ini?" telisik Rey menatap Latya karena terlihat murung. Latya menggeleng pelan. "Emh bohong! Ayok jujur apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Gak ada." elak Latya cepat.


Rey mencolek pinggang Latya lalu menggelitik, sehingga Latya menggelinjang kegelian. "Abang cukup ya aku geli!" ucapnya menahan tangan Rey yang terus saja menggoda nya.


Saat mereka tengah asyik bercanda tiba-tiba pintu ruangan terbuka. "Hai..." sapa nya kaku setelah pintu itu terbuka dan melihat Rey dan juga Latya.


Rey dan Latya pun menghentikan candaan mereka lalu menoleh pada orang yang tiba-tiba muncul di depan pintu itu.


"Maaf aku ganggu." ucapnya ragu.


"Emh Maura, kamu tahu kami di sini?" tanya Rey heran.


"Iya tante Nisa yang memberi tahu kalau Latya di rawat di rumah sakit ini, jadi aku kesini mau menjenguk Latya." jelas nya kedatangan ia kemari.


"Oh. Masuk Maura!" titah Rey.


"Emh i...iya." jawab nya malu-malu.


"Oh ya ini untuk kamu." serah nya pada Latya sebuah bunga. "Dan ini untuk kamu Rey." sebuah kotak makan untuk Rey. "Maaf ya aku bawa makanan hanya untuk Rey soalnya aku pikir kamu belum sadar, kemarin tante Nisa bilang kalau kamu di rawat dan tidak sadarkan diri. Jadi aku tidak bawa makanan untuk kamu Latya, maaf ya." ucap Maura tidak enak hati.


Latya tersenyum menutupi kecemburuan melihat Rey dan Maura semakin akrab. "Emh tidak apa-apa lagian aku juga baru sadar dan aku juga gak boleh makan sembarangan." ucapnya dengan senyum tipisnya.


"Iya maaf ya." ucapnya dengan nada manis.


Ntah kenapa Latya merasa tidak suka melihat sikap Maura pada suaminya itu, dari awal mereka bertemu.


"Rey di makan ya, aku tahu kamu pasti belum makan karena sibuk merawat Latya." ucap Maura penuh perhatian.


Latya melihat perhatian Maura seperti itu. 'Sejak kapan bang Rey dekat dengan Maura, apa mereka memang sering bertemu? Sampai Maura begitu perhatian.' batin Latya sebal melihat kedekatan mereka.


"Terima kasih Maura padahal tidak usah repot-repot membawakan makanan untuk ku, di sini banyak penjual makanan yang bisa aku beli." ucap Rey merasa tidak enak.


"Aku tidak merasa repot kok, malah aku senang bisa membawa makanan untuk kamu. Hitung-hitung ucapan terima kasih aku sama kamu, karena kamu mau membantu menyelidiki kasus papa." ucap Maura menampilkan senyum manis nya pada Rey.


"Itu sudah tugas ku Maura tidak usah merasa sungkan." sambung Rey.


"Ya aku tidak keberatan kok kalau hanya membawa makanan untuk kamu makan, makanan rumah lebih higienis dari pada makanan di luar, aku takut saja kalau kamu sakit terus kamu gak bisa lanjut lagi penyelidikan papa aku." kilah Maura dengan senyum cengengesan.

__ADS_1


Rey melirik ke arah Latya dan Latya mendelikkan kedua matanya tidak suka. Rey tersenyum saja menanggapi ucapan Maura yang memperhatikan nya itu.


"Ayok Rey di makan, itu makanan sehat kok." ucap Maura tanpa sadar jika Latya memperhatikan nya.


__ADS_2