Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
sebuah kabar


__ADS_3

"Hallo Maura aku Rey, bagaimana kabarmu sekarang? Apa boleh aku bertemu dengan kamu? Apa kamu ada waktu? Ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu perihal kasus papa mu itu." jelas Rey menjelaskan maksud dia ingin bertemu dengan Maura.


"Emh iya Rey, kabarku baik. Aku bisa bertemu dengan kamu, dimana kita akan bertemu?" Maura dengan semangat menyetujui untuk bertemu dengan Rey.


"Bagaimana kalau di kantor papa mu, karena kebetulan aku akan kesana untuk menyempurnakan penyelidikan kasus itu." ujarnya.


"Apa tidak sebaiknya di cafe atau di restoran gitu, sekalian kita makan?" tawarnya kepada Rey.


"Emh maaf Maura, aku sedang sibuk. Aku mengajak kamu bertemu itu pun karena termasuk ke dalam tugas ku, jadi maaf kita bertemu di kantor saja." urai nya menolak dengan lembut.


"Oh ok." sahut Maura dengan rasa kecewanya.


"Kalau begitu sampai ketemu di kantor." ucap Rey cepat lalu mematikan panggilan telepon nya.


Maura mendengus kesal menerima penolakan Rey itu. "Hemm Rey, aku jadi penasaran sama kamu." gumamnya dengan senyum penuh kagum.


***


"Latya kamu segera sadar ya, Abang akan berusaha mencari pelaku yang sudah membuat kamu seperti ini. Abang berangkat sekarang nanti ada ayah dan bunda akan datang menemani kamu." ucap Rey pelan seraya mencium kening Latya dengan begitu lama. "Aku sayang kamu." bisik nya lalu melangkah pergi meninggalkan Latya disana.


Saat di luar ruangan Rey yang baru saja keluar dan bertemu dengan kedua mertuanya yang baru saja datang.


"Kamu mau berangkat?" tanya Aris melihat Rey yang sudah bersiap dengan seragam nya.


"Iya aku akan pergi bertugas, titip Latya." ucap Rey menatap Aris dan juga Via bergantian.


"Pasti. Kamu tenang saja bekerja lah dengan tenang kami di sini akan menunggu Latya." ucap Aris meyakinkan Rey.


"Terima kasih." balas Rey lembut.


"Aku pamit!" ucapnya seraya mencium tangan kedua mertuanya dengan sopan.


***


"Bagaimana apa ada sesuatu yang mencurigakan di kantor ini?" tanya Rey pada. asisten pak Rangga.


"Emh di sini terlihat baik-baik saja pak." jawabnya cepat.


"Emh begitu." Rey manggut-manggut kan kepalanya menatap asisten itu ia merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan.


Merasa diperhatikan oleh Rey asisten itu pun meminta ijin pada Rey untuk mengerjakan pekerjaannya. "Maaf pak kalau begitu saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." ijinnya cepat pada Rey.


"Oh silahkan." Rey mempersilahkan asisten itu untuk pergi.


"Apa dia ada hubungannya dengan pembunuhan ini." gumam Rey menatap asistennya itu yang melangkah jauh meninggalkan nya.


"Hai Rey." sapa Maura melihat Rey sudah ada di kantor papanya. "Rey." panggil Maura mengipas-kipaskan tangan nya.


"I...iya Maura." Rey tersadar dari lamunannya ketika Maura mengipas-kipaskan tangan nya di depan wajah Rey.


"Kenapa kok bengong?" tanya Maura penasaran apa yang di pikirkan Rey saat ini sampai kedatangan nya tidak ia sadari.


"Emh tidak ada." jawab nya cepat.


"Ya sudah kita masuk ruangan papa saja ya. Kita bicarakan di dalam saja." ajak Maura seraya melangkah kakinya menuju ruangan pak Rangga.


Rey mengangguk tidak menjawab, Rey mengekor di belakang Maura mengikuti langkah nya.


"Silahkan duduk Rey." ucap Maura mempersilahkan Rey untuk duduk. "Kamu mau minum apa?" tanyanya lagi menawarkan.


"Emh tidak usah, kita langsung saja ke inti permasalahan nya." ucap Rey menolak.


Maura terdiam bukan karena dia merasa di tolak oleh Rey tapi Maura malah tersenyum dia kagum pada Rey yang sangat serius dalam menangani kasus papanya.


"Ok, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Maura menatap Rey.


"Begini Maura, apa ada seseorang yang kamu curigai? Atau ada yang papa kamu ceritakan kepada kamu sebelum papa mu meninggal?" tanya Rey penuh selidik.


Maura terdiam ia berpikir keras mengingat perkataan atau pesan papanya terakhir kali sebelum pembunuhan itu terjadi. Namun Maura tidak mengingat hal itu. Karena papa nya terlihat baik-baik saja dan dia tidak pernah melihat papanya memiliki musuh.


"Tidak ada Rey, aku tidak mendapatkan pesan atau ucapan aneh dari papa, bahkan aku melihat papa terlihat baik-baik saja." urai Maura memberi tahu pada Rey.

__ADS_1


"Tapi aku sempat mencurigai seseorang." ucap Maura pelan.


Rey mengerutkan keningnya. "Siapa? Apa kamu yakin?" tanya Rey penasaran.


"Aku mencurigai asisten papa. Karena dia adalah orang yang paling dekat dengan papa dan dia juga orang yang selalu tahu kegiatan papa apa saja dan papa bertemu dengan siapa saja. Pasti dia tahu." ujar Maura merasa yakin.


"Emh aku juga pernah berpikir seperti itu, tapi kita tidak punya bukti." sambung Rey satu pemikiran.


"Kamu serius satu pikiran sama aku?" Maura sedikit tidak percaya itu.


"Iya aku sempat berpikir jika asisten pak Rangga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan ini, karena tidak mungkin jika asisten pak Rangga tidak tahu dengan siapa terakhir pak Rangga bertemu." ujar Rey menjelaskan keanehan ini. "Dan mengenai kasus ini yang sedang di selidiki kenapa pelaku bisa tahu jika tidak ada orang dalam yang memberi tahu nya." sambung Rey.


"Ya benar Rey, aku sependapat dengan kamu, aku gak percaya saat dia bilang kalau dia sedang tidak ada di ruangan papa saat papa sebelum meninggal. Mungkin saja dia hanya beralasan seperti itu." ucap Maura membenarkan apa yang di ucapkan Rey.


"Tapi aku yakin bukan hanya dia saja yang melakukan pembunuhan terencana ini tapi sepertinya ada seseorang di belakangnya yang sama-sama merencanakan pembunuhan ini."ujar Rey merasa yakin.


"Oh ya aku dengar gara-gara kamu menyelidiki kasus ini kamu mendapatkan ancaman dari pelaku itu, apa itu benar Rey?" tanya Maura merasa khawatir.


"Iya, mereka sempat mengirim para preman untuk menghentikan aku dalam menyelidiki kasus ini, dan ancamannya pun masih berlanjut sampai saat ini." jawab Rey santai.


Maura menghela napas nya panjang. "Maaf ya Rey karena kasus ini hidup kamu jadi terancam." lirih Maura tidak enak hati.


"Tidak apa-apa itu sudah resiko pekerjaan ku sebagai polisi." sahut Rey datar ia sudah biasa berhadapan dengan pelaku kejahatan, namun pelaku kejahatan yang sekarang Rey hadapi adalah pelaku kejahatan kelas kakap.


"Tapi aku tetap merasa tidak enak sama kamu Rey, tapi aku berharap pelaku itu cepat di temukan, aku ingin tahu kenapa mereka sampai tega membunuh papaku." ucap Maura lirih dan menunduk.


"Ya aku akan pastikan mereka akan tertangkap secepatnya, kamu harus kuat aku yakin kamu bisa melewati ini semua." Rey mencoba menenangkan Maura yang terlihat sangat terpukul akan kepergian pak Rangga.


"Kamu tahu Rey, aku sangat kehilangan papaku. Dia orang yang selalu ada untuk ku. Apa yang aku inginkan selalu ia berikan. Aku sayang papa, dia ayah sekaligus ibu untuk ku." lirih Maura dengan mata yang berkaca-kaca. "Dan sekarang papa meninggalkan aku dengan cara seperti ini, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah membunuh papaku. Jadi aku mohon sama kamu Rey tolong cari pelaku pembunuh papa ku, aku tidak mau mereka bahagia karena sudah membuat nyawa papaku melayang." Maura berkata dengan penuh kemarahan.


"Kamu tenang saja, aku akan berusaha semaksimal mungkin, jika ada informasi mengenai kabar dari papa kamu tolong langsung laporkan pada ku." Rey berkata dengan penuh keseriusan.


"Baik Rey aku mengerti." balas Maura. "Lalu bagaimana dengan asisten papa yang kita curigai? Apa kita harus diam saja?" tanya Maura.


"Aku memiliki ide untuk menjebak asisten pak Rangga itu, kamu bisa membantu ku?" tanya Rey serius menatap wajah Maura membuat Maura salah tingkah di buatnya.


"Emh bisa, tentu bisa." sahutnya gugup namun dalam hati ia sungguh sangat bersemangat.


Maura tersenyum melihat Rey tersenyum padahal senyum Rey hanya tipis, tapi bagi Maura itu membuat jantung nya berdebar.


Maura memegang dadanya, terasa jantung nya berdebar dengan kencang berada dekat dengan Rey seperti ini.


"Emh karena aku masih banyak pekerjaan, kita lanjutkan nanti. Aku duluan!" pamitnya dingin.


"Tunggu Rey!" cegah Maura.


Rey pun kembali berbalik menghadap ke arah Maura. "Iya."


"Emh, aku juga mau pulang. Kita pulang bareng." ajaknya.


Rey mengangguk.


Saat di lip Rey dan Maura tidak banyak bicara, Rey yang pelit dalam berkata pun tidak berniat untuk mengawali obrolan, jika mengenai pekerjaan atau tugas Rey akan banyak bicara jika memang di butuhkan, namun jika sudah tidak membicarakan tentang pekerjaan atau hal yang penting Rey rasanya akan malas untuk bicara.


Saat mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba saja Maura yang terasa lelah membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Rey yang melihat Maura seperti akan jatuh langsung dengan sigap menahan nya.


"Maura kamu tidak apa-apa?" tanya Rey.


Maura memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Maura menggeleng. "Aku tidak apa-apa, kepala aku hanya pusing sedikit." ucapnya pelan seraya menyeimbangkan tubuhnya itu.


"Kamu bawa mobil sendiri atau di antar sopir?" tanya Rey di tengah mereka menuju parkiran.


"Aku bawa mobil sendiri." sahut nya pelan.


"Kalau begitu aku akan antar kamu pulang, mobil kamu simpan saja dulu di sini." tawar Rey.


"Tidak usah Rey aku akan merepotkan kamu nanti nya." Maura menolak namun tidak sepenuh hati nya berharap Rey akan memaksa untuk mengantarkan ia pulang.


"Aku akan tetap mengantarkan kamu pulang, kamu terlihat tidak sehat." ucap Rey merasa peduli.


"Emh baiklah." sahut Maura pelan.

__ADS_1


Di perjalanan Rey serius mengendarai mobil yang ia kendarai. Fokus pada jalanan yang mereka lalui.


Rey sudah tahu tempat dimana Maura tinggal, karena pernah datang saat papanya meninggal dunia.


Tak lama mereka pun sampai di rumah Maura. "Sudah sampai." ucap Rey memberi tahukan pada Maura, karena Maura diam saja padahal sudah sampai depan rumah nya ntah apa yang sedang di pikirkan Maura saat ini.


"Maura? Maura?" panggil Rey.


"Ah iya, sudah sampai ya." Maura baru menyadari. "Eh maaf ya Rey."


Rey tersenyum tipis saja melihat Maura turun. "Rey kamu gak mampir dulu, minum dulu gitu." tawar Maura.


"Emh maaf aku harus menolak, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." ucap Rey menolak dengan lembut.


"Oh seperti itu ya. Ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali kamu harus mampir ya." ucap Maura mencoba tidak untuk kecewa karena dua kali ajakan nya Rey tolak.


"Kita lihat saja nanti." ucap Rey datar.


Setelah kepergian Rey, Maura yang masih diam belum beranjak dari ia turun dari mobil Rey, ia terus saja menatap kepergian Rey sampai benar-benar tak terlihat oleh nya lagi.


Rahma yang melihat tatapan Maura pada Rey membuat Rahma semakin yakin jika keponakan nya itu memiliki perasaan terhadap Rey anak dari sahabatnya.


"Maura kenapa kamu masih berdiri di sana?" tanya Rahma menggoda Maura, padahal dia sudah tahu alasan apa yang membuat Maura masih berdiri di sana.


"Eh tante..." ucapnya kikuk. "Dari tadi tante di sini?" ucapnya.


"Ya cukup lama lah." Rahma tersenyum. "Tadi Rey yang antar kamu pulang?" tanya nya.


"Iya." jawab Maura cepat dengan senyum nya.


"Tadi aku sempat tidak enak badan dan Rey mengantarkan aku pulang padahal aku udah melarang Rey tapi Rey kekeh mengantarkan aku pulang." jelasnya.


"Oh baik sekali si Rey. Emh apa kamu suka?" tanya Rahma menatap wajah Maura.


"Dia baik, Rey juga laki-laki yang sangat sopan selain dia tampan dia juga laki-laki yang membuat perempuan penasaran. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya." ujar Maura dengan wajah berbinar.


"Kalau kamu punya perasaan sama Rey, tante akan mendukung dan tante juga akan menyetujui hubungan kalian berdua." ucap Rahma meyakinkan Maura.


"Apa sih Tante." cebik Maura malu tapi mau.


"Tante akan bilang sama tante Nisa kalau kamu suka sama Rey. Tante yakin tante Nisa pasti akan senang dan pasti menyetujui hubungan


kalian." ucapnya merasa yakin.


Maura hanya tersenyum malu-malu namun dalam hatinya ia merasa senang karena hubungan dengan Rey nanti akan disetujui oleh keluarga.


***


Malam hari seperti biasa Rey setia menunggu Latya yg masih betah dalam mimpinya yang panjang. Rey menatap wajah Latya dengan tatapan matanya yang lelah. "Latya kapan kamu akan sadar, semakin lama kamu tidak sadarkan diri semakin aku merasa sangat bersalah sama kamu. Aku harap besok pagi kamu sudah sadar dan aku bisa melihat senyuman dari bibir kamu lagi." lirih Rey dalam doa nya.


Lalu seperti biasa Rey pun tidur di kursi dengan duduk dekat ranjang Latya dan tidak lupa Rey menggenggam tangan Latya ketika ia tidur.


Esok harinya dua bola mata sedang mengerjapkan kedua matanya, dengan pelan dan perlahan mata indah itu melihat ke arah kiri dan kanan, ruangan putih terlihat sangat jelas ia sadar, dirinya kini tengah berada di rumah sakit.


Setelah puas melihat ruangan putih itu, ia melihat ke samping dan melihat Rey sedang tertidur pulas dengan tangan Rey yang menggenggam tangan nya dengan erat.


Senyuman tersungging dari bibirnya melihat laki-laki itu tertidur di samping nya. Latya tersadar dari tidurnya yang panjang, ia mengusap kepala laki-laki itu dengan tangannya yang satunya lagi dengan lembut dengan senyum tipisnya yang lemah dan wajah nya yang masih pucat.


Rey yang sedang tertidur pulas merasakan ada yang mengusap kepala nya ia langsung terbangun dan langsung memegang tangan yang mengusap nya itu. Rey menatap ke arah Latya dan melihat istrinya sudah sadar.


"Kamu sudah sadar?" tanyanya dengan sedikit terkejut.


Latya tersenyum lemah dan mengangguk pelan.


Rey tersenyum bahagia. "Apa yang sekarang kami inginkan? Apa yang sekarang kamu rasakan? Bagian mana yang terasa sakit?" rentetan pertanyaan yang Rey lontarkan begitu saja membuat Latya tersenyum lemah.


"Aku mau minum." ucapnya pelan dan dengan suaranya yang terdengar serak.


"Oh kamu mau minum?" tanyanya lagi, lalu dengan sigap Rey memberikan Latya minum. Dengan telaten Rey memberikan minuman itu kepada Latya.


"Ah syukurlah kamu sudah sadar, Abang panggilkan dokter dulu ya." ucap Rey dan di angguki Latya dengan pelan.

__ADS_1


Dokter pun datang setelah dipanggil oleh Rey. Dokter dan juga perawat pun datang untuk memeriksa kondisi Latya sekretaris ini.


__ADS_2