Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
pengertian


__ADS_3

"Bang Andre aku bisa bertemu?" pesan singkat yang di kirim kan Latya pada nomor Andre.


Andre yang tengah menikmati hari libur nya pun mengerutkan keningnya. "Nomor siapa ini?" gumam nya.


"Siapa ini?" balas Andre.


Latya tersenyum tipis saat membaca pesan yang Andre balas itu. "Aku Latya, bisa kita bertemu siang ini?" balas nya bertanya ulang.


Andre menatap pesan yang ada di handphone nya itu. "Latya mau apa dia mengajak ku bertemu?" gumamnya penuh tanya.


"Boleh, kebetulan Abang sedang free siang ini." balas Andre menyanggupi.


Latya pun kembali tersenyum. "Ok aku tunggu di cafe villa jam makan siang." balas Latya.


"Ok." balas Andre.


Siang hari nya Latya yang sudah bersiap dengan pakaian hamil nya itu terlihat sangat manis, walaupun sedang hamil di usianya yang muda ia sungguh sangat bisa menggunakan pakaian hamil begitu modis, secara dia tidak mau terlihat seperti emak-emak.


"Bang ayok!" ajak Latya pada Rey.


"Kemana sayang?" tanyanya heran melihat istrinya sudah sangat cantik seperti akan pergi.


"Ayok siap-siap sana!" titah nya dan mendorong tubuh suaminya itu untuk bergegas.


"Mau kemana sih yang...?" tanya nya malas untuk bergerak.


"Aku mau ajak ketemuan kamu sama bang Andre, kita harus menyelesaikan masalah kita, biar bang Andre bisa mengerti." jelas Latya cepat.


"Kok kamu gak bilang dulu ada rencana seperti ini?" tanya nya.


"Udah buruan siap-siap aku gak mau telat, gak enak kalau harus di tunggui sama orang." kesal nya karena suaminya itu malah banyak bertanya.


"Iya sebentar." sahut nya pasrah.


Sesampainya di sebuah cafe dimana Latya dan Rey janjian bertemu dengan Andre, Latya dan Rey yang datang lebih dulu. Namun tak lama kemudian Andre pun datang, dengan sedikit terkejut dan malas untuk menghampiri karena ia tahu di sana ada Rey sahabatnya yang sekarang sedang ia jauhi.


"Hai Latya, sudah lama menunggu?" sapa Andre pada Latya hanya Latya. Andre bahkan malas untuk menatap Rey.


Rey berdecak kesal karena Andre hanya menyapa istrinya saja. "Mengesalkan!" runtuknya.


"Eh bang Andre, baru kok kita sampai. Ayok bang silahkan duduk!" Latya pun mempersilahkan duduk pada Andre yang masih berdiri.


Andre tersenyum lalu duduk di kursi yang sudah tersedia. "Terima kasih." ucapnya.


Andre terus menatap Latya sedangkan Rey menatap Andre dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Melihat situasi meja tidak kondusif dan terlihat memanas, Latya pun langsung berbicara dan tangan kiri nya mengelus tangan Rey yang mengepal di bawah meja, Latya tahu jika suaminya itu sedang menahan kesalnya.


"Maaf bang aku ganggu hari cuti nya, aku cuma mau menyelesaikan apa yang sudah terjadi di antara kita bertiga." jelas Latya.


Andre diam tidak menjawab apapun dan Rey membuang mukanya ke arah lain karena sebal melihat wajah sahabat nya itu.


"Aku baru tahu jika bang Andre memiliki perasaan lebih padaku, tapi sayang nya aku sekarang sudah menjadi istri bang Rey." terang Latya mencoba meminta pengertian Andre.


"Ya aku sudah tahu itu, tidak usah kamu jelaskan lagi." sahut Andre.


"Bang Andre baik, Abang juga suka bantu aku di saat aku sedang butuh bantuan." puji Latya. "Tapi aku cuma gak mau persahabatan Abang sama bang Rey sampai merenggang seperti ini gara-gara aku. Aku sama bang Rey tidak ada niat untuk membohongi Abang karena hubungan kita adalah suami istri." jelas Latya.


Latya pun terus mencoba memberikan pengertian pada Andre atas hubungannya dengan Rey dan meminta agar Andre bisa menerima hubungan antara Latya dan juga Rey sebagai suami istri dengan ucapan yang lembut dan tidak membuat Andre sakit hati karena cintanya tidak terbalaskan.


Setelah panjang lebar Latya berbicara namun Andre hanya diam saja, hanya mendengarkan Latya yang sedang berbicara.


"Bagaimana bang Andre?" tanya Latya menatap Andre karena Andre diam saja tanpa ada respon seperti marah, kesal atau pun kecewa.


"Bagaimana?" tanyanya lagi.


Andre menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Latya itu. Andre pun menatap ke arah Latya dan juga ke arah Rey dengan ekor matanya.


"Aku tidak apa-apa, aku bisa mengerti dan menerima semuanya." ucapnya datar.


"Aku tidak akan menggangu hubungan kalian, apalagi kalian sudah menikah dan kamu sedang hamil, aku akan merelakan kamu untuk sahabat ku yang kurang ajar itu." ucapnya seraya menunjuk dengan dagu ke arah Rey yang diam saja ntah apa yang ia pikirkan.


Rey mendengus dan memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan Andre yang menyindirnya walaupun Rey tahu Andre sedang beranda.


"Jadi Abang udah maafkan kita kan, dan kalian bisa bersahabat lagi seperti dulu?" ucap Latya memastikan dan menatap satu persatu laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Andre tersenyum tipis melihat wajah Latya yang seperti itu. "Iya Abang udah maafkan, lagi pula kalian tidak salah kok, hanya aku saja yang mungkin sedikit terkejut dengan pernikahan kalian itu."


Setelah berbicara pada Latya Andre menatap Rey dan mulai berbicara. "Gue minta maaf Rey sikap gue kemarin kayak anak ABG, harusnya gue gak usah marah, toh kalian memang cocok dan di takdirkan untuk bersama, ya walaupun dulu elu gak ngakuin Latya sebagai istri elu ke gue, jadi gue berharap lebih untuk dapatkan hati Latya, dan sekarang gue sadar cinta tak mesti memiliki, tapi ya sudahlah, semoga elu sama Latya bahagia, jaga dia baik-baik." ucap Andre mengingatkan.


"Gue juga minta maaf Dre, kalau gue udah bikin elu kecewa, thanks ya atas semuanya, gue harap elu bisa cepat dapatkan cewek yang elu sayangi." balas Rey tulus.


Mereka berpelukan seperti sahabat lainnya, dan membuang rasa kesal di antara mereka.


Latya pun tersenyum melihat kedua laki-laki di hadapannya membaik seperti dulu, mereka terlihat tulus ketika saling mengutarakan isi hatinya.


"Udah! Gue jijik pelukan sama elu!" ucap Rey ketus tapi seraya melepaskan pelukan mereka. "Mending peluk istri gue." selorohnya seraya memeluk Latya dari samping.


Andre tersenyum bukan sakit hati mendengar ucapan Rey padanya. "Emang gue juga gak jijik apa pelukan sama elu!" balas Andre tidak mau kalah.


"Udah berantem nya? Kalian tuh saling butuh tapi pada gengsi buat ngakuin!" Latya merelai ucapan Andre dan Rey yang saling mengejek.

__ADS_1


"Ya sudah jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Abang pergi ya." pamit Andre mengalah.


"Kenapa buru-buru?" tanya Latya.


"Kamu gak mau kan nanti Abang sama suami kamu berantem lagi!" ucapnya.


"Ok deh!" balas Latya.


"Oh ya Latya, kalau Rey sakiti kamu, kamu bilang sama Abang, biar Abang yang gantikan dia jadi suami kamu dan ayah dari anak kamu." ucap Andre dengan tatapan serius.


"Berani elu sama gue! Awas aja elu!" ancam Rey.


"Hahaha gue bercanda Rey tapi kalau itu terjadi gue orang pertama yang akan cari elu!" ucapnya penuh ancaman.


Latya mendengar perdebatan mereka pun hanya geleng-geleng kepala melihatnya, mereka memang ditakdirkan bersahabat hanya untuk saling menyela dan menghina tapi kembali mereka akan saling menolong di saat mereka saling membutuhkan.


"Semoga lahiran nanti, diberikan kelancaran ya, sehat dan selamat untuk ibu dan juga bayinya." doa Andre tulus.


"Amiin...Terima kasih ya bang Rey atas doanya." balas Latya dengan senyum.


"Abang boleh peluk kamu Latya?" tanyanya dan Latya meminta ijin pada Rey dengan tatapan nya karena Rey terlihat kesal.


"Pelukan Abang pada ade nya." sambung Andre karena Latya diam saja.


Latya pun tersenyum lalu membalas permintaan Andre yang sudah merentangkan kedua tangannya dan Latya menyambut nya memeluk Andre di depan Rey.


Rey hanya bisa menahan kesalnya. "Sabar... sabar..." Rey bergumam mengusap-usap dadanya yang terasa sesak melihat istrinya berpelukan dengan sahabat nya sendiri.


"Ha-ha-ha, sudah ah Latya suami kamu sudah bucin akut sama kamu, semoga kalian selalu bahagia ya." ucap Andre tulus dengan melepaskan pelukannya pada Latya.


"Hehehe bang Rey memang gitu, suka cemburu gak jelas." bisik Latya namun terdengar oleh Rey.


"Cemburu itu tanda cinta." sambung Rey tidak terima jika di bilang dirinya cemburu tanpa alasan.


"Okk ok. Sepertinya Abang memang harus pergi dari sini. Latya Abang pulang ya." ucapnya seraya mengelus perut Latya yang sudah membuncit lalu menatap ke arah Rey yang sedang menatapnya dengan horor.


"Hehehe pertama dan terakhir." ucap Andre cengengesan.


"Hahaha." gelak tawa Andre menertawakan Rey yang tengah kesal karena cemburu seraya pergi dari cafe mereka bertemu.


"Semoga elu dan Latya bahagia, dan semoga gue bisa dengan mudah melupakan Latya di hati gue." gumam nya dengan terus melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari cafe itu.


Aduh maaf ya readers, aku udah lama gak up, habis vaksin jadi agak sedikit gimana gitu...


bagi yang menunggu Mohon maaf membuat kalian menunggu dan di gantung oleh cerita aku hihihi. ikut terus yaaaa.

__ADS_1


__ADS_2