Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
pamit tanpa ijin


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Latya yang telah menyelesaikan magang dan menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan penilaian selama Latya menjalankan prakerin di kantor kepolisian.


Dan seminggu ini pun Rey yang tengah sibuk-sibuknya mengikuti pendidikan di akademi kepolisian di sekolah polisi negara dan selama itu pun Rey lebih fokus menjalankan segala tugasnya sebagai polisi.


Maura jangan di tanya, setelah kejadian dimana dia mencoba untuk bunuh diri ia selalu menghubungi Rey, meminta ia untuk bertemu dengan Rey seperti ia meminta pada laki-laki yang sudah menjadi kekasih nya.


Seperti mendapatkan suatu kesempatan Maura pun memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya untuk bisa lebih dekat dengan Rey dan memiliki Rey seutuhnya.


Sikap Rey kini Latya rasakan sedikit berbeda membuat Latya kecewa, padahal Rey tahu jika Latya sebentar lagi akan tinggal bersama keluarganya di tempat dimana mereka tinggal.


"Bang Rey kenapa sih akhir-akhir ini kamu sekarang seperti menjaga jarak, apa kamu pikir aku tidak punya perasaan, aku merasa sakit, kamu meminta aku untuk bertahan tapi sikap kamu akhir-akhir ini jelas sangat berbeda. Apa karena ada Maura sekarang kamu lebih sering bertemu dengan Maura." batin Latya merasa sedih merasakan sikap dari Rey padanya.


Namun tidak dengan Rey ia memang sedang sibuk, sibuk dengan tugas nya dan sibuk dengan pikiran-pikiran yang akhir-akhir ini membuat dirinya pusing. Tidak ada niat untuk menghindari istrinya namun mungkin caranya ya membuat Latya salah paham.


Kini Latya sudah hampir seminggu tidak bertemu dengan Rey, ia tengah mendapatkan tugas untuk pergi ke luar kota. Tanpa adanya komunikasi terlebih dulu pada istrinya membuat Latya semakin kecewa di buatnya.


Latya dan Nisa kini tengah berada di Bandara, Nisa mengantarkan Latya ke bandara hanya Nisa karena Adam sedang berada di luar kota sama seperti Rey, mereka tengah sibuk dengan tugas mereka yang tidak bisa di gantikan.


"Sayang kamu yakin mau pulang sekarang? Bunda pikir lebih baik kamu tunggu Rey pulang agar dia bisa mengantarkan kamu sampai rumah orang tua kamu." ujar Nisa memberi saran.


"Gak usah Bun aku bisa pulang sendiri kok, aku kan ke Jakarta pertama kalinya juga sendiri kan jadi pulang nya juga bisa sendiri." tolak Latya lembut. "Emh oh ya Bun, tolong jangan beri tahu bunda Via dan juga ayah Aris tentang masalah yang sedang aku hadapi saat ini, aku takut bang Rey akan terlihat jelek di mata kedua orang tua ku, karena kan mereka juga gak tahu masalah ini dari awal jadi aku mohon banget sama bunda ya, tolong jangan cerita." mohon Latya penuh harap.


Nisa terenyuh dengan sikap Latya menantu nya


ini karena memiliki hati yang lembut padahal dia begitu manja tapi hatinya tidak keras seperti hati Maura. Jika di bandingkan Latya dengan Maura itu sungguh sangat jauh berbeda. Latya rela mengalah demi orang lain padahal Nisa tahu hati Latya pasti sakit dan tadi pun ia meminta Nisa agar kedua orang tuanya tidak tahu karena Latya menjaga nama baik suaminya.


"Sini sayang peluk bunda." ucap Nisa dengan lembut seraya mengulurkan kedua tangannya Latya pun menghampiri Nisa dan menyambut uluran tangan itu lalu memeluknya dengan erat. "Maaf ya Latya karena bunda belum bisa membuat Maura mengalah, karena penyakit dan juga emosi nya yang tidak terkontrol membuat bunda harus lebih ekstra meyakinkan Maura, mungkin dengan kelembutan Maura akan lebih mengerti jika cinta Rey tidak bisa di paksakan terlebih kamu sudah menjadi istri Rey, bunda janji Latya jika Rey sudah mendapatkan ijin menikah Rey akan bunda pastikan jika kamu lah yang akan terdaftar di kantor sebagai istri sah nya Rey." ucap Nisa meyakinkan Latya bahwa dirinya sangat ingin jika Latya lah ya menjadi menantu nya.


Latya tersenyum tipis. "Kalau memang aku jodoh bang Rey, aku yakin Allah akan memberikan jalan untuk aku dan bang Rey bisa kembali, ya walaupun sekarang kerikil dalam hubungan aku begitu tajam aku rasa aku butuh waktu untuk menghindar." terang Latya dengan sendu.


"Aku pulang ya Bun nanti setelah aku beres kuliah atau ada waktu untuk bisa berkunjung aku akan datang kesini untuk bertemu dengan bunda." pamit nya dengan tersenyum, ia tidak memperlihatkan kesedihannya pada Nisa karena suami terlihat sangat cuek padanya.


"Iya hati-hati ya, jaga diri kamu baik-baik disana dan salam untuk kedua orang tua kamu ya." ucapnya dengan lembut seraya melepaskan pelukan mereka berdua dan saling menatap.


"Terima kasih ya Bun aku sudah di ijinkan untuk tinggal di rumah bunda dan juga ayah selama ini, aku pasti kangen sama kalian terutama Rio, aku titip salam buat ayah ya mohon maaf juga aku udah bikin repot bunda sama ayah." ujarnya tulus.


"Kamu gak titip salam untuk Rey juga?" goda Nisa pada Latya yang terlihat sangat cantik itu.

__ADS_1


"Emh aku lagi malas sama bang Rey, biar aja kalau bang Rey tanya bilang aja kalau aku kabur Bun." cebik Nisa dan itu membuat Nisa tertawa.


"Ok boleh-boleh biar Rey pusing ya..." canda Nisa yang ingin menjahili anaknya.


Latya tersenyum. "Aku pergi ya Bun assalamualaikum." ucapnya seraya pergi melangkahkan kakinya untuk naik ke pesawat yang sudah siap untuk terbang.


Nisa pun mengusap air matanya yang tiba-tiba saja jatuh melihat kepergian mantu nya itu dengan perasaan penuh kekecewaan.


"Kamu yang tenang Latya bunda akan bantu kamu untuk bisa kembali bersama dengan Rey, dan bunda akan pastikan Maura bisa dengan mengerti jika cinta kamu dan Rey itu memang untuk saling memiliki tanpa ada hadirnya Maura dalam kehidupan kalian berdua." gumam Nisa meyakinkan dirinya sendiri jika dia akan membantu hubungan Rey dan juga Latya. "Walaupun bunda harus pelan meyakinkan Maura dan mungkin akan butuh waktu juga." sambung nya dalam hati lalu Nisa pun menghela nafasnya panjang.


"Dan kamu Rey kenapa sikap kamu seperti ini, ini tidak akan baik untuk hubungan kamu dengan Latya, kalau pun kamu sibuk seharusnya kamu bisa memberitahu Latya agar semua itu tidak akan rumit. Dasar kamu Rey, kamu benar-benar belum begitu dewasa dalam bersikap." ucap Nisa dengan mendesah berat. "Tapi aku juga yang menikahkan mereka semuda itu, harusnya kan mereka masih asyik dalam kegiatan mereka bukan sibuk dengan urusan berat dalam berumah tangga, aku sungguh menyesal ternyata menghindari mereka dari Zinah membuat mereka menjadi dalam posisi seperti ini, padahal mereka bisa menjaga diri dan tidak sampai melakukannya benar-benar itu kesalahpahaman, aku yang tidak percaya pada perkataan mereka dan malah dengan percaya nya jika Rey dan Latya melakukan hubungan terlarang." batin nya penuh penyesalan, bukan menyesal karena menjauhkan dari hal yang mendekati zinah namun menyesal karena salah paham Nisa pada mereka.


Sedangkan Rey yang sedang beristirahat pun mengaktifkan dan mengecek handphone nya yang tadi ia matikan karena tidak mau ada yang mengganggunya.


Saat handphone ia aktifkan deretan pesan dari Maura begitu banyak padahal dia sama sekali tidak berharap mendapatkan pesan darinya, namun pesan yang ia harapkan malah tidak ada satu pesan apapun.


"Latya kamu lagi apa sih sampai tidak mengirimkan pesan untuk Abang? Sibuk banget apa dia." gumamnya kesal. "Seharusnya kamu kirim pesan apa saja walaupun aku tidak mengirimkan pesan apapun sama kamu. Kamu tahu Latya, Abang sedang fokus pada tugas dan juga pendidikan Abang karena aku ingin segera menyelesaikan semua ini, dan berharap semua selesai dengan segera dan bersamaan dengan apa yang aku inginkan yaitu bisa berumah tangga dengan kamu, dengan tenang." batinnya lirih.


Ketika Rey dalam lamunannya ia di kejutkan oleh suara panggilan yang tertera di layar handphone nya, Maura memanggil dengan panggilan video call. Rey mendesah malas untuk menerima panggilan itu. Sampai kapan ia terus berpura-pura senang dengan Maura setiap Maura menelpon.


Dengan malas Rey pun menjawab panggilan itu karena jika tidak di jawab panggilan itu akan terus saja memanggil dan Maura akan mengirimkan pesan seperti ancaman untuk melakukan hal yang lebih seperti hal bodoh kemarin yang Maura lakukan.


Tidak menjawab atas pertanyaan Maura dengan dingin pun Rey berkata. "Ada apa?" tanya cepat.


"Aku kangen kamu Rey, bisa kita bertemu?" pintanya penuh kelembutan.


"Maaf Maura aku sedang sibuk." sahutnya dengan tegas.


"Sibuk? Kamu itu sibuk mulu sih Rey." keluh nya manja. "Kamu gak lagi bohong kan sama aku, kamu beralasan sibuk seperti itu." sebal nya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak!" jawab Rey ketus dan dingin.


"Ok aku percaya sama kamu Rey, kamu jangan sebal begitu dong aku jadi tambah kangen sama kamu tahu." goda Maura dengan wajah sok imut nya, mungkin jika Latya yang bersikap seperti itu Rey akan gemas melihat nya namun ini Maura, sungguh sangat menyebalkan.


"Aku harus kembali bertugas, aku putus teleponnya. Tut." ucapnya sebelum Rey memutuskan panggilan telepon dari Maura.


"Rey tunggu aku belum selesai!" panggil nya.

__ADS_1


"Huh Rey kebiasaan deh kamu kalau aku telepon selalu saja memutuskan panggilan lebih dulu!" cebik Maura sebal.


Rey menarik nafasnya panjang setelah memutuskan panggilan telepon dari Maura. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Rey merasa muak dengan situasi saat ini, andai saja dia tidak pernah masuk dalam cinta serumit ini.


Rey meraih handphone nya yang tergeletak di depannya lalu ia membuka galeri foto di sana ia sedang memandangi wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum, foto itu diambil saat mereka sedang menghabiskan waktu mereka berdua.



Di usap nya foto itu dengan Rey melengkungkan senyuman bahagia nya, ia jadi mengingat masa-masa saat ia mengambil foto istrinya. Istrinya malu-malu saat Rey mengambil foto itu tapi tersenyum saat Rey menggodanya dan di saat tersenyum lah Rey mengambil gambar istrinya itu.


"Latya Abang kangen sama kamu." gumam nya. "Sangat merindukanmu. Tunggu Abang ya menyelesaikan semua masalah dan kesibukan aku disini, Abang takut kalau kamu meminta ku untuk menceraikan kamu lagi. Abang gak akan sanggup sepertinya jika harus melepaskan kamu, apalagi untuk gadis seperti Maura. Ya walaupun sikap Abang sekarang pasti membuat kamu sakit dan kecewa." lirihnya.


"Woi...!" kejut Andre menepuk punggung Rey dengan keras membuat handphone yang Rey pegang pun terjatuh menggeprak di meja, dan dengan menampilkan foto Latya sedang tersenyum itu.


Andre otomatis melihat dengan jelas. "Wah ini foto Latya Ade sepupu elu kan Rey?" tanya nya dengan mengambil handphone yang masih tergelatak itu dan melihat foto cantik Latya. Sungguh sangat cantik.


Rey yang tersadar Andre mengambil handphone dan melihat Andre yang sedang memandangi foto istrinya itu membuat Rey dengan cepat meraih handphone yang ada di tangan Andre dengan cepat.


"Sini elu ngapain lihat-lihat." kesal nya gelagapan seraya merebut handphone nya dari tangan Andre.


"Wah ngapain elu Rey lihat-lihat foto Ade sepupu elu?" tanyanya heran. "Eh ya ngomong-ngomong Ade sepupu elu kan udah mau selesai magang, sebenarnya dia udah punya cowok belum sih, sebelum Latya pulang buat lanjutkan kuliah nya boleh dong gue deketin dia, gue mau jadiin istri gue setelah kita nanti dapat ijin buat nikah. Gue yakin dia calon ibu yang baik dan dia juga perempuan pintar karena setiap gue jelasin tentang apapun yang dia gak paham dia cepat banget mencerna sekali gue jelasin, beruntung banget elu punya Ade sepupu kayak gitu. Udah cantik pintar lagi." puji Andre yang membuat otak dan hatinya Rey mendidih.


"Jangan harap!"jawab nya ketus seraya pergi meninggalkan meninggalkan Andre.


"Woi Rey tunggu! Kenapa elu gak ijinnin gue nikah sama Ade sepupu elu, gue ganteng, pintar dan gue juga punya pekerjaan. Apa kurang nya gue?" ucapnya berteriak dengan terus mengejar Rey dan mengikuti nya.


"Kurang jantan elu!" kilah Rey cepat mengejek Andre.


"Eh sembarangan elu!" kesal Andre di sebut tidak jantan. "Perlu bukti elu!" tantang nya.


"Ogah! Gue masih normal. Pelepasan gue sama cewek bukan sama elu, geli gue!" kesal Rey dengan muka serius nya.


"Ih elu! Siapa juga yang mau sama elu, gue juga masih normal." lawan Andre tidak terima jika dia di anggap tidak normal.


"Haha bodo amat, yang pasti gue gak ijinnin elu buat deketin Latya!" tegas nya seraya pergi dan Andre tidak mengejarnya karena ada panggilan di handphone nya.


"Sial!" Awas elu Rey!" ancamnya dengan meraih handphone di sakunya untuk menerima panggilan itu dan melihat kepergian Rey yang meninggalkan nya dengan ejekan yang di tujukan untuk dirinya.

__ADS_1


perkenalkan ini Maura mukanya memang adem tapi hatinya... ya readers yang menilai.😁😁😁



__ADS_2