Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
masa kritis


__ADS_3

"Dokter cepat tolong istri saya, dia tertembak di bagian bahu kirinya." jelas Rey sangat ketakutan dengan keadaan Latya saat mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Baik pak kami akan berusaha sebisa mungkin, anda bisa menunggu pasien di sini." ucap dokter itu mencegah Rey yang akan masuk ke dalam ruangan IGD.


"Tolong istri dan anak saya yang ada di kandungan nya, saya mohon." ucapnya lirih.


"Baik pak, berdoa dan tetap tenang." balas dokter itu menenangkan Rey yang sedang kalut.


Dokter pun masuk ke dalam ruangan untuk menangani Latya yang sudah tidak sadarkan diri akibat banyaknya darah yang keluar, apalagi Latya tengah mengandung.


"Ah Latya..." Rey mengacak rambut nya dengan frustasi dan penuh penyesalan.


"Semoga kamu dan bayi kita baik-baik saja sayang." doa Rey penuh harap seraya menangkup wajah nya dengan kedua tangannya.


Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. Ia harus tetap tenang walaupun hatinya sangat takut.


Saat Rey menunggu Latya dengan perasaan yang tidak menentu, sebuah panggilan dari bunda Via pun membuat Rey tersadar dari pikiran-pikiran kalut nya.


Rey membuang nafas nya kasar, ia belum memberi tahukan keadaan Latya pada mertuanya, pasti mereka akan menanyakan kemana mereka pergi karena sampai saat ini Rey dan istrinya belum sampai rumah.


"Assalamualaikum Rey, kamu dan Latya sekarang ada dimana? Kok belum sampai sih!" tanya Via langsung bertanya.


"Wa'alaikumussalam bunda Via, Rey...." Rey ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada mertuanya itu.


"Ada apa Rey? Cepat katakan apa yang terjadi?" tanya Via penasaran.


Rey menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia menjawab pertanyaan dari mertuanya itu. "Rey sekarang sedang di rumah sakit xxx, Latya tertembak dan sekarang Latya sedang di tangani oleh dokter." jelas Rey lirih.


"Apa? Latya tertembak! Bagaimana bisa Rey?" Bunda sekarang kesana!" ujarnya seraya menutup panggilan telepon nya dengan cepat.


Setelah panggilan itu diputus oleh mertuanya, Rey langsung menenggak kan kepalanya ke atas ia merasa sedih akan kejadian ini.


"Ini salah ku, karena tidak bisa menjaga istri ku sendiri." ucap Rey penuh penyesalan.


Berkali-kali Rey mendesah ia sangat menyesali akan kejadian ini.


"Hah." Rey mendesah seraya memijat pelipisnya. "Semoga kamu baik-baik saja sayang, Abang takut Latya..." desahnya.


Tak lama bunda Via dan Aris pun datang dengan terburu-buru, ia pun menghampiri menantunya ketika melihat Rey sedang menunggu di ruangan dimana Latya yang sedang di tangani.


"Dimana Latya dan bagaimana keadaannya sekarang?" tanpa basa-basi Via langsung bertanya keberadaan dan kabar Latya.


Rey mencium punggung tangan kedua mertuanya sebelum menjawab pertanyaan mereka. "Latya masih di tangani oleh dokter, aku belum tahu bagaimana keadaannya sekarang." jelas Rey.


"Bagaimana bisa ini terjadi Rey? Kenapa Latya bisa tertembak?" tanya Via penuh kekhawatiran.


Rey menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia bercerita kepada mertuanya. Rey pun menceritakan apa yang terjadi pada Latya, dia juga menceritakan bagaimana Latya bisa tertembak.

__ADS_1


"Jadi begitulah Bun cerita nya." sambung Rey saat sudah selesai menceritakan kejadian yang menimpa istrinya dengan nada yang begitu sedih.


Via menggelengkan kepalanya. "Kamu itu seorang polisi Rey, kenapa kamu tidak bisa menjaga Latya, tugas kamu kan biasanya menjaga orang dan kenapa istri kamu sendiri tidak bisa kamu jaga!" Via pun merasa kecewa dengan apa yang ia tahu selama ini.


"Rasanya bunda salah, sudah menikahkan kamu dengan Latya, kamu itu selalu membuat Latya kesakitan!" ucap Via kesal.


"Sudah Bun jangan bicara seperti itu, ini bukan salah Rey, dia juga tidak mau hal ini terjadi, ini sudah takdir kita doakan saja semoga anak kita dan calon cucu kita baik-baik saja." ujar Aris melerai Via agar tidak menyalahkan menantu nya terus.


"Tapi aku tidak terima bang, anak kita selalu saja masuk ke rumah sakit dan itu ulah dia!" tunjuk Via dengan kesal.


"Sayang sudah, jangan memperkeruh keadaan, kita tunggu saja dokter sekarang bagaimana hasilnya." Aris pun menenangkan Via istrinya.


"Aku minta maaf Bun, ayah. Karena aku tidak bisa menjaga Latya." ucap Rey lirih.


"Baru sadar kamu Rey!" ketus Via kesal.


"Maaf bunda aku juga tidak mau hal ini terjadi, kalau saja bisa memilih lebih baik aku yang tertembak tadi dari pada istriku, tapi aku tidak tahu jika Latya menghampiri dan menghalangi tembakan itu dengan tubuh nya, padahal Rey sudah melarang Latya untuk diam di dalam mobil saja. Aku sungguh menyesal, aku memang bodoh karena aku tidak bisa menjaga kesehatan istri ku sendiri, aku juga bodoh karena sudah membiarkan Latya berada di tempat kejadian." ucap Rey merasa bersalah seraya meneteskan air mata kesedihan dan penyesalan nya.


"Sudah Rey tidak usah menyalahkan diri kamu sendiri, semua ini sudah terjadi kita doakan saja Latya bisa melewati ini semua." ujar Aris menenangkan Rey. Sedangkan Via dia hanya bisa menangis akan kejadian yang menimpa putri kesayangannya itu.


Via dan Aris duduk di tempat tunggu sedangkan Rey ia berdiri, hatinya sungguh tidak tenang ia gusar takut dan juga cemas. Tidak hanya nyawa istrinya yang ia khawatirkan tapi juga nyawa calon bayi yang ada di kandungan Latya, ada dua nyawa yang ia tunggu saat ini.


Dengan mata yang memerah, Rey menahan kesedihannya, dia amat sedih saat ini, inilah hal yang selalu ia takutkan. "Bodoh kamu Rey, orang lain kamu selamatkan tapi istri sendiri kamu pertaruhkan!" batin Rey kesal dengan dirinya sendiri.


Sudah lama menunggu akhirnya yang di tunggu pun keluar, dokter sudah menyelesaikan penanganan operasi pada Latya, tidak hanya dokter spesialis bedah saja tapi juga dokter spesialis kandungan juga ikut bekerjasama dalam mengoperasi pasien karena Latya sedang mengandung bayi di dalam perut nya.


"Bagaimana dok?" tanya Via langsung bertanya saat para medis keluar dari ruangan dimana Latya di operasi.


"Alhamdulillah operasi nya lancar. Pasien sudah lebih baik, tekanan darah dan detak jantungnya pun berjalan dengan normal, pasien terbilang kuat, tapi pasien masih belum sadarkan diri karena obat bius yang kami berikan." ucap dokter menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan kandungan apa baik-baik saja dok?" tanya Via memastikan kembali calon cucunya nya baik.


"Biar dokter Kemal yang menjelaskan." ucap dokter Agam menunjukkan ke arah dokter Kemal.


Rey yang mengingatkan pada laki-laki itu pun merasa sedikit kesal. "Dokter itu!" batin Rey dengan tatapan dingin nya.


"Kandungan ibu Latya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi mungkin ada efek dari obat bius yang kami berikan kepada ibu Latya pada bayi nya tapi itu tidak membahayakan, kami sudah menangani ini dengan hati-hati." ujar dokter Kemal menjelaskan.


"Sekarang pasien akan di bawa ke ruangan inap, semoga pasien segera sadar ya dan bisa segera pulih." sambung dokter Agam.


"Terima kasih dokter." ucap mereka serempak.


"Sama-sama, baik kami permisi." pamit para medis pada keluarga Latya.


Keluarga Latya pun mengangguk mempersilahkan para dokter itu pergi.


Mereka semua lega mendapatkan kabar baik ini, Latya sudah melewati masa kritisnya tinggal menunggu Latya yang akan sadar dari obat bius yang ada di dalam tubuh nya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, tepatnya pada pagi hari, Latya mulai mengerjapkan kedua matanya dengan perlahan, yang ia lihat pertama kalinya adalah tubuh suaminya yang berada dekat dengan nya yang sedang tertidur dengan tangan nya memegang tangan Latya begitu erat. Lalu Latya pun melihat kedua orang tua nya yang tertidur duduk di sofa ruangan yang ia tempati.


Merasakan ada gerakan di tangan nya Rey pun terbangun dan melihat Latya sedang tersenyum padanya.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya nya pelan dan lembut.


Latya tersenyum lemah sebagai jawaban. "Apa yang kamu inginkan sekarang hemm?" tanya Rey selembut mungkin.


"Aku mau minum." ucap Latya pelan.


"Emh minum, sebentar ya." Rey pun mengambilkan minum untuk Latya. "Ini sayang." Rey pun memberikan air minum itu pada Latya dan Latya pun meminumnya.


"Terima kasih." ucapnya lemah.


Rey tersenyum dengan kedua mata nya berkaca-kaca bahkan tidak terasa air mata nya jatuh begitu saja karena terharu melihat istrinya sudah sadarkan diri.


Latya pun mengusap air mata Rey yang jatuh itu. "Kenapa menangis?" tanya Latya lirih.


Rey tidak langsung menjawab pertanyaan Latya itu, sebagai laki-laki ia sungguh sangat merasa bersalah karena membuat istrinya sakit seperti ini. Rey terus memandangi wajah cantik dan pucat istrinya itu dengan penuh rasa sayang.


"Kenapa menangis?" tanya Latya lagi dengan senyuman tipis nya itu.


"Aku bahagia kamu sudah sadarkan diri. Dan aku bahagia kamu baik-baik saja sayang, Abang sungguh sangat Khawatir. Jangan seperti ini lagi ya, Abang takut." lirih nya tidak bisa ia tahan.


Latya tersenyum tipis melihat suaminya yang menangisi nya. "Kamu cengeng bang." ucapnya menggoda suaminya. "Lihat nak ayah kamu cengeng." adu nya pada bayi yang ada di dalam perut nya seraya mengelus perut itu.


Rey tersenyum dengan tangisnya. "Abang bukan cengeng sayang, tapi Abang takut." ucap nya lagi. "Ini salah Abang karena sudah membuat kamu seperti ini." sesalnya dengan terisak.


"Sudah jangan menangis, aku baik-baik aja kan sekarang. Cup jangan menangis malu ah." ucap Latya menenangkan Rey dengan menggodanya.


Rey tersenyum seraya mengusap kedua matanya yang terus mengeluarkan air matanya. "Maaf ya." ucapnya lirih. Lalu tertawa kecil karena malu akan kelakuan nya yang cengeng karena Latya terus mengejeknya.


Mendengar ada suara-suara yang sedang mengobrol Via pun terbangun dan melihat Rey sedang saling menatap antara Latya dan juga Rey.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Via seraya mendekati ke arah Latya berada.


"Bunda..." panggil Latya lembut.


"Ah sayang syukur lah." ucap Via lega seraya memeluk putri nya itu dengan rasa terharu.


Aris pun terbangun dan langsung melihat Latya yang sudah sadarkan diri itu.


"Jangan membuat kami khawatir nak." ucap Aris dengan suara berat nya.


"Ayah." ucap Latya seraya merentangkan tangan kanan nya dengan pelan meminta nya untuk di peluk setelah pelukan ibunya terlepas. Karena tangan kirinya masih merasa sangat sakit.

__ADS_1


"Dasar manja!" ucap Aris seraya memeluk putri nya itu dengan sayang.


__ADS_2