Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
terungkap


__ADS_3

"Rey kamu sudah pulang ternyata." ucap Nisa saat melihat Rey menuruni tangga dari kamarnya dan melihat Rey menghampiri nya.


"Sudah dari tadi. Maura dan tante Rahma mana? Sudah pulang?" tanyanya.


"Iya sudah, aneh sama Maura dia tiba-tiba ngajak pulang tante Rahma setelah ia dari atas, tadi ijin bunda mau jenguk Latya, tapi pas turun malah narik-narik tangan tantenya dengan paksa." jelas Nisa merasa aneh.


"Tadi kamu tahu gak kalau Maura ketemu sama Latya?" tanya Nisa tidak curiga.


Rey mengangkat kedua bahunya. "Rey gak lihat." kilah nya santai tanpa membuat Nisa curiga padanya.


"Masa sih kamu gak lihat, tadi bunda lihat Maura naik ke atas menuju kamar kamu dan juga Latya" jelas Nisa tidak percaya.


"Ya Rey gak tahu." sahut nya cepat seraya pergi menuju dapur menjauh dari pertanyaan ibunya.


"Ih aneh banget." gumam Nisa yang terdengar oleh Rey membuat nya tersenyum.


"Memang anehnya seperti apa sih Bun?" tanya Rey menggoda Nisa wajah nya terlihat mengkerut karena memikirkan apa yang terjadi pada Maura tadi sampai dia turun seperti itu.


"Iya aneh aja Rey, Maura tuh kayak nangis dan dia langsung meminta pulang, padahal tadi dia terlihat ceria sekali sebelum ijin ke kamar." jelas Nisa penasaran.


"Kenapa bunda begitu mengkhawatirkan Maura?" Ya mungkin tiba-tiba dia teringat papa nya atau apa gitu." jelas Rey.


"Kamu tahu gak Rey, Latya itu kan tubuh nya lemah sekali, dia memiliki riwayat penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, dia akan tidak sadarkan diri jika ada sesuatu yang membuatnya sedih dan menahan luapan emosi nya yang tidak bisa ia pendam sendiri." jelas Nisa membuat Rey terdiam.


"Hemm Rey tahu beberapa kali Maura pingsan karena dia selalu sedih saat mengingat papa nya." ucap Rey mengingat Maura yang selalu pingsan saat menanyakan hal tentang papanya. "Lalu sekarang apa hubungannya dengan Rey, Rey kan tidak membuat dia sedih atau pun kesal hanya saja dia tadi melihat aku dengan Latya sedang..." ucapnya terpotong mengingat hal tadi.


"Sedang...?" Nisa mengulang pertanyaan Rey. "Sedang apa Rey?" Nisa penasaran.


"Ya sedang di kamar. kebetulan pintu tadi gak di tutup." ucapnya jujur namun Rey tidak menceritakan kejadian yang membuat Maura lebih kagetnya yaitu adegan hot antara Rey dan Latya, karena pasti bundanya ini mengomelinya.


"Hemm jadi itu yang membuat Maura sampai mengajak Rahma pulang." Nisa berkata lirih membuat Rey menjadi penasaran kenapa bundanya itu merasa khawatir pada Maura. "Kamu kenapa gak bilang dari tadi!" kesal Nisa.


"Kenapa sih Bun? Cemas? Bunda takut jika pernikahan aku dan Latya ketahuan?" tanya Rey menebak apa yang di takutkan bundanya.


"Ya salah satu nya itu, tapi..." Nisa meragu untuk memperpanjang ucapan nya itu.


"Tapi apa?" Rey penasaran, dia tidak peka jika Maura selama ini menyukainya.


"Maura menyukai kamu Rey." jelas Nisa dengan cepat lalu ia menghela napas nya. "Tante Rahma tadi kesini itu tidak hanya untuk bersilaturahmi saja tapi dia juga menyampaikan keinginannya untuk menjodohkan kamu dengan Maura." sambung nya membuat raut muka Rey mengerut.


"Lalu bunda bilang apa?" Rey mencoba sesantai mungkin untuk bertanya.


"Ya bunda belum bisa jujur dengan menjelaskan pernikahan kamu dengan Latya. Sungguh rumit dan membuat bunda bingung." jawab Nisa datar.


"Ya harus nya bunda tidak usah menerima perjodohan itu, bunda bilang saja pada mereka jika Rey itu sudah menikah." balas Rey semakin menyudutkan Nisa.

__ADS_1


"Rey kamu itu polisi, pekerjaan kamu berkaitan dengan negara, hidup kamu itu sudah di atur oleh negara dan pekerjaan kamu memiliki peraturan yang harus kamu taati. Kamu masih belum bisa mendapatkan ijin untuk menikah dari peraturan yang sudah tercantum disana, sedangkan sekarang kamu sudah menikah, dan itu sudah mendapatkan ijin dari ayahmu, ayahmu itu atasan kamu, jadi jika orang-orang tahu bahwa ayah kamu tidak taat pada peraturan maka bukan hanya kamu yang akan bermasalah tapi juga ayah kamu nantinya." jelas Nisa agar Rey mengingat apa yang seharusnya Rey ingat.


Rey diam mencoba menelaah semua perkataan ibunya itu. Lalu Rey mendesah merasa frustasi, perkataan bundanya itu ada benarnya, hampir saja ia melupakan hal itu karena ia terlalu senang jika semua sudah tahu kalau dirinya sudah menikah dengan perempuan yang ia cintai yaitu Latya Putri Ananda, gadis imut dan manja namun menggemaskan baginya.


"Iya bunda benar. Maaf aku hampir melupakan itu." sesal Rey pelan.


"Ya bunda mengerti, bunda juga salah karena sudah menikahkan kamu dengan Latya." ucapnya penuh penyesalan.


"Kenapa bunda bicara seperti itu? Aku bahagia kok menikah dengan Latya ya walaupun dengan cara adannya kesalahan pahaman waktu itu." ujar Rey jujur mengingat kejadian dulu.


"Iya justru semua itu membuat kalian harus seperti ini, menikah dengan secara sembunyi-sembunyi." sesal Nisa. "Kalau saja bunda waktu itu percaya sama kalian kalau kalian tidak melakukan hal itu, mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi." Nisa semakin menyesali perbuatannya dulu ya tidak percaya pada Rey dan juga Latya.


"Sudahlah bun mungkin Latya memang jodoh Rey tapi jalan nya harus seperti ini." imbuh Rey menenangkan Nisa yang sedang kecewa pada dirinya sendiri.


"Hah." Nisa membuang napas sedikit lega. "Ya ya kalian memang berjodoh walaupun jalan nya seperti itu." ucapnya lega karena jodoh tidak ada yang tahu.


"Tapi bagaimana dengan Maura, bagaimana dengan perasaan Maura sama kamu? Lalu nanti, dia bertanya apa hubungan kamu dengan Latya?" tanya Nisa soal Maura.


Rey menghela napas nya berat. "Rey akan bilang kalau Latya pacar Rey." jawab nya santai.


Nisa membuang napasnya secara kasar. "Ya terserah kamu Rey yang pasti jangan membuat Maura semakin nyaman dengan kamu dan kamu jangan sampai menyakiti Latya." pesan Nisa terdengar biasa namun akan menyulitkan Rey suatu saat nanti.


***


Kembali ke kasus


Rey mengintrogasi Semi karena dia adalah salah satu pelaku pembunuhan pak Rangga, karena dia lah yang melakukan hal tega itu kepada bos yang selama ini mempercayai nya selama bertahun-tahun, dengan bantuan alat perekam yang berada di pulpen pak Rangga yang ia bawa kemanapun, Semi bodoh dan sial bagi dia karena dia tidak menyadari jika dirinya sedang masuk dalam perangkap pihak kepolisian yang sedang di jalani oleh Rey selaku penyidik.


"Pak Semi anda sudah tidak bisa lagi mengelak, karena bukti sudah saya terima dan semua bukti itu tertuju pada anda!" ucap Rey kesal karena Semi terus saja mengelak tidak mengakui kesalahannya.


"Anda mau mendengar lagi hasil rekaman itu agar anda menyadari kesalahan anda terhadap pak Rangga." ucap Rey pelan namun terdengar tegas. "Semua bukti sudah jelas kok, jadi saya harap anda mengakuinya!" lanjut Rey.


Semi diam tidak bisa menjawab apa-apa karena dia dalam hatinya mengakui kesalahannya itu, hanya saja dia belum siap jika harus di penjara.


Rey menatap tajam ke arah Semi yang terlihat mulai ketakutan. "Sekarang anda jawab siapa perempuan yang bekerja sama dengan anda untuk menjalankan hal jahat ini, dan penawaran apa yang membuat anda dengan mudahnya berpaling dari bos yang selama ini mempercayai anda dan dengan baik memperkerjakan anda, sehingga anda lebih memilih bekerjasama dengan perempuan yang suaranya terekam oleh alat perekam itu?" tanya Rey serius.


Semi menelan ludah nya secara kasar ia benar-benar takut, dan menyesal karena sudah memilih untuk bekerja sama dengan perempuan itu, karena sampai saat ini ia tidak pernah membantu nya padahal selama ini Semi selalu berurusan dengan polisi dan sekarang dia sedang di ruang interogasi bersama para penyidik.


"Jawab!" sentak Rey dengan menggebrak meja dengan kesal.


Rey kesal karena adanya kasus ini membuat dirinya selalu di ancam dan kejadian ini membuat Latya kecelakaan, bukan! Tapi lebih tepatnya malah di celakai, untung saja Latya tidak sampai sebagian tubuh nya hilang karena kecelakaannya itu. Tapi itu membuat Rey geram di buat nya.


"Jawab!" teriak nya lagi.


"Seperti nya dia harus di berikan pelajaran dulu Rey!" rekan kerja Rey pun memberikan saran menarik untuk membuat Semi membuka mulutnya dan mengakui semua kesalahannya.

__ADS_1


"Iya betul, seberapa kuatnya dia saat kita beri pelajaran untuk membuat dia membuka mulutnya yang terkunci rapat itu." seringai licik tersungging dari bibir Rey. "Bawa alat itu!" titah Rey cepat.


"Ok,. dengan senang hati." rekan Rey pun dengan semangat membawa alat yang di perintahkan oleh Rey sebagai penanggung jawab atas kasus ini.


Setelah rekan Rey membawa alat itu dan Semi melihat nya membuat Semi semakin ketakutan, alat yang di pegang oleh pihak penyidik Semi tahu alat itu bekerja dan rasanya Semi tidak mau membayangkan nya.


"Jadi bagaimana apa anda mau menjawab jujur atau alat ini bekerja dengan baik pada tubuh anda!" ancam Rey terlihat tidak main-main.


"Anda tahu kan alat ini bagaimana cara kerjanya?" goda Rey agar Semi semakin takut.


Rekan Rey mengarahkan alat itu pada Semi lalu mendekatkan alat itu pada tubuh Semi yang kedua tangannya di borgol itu membuat Semi berusaha menghindari nya.


"Ok... ok saya akan mengakui nya." ucapnya takut melihat alat yang di bawa rekan Rey menyakitinya.


Rey tersenyum puas lalu dengan tatapan mata Rey menyuruh rekan kerja nya untuk menjauhkan alat pengancam itu untuk di jauh kan dari tubuh Semi.


"Bagus! Jadi katakan, kamu kan yang membunuh pak Rangga?" tanya Rey cepat dan di angguki oleh Semi. "Apa alasan nya?" tanyanya lagi.


"Karena ada seseorang yang menyuruh saya." jawab nya.


"Siapa?" Rey penasaran. "Apa suara perempuan yang ada di dalam rekaman ini?" tanya Rey tidak sabar.


"Iya." jawab Semi pelan.


"Siapa? Cepat katakan!" teriak Rey tidak sabar.


Semi menelan ludahnya secara kasar. Ia sungguh takut. Namun dia harus menjawab sejujurnya pada penyidik agar hukuman untuk nya tidak sampai menyakiti tubuh nya. "Nyonya Axel." jawabnya pasti. "Mantan istri pak Rangga dan ibu dari nona Maura." sambung nya.


Rey menyenderkan punggungnya pada kursi, jadi apa yang selama ini Maura takut kan terjadi, ibunya lah dalang dari semua kejadian ini, rencana jahat dimana ia menghilangkan nyawa seseorang yang Maura sayangi.


"Hah sudah kuduga." desah Rey.


"Lalu penawaran apa yang membuat anda begitu menggiurkan yang di janjikan oleh nyonya Axel?" tanyanya.


Semi terlihat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan dari Rey. "Jawab!" bentak Rey.


"Nona Maura." jawabnya sedikit gugup.


"Maura?" tanya Rey dan di angguki oleh Semi dengan cepat.


"Apa hubungannya dengan Maura?" Rey merasa heran namun Semi diam saja membuat Rey mendengus kesal.


Rey menyipitkan matanya menatap ke arah Semi. "Hemm anda memiliki perasaan pada Maura? Anda menyukainya?" tanya Rey dengan selidik dan Semi mengangguk membenarkan.


"Oh kesimpulan nya anda menyukai Maura dan nyonya Axel akan mendekatkan anda dengan Maura jika anda mau membantu nyonya Axel, begitu?" tanya Rey memastikan apa yang dipikirkan oleh nya itu benar.

__ADS_1


"Iya semua yang anda pikirkan benar, saya memiliki perasaan pada nona Maura sejak lama, dan pak Rangga tidak pernah mengijinkan saya untuk bisa lebih dekat dengan nona Maura, di saat saya sedang merasa butuh bantuan orang untuk saya bisa dekat dengan nona Maura, nyonya Axel datang menemui saya dan meminta bantuan saya dan jika saya bisa membantu nya, nyonya Axel akan merestui hubungan saya dengan nona Maura." jelas Semi mengakui semua perbuatannya dan alasan nya sampai tega berbuat jahat seperti itu.


__ADS_2