Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
Andre tahu


__ADS_3

"Bagaimana keadaan anda nona Latya? Apa ada yang masih terasa?" tanya dokter Kemal, saat ini dokter Kemal sedang berada di dalam ruangan Latya sedang memeriksa keadaan pasien.


Latya menjawab dengan suara yang lemah. "Masih terasa di bagian bahu saya dok?" jawabnya.


"Bagaimana dengan kandungan nya, apa ada yang sakit atau kram?" tanya nya lagi.


Latya menggeleng pelan. "Tidak dok alhamdulilah bayi saya juga masih aktif seperti biasanya, hanya bahu saya saja yang terasa masih sakit." jelas nya apa yang ia rasakan.


"Emh syukurlah kalau begitu saya ikut senang dan juga tenang karena keadaan kandungan anda baik-baik saja. Oh ya apa anda sering memeriksa kandungan nya? Karena saya tidak pernah melihat nona Latya memeriksa kandungan nya." ujarnya penasaran ia sudah lama tak pernah melihat Latya memeriksa kandungan nya itu.


Latya melirik sekilas pada suaminya yang tengah diam dengan wajahnya yang dingin. "Oh... saya selalu memeriksa kandungan saya kok, tapi saya memeriksa kandungan nya di rumah sakit terdekat saja." jawabnya menutupi padahal sebenarnya karena Rey yang melarangnya untuk memeriksa kandungan pada dokter Kemal.


"Emh seperti itu, ya dimana pun pemeriksaan nya yang terpenting kesehatan kandungan nya, jangan sampai tidak memeriksa kandungan ya nona Latya." ujar Kemal lembut.


"Saya akan pastikan keadaan istri dan calon anak yang ada di dalam kandungan istri saya itu baik-baik saja." sambung Rey merasa tidak terima.


"Oh ya memang harus seperti itu pak sebagai seorang suami." balas Kemal santai dan juga ramah.


Latya yang mengetahui jika suaminya itu terlihat sangat tidak nyaman dengan keberadaan dokter Kemal yang memeriksa nya, ia pun mencari cara agar semua bisa baik-baik saja.


"Baik dok saya akan rutin memeriksakan kandungan saya, terima kasih atas perhatiannya." ucap Latya dengan sopan.


"Sudah kewajiban saya untuk mengingatkan selalu pasien untuk memeriksa kehamilan nya. Karena pemeriksaan sudah selesai, saya permisi nona, dan jika ada yang sakit cepat segera beri tahu saya." ucap dokter Kemal itu.


"Baik dok terima kasih." balas Latya tulus.


"Saya permisi pak." ucap Kemal pada Rey dengan tatapan nya.


Rey hanya mengangguk saja tanpa niat membalas ucapan dokter muda itu.


Rey menatap Latya saat dokter dan perawat yang ikut bersama dengan nya keluar.


"Sepertinya kamu senang di periksa oleh dokter itu." ucapnya dingin.


"Apa sih bang?!" sebal Latya. "Jangan bilang kalau kamu cemburu! Aku tuh lagi hamil ya dan dokter tahu suami aku itu Abang. Jadi jangan ada cemburu-cemburuan!" tegas Latya.


Rey menghela nafasnya panjang. "Aku cuma gak suka kamu akrab dengan dokter itu!" imbuh Rey menegaskan.


"Wajarlah aku bertanya dan menjawab atas apa yang di ucapkan dokter Kemal sama aku, masa aku harus diam saja ketika dokter Kemal bertanya. Apalagi soal keadaan aku sekarang." jelas Latya.


"Dan lagian ya aku tuh lagi hamil anak kamu bang, terus keadaan aku aja lagi sakit begini, buat apa coba aku tebar pesona sama laki-laki lain!" sambung Latya dengan kesal.


"Ok Abang minta maaf." ucap Rey mengalah karena ia juga merasa berlebihan ketika dia merasa cemburu.


Latya menghela nafasnya panjang. "Jangan terlalu cemburu, gak lucu!" tambah nya.


"Iya Abang minta maaf ya." ucapnya lembut.


"Hemmm." sahut Latya pendek.


Saat Rey dan Latya beradu mulut dan terdengar oleh bunda Via yang tiba-tiba masuk untuk menjenguk putri nya pun langsung menatap Rey dan Latya satu persatu.


"Ada apa sih kalian itu?" tanya nya dengan memasang wajah kesalnya.


"Meributkan hal yang tidak penting?" tanya nya.


"Dengar ya Rey istri kamu itu sedang sakit, bisa-bisanya ya kamu omeli Latya, yang buat Latya seperti ini siapa?!" tanya bunda Via mendumel.


"Maaf Bun, aku gak omeli Latya kok, cuma ada sedikit kesalahpahaman aja sedikit." terang Rey.


"Ya harus nya kamu ngalah!" kesal Via pada menantunya itu.


"Iya bunda aku minta maaf." lirih nya.


"Udah Bun jangan omeli bang Rey, bang Rey gak salah kok." sambung Latya merasa kasihan melihat suaminya itu di marahi oleh ibunya, bunda Nisa saja jarang banget marah sama bang Rey ini bunda Via marah-marah terus.


"Sayang.... suami kamu ini yang bikin kamu tertembak seperti ini dan buat kamu juga masuk rumah sakit." Via merasa sebal pada Rey kecewa juga karena Rey tidak bisa menjaga Latya sebagai istrinya.


"Bukan salah bang Rey Bun, itu refleks aku saat lihat bang Rey di todong senjata. Bunda juga mungkin akan melakukan hal itu kalau kejadian ini terjadi pada ayah." Latya mencoba membela suami di hadapan ibunya.


"Kamu itu tertembak, dan kamu itu sedang hamil, kamu tahu bagaimana cemas dan khawatir nya bunda sama ayah saat tahu kamu mengalami kejadian ini?" ucap Via sudah mulai berkaca-kaca.


"Maaf Bun, aku juga yang salah, bang Rey udah larang aku untuk tidak keluar mobil, tapi aku malah penasaran karena bang Rey gak balik-balik ke mobil." ujarnya Latya dengan sendu.


"Maafkan Rey bunda, Rey tidak bisa menjaga Latya dengan baik, bunda memang pantas kok marah sama aku, aku terima." sambung Rey lirih.


Via terlihat menghirup nafas nya dalam-dalam. "Pokoknya bunda gak mau tahu, jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi Rey, bunda cuma takut." ucapnya sendu.

__ADS_1


"Rey janji, akan menjaga Latya dengan baik, aku gak akan biarkan Latya sakit seperti ini lagi." ucap Rey meyakinkan Via.


"Ok bunda akan ingat ucapan kamu." tegasnya.


*


*


*


Beberapa Minggu kemudian, setelah kejadian penembakan itu Rey lebih menjaga Latya malah lebih posesif. Segala apapun kegiatan Latya harus ada ijin dari nya. Dan sekarang Latya kembali ke Jakarta tinggal bersama kedua mertuanya yaitu Nisa dan juga Adam.


Latya tinggal dengan mereka karena permintaan Rey agar dia tidak berjauhan dengan istrinya itu, karena tugas nya masih di Jakarta dan Latya juga sebentar lagi akan melahirkan dan dengan bujukan rayuan pada bunda Via dan ayah Aris pun akhirnya Latya tinggal bersamanya di kota yang sama.


Berjauhan dengan istrinya itu terasa ada yang kurang dan membuat rindu nya melebihi saat mereka sebelum menikah.


Kesehatan Latya pasca insiden kejadian penembakan pun kini berangsur membaik, Nisa sebagai mertua yang baik selalu merawat Latya seperti anaknya sendiri.


"Sayang mumpung Abang hari ini ada masa libur, Abang mau ajak kamu jalan-jalan, kamu mau?" tanyanya mengajak Latya.


"Seriusan?!" tanya nya antusias.


"Ya serius, kita bisa beli berbagai kebutuhan untuk bayi kita yang akan segera lahir." tawar Rey dengan lembut.


"Ok, aku siap-siap dulu." ijin Latya seraya pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


"Ok sayang."


Tak...tak... tak... suara jam berdetak Rey menunggu istrinya yang sedang bersiap-siap, dengan waktu yang cukup lama ketika Rey melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Lama sekali." gumamnya seraya melirik pintu kamar yang masih tertutup itu.


Rey pun mencoba mencari keberadaan istrinya yang ada di dalam ruangan kamar mereka. Lalu ia tersenyum melihat istrinya tengah sibuk menatap dirinya di depan cermin besar.


Rey mendekat dengan perlahan lalu memeluk istrinya itu dari belakang dan menciumi ceruk leher istrinya dengan lembut.


"Sayang apa yang kamu lakukan? Lama sekali." ucap Rey setengah berbisik.


"Latya terlihat cemberut. "Bang lihat baju aku banyak yang udah gak muat! Semakin hari aku semakin gemuk aja." rutuknya terdengar nada kecewa.


"Bukan masalah itu, tapi masalah nya aku gemuk banget!" ucapnya sendu.


"Hei, kamu gemuk Abang suka kok. Di dalam perut ini kan ada anak Abang yang semakin membesar jadi wajar kalau kamu gemuk. Ayok kita pergi jalan!" ajak Rey seraya merangkul pinggang istrinya untuk keluar kamar.


"Tunggu..." rengek nya.


"Apalagi sayang? Ayok kamu udah cantik." ajaknya terus tanpa ada perdebatan lagi.


Latya pun pasrah sudah, ia yang terlihat tidak pede dengan tubuh nya yang gemuk berisi karena kehamilannya pun dengan langkah pelan mengikuti suami itu. Padahal di mata Rey istrinya itu begitu cantik dan begitu malah semakin menggemaskan, namun Latya yang masih muda merasa jika kegemukan tubuh nya membuat dirinya tidak begitu pede.


Di dalam mobil Latya terlihat diam saja dan Rey pun menatapnya dengan penuh kebingungan. "Kenapa sayang kok diam aja sih?" tanya Rey.


"Kamu itu cantik, percaya deh sama Abang." pujinya. Latya hanya tersenyum tipis saja.


"Jadi gak ini kita jalan-jalan?" tanya Rey meyakinkan Latya. "Kita kan mau belanja keperluan bayi kita." Rey pun mencoba mengingatkan.


Latya bersemangat jika dengan urusan untuk bayi nya. "Jadi dong, pokoknya aku mau belanja kebutuhan untuk baby kita, Abang siapkan saja dana yang harus Abang keluarkan!" ancam Latya dengan mantap.


"Siap, asal ingat jangan yang mahal-mahal!" ingat Rey pada Latya.


"Tergantung." sahut Latya dengan mengangkat kedua bahunya.


"Hemm dasar, ingat ya suami kamu ini hanya seorang polisi bukan CEO kaya raya atau pun sultan, jadi ingat pengeluaran harus seimbang dengan penghasilan!" terang Rey agar Latya tidak kalap ketika berbelanja.


"Iya Abang ku sayang." balas Latya.


"Good girl." sahut Rey dengan tersenyum menatap Latya.


Sesampainya di sebuah mall yang cukup lengkap, Rey pun menghentikan langkah keduanya.


"Sayang kita mau langsung belanja kebutuhan kita atau mau makan dulu." tanya Rey.


"Kita belanja dulu lah bang, tadi kan udah makan di rumah." tolak Latya.


"Ok kalau begitu, ayok kita belanja. Ingat belanja yang kita butuhkan dan pasti akan terpakai untuk bayi kita." ucap Rey mengingatkan.


"Iya bawel!" jawab Latya sebal.

__ADS_1


Rey tersenyum lalu menjembel pipi cabi istrinya itu. "Gemes deh Abang." godanya.


"Aw sakit!" cebik Latya. "Let's go nak kita belanja..." teriak Latya seraya mengelus perut nya dengan lembut.


Rey hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya itu. "Sudah mau jadi ibu tapi kelakuan masih seperti anak-anak." gumamnya. Namun ia terus mengikuti kemana pun Latya melangkah.


"Ah Abang ini lucu, ini lucu wahh ini juga lucu..." teriak Latya ketika mereka sudah berada di dalam sebuah mall tempat kebutuhan bayi.


"Ingat kebutuhan yang kita perlukan saja." Rey mengingatkan.


Latya memonyongkan bibirnya. "Tapi semua lucu bang Rey..." rengek nya.


"Menghemat sayang, lagi pula kita belum tahu kan jenis kelamin bayi kita, jadi beli nya yang netral ya." bujuk Rey penuh pengertian.


Latya mencoba membuang nafas nya kasar. Tapi ada benarnya juga apa yang di katakan suaminya itu. Mereka belum mengetahui jenis kelamin bayi nya, mereka sengaja tidak ingin tahu apa jenis kelamin bayi nya, jadi Latya harus pintar memilih barang yang cocok untuk bayi laki-laki atau bayi perempuan.


Setelah beberapa lama memilih dan membeli kebutuhan nya Rey dan Latya pun menuju tempat makan, untuk sekedar beristirahat setelah lelahnya mencari kebutuhan bayinya.


"Kamu duduk di sini dulu ya, tunggu, Abang mau ke toilet dulu sebentar." ijin nya.


Latya mengangguk. "Iya tapi jangan lama-lama ya."


"Gak akan lama kalau gak ngantri. Tunggu ya." ucap Rey lembut.


"Iya."


Brak... suara barang Latya tidak sengaja ia jatuhkan tepat di depan kaki seorang laki-laki terlihat dari sepatu yang ia kenakan ketika Latya mencoba mengambilnya.


Laki-laki itu pun mencoba membantu mengambil kan barang terjatuh itu. Saat ia akan memberikan barang itu laki-laki tersebut terkejut ketika ia melihat perempuan yang ada di hadapannya itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Latya." panggil nya sedikit terkejut dengan pertemuan tidak sengaja itu. Lalu ia pun lebih terkejut saat melihat tubuh Latya yang sedang hamil.


"Ka...kamu sedang ha...hamil?" kejutnya tidak percaya.


"Eh bang Andre." balas Latya juga sedikit terkejut karena mereka sudah beberapa bulan ini tidak pernah bertemu karena Latya yang sedang menyelesaikan kuliah nya.


"Kamu sudah menikah?" tanya Andre ada rasa kecewa setelah ia tahu gadis yang ia incar sudah menikah dan melihatnya sedang mengandung.


"Iya, aku sudah menikah, nikah muda hehehe." jawabnya cengengesan.


"Kamu tidak memberitahu aku kalau kamu sudah menikah dan kenapa tidak mengundang Abang?" tanya nya terlihat kecewa karena Andre sudah ada niatan untuk mendekatkan diri nya pada Latya dan berniat akan melamarnya, namun setelah melihat semua ini pupus sudah harapan nya untuk meminang Latya sebagai istrinya.


"Emh maaf bang Andre, pernikahan aku mendadak jadi belum sempat ada resepsi." jawabnya lugas.


"Apa dia hamil duluan ya? Kenapa dia mau menikah muda padahal dia itu memiliki potensi bagus jika bekerja." batin Andre tidak terima.


"Kamu sendirian di sini?" tanya Andre melihat Latya yang hanya sendirian padahal sedang hamil seperti itu.


"Aku sama bang Rey, dia lagi ke toilet." ujarnya.


"Aduh bang Rey udah cerita belum ya sama bang Andre kalau kita sudah menikah." batin nya. "Tapi ya gak apa-apa juga sih bang Andre tahu toh sekarang kan kita sudah sah secara agama dan juga negara." sambung nya dalam hati.


"Oh kebetulan sekali ya Rey di sini. Aku kira kamu bareng suami kamu." ucap Andre penasaran.


Latya tersenyum kaku setelah mendengar ucapan Andre. "Bang Rey kan suami aku." batinnya.


"Aku penasaran dengan suami Latya, lebih ganteng siapa aku dengan nya, aku benar-benar kalah cepat dengan nya." batin Andre merasa kecewa dan penasaran juga siapa laki-laki yang sudah merebut gadis yang ia sukai.


Saat mereka berbincang-bincang tidak lama Rey yang baru selesai dari toilet menghampiri Latya yang tengah duduk di tempat duduk yang tadi ia duduki sebelum Rey pergi ke toilet.


"Emh sama siapa Latya duduk?" gumam Rey saat ia melihat istrinya itu duduk bersama seorang laki-laki yang sedang memunggunginya.


"Kamu ya benar-benar baru di tinggal ke toilet sebentar saja sudah berani mengajak duduk laki-laki lain." kesal Rey melihat Latya dari jauh dan terlihat asyik mengobrol dengan laki-laki yang tidak terlihat wajahnya hanya punggung nya saja.


Rey pun dengan cepat melangkahkan kakinya untuk mendekati istrinya itu, karena rasa cemburunya yang tinggi ia pun ingin segera mengusir laki-laki itu dengan cara halus tentunya.


Setelah mendekat Rey tanpa melihat langsung mendekati istrinya dan memeluk istrinya dengan erat terlihat sangat posesif. "Sayang maaf ya sudah lama kamu menunggu." ucapnya lembut tanpa melihat reaksi Andre yang begitu terkejut melihat Rey mencium dan memanggil Latya dengan panggilan sayang.


"Rey!" panggil nya tidak bisa di percaya melihat perbuatan Rey pada Latya.


"Aduh bang Rey..." batin Latya seraya menggigit bibir bawahnya karena Rey yang begitu posesif padanya.


Rey yang terpanggil namanya dan mendengar suara yang tidak terasa asing di indera pendengaran nya pun langsung dengan cepat menoleh ke arah laki-laki yang memanggilnya itu.


"Andre!" gumam nya gelagapan seperti seseorang yang sedang tercidug karena ketahuan berselingkuh. "Elu ngapain disini?" tanyanya cengo.


Andre mematung dengan apa yang ia lihat di hadapannya tanpa menjawab pertanyaan dari Rey yang terlihat sangat terkejut, ia merasa sungguh sangat kecewa di hatinya, sahabatnya yang paling dekat dengan nya dan dia tidak tahu hubungan apa antara Rey dengan Latya saat ini, yang dulu pernah Rey akui sebagai adik sepupunya apa itu yang sebenarnya atau hanya pengakuan tidak jujur nya saja.

__ADS_1


__ADS_2