Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
hampir saja


__ADS_3

Setelah kejadian memakan rujak dan mengingat kembali ucapan-ucapan dari rekannya ia jadi mengingat Latya istrinya itu walaupun semua yang dipikirkan nya ia tepis.


Rey sedang berada dalam kamarnya, terasa sepi, biasanya ia sering memeluk Latya di kasur yang sedang ia tiduri itu. "Sudah satu bulan kita gak ketemu, dan bahkan aku tidak tahu kabar kamu." Rey bergumam dalam kesepiannya seraya melihat foto istrinya itu, menatap dan mengusap foto cantik istrinya yang sedang tersenyum.


Lalu ia pun berganti membuka aplikasi hijau karena ada pesan masuk, ada beberapa pesan dari rekannya, dan ada juga dari Maura namun tidak ia balas. Setelah selesai membalas pesan penting dari rekannya ia melihat pemberitahuan status, ntah kenapa ia penasaran dengan status orang di aplikasi hijau itu. Dan matanya melihat di sana ada status Latya, Rey pun semakin penasaran untuk melihat status istrinya itu karena Latya yang ia tahu jarang sekali membuat status apalagi status di aplikasi hijau itu.


Rey dengan cepat membuka status itu dan membaca nya. Dahi nya mulai mengerut karena isi status istrinya itu.


"Merasa konyol. Lagi pengen kerak telor asli Jakarta haha siapa tahu ada yang kirim 🤲🤲🤲." isi status Latya yang Rey read.


Rey merasa sedih membaca status itu, karena kalau saja istrinya sedang berada dekat dengan nya ia pasti akan membelikan nya.


Dengan ragu-ragu ia ingin membalas pesan itu, namun hatinya yang sangat merindukan istrinya itu Rey pun dengan memberanikan dirinya untuk membalas pesan status Latya.


"Memang nya disana gak ada yang jual kerak telur?" tanya Rey di dalam pesan balasan nya namun belum terbaca oleh Latya karena sedang offline.


'Hah." Rey mendesah ia merasa sudah tidak tahan lagi untuk menghubungi istrinya, walaupun di kuat-kuat kan juga tetap dia merasa rindu berat pada Latya.


"Ah Latya aku merindukanmu." lirih nya masih menatap status yang belum di balas Latya.


Sedangkan Latya yang sudah beres menggosok gigi nya, ia pun keluar dari kamar mandinya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, seharian berada di kampus merasa dirinya begitu lelah dan untung nya Latya tidak begitu mengalami mual atau muntah yang berlebihan, hanya di pagi hari dan jika ia mencium aroma yang menyengat saja.


"Sayang kamu sehat-sehat ya, kita akan lulus kuliah bersama-sama hihi, jadi kamu jangan buat bunda tersiksa ya. Soalnya bunda masih banyak tugas yang harus di selesaikan." ucap Latya seraya mengelus perutnya yang masih rata itu. "Tapi kamu sudah menjadi anak baik dalam perut bunda karena kamu gak bikin bunda mual atau pun muntah, makasih ya sayang sudah mengerti dengan keinginan bunda." lanjut nya dengan lembut dengan tersenyum.


Lalu setelah Latya mengajak ngobrol janin yang masih sebesar biji kacang itu, Latya meraih handphone nya untuk melihat ada pesan dari seseorang ntahlah siapa?...


"Bang Rey?" tanya nya batin.


Latya mengerut aneh namun hatinya merasa bahagia karena Rey menghubungi setelah sebulan lebih dia tidak pernah mengabari nya.


Latya ragu untuk membalas, ia tidak akan luluh begitu saja kepada Rey. Namun dia akui pesan dari rey membuatnya bahagia. Mengetik menghapus mengetik menghapus. Ragu dan juga berdebar yang kini Latya rasakan. Bagaimana tidak berdebar sudah lama ia tidak mendapatkan pesan ataupun kabar dari suaminya tercinta.


Rey yang masih memperhatikan handphone dan menunggu balasan dari Latya pun tidak sabar. Ia pun mengirim pesan lagi pada Latya.


"Lagi apa?" pesan Rey pun terkirim lagi dan terlihat ceklis dua dan terbaca oleh Latya Rey pun tersenyum. Namun tetap Latya masih mengabaikan pesan Rey membuat Rey kecewa.


"Abang telepon, video call!" pesan pun terbaca oleh Latya namun tidak ada respon dari Latya.


Sedangkan Latya yang menerima pesan dari Rey pun semakin merasa panik dan berdebar-debar karena kemungkinan akan melihat wajah tampan suaminya yang sudah lama tidak pernah ia lihat.


Rey pun menelepon Latya dengan video call beberapa kali ia memanggil nya namun lagi Latya mengabaikan panggilan video call itu. Rey mendesah merasa kecewa.


"Sayang, aku ingin bicara dengan kamu, tolong jawab panggilan ku!🙏🙏🙏" pesan Rey kirimkan.


Latya hanya membaca pesan nya saja tanpa ada niat untuk membalas nya. "Aku masih kesal sama kamu bang, kamu lebih memilih bersama Maura daripada aku." batin Latya kesal seraya menatap layar handphone nya dan dengan tangan yang mengelus perut nya dengan lembut.


"Ah Latya..." gumam Rey. "Maaf..." lirih nya.


Lalu berlari ke kamar mandi karena tiba-tiba saja perutnya mual kembali.


***


Keesokan harinya Latya tengah bersiap untuk mengecek kandungan nya, karena selama tahu jika dirinya hamil, ia belum pernah untuk melakukan pemeriksaan pada kandungan nya. Di temani oleh bunda Via karena Latya yang masih muda bingung dan Via pun dengan senang hati menemani putrinya yang sedang hamil muda itu.


"Kita duduk di sini, kamu kebagian nomor 2, beruntung sekali kita jadi gak akan lama kita untuk menunggu." ucap bunda Via dengan senang nya.


"Bunda kira-kira nanti aku di apain di dalam ruangan dokter?" tanyanya polos.


Bunda Via tersenyum. "Kamu paling di USG biar tahu apa ada janin atau gak, lalu nanti kamu juga paling di tanya ada keluhan atau tidak." jelas Via dan Latya pun manggut-manggut tanda mengerti.


Latya melihat papan nama di atas bagian depan pintu ruangan dokter. "Dokter Kemal Rahadian SpOG." ejah Latya pelan.


Tak lama seorang suster pun memanggil Latya. "Ibu Latya." panggil nya.


"Sayang kamu sudah di panggil tuh." ucap Via memberitahu.

__ADS_1


"Ah iya sus, sebentar." sahut Latya cepat seraya berdiri untuk masuk ke dalam ruangan dokter.


"Bun ayok, bunda mau ikut gak?" ajak Latya.


"Iya bunda ikut." ujar Via semangat.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan dokter itu. Latya dan Via di persilahkan menemui dokter. Setelah Latya masuk ia terkejut melihat dokter yang akan memeriksa nya.


"Laki-laki ini, laki-laki yang pernah bertemu di bandara, jadi dia seorang dokter kandungan." batin Latya saat melihat laki-laki yang memakai jas putih khas seorang dokter.


Sama terkejutnya dengan dokter bernama Kemal itu karena gadis yang telah mencuri pikiran nya itu selama setelah mereka bertemu berada di hadapannya saat ini.


"Perempuan ini kan perempuan yang menabrak punggung ku di bandara, perempuan galak. Ada masalah apa dia sampai datang kesini?" batin Kemal penasaran dengan kedatangan nya.


"Emh suster saya minta data pasien." pintanya pada seorang suster.


"Ini dokter." balas nya seraya menyerahkan data dari Latya yang sudah suster itu dapatkan.


Dokter Kemal pun meraih berkas data informasi tentang Latya. Lalu ia pun membaca satu persatu tentang Latya. "Dia sedang hamil?" batinnya dengan rasa terkejut. Deg... "Jadi dia sudah menikah? Kenapa aku merasa kecewa ya?"


"Ekhemm." Kemal berdehem setelah selesai melihat berkas dataan Latya itu.


"Nona Latya. Anda sedang hamil?" tanyanya dengan menatap Latya lalu tersenyum manis.


"Iya dok." sahut Latya cepat. 'Hah Kenapa aku bertemu dengan laki-laki ini lagi sih, dokter kandungan aku lagi, aku kan malu pernah marah-marah sama dia.' batin nya merasa malu. 'Aduh mau kabur udah terlanjur di sini lagi.'


'Dia ingat aku gak ya, semoga dia lupa deh!'.


Kemal pun melihat kembali siapa nama dari suami Latya. 'Tuan Reypan Mahesa Mahardika.' ejah nya dalam hati. "Oh jadi ini nama suaminya, hah kenapa aku merasa kecewa apalagi setelah ia tahu di sini tertera nama suaminya.' batin Kemal.


"Baik lah silahkan anda berbaring di atas bed nona, saya akan langsung memeriksa kandungan anda." ujarnya menyuruh Latya.


Latya dengan patuh melakukan apa yang di suruh oleh dokter kandungannya itu, Kemal melihat ke arah Via. "Anda siapanya nona Latya, nyonya?" tanyanya dengan ramah.


"Saya ibunya Latya." jawab Via.


Latya mendelik. "Kepo banget sih ini orang, mau diantar kek mau gak serah aku lah, Kenapa dia yang repot!" batin Latya jengah. Latya sensitif jika ditanya tentang suaminya.


"Suami nya sedang bertugas, jadi belum bisa menemani untuk periksa kandungan." ucap Via yang mewakili Latya untuk menjawab pertanyaan dokter itu.


"Oh seperti itu, baiklah kita akan mulai ya." ucapnya seraya mengintruksikan pada suster untuk memberikan gel pada pada perut Latya.


"Maaf ya nona, saya akan berikan gel dulu." ijinnya seraya membuka perut putih Latya. Latya pasrah karena mengikuti apa yang di lakukan suster itu padanya. Kedua kakinya pun ditutup oleh selimut untuk menutupi bagian kaki Latya.


Deg. Kemal melihat perut putih dan mulus Latya, sampai ia gugup, ntah kenapa hati nya jadi berdebar dan keringat mulai membasahi. Namun ia berusaha untuk tidak gugup, sebagai dokter seharusnya dia bersikap biasa saja karena dia sudah sangat sering melihat tubuh para ibu hamil. Namun berbeda dengan pasien yang sekarang ada di hadapannya. "Ah sial kenapa dengan aku ini?!" kesal nya dalam hati.


Kemal pun dengan berusaha menghilangkan kegugupan pun langsung memeriksa kandungan Latya. Dengan men USG kandungan Latya.


"Janin anda sehat, dia juga berkembang dengan sangat baik." jelas Kemal. "Lihat nona Latya, janin anda masih sebesar biji kacang, titik kecil ini calon buah hati anda." jelas dokter kandungan itu. "Usia kandungan nona sudah menginjak Minggu ke 6 ya, harus di jaga dengan baik karena ini semester pertama itu masih rentan." sambungnya.


Latya tersenyum penuh haru, dan kemal pun melihat senyuman itu ia pun ikut tersenyum. "Apa anda ingin mendengar detak jantung nya" tawar dokter itu karena melihat Latya begitu senang melihat janin yang tumbuh di dalam rahim nya.


"Memang bisa ya dok, janinnya kan masih sebesar biji." polos Latya berucap.


"Bisa nona, sebentar saya akan mengecek nya." dokter itu mengecek detak jantung calon bayi itu. "Nona anda bisa mendengarkan?" ucapnya seraya memperjelas suara detak jantung itu membuat Latya tersenyum kembali.


"Iya dok, kok bisa sih?" tanya nya penasaran.


Kemal tersenyum melihat kepolosan ibu muda ini. "Bisa nona, sekarang alat-alat sudah sangat banyak yang canggih." ucapnya. "Ok selesai! Pemerikasaan untuk sekarang sudah selesai, nona bisa kembali memeriksa kembali nanti, sebulan ke depan ya, kita akan cek terus agar bayi bisa terdeksi dengan baik." ujarnya. "Saya akan berikan vitamin ya, karena nona tidak merasakan mual yang berlebihan jadi saya akan berikan vitamin saja. Vitamin nya harus selalu di minum ya." sambung nya.


Latya hanya mengangguk patuh tanpa ada perkataan apapun.


"Baik dok terima kasih." ucap Via karena Latya diam saja. "Kalau begitu kami permisi." pamit nya.


"Ya silahkan." balas Kemal dengan melirik ke arah Latya yang diam saja dan namun terlihat ada kebahagiaan di wajahnya. Kemal menarik nafasnya dalam-dalam setelah kepergian Latya dan juga ibunya. "Nona Latya..." gumamnya seraya menyenderkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. "Ah kenapa dengan aku ini?" gumam nya pelan.

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan Latya dan Via sudah langsung pulang dengan memberikan hasil USG di tangan nya yang terus Latya pandangi.


"Bunda aku gak percaya di dalam rahimku ada janin yang tumbuh, padahal aku baru saja menikah rasanya nano-nano deh Bun perasaan aku." ucap Latya dengan matanya mulai berkaca-kaca.


"Ya bunda juga, tapi syukurlah kamu tidak hamil di luar nikah, bunda sempet takut jika hal itu terjadi." ucap Via.


"Ya aku gak akan hamil di luar nikah bun, orang aku melakukan nya juga setelah aku dan bang Rey nikah kok." ujarnya sebal karena adanya salah paham itu membuat kedua orang tua menyangka jika Latya melakukan hubungan yang bebas.


"Iya sekarang bunda percaya kok, jadi kapan kamu akan beritahu Rey dan juga mertua kamu?" tanya Via mengingatkan pada Via.


"Nanti aku akan kasih kejutan pada mereka, aku penasaran bagaimana ekspresi mereka saat tahu aku hamil." kilah nya padahal ia ingin sekali memberi tahu pada suaminya.


"Latya apa Rey masih bertugas di luar kota? Kok selama kamu pulang kesini Rey belum pernah datang untuk menjenguk kamu." ucap Via merasa heran.


"Masih Bun, nanti juga bang Rey ke rumah." balas nya cepat. " Ya udah aku ke kamar dulu ya." pamit nya dengan cepat agar bundanya tidak menanyakan apa-apa lagi kepadanya.


"Ya udah istirahat kamu." titah nya.


Via pun terus menatap kepergian Latya yang terus melangkah ke arah kamarnya. Via merasa ada yang aneh. Namun ia tepis. Saat Via terlamun dalam lamunannya, ada sebuah panggilan video call tertera di layar handphone nya, nama itu dari Nisa besan nya. Via pun dengan semangat menekan tombol untuk ia jawab panggilan dari Nisa itu.


"Assalamualaikum Via, apa kabar kamu?" sapa Nisa langsung saat telpon nya ia jawab.


"Wa'alaikumussalam Nisa, kabar aku baik. Gimana kabar keluarga kamu baik juga kan?" tanyanya balik. Namun belum Nisa menjawab Latya keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk mengambil es krim karena cuaca di luar sana begitu panas, memakan es krim sepertinya cara yang enak.


Saat setelah mengambil es krim nya itu Latya yang mendengar bundanya sedang berteleponan dengan begitu heboh membuat Latya penasaran dengan siapa ibunya berteleponan.


Latya menghampiri bunda Via dengan membawa es krim di tangan nya lalu ia pun melihat dengan siapa bundanya berteleponan. "Bunda Nisa." panggil Latya dengan terkejut, karena sudah lama Latya tidak bertemu dengan Nisa biasanya setiap hari mereka bertemu.


"Hallo sayang apa kabar kamu, jahat ih gak pernah telpon bunda." Nisa berpura-pura merajuk pada Latya.


"Hehehe maaf bunda, aku sibuk kuliah." kilahnya jujur namun tidak hanya kesibukan nya namun ia takut jika Rey tahu.


"Ah iya kamu sibuk kuliah ya."


"Ooooee ooooeee." terdengar suara Rey yang sedang muntah-muntah di kamar mandi bawah membuat Latya dan juga bunda Via bertanya-tanya.


"Siapa itu Nisa yang muntah-muntah?" tanya Via.


"Ah maaf ya kalian dengar,. sebentar ya." ucap Nisa pada Via. "Rey kamu masih mual? Minum lagi tuh wedang jahe nya biar perut kamu gak mual terus." teriak Nisa pada Rey.


Latya mendengar teriakkan Nisa. "Bang Rey sakit. Sakit apa ya?!" lirihnya dalam hati merasa Khawatir.


Setelah Rey memuntahkan semua isi di dalam perutnya Rey langsung menghampiri bundanya yang sedang berteleponan, namun tidak tahu dan tidak sadar jika yang Nisa telpon adalah Via dan juga Latya.


Rey langsung merebahkan tubuhnya pada pangkuan Nisa. "Bun pijit dong, badan aku gak enak banget, badan aku lemes perut aku juga masih mual." keluh nya manja.


"Ish manja." desis Latya sebal tapi lucu melihat Rey yang kaku bermanja-manja pada ibunya.


"Makanya Rey datang dong ke rumah bunda, biar istri kamu yang pijit." celetuk Via. "Latya kangen lho sama kamu." godanya.


"Bunda..." teriak Latya tidak terima.


Rey yang mendengar suara rengekan Latya langsung bangkit dan menatap layar handphone nya. Di sana ia melihat istrinya yang sedang cemberut karena di goda oleh Via.


Menyindir Rey yang tidak pernah datang ke rumah nya membuat Via jadi curiga. "Jengukin istri apalagi sekarang dia sedang ham... Hap." Latya memasukkan es krim yang ia pegang ke dalam mulut bundanya yang hampir keceplosan.


Via yang menyadari kesalahannya pun langsung bungkam seraya menelan es krim yang masuk ke dalam mulutnya.


"Hampir saja ketahuan!" batin Latya lega.


"Emh maaf ya Rey belum bisa ke sana karena waktunya belum pas, dia masih ada tugas." kilah Nisa menyembunyikan masalah anak-anaknya.


"Emh iya aku ngerti kok, sejak kapan Rey sering muntah-muntah?" tanya Via penasaran ia sudah menyadari jika Rey mungkin muntah karena mewakilkan Latya yang sedang hamil.


"Udah semingguan ini, padahal dia udah periksa ke dokter dan tidak ada masalah di dalam tubuhnya, minum obat juga udah tapi aneh, dia masih aja mual dan muntah." terang Nisa dengan khawatir.

__ADS_1


Via tersenyum seraya menoel pinggang Latya yang ada di samping nya, karena Via yakin Rey sedang di kerjai oleh calon anak nya yang tumbuh di rahim Latya.


__ADS_2