Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
cemburu nya Latya


__ADS_3

Dokter yang menangani Maura pun keluar ruangan dimana Maura berada. Rahma yang melihat dokter keluar pun dengan cepat menghampiri dokter itu, padahal dirinya sedang berbicara dengan Rey mengenai perasaan Maura kepadanya.


"Bagaimana dok apa Maura sudah sadar?" tanya Rahma cepat.


"Alhamdulillah nona Maura sudah sadar, tapi pasien harus beristirahat ya, karena tubuhnya ngedrop begitu drastis, berbahaya bagi pasien jika terus-terusan seperti itu." terang dokter menjelaskan keadaan Maura saat ini.


Rahma memijat pangkal hidungnya mendengar kabar Maura yang kurang baik. "Iya dok memang akhir-akhir ini Maura sering sekali pingsan, karena mungkin memikirkan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini yang membuat dia begitu berat." ujar Rahma mendesah pelan.


"Pasien itu tidak boleh memikirkan sesuatu yang membuat dia stres apalagi sampai pasien merasa sedih, itu sangat di sarankan untuk pasien hindari, jika memang kasus yang menimpa keluarganya itu membuat nona Maura ngedrop alangkah baiknya jangan membawa masalah itu kepada pasien, sembunyikan masalah yang bisa membuat dirinya terkejut." saran dokter itu mengingatkan.


"Ya baik dok." sahut Rahma dengan mengangguk. "Terima kasih." ucap nya lagi.


Rahma pun segera masuk ke dalam ruangan dimana Maura di rawat itu, Rey masih terdiam di kursi menunggu, tidak berniat untuk mengikuti Rahma yang akan masuk ke dalam ruangan.


"Maura..." panggil Rahma lembut seraya menatap ke arah Maura yang terlihat sangat lemah dan pucat.


Maura tersenyum tipis melihat tante nya datang. "Tante..." ucap Rahma.


"Kamu bikin tante khawatir tahu!" cebik Rahma merajuk.


"Maaf." sahut nya lemah. "Maaf sudah membuat Tante khawatir." sambung nya dengan lirih dan dengan matanya yang berkaca-kaca.


Rahma mengusap punggung tangan Maura dengan lembut ia merasa sedih melihat Maura seperti ini. "Kamu mau apa? Apa yang kamu perlukan, tinggal bilang sama tante, nanti tante belikan." ucap Rahma menawarkan sesuatu pada Maura.


Maura menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada yang aku butuhkan yang bisa di beli." jawab nya. Lalu Maura mendesah pelan. "Aku butuh papa tapi, itu tidak mungkin." lanjutnya dengan suara bergetar.


"Maura... Rey ada di sini, dari tadi Rey menunggu kamu." ucap Rahma mencoba untuk menghibur Maura.


Maura tersenyum tipis mendengar Rey ada di sini dan menunggu nya, ia merasa begitu bahagia di hatinya. "Rey ada di sini tante?" tanya Maura memastikan pada Rahma.


Rahma mengangguk membenarkan seraya tersenyum karena Maura terlihat sangat bahagia mendengar Rey yang masih ada di sini. "Mau tante panggilkan?" tawar nya.


Maura mengangguk mengiyakan. "Boleh tante." ucapnya.


"Sebentar ya Tante panggil Rey dulu." ijin Rahma Maura tidak menjawab dia hanya tersenyum saja.


Rahma keluar ruangan Maura untuk menemui Rey di sana. Rey yang melihat Rahma keluar ruangan pun berdiri menghampiri Rahma, takutnya Rahma membutuhkan sesuatu yang ingin di beli. Dan Rey berniat untuk pamit pulang karena tubuhnya merasa sudah sangat lelah. Berniat untuk pamit pulang karena Rey tadi mendengar jika Maura sudah sadar dan sudah di rawat di sana.


"Tante." panggil Rey.


"Eh Rey, emh kamu belum mau pulang kan? Tante boleh minta tolong?" pintanya. "Maura ingin bertemu sama kamu di dalam." ucap Rahma menunjukkan kamar inap Rahma.


Rey tersenyum kaku. "Emh baik." ucap Rey menyetujui.


Rahma masuk di ikuti oleh Rey dari belakang, Rahma tersenyum ke arah Maura saat mereka masuk ke dalam ruangan inap yang di tempati Maura.


Maura melihat Rey yang mengikuti Rahma di belakangnya. "Rey." panggilannya lembut seraya memberikan senyuman pada Rey.


Rey membalas senyuman dari Maura. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Rey.


"Lebih baik Rey." jawabnya pelan.


'Lebih baik karena kamu ada di sini." batin nya.


"Emmh syukurlah kalau kamu baik-baik saja." balas Rey mengangguk-angguk.


Rahma yang melihat interaksi antara Rey dan juga Maura tersenyum melihatnya karena bisa melihat keponakannya itu bahagia.


"Engm Rey, tante boleh minta tolong sama kamu gak?" tanyanya hati-hati.


"Iya boleh tante, minta tolong apa?" tanya Rey cepat.


"Begini Rey tante mau pulang dulu kerumah sebentar, tante mau bawa baju ganti sama keperluan selama menemani Maura di sini. Tante mau kamu menemani Maura dulu sebentar bisa kan? Soalnya tante khawatir kalau Maura ditinggal, takut dia ada perlu apa-apa." ujar Rahma meminta pada Rey.

__ADS_1


"Emh... boleh." ucap Rey setengah hati.


'Hemm tadinya aku ingin sekali pulang, beristirahat lalu sambil curi-curi pelukan dari Latya. Ah Gatot!' kesalnya dalam hati.


"Terima kasih ya Rey, maaf tante merepotkan kamu ya." ujar Rahma merasa tidak enak namun karena melihat Maura terlihat bahagia jika bersama Rey membuat Rahma sebagai tante pun memiliki ide untuk mendekatkan Rey pada Latya.


"Ya sama-sama Tante, jangan sungkan." balas Rey lembut.


Rahma menatap Rey memperhatikan perlakuan Rey pada Maura. 'Maaf ya Rey tante mencoba untuk mendekatkan kamu dengan Maura, toh kamu dan Latya juga hanya sekedar hubungan pacaran, jadi masih ada kemungkinan kamu dan Latya putus.' batin Rahma menatap Rey yang sedang berbicara dengan Maura.


Rey duduk setelah Rahma pergi. Rey merasa lelah sekali seharian ini ia beraktivitas penuh dan sekarang ia harus menunggu kembali. Iya bukan tidak ikhlas membantu Tante Rahma untuk menemani Maura sementara ini, tapi Rey manusia biasa ada saatnya lelah.


"Rey... maaf ya aku sudah merepotkan kamu." ucapnya tidak enak hati melihat Rey menunggu nya.


"Tidak apa-apa." sahut nya cepat. "Beristirahat lah supaya kamu bisa cepat pulang." ucap Rey menyindir dengan senyum miring nya, namun bagi Maura itu terdengar sebuah kata perhatian yang diberikan Rey padanya.


Tik... tik...tik... Suara jam berdetik Rey yang menunggu Maura di dalam ruangan mulai bosan dan mengantuk, karena tante Rahma tak kunjung kembali membuat Rey berulang-ulang menguap.


"Rey boleh aku minta tolong?" ucap Maura membuat Rey yang sudah mengantuk berat langsung menatap ke arah Maura dengan mengusapkan wajah nya.


"Iya." sahut nya.


"Aku haus Rey, tolong ambilkan aku minum." pintanya lembut.


Rey beranjak dari duduknya lalu meraih air minum dan di berikan kepada Maura. Rey pun membantu Maura untuk minum dengan perlahan membantu nya untuk bangun dari tempat tidurnya.


Di raih lah gelas berisi air minum itu oleh Maura dan menengguk nya dengan perlahan. "Terima kasih Rey." ucapnya dan di angguki oleh Rey.


"Maura, aku keluar dulu ya." ijinnya dan di angguki oleh Maura.


Rey keluar ia meraih ponselnya lalu menekan nomor yang membuat nya rindu. Lama panggilan nya tidak ia jawab.


"Latya kemana sih?" gumam nya kesal karena tidak ada jawaban. "Jawab Latya... Aku butuh amunisi dari kamu sekarang ini." sambung nya terus saja bergumam.


Rey mendengus karena Latya tidak menjawab panggilannya padahal itu di lakukan oleh Rey berulang-ulang kali. "Hah." Rey membuang napasnya secara kasar lalu menyudahi untuk memanggil Latya.


"Latya ada, malah di samping bunda sekarang." jawab Nisa memberi tahu keberadaan Latya.


"Boleh Rey ngomong Bun sama dia, pintanya.


Lalu Nisa pun dengan cepat memberikan ponsel nya pada Latya dan Latya terlihat bingung. "Dari Rey." ucap Nisa mengetahui menantu kecilnya itu kebingungan.


"Oh." sahutnya lalu tanpa lama Latya meraih ponsel Nisa untuk menjawab panggilan dari Rey.


"Hallo." ucap Latya lembut membuat Rey merasa merinding mendengar suara Latya yang begitu menenangkan hatinya.


"Latya kenapa kamu gak jawab telpon Abang sih!" ucap Rey sebal.


"Abang telepon aku?" tanyanya polos. "Aku sama bunda di bawah handphone aku taruh di kamar." jelasnya.


"Sekarang kamu ke kamar, aku mau telpon kamu!" titah nya membuat Latya heran.


"Kan sekarang Abang lagi telpon aku, kenapa mesti telpon lagi lewat handphone aku!" kesal nya semakin heran.


"Udah kamu ikuti apa yang aku perintahkan, aku suami kamu kan? Jangan melawan dosa!" ucapnya terdengar mengancam.


Latya mendengus kesal. "Iya aku ke kamar sekarang." ucapnya lesu.


"Ini Bun." Latya menyerahkannya handphone yang sudah terputus itu pada Nisa.


"Ada apa?" tanya Nisa.


"Tahu tuh bang Rey, suruh aku ke kamar, dia bilang mau telpon aku, lah kalau mau ngomong kan ya tadi aja sekalian!" jawab Latya sebal.

__ADS_1


Nisa tersenyum melihat menantunya itu kesal seperti itu, Nisa tahu mungkin Rey malu jika berbicara dengan Latya di dekat ibunya. "Dasar Rey... Rey."


"Aku ke kamar dulu ya." ijin Latya cepat.


Setelah di kamar Latya langsung meraih dan melihat handphone nya, dengan panggilan Rey tertera di sana.


" Video call!" gumam nya "Hallo." jawabnya cepat.


"Lama banget sih kamu." gerutu nya terdengar.


"Ih lama gimana biasa aja ah." balas Latya cuek. "Ada apa sih bang?" tanyanya.


"Iya Abang mau telpon kamu, memang nya tidak boleh?" ucapnya kesal.


"Iya boleh sih, ada apa? Mau ngomong apa?" tanyanya dengan mukanya yang jutek.


"Suami telpon tuh ngomong nya Yo yang manis gitu ndo jangan ketus-ketus!" goda Rey yang melihat istrinya itu terlihat sangat kesal.


"Udah keburu kezellll." sahut nya dengan muka cemberut.


Rey tersenyum melihat istrinya itu cemberut. "Abang mau kasih tahu kalau sekarang Abang pulang agak telat." ucapnya dengan menatap wajah cantik istrinya di ponselnya.


Latya heran tumben suaminya itu memberikan kabar padahal kemarin-kemarin jarang malah tidak pernah.


"Oh ya udah." balas nya datar.


Rey merasa kecewa karena jawaban Latya yang seperti itu. Padahal dirinya saat ini ntah kenapa merindukan nya tapi yang di rindukan tidak berbalas. Ingin nya Rey Latya itu merengek pada nya untuk segera pulang dan bermanja-manja padanya namun ternyata tidak!.


"Kamu gak tanya kenapa Abang telat pulang?" tanya nya berpura-pura santai.


"Ya pasti karena pekerjaan Abang ya kan?" tanyanya. "Eh kok itu seperti di rumah sakit? Abang lagi ngapain disana?" tanyanya bingung.


Rey tersenyum istrinya itu baru menyadarinya. "Iya Abang lagi nunggu orang sakit." jelasnya.


"Siapa yang sakit?" tanya Latya semakin bingung.


"Maura." jawab nya.


Deg.... jantung Latya seakan berhenti Rey suaminya sedang menunggu Maura di rumah sakit. Kenapa harus di tunggu oleh suaminya? Dan kenapa bisa suami nya itu sampai tahu jika Maura masuk rumah sakit.


"Kenapa Abang yang tunggu?" tanyanya ketus.


"Jaga dia untuk sementara, Tante Rahma pulang dulu sebentar." jelas Rey jujur.


Latya diam dia jadi malas berbicara dengan Rey karena Latya jujur jika dirinya selalu cemburu jika Rey dekat dengan Maura, apalagi sampai menunggu Maura di sana dan hanya berdua saja.


"Hei kenapa diam?" tanya Rey lembut menatap Latya diam saja.


Latya menggelengkan kepalanya pelan. Rey tersenyum. "Kamu cemburu?" tanya Rey tiba-tiba.


"Cemburu?" telak nya gugup karena Rey mengetahui apa yang di rasakan saat ini.


"Iya cemburu karena Abang tunggu Maura di sini?" goda Rey semakin senang melihat istrinya gugup.


"Ih Abang kepedean deh, siapa juga yang cemburu!" elaknya nya salah tingkah.


"Ya deh kamu gak cemburu. Hemm ya udah nanti Abang pulang agak malam ya, kamu tidur aja gak usah tunggu Abang, bobo sendiri dulu ya ntar malam Abang kelonin kalau sudah pulang." goda Rey semakin berani pada istrinya itu.


"Ih apaan sih!" sahut Latya malu.


Rey tergelak lalu mengakhiri panggilan telepon nya itu dengan hati nya yang berbunga karena rasa rindu nya sedikit terobati ketika melihat wajah istrinya.


Sedangkan di tempat Latya ia merasa kesal karena cemburu setelah tahu jika suaminya kini tengah menunggu Maura di rumah sakit, dan lebih kesal nya karena mereka hanya berdua.

__ADS_1


Latya membayangkan bagaimana Rey dan Maura berdua di dalam satu ruangan dan terbayang jika wajah Maura begitu bahagia di sana.


"Ah gak! Enggak! Latya kamu jangan cemburu, cemburu itu tanda tak mampu!" ucapnya menguatkan dirinya. "Eh salah tak mampu itu kalau kita syirik!" lanjutnya merasa bodoh. "Ahhhh." teriak nya dalam hati.


__ADS_2