Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
ketahuan Maura


__ADS_3

Kasus pun segera di tindak lanjuti. Dari informasi yang Rey dapatkan dari rekaman percakapan antara asisten pak Rangga itu memang benar jika dia memang ada hubungannya dengan kasus pembunuh ini.


Namun tidak hanya Semi asisten pak Rangga yang berperan tapi ada juga pelaku lainnya yaitu seorang perempuan terdengar suaranya nya di dalam rekaman itu.


"Bukti menunjukkan jika pelaku tidak hanya pak Semi, pak Semi hanya sebagai orang yang di peralat oleh perempuan itu, sepertinya perempuan dalam rekaman itu menjanjikan atau menawarkan sesuatu yang membuat pak Semi tergiur. Kita mesti di selidiki kembali karena mereka tidak menjelaskan secara detail, perjanjian apa yang membuat mereka sampai bersekongkol untuk melakukan pembunuhan pada pak Rangga." ujar Rey menjelaskan isi rekaman itu kepada keluarga Maura.


"Jadi kita masih harus mencari lagi?" tanya keluarga Maura mulai kesal.


"Ya kita harus tahu siapa perempuan yang ada di dalam rekaman itu." sambung Rey.


"Aku seperti kenal dengan suara perempuan yang ada di dalam rekaman itu." seru Maura merasa yakin.


"Kamu kenal Maura?" tanya Rey cepat.


"Ya... seperti kenal tapi aku tidak yakin!" ragu Maura berkata.


"Lalu suara siapa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rey dengan tatapan telisik.


"Itu seperti suara... mama Axel." ucapnya pelan dan sedikit ragu.


"Axel ibu kandung kamu?" tanya Rey dengan tatapan serius.


Maura mengangguk pelan ia takut jika itu memang ibu kandung nya yang sering di panggil Maura dengan sebutan mama Axel. Sejahat itukah mama nya sampai ia mencoba melakukan pembunuhan pada papanya yang paling ia sayangi, mantan suaminya sendiri.


"Apa kamu yakin Maura?" tanya Rey meyakinkan Maura.


Maura diam, ia mulai merasakan sakit mengingat jika memang mamanya itu benar-benar melakukan pembunuhan pada papanya, motif apa yang membuat mama nya itu sampai melakukan hal sekeji itu.


Maura mulai merasakan sesak dalam dadanya pandangan matanya menjadi buram dan brug Maura pingsan di hadapan Rey dan juga keluarganya.


Tubuh Maura di gendong langsung oleh Rey karena Rey, orang yang berada tidak jauh dari tubuh Maura yang tadi tiba-tiba pingsan.


Salah satu keluarga Rey memanggil dokter untuk menangani Maura yang tidak sadarkan diri itu. Setelah memanggil dokter dan Maura di periksa, dokter mengatakan jika Maura begitu sangat terpukul mengingat kejadian pada papa nya itu, membuat hati nya kembali syok, ia jadi tidak bisa menahan rasa sedihnya yang begitu dalam membuat hati dan pikirannya lelah, apalagi Maura yang memiliki riwayat tubuh yang tidak sehat membuat dia dengan mudah pingsan.


Rey yang masih berada disana pun merasa jadi tidak enak karena membuat Maura kembali menjadi sedih karena harus mengungkit kematian papanya itu. Ya jika saja bukan untuk penyelidikan nya Rey tidak akan mengungkitnya.


Maura tersadar sesaat dokter itu sudah memeriksa nya, wajah nya yang terlihat pucat kini ia tersenyum melihat Rey yang masih berada di rumah nya, Maura sangat bahagia dan juga merasa tenang jika Rey berada di dekatnya. Kalau saja bukan Rey yang menyelidiki kasus papa nya itu ia mungkin tidak mau mengungkit-ungkit kejadian pembunuhan pada papa nya itu. Tapi karena Rey memberikan dia semangat yang membuat dirinya selalu nyaman akan keberadaan Rey di sisinya.


'Tuhan apa aku boleh meminta padamu? Aku ingin meminta laki-laki yang ada di hadapanku ini menjadi milikku, apapun yang terjadi. Karena dia adalah penyemangat hidupku saat ini, dia yang membuat ku hidup terasa lebih berarti. Aku benar-benar mengagumi nya Tuhan... tolong satukan kami.' batinnya berdoa penuh harap.


"Bagaimana keadaan kamu Maura?" tanya Rey melihat Maura yang di hadapannya diam saja.


Maura tersenyum samar. "Aku baik, jauh lebih baik." ujar nya.


"Syukur lah, maaf Maura, karena aku sudah mengingatkan kamu pada kejadian papa kamu." ujar Rey merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Rey, aku juga yang menginginkan kasus ini segera selesai, aku ingin membuat papa tenang di alam sana." ucap Maura pelan namun tenang. "Terima kasih Rey, kamu sudah banyak membantu ku." ucapnya tulus.


"Jangan sungkan Maura." balas Rey santai.


Di balik pintu Rahma yang mendengar kan percakapan antara Rey dan Maura lalu melihat tatapan Maura terhadap Rey membuat Rahma semakin yakin jika keponakannya itu sedang merasakan jatuh hati pada Rey.


"Aku harus menjodohkan Maura dengan Rey, aku harus bilang pada Nisa dan meminta Nisa untuk menikahkan mereka berdua. Aku yakin Rey juga memiliki perasaan pada Maura, karena Maura selain cantik ia juga menarik." batin Rahma menyunggingkan senyuman manis nya.


"Ya aku harus bicara dengan Nisa, aku yakin Nisa pun akan setuju dengan ide ku ini." sambung nya dengan semangat.


***


"Bang Rey mana sih udah sore kok belum pulang juga!" gumam Latya sebal saat ini dia berada di taman belakang sendirian.


Latya kini sudah bisa berjalan namun masih dengan harus pelan-pelan karena terkadang masih merasakan nyeri saat tidak sengaja berjalan dengan cepat.


"Aku pengen cepat-cepat masuk magang deh, bosan rasanya di rumah terus." batin nya seraya menghela napas panjang.


"Hemm pasti lagi sama Maura karena alasan penyelidikan." gumam nya.


"Bang Rey kamu sadar gak sih kalau Maura itu memiliki perasaan sama kamu!" lirihnya pelan.


"Aku kok jadi khawatir gini ya dengan hubungan mereka, sekarang mereka lebih terlihat akrab dan dekat." Latya merasa resah.


"Enggak... Latya kamu jangan cemburu!" kilah nya menguatkan perasaannya.

__ADS_1


Latya terus saja membuang kasar napasnya itu. Ia harus memastikan bagaiman hubungan mereka kini. Perhatian Rey selama ini padanya memang bisa membuktikan jika dia memperdulikan nya namun Latya tidak pernah tahu apa Rey suaminya itu benar-benar menerima pernikahan ini sebagai pernikahan yang sesungguhnya atau bagaimana?


***


Esok harinya kedatangan Rahma dan juga Maura pagi ini ke rumah Nisa membuat Nisa kebingungan pasal nya Rahma begitu bersemangat untuk meminta secara langsung jika dia akan menjodohkan Rey dengan Maura.


"Nisa jadi bagaimana, kamu setuju kan dengan ideku?" tanya Rahma penuh semangat.


"Emh bagaimana ya." jawab Nisa merasa kelu. Rey kan sudah menikah dengan Latya walaupun pernikahan nya masih dirahasiakan tapi mereka sudah menikah sah secara agama.


'Aduh aku harus jawab apa ya ini?' batin Nisa bingung.


Sedangkan Latya yang mendengar pembicaraan mereka di belakang pintu meneteskan air matanya terkejut dengan permintaan dari Tante Rahma pada bunda Nisa.


"Maura benar-benar ingin memiliki bang Rey bahkan Tante Rahma begitu semangat mau menjodohkan mereka, aku harus bagaimana sekarang, sedangkan aku cuma istri sah secara agama saja, tidak kuat untuk bisa mempertahankan." batin Latya sendu. "Apalagi bang Rey tidak pernah mengutarakan isi hatinya sama aku, apa dia bahagia menikah dengan ku atau tidak? Apa dia cinta sama aku atau tidak?"


Rey yang baru saja pulang dari ia bekerja, tidak sengaja melihat istri kecilnya itu menangis di belakang pintu dekat dapur, kebetulan Rey melihat mobil Maura terparkir di depan rumah Rey langsung mematikan mesin motornya tidak di depan rumah melainkan di depan sebelum ia masuk ke dalam pagar rumah mereka agar Maura dan juga tante nya itu tidak melihatnya.


Rey masuk ke dalam rumah melewati pintu dapur, ia melihat Latya sedang menangis sendirian. Rey tidak tahu persis penyebab istrinya menangis itu karena apa.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Rey membuat Latya terkejut.


"Bang Rey kenapa bisa ada di sini tiba-tiba?" tanyanya gugup seraya menyeka air matanya yang jatuh dengan secara kasar.


"Kamu kenapa nangis?" ulang Rey bertanya dengan nada sedikit kesal karena Latya malah bertanya balik.


"Gak apa-apa, tadi kaki aku tiba-tiba sakit jadi aku nangis." elaknya cepat. Latya langsung meninggalkan Rey dengan menaiki tangga secara cepat membuat ia benar-benar ia merasa sakit pada kaki nya itu namun Latya menahan nya.


Rey menghela nafasnya seraya mengikuti Latya yang pergi ke kamar nya.


Latya yang telah sampai lebih dulu langsung naik ke atas kasur lalu menyelimutinya dengan selimut sampai kepalanya ia tutup hanya rambut nya terlihat sedikit, kekakuan Latya seperti anak perawan yang sedang galau karena cinta. Eh Latya kan masih perawan jadi pantas dia melakukan hal seperti itu.


Rey yang masuk ke dalam kamar melihat istrinya seperti itu menatapnya ke arah ranjang dan meyakini jika ada sesuatu yang terjadi padanya.


Rey mendekat ke arah dimana Latya membaringkan tubuhnya itu. Lalu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Latya. Namun saat akan di buka Latya menahannya dengan kuat membuat Rey juga membuka sama kuat nya, sehingga terjadi saling tarik menarik.


"Latya kamu kenapa pakai selimut seperti ini, kamu bisa mati karena kehabisan napas!" tanya Rey heran melihat istrinya itu.


"Gak apa-apa mati juga." sahut nya pelan namun terdengar suara nya yang bergetar.


"Kamu kenapa cerita sama Abang." ucap Rey pelan dengan posisi ia duduk di samping Latya, tarik menarik selimut tidak lagi Rey lakukan lagi.


"Gak apa-apa udah bang Rey pergi aja sana!" usirnya cepat.


"Kamu marah sama Abang? Abang salah apa sama kamu? Coba bicarakan sama Abang jangan di pendam seperti itu." ujar Rey lembut, menghadapi istri seperti Latya harus ekstra kelembutan karena Latya yang latar belakangnya masih manja, jika di berikan kekerasan Latya bisa menangis seharian.


"Ayok cerita sama Abang biar bang Rey tahu apa kesalahan Abang sama kamu." rayu Rey dengan lembut.


"Ayok buka selimut nya! Atau kamu mau buka yang lain?!" goda Rey pada Latya yang masih bertahan dengan aksi protesnya.


Rey berdiri dengan pelan dia diam menatap ke arah Latya yang masih menyelimuti dirinya.


Latya yang merasa jika Rey pergi tidak berusaha merayu nya kembali, ia pun membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu dengan pelan dan mengintip melihat apa Rey masih ada di sana apa sudah pergi, tapi saat di bukanya selimut itu Latya terkejut karena Rey berada di dekat wajah nya sedang tersenyum manis padanya.


"Ayok bangun, kita bicara dari hati ke hati!". ucap Rey setelah berhasil membuka selimut dari tubuh istrinya.


Latya mendengus dan merapihkan rambutnya yang berantakan. Dengan wajah yang di tekuk.


"Kenapa?" tanya Rey menatap wajah Latya dengan lembut seraya mengusap belakang rambutnya.


"Gak apa-apa." kilah nya dengan menundukkan wajahnya.


Rey menghela napas panjang. Ia menahan kesalnya karena istrinya itu tidak kunjung bercerita.


Rey menarik dagu Latya yang tertunduk itu dengan lembut, lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Latya. Latya diam Rey mencoba mencium bibir itu karena ia menginginkan nya dari tadi. Saat Rey sudah siap untuk mencium bibir Latya namun tangan kecil Latya menahan bibir Rey itu dengan cepat. Rey diam mengerutkan keningnya heran kenapa Latya menolaknya.


"Aku gak mau!" tolak nya.


"Kenapa?" tanya Rey sedikit kecewa.


"Ya aku gak mau!" ucapnya tanpa alasan.

__ADS_1


Rey diam menatap wajah Latya dan Latya merasa malu di tatap Rey seperti itu.


"Aku gak mau ciuman sama laki-laki yang gak cinta sama aku." ucap Latya gugup dan ragu.


Rey masih menatap Latya dengan tatapan yang sulit untuk Latya ketahui. "Kenapa kamu bicara seperti itu?" Rey malah bertanya membuat Latya terdiam ia bingung harus menjawab apa.


"Ya karena aku merasa." ucap Latya cepat.


"Merasa apa?" tanya Rey menatap Latya dengan tatapan matanya yang tajam.


Merasa bang Rey itu gak cinta sama aku." lirih nya dengan kembali menunduk.


Rey tersenyum dengan pengakuan Latya, jadi istrinya merajuk itu karena masalah perasaan. "Kenapa kamu bilang kalau Abang gak cinta sama kamu? Siapa yang bilang?" sangkasnya.


Latya menggeleng pelan. Ia tidak tahu. Latya hanya butuh kepastian dari Rey.


Rey menghirup napas nya panjang mencoba menuruti apa yang di inginkan istrinya itu. "Kamu butuh pengakuan dari Abang?" tanya Rey serius.


Latya mengangguk. "Aku perempuan, aku butuh kepastian." ucapnya.


Rey mengatur napas dan detak jantung nya yang saat ini merasa berdebar-debar, ia harus menembak cinta pada istrinya agar bisa meyakinkan Latya jika dia benar-benar mencintainya.


"Latya." panggil nya pelan.


"Iya."


"Denger ya Abang mau nembak kamu hari ini juga." ucap Rey mantap.


"Latya." ucapnya menghembuskan napasnya merasa gugup.


Latya menahan senyum melihat kegugupan Rey di depannya.


"Aku cinta sama kamu Latya. Sangat mencintai kamu." ucapnya kaku membuat Latya tersenyum di buatnya.


"Abang serius?" tanya Latya memastikan pada Rey.


"Iya Abang serius." ucapnya merasa lega.


"Udah ya gitu aja, aduh Abang deg-degan." lanjutnya. "Di terima gak ini!" tanyanya tidak sabar.


Latya mendengus kesal. "Ah Abang gak ada romantis-romantisnya!" Latya cemberut.


"Abang bukan laki-laki yang romantis yang bisa mengutarakan dengan kata-kata tapi Abang akan selalu belajar menjadi laki-laki yang terbaik untuk kamu." ucapnya serius. "Dan maaf bang Rey baru tahu jika seorang perempuan itu butuh kata l love you untuk menjalin sebuah hubungan, Abang kira cukup hanya dengan perbuatan Abang yang peduli sama kamu saja tapi ternyata Abang salah. Maaf ya."


Latya tersenyum ia merasa terenyuh dengan ucapan Rey. Iya memang laki-laki di hadapannya itu bukan lah laki-laki yang romantis. Jauh sekali dari kata romantis, bahkan cara mengutarakan isi hatinya saja begitu kaku.


"Di terima ya, kalau gak di terima Abang bunuh diri! Di pohon toge." ucapnya bercanda menggoda Latya.


"Yang ada toge nya yang mati ke injak sama Abang." ucap Latya sebal.


Rey tersenyum nakal. "Jadi boleh dong minta buah jeruk?" pintanya membuat Latya bingung.


"Jeruk? Siapa yang bawa buah jeruk?" heran Latya.


"Jeruk kan kaya vitamin c, c itu kan kepanjangan dari kata c i u m." ejah Rey.


"Ih apa aku belum menerima cinta abang ya!"


"Lho kenapa? Abang tadi udah nembak kamu!" ujarnya tidak terima dan terlihat kecewa merasa dipermainkan.


Cup. ciuman dari Latya mendarat di bibir Rey yang terlihat kecewa.


Rey yang mendapatkan serangan mendadak itu pun jadi terdiam, lalu tersenyum karena istrinya itu berani.


"Aku terima ya." ucap Latya malu-malu.


Lalu tanpa ragu lagi Rey langsung mencium Latya membalas serangan yang tadi di lakukan oleh Latya kepadanya, sampai benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Namun mereka dikejutkan dengan suara di depan pintu yang lupa Rey tutup saat tadi ia masuk ke dalam kamar.


"Rey, Latya?" teriak nya terkejut melihat Rey mencium dengan posisi tubuh nya di atas tubuh Latya.

__ADS_1


Rey dan Latya menoleh ke arah suara melihat Maura tengah berdiri di depan pintu kamar mereka dengan wajah yang terkejut seraya menutup mulutnya dengan tangan nya karena ia berteriak atas keterkejutan nya.


Rey dan Latya langsung saling menatap satu sama lain karena mereka tidak sadar jika pintu kamar mereka tidak ditutup. Aduh ketahuan!


__ADS_2