Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
bisa ketawa juga


__ADS_3

"Emh bang Rey sepertinya hujan udah mulai reda, kita mau pulang sekarang?" tanya Latya pada Rey yang terlihat diam saja.


"Iya." sahutnya pendek seraya berjalan menuju motor nya yang terkena air hujan tadi.


"Jangan naik dulu!" cegah nya. "Itu jok motor nya basah." ucapnya seraya membuka kembali sarung tangan yang ia pakai lalu mengelap jok yang akan di duduki Latya dengan tangan nya sendiri sampai benar-benar agak kering, karena saat itu tidak ada kanebo atau pun lap.


Latya tersenyum lembut melihat perlakuan Rey untuk nya, tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri tidak mendengar jika Rey dari tadi menyuruhnya untuk naik ke motor nya.


Rey melihat Latya dengan seksama di saat dia sudah menaiki motornya. Di raihnya dagu Latya dengan lembut dan di tatap nya wajah itu ketika wajah Latya ia tarik untuk menatapnya. "Kamu mau pulang atau tidak? Kalau kamu masih mau di sini abang tinggal sekarang!" ancamnya dengan menyalakan mesin motornya.


Wajah Latya bersemu merah karena perlakuan Rey itu, lalu ia buru-buru tersadar dari lamunannya dan mendengar ancaman Rey tadi. "Eh tunggu! Iya aku naik." ucapnya cepat seraya menaiki motor Rey yang sudah siap akan jalan.


Dengan cepat Rey pun melajukan kendaraannya, namun saat di tengah jalan menuju pulang, hujan kembali turun lagi dengan derasnya. Dengan cepat Rey pun melaju motor nya itu, jika untuk berhenti kembali rasanya malas karena semakin membuat nya dingin. Suing... suara motor yang begitu cepat dengan adanya air hujan yang membasahi tubuh Rey dan angin yang menusuk pada tulang nya membuat dia semakin mengencangkan laju kendaraannya agar cepat sampai ke rumah nya.


"Kita langsung pulang saja ya tidak perlu berhenti lagi, nanggung basah!" teriak Rey saat dia mengendarai motor nya dengan begitu cepat.


"I...iya." sahut Latya dengan suara menggigil padahal ia memakai jaket yang di berikan Rey namun karena hujan begitu lebat dan jaket tidak anti air.


Latya merasa kasihan juga melihat Rey yang basah kuyup, gara-gara dia yang tidak buru-buru pulang tadi dan karena ia juga jaket Rey ia pakai membuat Latya semakin dalam perasaan yang tidak enak pada Rey.


Melihat seragam polisi yang Rey pakai menjadi begitu basah membuat bentuk tubuh Rey pun mengeplak ketat di tubuhnya. Dengan memberanikan diri Latya memeluk Rey dari belakang motor agar Rey tidak begitu kedinginan saat tubuhnya kehujanan.


Dengan ragu Latya pun mengeratkan pelukannya itu pada tubuh Rey. Rey tidak menolak sama sekali karena lumayan hangat bagi dia yang sama sekali tidak memakai jaket atau pun jas hujan. Di balik helm full nya Rey tersenyum tipis, ntahlah senyuman apa itu yang pasti hanya Rey dan Tuhan yang tahu.


Beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan rumah kediaman nya. Latya pun melepaskan pelukannya itu pada Rey. Lalu ia pun dengan erat langsung turun dari motor Rey yang sudah terparkir di depan rumah.


"Maaf bang Rey aku duluan masuk!" ijin nya cepat. "Ini helm nya." ia serah kan helm itu tanpa menatap wajah Rey. Ia benar-benar malu pada Rey atas semua kejadian hari ini. Dengan cepat Latya masuk ke dalam rumah nya dengan tubuh nya yang masih basah kuyup.


Rey menarik bibirnya sebelah tersenyum melihat tingkah laku Latya. Lalu ia pun dengan cepat berlari mengejar Latya yang terburu-buru masuk kedalam rumah.


"Eh ya Allah kalian hujan-hujanan?" tanya Nisa saat ia melihat Rey dan Latya basah kuyup.


"Iya aunty tadi udah neduh pas udah selesai hujan eh di tengah perjalanan hujan lagi. Jadi basah kuyup begini deh." urai Latya. Sedangkan Rey ia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya agar tidak kedinginan.


"Ya sudah kamu mandi bersih-bersih ya, nanti kamu sakit lagi." titah Nisa pada Latya.

__ADS_1


***


Saat makan malam Nisa memanggil kedua anaknya dan juga Latya. Sedangkan Rey tidak keluar kamar. Lalu Nisa pun memanggil Rey seraya mengetuk pintu kamarnya.


"Rey ayok makan malam dulu, dari tadi sore kamu gak keluar kamar sih." ucap Nisa khawatir.


Rey membuka pintu kamarnya untuk menemui ibunya. "Emh Rey gak ikut makan malam dulu Bun, duluan saja." ucapnya dengan mata yang merah. "Hacimmm." Rey bersin-bersin menutup mulut dan hidung nya.


"Kamu sakit Rey?" tanya Nisa khawatir dan menempelkan tangannya di kening Rey. Kamu demam?" tanyanya.


"Iya, mungkin karena tadi kehujanan." jawab Rey.


"Emh ya udah kamu istirahat, nanti bunda buatkan kamu sup jahe ya sekalian bawa obat untuk kamu minum." ucap Nisa menyuruh Rey untuk istirahat.


"Iya Bun." sahut Rey pelan.


Setelah dari kamar Rey Nisa pun turun, menuruni tangga lalu menghampiri Latya dan juga Rio yang sudah berada di meja makan.


"Lho aunty, bang Rey nya mana kok gak turun?" tanya Latya hanya melihat Nisa saja.


"Kalian makan aja duluan. aunty mau bikin dulu sup jahe untuk Rey." sambung nya.


"Latya bantu aunty ya." tawar Latya.


"Gak usah sayang biar aunty aja dan kamu lanjutkan makan aja ya." cegah Nisa.


"Tapi aunty, bang Rey sakit gara-gara aku, karena tadi jaket bang Rey aku pakai. Gara-gara aku juga bang Reypan jadi hujan-hujanan." pikir Latya merasa tidak enak.


Nisa menghela nafasnya panjang. "Sayang jangan berpikir seperti itu ya, Rey sakit bukan karena kamu, mungkin kebetulan imun nya sedang tidak bagus jadi pas kehujanan langsung terkena flu." tutur Nisa meyakinkan Latya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Tapi aku merasa gak enak sama bang Rey aunty." ucap Latya lirih.


"Emh ya udah, nanti kamu bantu aunty bawakan sup ini sama obat nya ke kamar Rey ya." titah aunty Nisa lembut. "Suruh dia agar menghabiskan sup ini dan minum obatnya, pastikan kamu lihat bang Rey kamu itu menghabiskan nya, soal nya dia gak suka sup jahe karena pedas, tapi ini bagus sekali untuk kesehatan." seru Nisa.


"Ok siap aunty, aku akan paksa bang Rey kalau dia gak mau!" ucapnya mantap.

__ADS_1


"Hahaha iya paksa aja kalau Rey gak mau." timpal Nisa cekikikan.


Latya pun membawa sup dan juga obat itu untuk diberikan pada Rey ke kamar nya. Saat di kamar Rey Latya sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamarnya. Namun karena Rey sedang sakit dan Latya merasa karena dia yang membuat Rey sakit.


Tok tok tok... suara pintu diketuk oleh Latya. "Bang Rey ini aku Latya, aku bawa sup jahe dan juga obat untuk bang Rey, apa aku boleh masuk?" ijinnya lembut.


Lama tak ada jawaban lalu Latya pun kembali mengetuk pintu kamar Rey, dan Rey pun tidak lama membuka pintu kamarnya itu, berdiri di depan pintu nya. "Kenapa kamu yang bawa semua itu, kemana bunda?" tanyanya heran.


"Aunty Nisa lagi makan, jadi aku bantuin bawa ke sini." balas Latya cepat. Latya pun masuk ke dalam kamar Rey tanpa seijin Rey. Berniat untuk menyimpan sup dan obat itu di atas meja.


"Eh, kenapa kamu masuk kamar laki-laki sembarangan!" cegah Rey menghalangi langkah Latya.


"Maaf bang aku cuma mau taruh sup ini." serunya. "Dan aunty Nisa bilang aku harus pastikan kalau bang Rey ngabisin sup nya." sambung Latya.


Rey mendengus kesal. "Memang kamu pikir Abang ini anak kecil seperti Rio?" kesal nya.


"Aku tahu kalau bang Rey kan dari kecil gak suka makan yang pedas-pedas, makanya sup jahe ini harus dihabiskan karena ini bagus untuk orang yang sedang flu seperti bang Rey." ucap Latya mengingatkan.


Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Hacimmm." Rey bersin-bersin.


"Tadi Abang Rey bilang kalau bang Rey lebih kuat tapi buktinya aku yang lebih kuat!" goda Latya pada Rey.


Rey mengerutkan dahi nya. Ia ingat tadi saat meneduh dia bilang seperti itu tapi nyata nya malahan dia yang sakit.


Rey mendekati Latya, ia mencodongkan tubuhnya ke arah Latya dengan niat menggodanya. "Hacimmm hacimmm hacimmm." Rey sengaja berpura-pura bersin di depan Latya.


"Ih bang Rey tutup kenapa, jangan bersin di depan aku!" teriak Latya dengan menutup mulut Rey dengan tangan kirinya agar Rey tidak terus bersin di depannya sedangkan tangan kanannya menahan dada Rey yang terus menggodanya dengan mendekati Latya. "Jangan sebarin virus, gimana kalau nanti aku ikutan sakit, bang Rey mau obatin!" kesal nya.


Namun Rey tidak menghiraukan kekesalan Latya ia merasa senang menggodanya dan terus saja menggoda, sampai akhirnya dia tidak menyadari jika dia tertawa karena membuat Latya cemberut menggemaskan.


"Ih aku baru lihat bang Rey ketawa lepas begitu." ucap Latya tidak sadar membuat Rey yang sedang tertawa lepas pun berhenti seketika dan berdehem menghilangkan rasa malunya, ia kembali menjaga imagenya lagi di depan Latya.


"Mana sup nya dan obatnya?" tanyanya mengalihkan perhatian Latya.


"Tuh!" tunjuk Latya pada meja yang ada di kamar Rey. Dengan cepat ia pun meraih mangkok sup itu lalu meminumnya dan meminum obat yang tadi di bawakan oleh Latya.

__ADS_1


"Sudah habis kan! Obatnya juga sudah Abang minum, sekarang kamu keluar saja sana!" usir nya dengan mendorong belakang tubuh Latya keluar kamar. Dengan pasrah Latya pun keluar kamar Rey dengan mendengus pelan.


__ADS_2