Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
ciuman membuat luka


__ADS_3

"Ekhemm senang nya dapat perhatian dari gadis cantik dan juga ****." sindir Latya dengan suara pelan pada Rey setelah Maura pulang.


Rey diam tidak terpengaruh oleh sindiran istri kecilnya itu. Ia malah asyik saja memainkan handphone nya karena mendapatkan pesan yang sangat penting dari rekannya.


Latya mendengus kesal karena merasa tidak di anggap oleh suaminya itu. "Adududuh aw sakit." rintih Latya ketika ia akan bangun dari tempat tidurnya.


Rey yang mendengar Latya kesakitan langsung dengan cepat menghampiri Latya. "Ada apa? Kenapa? Mana yang sakit?" rentetan pertanyaan Rey lontarkan dengan nada Khawatir.


Latya tersenyum tipis hampir tidak terlihat. "Bokong aku panas tiduran mulu, aku mau duduk." ucap Latya mencoba untuk bangun.


"Emh pelan-pelan saja kalau mau duduk." omel Rey seraya membantu Latya untuk duduk.


Latya mendengus pelan. "Ini juga aku pelan-pelan, jangan ngomel!" sebal Latya.


"Abang takut aja kamu jatuh, gimana kalau jatuh." sahut Rey dengan nada pelan.


"Assalamualaikum." sapa Nisa dan juga Via tersenyum saat mereka masuk ke dalam ruangan Latya, dan melihat Rey yang sedang mendudukkan Latya agar tubuhnya bisa duduk.


"Aduh pengantin baru bisa-bisanya bermesraan disini." goda Nisa melihat keduanya yang salah tingkah di buat nya.


"Ah bunda... aku kangen..." ucap Latya manja.


"Bunda yang mana nih? Bunda Nisa atau bunda Via?" tanya Via pura-pura cemberut.


"Dua-duanya dong, bunda Via dan bunda Nisa." jawab Latya dengan senyum manis dan manja nya.


"Hadeh... Via yang begini bisa ngasih kita cucu? Kebayang kalau putri kamu punya anak, kita bakal bingung mana anaknya mana ibunya." goda Nisa melihat Latya yang begitu manja pada ibu dan juga mertuanya.


"Iya pasti mereka kayak kakak sama Ade." celetuk Via. "Gimana keadaan kamu sekarang apa masih ada yang di rasa?" tanya Via memastikan keadaan anaknya itu tidak ada efek yang serius dari kecelakaan yang menimpanya setelah ia sadar.


Latya menggelengkan kepalanya. "Gak ada, cuma kaki aja yang masih kaku untuk di gerakan." jawab Latya.


"Eh sebentar ya bunda jawab panggilan telepon dulu!" ucap Nisa seraya pergi keluar untuk mengangkat panggilan telepon nya.


"Kamu perlu apa sayang, mau makan, mau minum?" tanya Via namun Latya menggeleng.


"Bun aku cuma mau pipis." bisik Latya pada bundanya.


"Kamu mau pipis?" tanyanya dan Latya mengangguk. "Kenapa bisik-bisik segala, di sini tuh hanya ada kita dan suami kamu." heran Via.


Latya tersenyum kikuk. "Antar aku Bun!" pintanya merengek.


"Memang kamu bisa jalan sendiri? Bunda mana kuat gendong kamu." ujar Via merasa keberatan dan Latya menggeleng.


"Rey?" panggil Via dan Latya membulatkan matanya terkejut.

__ADS_1


"Iya Bun ada apa?" tanya Rey.


"Ini lho istri kamu mau ke kamar mandi, katanya mau pipis, bawa Latya ke kamar mandi ya, di gendong gitu soalnya kan Latya belum bisa jalan. Bunda gak akan kuat gendong Latya." jelas Via pada Rey.


Rey menatap ke arah Latya yang sedang tegang karena permintaan ibunya begitu. "Kamu kalau mau ke kamar mandi bilang sama Abang biar Abang antar kamu!" ucapnya santai.


"Emh gak usah bang aku mau di antar bunda aja." tolaknya lembut.


"Kamu jangan merepotkan bunda selama ada Abang di sini, Abang di sini untuk nemenin kamu supaya ada perlu apa-apa Abang bisa bantu." urai Rey memberi tahu keberadaannya disana.


"Iya kamu sama suami kamu ya, jangan malu dia kan suami kamu masa sama suami masih malu. Bunda mau keluar dulu nih. Bunda mau tanyakan jadwal kamu untuk terapi kaki kamu nanti." ijin Via untuk keluar.


"Tapi Bun." cegah Latya.


"Udah kamu sama Abang aja." ucap Rey tegas. Ia tahu jika istrinya itu keberatan jika Rey yang mengantar.


"Tuh denger, ya udah bunda keluar dulu ya, nanti bunda balik lagi ke sini." ucapnya.


Setelah kepergian Via keluar ruangan Latya melirik ke arah Rey yang sedang menatapnya dengan sebal. "Kalau kamu ada perlu apa-apa bilang langsung sama Abang, kan Abang ada di sini." omel nya dengan wajah yang serius membuat Latya sedikit takut.


"Tapi..." ucapnya ragu.


"Gak ada tapi-tapian!" ucap Rey tegas.


"Udah turunkan aku di sini aja." pintanya di saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi dan Latya duduk di atas kloset duduk.


"Ya udah Abang keluar ngapain masih di sini?" tanya Latya melihat tidak ada pergerakan Rey untuk pergi, malu rasanya jika Rey menunggu dan membantunya saat ia buang air.


"Memang kamu bisa sendiri?" tanyanya ragu.


"Bisa." jawab Latya cepat. "Udah Abang keluar aja aku udah gak kuat!" ucapnya. " Awas jangan ngintip!" ancamannya.


Rey menghela napas nya. "Ya Abang keluar, tapi pintu jangan di kunci ya. Takut ada apa-apa Abang bisa langsung masuk." titah nya.


"Hemmm." sahut Latya.


Tak lama Rey keluar. "Brug... Aduh!" rintih dan meringis Latya kesakitan.


Rey mendengar Latya mengaduh kesakitan pun langsung membuka pintu kamar mandi dengan cepat ia masuk ke dalam sana dan Rey terkejut melihat Latya sudah berada duduk lemas di bawah lantai dengan air yang membasahi tubuhnya, karena Latya tidak sengaja menyentuh air shower sehingga membuat air membasahi tubuhnya.


"Ya ampun Latya!" kejut Rey.


Rey dengan cepat menggendong kembali tubuh Latya itu lalu membawanya ke sofa dan membaringkan tubuh itu dengan pelan.


"Kenapa kamu gak minta bantuan Abang aja sih, tadi Abang udah ragu kalau kamu bisa sendiri, jangan malu minta bantuan Abang. Abang ini suami kamu, Abang udah lihat semuanya!" omel Rey menggerutu dan terdengar kesal. Namun tangan Rey dengan sigap membuka pakaian Latya yang ia pakai karena basah kuyup lalu setelah semua terbuka Rey langsung menyelimuti tubuh Latya itu dengan selimut.

__ADS_1


Latya diam saja saat Rey membuat dirinya telanjang bulat di hadapannya, menahan rasa malunya, ia berasa seperti anak kecil yang sudah di mandikan oleh ayahnya dan di omeli karena bermain air terlalu lama.


Lalu Rey membawa pakaian yang sudah disediakan oleh rumah sakit dan memakaikannya pada Latya. Setelah selesai rey langsung menggendong tubuh Latya ke tempat tidur dan membaringkannya dengan pelan dan lembut.


Rey menatap wajah Latya yang hanya diam saja tanpa ada perlawanan. "Lain kali jangan pernah malu dan jangan pernah ragu meminta bantuan sama Abang!" ucapnya serius.


Latya mengangguk pelan dan pasrah di tatap oleh Rey seperti itu. Rey langsung mendekat kearah tubuh Latya yang sedikit menggigil karena kedinginan Rey memberikan pelukan hangat pada istri kecilnya itu dengan dagu Rey di atas kepala Latya. "Ingat Abang akan selalu menjaga kamu." gumam nya pelan.


Cukup lama Rey memeluk tubuh Latya. Rey merenggangkan pelukannya lalu duduk di tepi ranjang dimana Latya berada. Menatap kembali wajah pucat istrinya, mendekat Rey terus mendekat ke wajah Latya lalu Rey mencium bibir Latya sedangkan Latya memejamkan kedua matanya dengan ekspresi takut nya namun Latya membiarkan Rey mencium bibir nya.


Rey tersenyum istrinya begitu kaku menerima ciuman dari nya, namun Rey terus menjalankan aksinya karena tidak ada penolakan dari Latya. Cukup lama mereka bermain, dengan cara Latya yang masih belum lihai.


Ceklek. Suara pintu terbuka.


"Wah maaf sepertinya bunda datang di saat waktu yang tidak tepat." terdengar suara Nisa berbicara di tengah pintu membuat Rey dan Latya melepaskan pengutan bibir mereka yang sedang berciuman itu, Latya langsung menyelusupkan wajah nya ke dada Rey menyembunyikan wajah merahnya karena ia malu ketahuan sedang melakukan adegan umur 18+.


"Sudah belum? Bunda mau masuk ini!" seru Nisa masih di tengah pintu terbuka namun membelakangi Rey dan juga Latya. Ia tak kuasa jika melihat kedua anaknya sedang. bermesraan.


Rey pun sedikit malu, namun di pikir-pikir untuk apa ia takut toh sekarang halal, lalu ia tersenyum melihat Latya yang menyelusupkan wajah pada dadanya. "Masuk aja Bun." ucapnya dengan Latya tapi masih menyelusup.


"Bunda masuk yaaaa." goda nya dengan sebuah senyuman tersungging di bibir ibunya itu, melihat kedua anaknya masih dalam posisi berpelukan.


"Hadeh... kamu ya Rey Latya baru saja sadar dan masih sakit, sudah kamu ajak bermesraan seperti itu dan ini masih di rumah sakit pula, bagaimana tadi kalau yang datang itu bukan bunda tapi orang lain?!" omel Nisa menepuk lengan Rey dengan gemas, bisa-bisanya kedua anaknya itu bermesraan di dalam ruangan pasien.


Rey malu ia mengusap leher belakangnya menyembunyikan rasa malu nya itu, dan Latya pelan-pelan menjauh dari dada Rey saat tadi ia menyelusup. Lalu tersenyum kikuk pada Nisa yang sedang mengomeli Rey suaminya.


"Kamu lagi mau-maunya aja di ajak Rey bermesraan, kamu kan masih sakit lihat tuh wajah kamu aja masih pucat begitu!" omel nya pada Latya.


"Aku gak bisa nolak Bun..." ucapnya pelan dengan senyum kaku.


"Hadeh... dasar kalian ya!" gumam Nisa. "Ya udah bikinin cucu nanti buat bunda lah, jadiin jangan seperti kemarin itu." ucapnya.


Rey dan Latya melototkan kedua matanya, bundanya tadi mengomel sekarang malah meminta cucu, di kira mudah apa membuat cucu.


"Ya mau jadi gimana, kemarin kan kita memang tidak melakukan hal itu, bundanya aja baperan!" sindir Rey mengingat kejadian dimana mereka membuat kesalahpahaman sehingga terjadi nya pernikahan secara dadakan ini.


"Memang kalian benar tidak melakukannya?" tanya Nisa meyakinkan kembali pada Rey dan Latya.


"Kalau kita memang melakukannya, saat ini Latya pasti sedang hamil anak Rey Bun! Tapi bunda gak percaya." sesal Rey karena ibunya tidak percaya pada dirinya saat itu.


"Tapi kan kalian sekarang sudah menikah, bunda mesti gimana dong?!" ucapnya merasa bersalah jika memang dirinya sempat tidak percaya akan hal itu.


"Mana Rey tahu!" jawab nya dengan mengangkat kedua bahunya cuek seraya pergi ke kamar mandi. Ia memang kecewa saat ibunya tidak mempercayai nya waktu itu padahal mana mungkin ia melakukan hal sebejad itu tapi Rey tidak pernah merasa kecewa akan pernikahan antara dirinya dan juga Latya.


Latya yang mendengar perkataan Rey tadi merasa sedikit sedih, Latya merasa jika Rey menyesali pernikahan yang terjadi diantara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2