
Bripda Desti keluar dari ruangan di temani oleh seorang suster dengan muka yang begitu pucat.
"Golongan darah nya cocok, dan kami akan segera memberikannya kepada pasien." urai suster memberitahu. Semua keluarga yang menunggu pun mengangguk.
Tidak lama Aris dan juga Via datang dengan langkah tergesa-gesa penuh kekhawatiran yang mereka rasakan saat ini.
"Nisa, bagaimana keadaan Latya sekarang?" tanya Via langsung saat mereka baru saja sampai.
"Latya masih di ruang operasi Via, Latya masih dalam keadaan kritis." jawab Nisa pelan.
"Ya Tuhan bagaimana kejadian ini bisa terjadi Nisa, aku sungguh sangat takut dengan keadaan putriku." Isak Via mulai pecah karena sudah tidak bisa di tahan lagi, di perjalanan tadi Via sudah menahan agar ia tidak menangis, dan sekarang setelah tahu keadaan Latya dia sudah tidak bisa untuk kuat.
"Kejadian begitu cepat, kejadian nya terjadi saat Latya pulang dari kantor tempat ia magang." jelas Nisa lirih. "Aku juga sangat terkejut mendengar kabar ini Via." sambung nya.
Via semakin terisak dalam tangisnya, sungguh kejadian ini membuat Via takut kehilangan Latya.
Aris menghampiri istrinya itu lalu mengusap punggung Via dengan lembut menenangkan hati istrinya itu.
"Sudah sayang, kita berdoa saja supaya Latya baik-baik saja." ucap Aris lembut masih dengan mengelus punggung Via.
"Aku sangat menyesal karena sudah mengijinkan putri kita untuk magang di Jakarta. Jika saja aku tidak membujuk mu menyetujui keinginan anak kita mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Aku sudah sangat menyesal!" ucap Via dengan suara tangisnya.
"Sudah jangan menyesali apa yang sudah terjadi." balas Aris terus menenangkan istrinya.
"Latya putri kita satu-satunya bang, bagaimana jika dia..." ucap Via tak sanggup untuk melanjutkannya ucapan nya. "Aku tidak mau kehilangan Latya bang... aku tidak mau..." lirih Via terisak.
"Sudah sayang jangan berpikir yang macam-macam tentang anak kita, aku yakin Latya akan baik-baik saja. Kita berdoa ya semoga Tuhan melindungi anak kita." ucap Aris meyakinkan Via agar dia kuat.
Nisa yang mendengar perkataan Via seperti itu pun menjadi merasa tidak enak karena Via dan Aris sudah menitipkan Latya kepada Nisa dan juga Adam. "Via... Aris aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga Latya dengan baik. Ini salah ku, salah ku Via karena aku!" ucap Nisa dengan nada bergetar.
Via hanya diam saja, dia tidak menimpali ucapan Nisa, karena dia memang sedikit kecewa pada Nisa dan juga Adam, namun Via tidak mengucapkan itu kepada mereka.
Rey menghampiri Nisa yang menangis sesenggukan karena ini, membuat Rey sebagai pelaku yang membuat Latya kecelakaan karena kasusnya itu merasa harus angkat bicara. "Bunda jangan menyalahkan semua ini pada diri bunda, di sini lah Rey yang salah karena membuat Latya mengalami kecelakaan.
Via mendengar apa yang di ucapkan Rey menantu nya seperti itu membuat Via menghentikan tangisnya dan menoleh pada Rey. "Maksud kamu apa Rey? Kecelakaan ini karena kamu?" tanya Via menatap tajam ke arah Rey.
Rey menatap Via mertuanya itu dengan tatapan sendu. "Maaf bunda, aku minta maaf Latya mengalami kecelakaan ini karena ada hubungannya dengan pelaku kasus yang sedang aku selidiki. Aku sungguh minta maaf karena melibatkan Latya dalam pekerjaan ku." lirih Rey dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Jadi semua ini adalah salah kamu Rey? Kamu yang melibatkan Latya kedalam masalah kamu begitu?" ucap Via sedikit emosi.
"Maaf bunda Via, aku benar-benar minta maaf." lirih Rey begitu bersalah.
__ADS_1
Via mendongakkan wajahnya ke atas mencoba menenangkan hatinya yang sungguh sangat ia tidak menduga karena kejadian ini ada hubungannya dengan pekerjaan Rey.
Via benar-benar merasa kesal marah dan juga kecewa karena Rey yang sudah membuat anaknya seperti ini. Kekecewaan Via semakin bertambah, dulu saat Via mendapatkan kabar jika Latya dan Rey melakukan hubungan di luar batas ia merasa kecewa karena Nisa sebagai orang yang Via percaya bisa sampai kecolongan seperti itu dan sekarang Latya celaka pun gara-gara Rey. 'Lagi-lagi gara-gara Rey!' batin Via penuh kekecewaan.
Di saat di ruangan luar dimana semua sedang menunggu Latya di ruang operasi sedang panas dan saling merasa bersalah, seorang dokter yang menangani Latya pun keluar dari ruang operasi itu.
Keluarga Latya yang menunggu disana dan melihat dokter keluar itu pun langsung menghampiri dokter itu apalagi Via, dia langsung menanyakan bagaimana keadaan Latya disana.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" tanya Via tidak sabar.
Dokter itu pun menghela nafasnya berat namun dengan wajah yang cukup tenang. "Operasi pasien alhamdulilah berjalan dengan lancar, tapi pasien masih belum sadarkan diri karena efek dari obat bius yang kami berikan mungkin normal nya besok pasien akan segera sadar, namun tidak menutup kemungkinan jika pasien akan lama untuk sadar, melihat bagaimana tubuh seorang pasien itu kuat atau lemahnya. Tapi kita banyak berdoa saja semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi." urai dokter itu menjelaskan.
Via mendengar perkataan dokter seperti itu membuat hatinya merasa tidak tenang akan keadaan Latya saat ini. Perkataan dokter tadi tidak membuat dirinya tenang karena dokter itu menjelaskan Latya masih dalam keadaan tidak sadar, itu artinya Latya masih dalam kritis.
Kemungkinan bukan hanya obat bius membuat Latya tidak sadar namun akibat kecelakaannya itu.
Via menangis di pelukan suaminya. "Latya bang... anak kita." lirih nya.
Aris diam, dia terus saja mengelus punggung Via yang sedang memeluknya dengan lembut, Aris tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia pun sama terpukulnya seperti yang Via rasakan.
Rey mendesah frustasi mendengar kabar istri kecilnya itu, membuat Rey semakin merasa bersalah. Namun Rey masih bisa menampakkan dirinya agar selalu tenang, walaupun hatinya begitu sakit takut akan kehilangan Latya, yang sekarang sudah mulai mengisi hatinya yang tidak pernah terisi oleh perempuan lain yang membuat dirinya selalu bahagia dekat dengannya.
Di sisi lain Desti yang belum pulang menyaksikan bagaimana Rey dan keluarganya yang mengkhawatirkan Latya seperti itu membuat dirinya merasa heran. Ntahlah apa yang membuat dirinya begitu heran.
Melihat Rey yang sangat terpukul sekali pada Latya, membuat Desti merasa cemburu, dia ingin di perlakukan yang sama seperti itu oleh Rey laki-laki yang selalu membuat dirinya bergetar, laki-laki yang selalu membuat dirinya tidak bisa berpaling pada laki-laki lain. Namun sayangnya Rey yang selalu ia puja dalam hatinya tidak pernah memberikan perlakuan yang manis padanya malah semakin ia mendekat semakin Rey terasa menjauhinya.
Saat Rey dalam kekalutan nya sebuah panggilan telepon dari Andre menyadarkan dirinya yang sedang dalam mood yang tidak baik. Rey mengangkat panggilan itu dengan cepat karena pasti ada kabar dari sahabat nya itu.
"Hallo Dre apa ada kabar?" tanya Rey cepat.
"Iya Rey gue sama si Arkan udah dapat informasi mengenai nomor yang elu kasih ke si Arkan, si Arkan berhasil meretas akun dari nomor itu, elu bisa kesini gak? Gue tunggu sekarang!" ucap Andre menjelaskan dan mengajak Rey untuk bertemu dengannya di kantor.
"Ok gue kesana sekarang!" jawab Rey cepat. "Eh tunggu! Gimana dengan cctv apa kalian sudah menemukan gambar kejadian kecelakaan tadi?" tanya Rey penasaran.
"Elu sekarang kesini aja lah kita bahas semuanya di kantor, lebih cepat lebih baik Rey!" ucap Andre membenarkan.
"Ok gue kesana!" balas Rey.
'Akhirnya aku bisa menemukan pelaku itu.' batin Rey geram. 'Tunggu saja aku akan membuatmu mendapatkan pelajaran!' sambung nya.
Setelah mendapatkan ijin dari kedua orang tua nya Rey langsung pergi, ya walaupun ijin dari bunda Via yang terlihat mendelik tidak suka karena Rey pergi di saat Latya yang masih belum sadarkan diri. Karena yang Via mau jika menantu nya itu tetap menunggu Latya disana.
__ADS_1
Rey menarik nafasnya dalam-dalam saat berjalan di lorong rumah sakit, bersamaan dengan Desti yang mengikutinya dari belakang. Tidak ada pembicaraan di antara Rey dan juga Desti semuanya terasa canggung. Sebelum Rey pergi menemui kedua teman nya Rey mengantarkan dahulu Desti, walau bagaimana pun dia harus bertanggungjawab atas Bripda Desti.
Setelah selesai mengantarkan Desti ke rumahnya Rey pun tanpa kata-kata apapun hanya kata terima kasih lah pada Desti yang ia dengar, Rey langsung pergi menuju ke kantor meninggalkan Desti. "Sungguh menyakitkan Rey sikap kamu itu." gumam Desti menatap kepergian Rey yang begitu saja. "Tapi tidak apa-apa aku masih padamu." senyum tipis tersungging di bibir Desti.
***
Rey sampai di kantor lalu langsung menemui kedua temannya Andre dan juga Arkan.
"Gimana-gimana udah dapat informasi lagi?" tanya Rey mengagetkan mereka berdua yang sedang serius menatap ke arah komputer sebuah cctv.
"Ih elu datang gak pake salam bikin kaget!" gerutu Andre kesal.
"Sorry." sahut Rey pendek. "Gimana?"
Arkan pun menarik nafas panjang sebelum ia bercerita kepada Rey.
"Begini Rey gue udah meretas nomor yang elu kasih tadi ke gue, gue udah dapet sebuah akun email yang gue dapet dari nomor itu. Semua data dari akun itu menunjukkan bahwa pemilik akun tersebut adalah seorang laki-laki dan posisi pelaku saat ini masih di daerah Jakarta." jelas Arkan panjang lebar. Rey mengangguk dengan wajah serius nya.
Rey mengerutkan keningnya ia jadi mengingat saat si pelaku menelponnya terdengar suara perempuan. "Arkan tadi pas gue dengar, suara pelaku yang telepon gue itu suara perempuan, dan elu barusan bilang akun itu data nya berisi data seorang laki-laki, bagaimana bisa?" Rey heran dengan pelaku ini.
Arkan pun berpikir keras. "Mungkin pelaku itu menggunakan data palsu agar dia tidak bisa terlacak oleh kita. Atau jangan-jangan pelaku nya memang laki-laki tapi terdengar suara perempuan di dalam telepon." urai Arkan menjelaskan keanehan dari data tersebut.
"Lalu bagaimana dengan cctv apa terlihat jelas mobil pelaku nya?" Rey mengalihkan pembicaraan pada bukti yang satunya lagi.
Arkan pun memperbesar gambar cctv saat di depan kantor tadi. Mereka melihat mobil dan disana juga terekam kejadian dimana kecelakaan Latya terjadi. Rey memejamkan kedua matanya tak sanggup melihat kejadian tadi ia jadi mengingat Latya yang sedang berada di rumah sakit masih dalam kondisi belum baik.
Rey mendesah frustasi ia merasa semakin merasa bersalah pada Latya karena dirinya lah membuat Latya kini berada di rumah sakit. Apalagi tadi mengingat bagaimana bunda Via yang terlihat sangat kecewa dan marah padanya.
"Semua kejadian kecelakaan tadi memang terekam Rey, tapi... sayangnya mobil merah yang menabrak Latya tidak memiliki plat nomor di mobilnya, mereka memang sengaja sudah merencanakan hal itu. Sepertinya pelaku bukan orang biasa Rey. Dia sepertinya memang memiliki kekuasaan dan dia sudah merasa terganggu dengan aktivitas yang elu lakukan mengenai dia. Merasa terancam orang akan melakukan hal apa saja walaupun dengan cara di luar logika." terang Andre menjelaskan pada Rey tentang pelaku itu.
"Elu bener mereka memang merencanakan hal ini, agar gue mundur!" gumam Rey menatap dengan tatapan tajamnya.
"Lalu sekarang elu mau ngelakuin apa setelah elu dapat data pelaku itu?" tanya Andre penuh selidik.
Rey tidak menjawab pertanyaan dari Andre ia langsung menekan nomor yang si pelaku. Namun nomor itu sekarang tidak aktif.
"Ah sial nomornya tidak aktif!" umpat Rey kesal.
"Mungkin si pelaku menggunakan nomor sekali pakai. Karena pasti mereka sadar jika kita tidak akan tinggal diam begitu saja. Mereka dengan cepat menonaktifkan nomor itu." jelas Arkan menduga-duga dan di angguki oleh Andre.
Rey terdiam berpikir bagaimana sekarang, bukti pembunuhan terhadap pak Rangga sudah ia temukan dan sudah Rey kumpulkan sebagai bukti nantinya namun masalahnya cctv di kantor pak Rangga tiba-tiba tidak menampilkan gambar di sana, kegiatan pelaku tidak terekam di sana terlihat sekali bahwa pelaku memang pintar dalam menjalankan aksi pembunuhan nya.
__ADS_1