Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
perjuangan seorang istri


__ADS_3

Rey terus menggendong tubuh Latya dengan jalan sedikit berlari, Latya terus bergelayut pada leher Rey.


"Ah bang basah, sepertinya ketuban aku sudah pecah." ucap Latya merasakan basah merembes di bagian **** * nya.


"Ah sakit." ucapnya sedikit tertahan karena ia mencoba menggigit bibir bawahnya menahan kesakitan.


Rey semakin panik saja, apalagi Latya mengatakan jika ketuban nya sudah pecah dan merembes. Namun Rey mencoba untuk tetap tenang dan terus melangkahkan kaki yang lebar dan cepat.


"Kamu tenang sayang, sebentar lagi kita sampai jalanan depan, di sana tidak macet seperti di sini." ucap Rey menenangkan.


Semua orang yang sedang menunggu di jalanan yang macet dan menunggu jalanan lancar kembali lalu melihat Rey berseragam polisi tengah menggendong perempuan yang tengah hamil.


"Kenapa pak mau melahirkan ya?" tanya orang-orang di sana.


"Kasih saya jalan!" ucap Rey tegas dengan suara nya penuh ke khawatiran tanpa mau menjawab beberapa pertanyaan mereka.


"Kasih saya jalan!" itu saja ucapan Rey di tengah ia sedang menggendong Latya.


Mereka tidak tahu jika perempuan yang di gendong Rey adalah istrinya, mereka tahu jika Rey sedang menolong ibu hamil yang akan melahirkan karena tugas nya sebagai polisi.


Sesampainya di depan jalanan yang tidak banyak kendaraan, Rey langsung memasukan Latya ke dalam mobil patroli yang tengah terparkir dengan hati-hati.


"Kamu tahan sayang ya." ucap Rey lembut.


"Briptu Haikal tolong antar saya ke rumah sakit." pinta nya pada rekan nya itu, dan di iyakan oleh nya karena melihat perempuan hamil tengah meringis.


"Dia Latya kan, anak yang pernah magang di kantor kepolisian?" tanyanya memastikan jika perempuan yang ia lihat benar. Tidak banyak yang tahu tentang Rey menikah dengan siapa, karena Rey belum mengadakan resepsi dan belum di publikasikan, hanya beberapa atasan Rey yang tahu.


"Iya, ayok cepat tidak usah banyak bertanya!" seru Rey sedikit kesal.


"Ok siap." jawab nya cepat menyadari jika Rey sedang panik dan Latya yang tengah kesakitan.


"Rumah sakit mana ini?" tanya rekan nya di tengah perjalanan mereka.


"Ke rumah sakit xyx saja." jawab Rey cepat.


"Kamu harus kuat ya sayang, tenang... tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan-lahan." ucap Rey seraya mencontohkan pada Latya agar dia tidak terus meringis.


"Sayang?" tanya Haikal langsung karena dia memanggil Latya dengan kata sayang.


"Latya istri kamu Briptu Rey?" tanyanya lagi.


"Iya, ayok kebut, istri ku sudah sangat kesakitan." kesal Rey penuh ke khawatiran.


"Ok." rekan nya menaikkan kecepatan laju mobilnya. "Oh saya baru tahu jika istri kamu Latya, saya hanya tahu kalau kamu sudah menikah saja, itu pun dari rekan kita yang lain." ucapnya.


Rey tidak menjawab atau membalas ucapan rekannya itu, yang kini rasakan kepanikan dan kecemasan nya pada istrinya itu, apalagi mendengar jeritan, rintihan dan ringisan istrinya yang sungguh sangat tidak tega.


Rey jadi mengingat saat dirinya menemani Nisa ibunya saat melahirkan adiknya yaitu Rio, dulu dia masih menginjak bangku sekolah, dan saat ia pulang melihat ibunya yang kesakitan ketika akan melahirkan, Untung saja waktu itu Rey sudah pulang sekolah sedangkan di rumah pada waktu itu tidak ada siapa-siapa, karena Adam ayahnya sedang bertugas.


Ia jadi mengingat kejadian itu, dan saat ini ia merasakan kembali bagaimana rasanya perempuan yang ia cintai kesakitan karena akan melahirkan, dan kini Latya yang akan melahirkan anaknya buah cintanya.


Mata Rey berkaca-kaca, dan terus memberikan perhatian nya pada Latya di tengah perjalanan mereka menuju rumah sakit.


"Oh huh huh huh, sakit bang... aw..." Latya terus merintih.


"Kamu kuat sayang, sebentar lagi kita sampai." ucap Rey menenangkan Latya.


"Nak sabar ya..." ucapnya Rey seraya mengelus perut Latya.


"Ah sakiiiit!" jerit nya.


Beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai di depan rumah sakit terdekat, rumah sakit yang lumayan bagus di kota nya.


Rey membuka pintu mobil dan mengeluarkan Latya yang ada di dalamnya dengan hati-hati, lalu dengan cepat ia menggendong nya membawanya ke dalam dan terus memanggil suster dan petugas medis di sana.


"Cepat istriku akan segera melahirkan, ketubannya sudah pecah." jelas Rey dengan cepat agar istrinya segera di tangani.


"Baik pak akan segera kami tangani." jawab salah satu petugas di sana dan dengan segera mereka membawa Latya ke dalam dan Rey pun ikut untuk menemani istrinya itu.


"Anda bisa menunggu di luar saja ya pak, kami dan dokter akan segera bertindak." ucap suster ketika Rey akan masuk ke dalam ruangan mengikuti para medis.


Rey menghentikan langkahnya tepat di depan pintu IGD yang tertutup itu. Ia pun mengintip ke dalam ruangan melalui pintu yang ada kaca nya. Di sana para medis terlihat sedang menangani Latya istrinya.


"Semoga semuanya baik-baik saja." gumam Rey penuh harap dengan wajah yang begitu khawatir.

__ADS_1


Karena istrinya itu sering sekali masuk ke rumah sakit, rasanya ke cemasan dirinya pada Latya, mengingatkan pada kejadian istrinya masuk ke ruangan operasi karena kecelakaan yang di akibatkan kasus yang ia tangani dulu, dan kedua ia pun mengingatkan dirinya ketika istrinya tertembak karena menolong dirinya, dan sekarang istrinya kembali masuk ke rumah sakit karena melahirkan bayi buah hati mereka dan itu karena dirinya juga.


"Maaf sayang, karena aku kamu harus masuk kembali ke rumah sakit dan merasakan kesakitan kembali, ah aku semakin cemas saja." lirihnya dengan mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh karena tidak tertahankan.


"Tenang Briptu Rey, semuanya akan baik-baik saja, kita berdoa saja semoga di lancarkan semua nya." ucap Haikal rekan kerja Rey yang mengantarkan mereka ke rumah sakit, ia mencoba menenangkan Rey, Haikal seakan tahu bagaimana cemas dan khawatir nya Rey akan istrinya itu.


Tanpa berucap Rey hanya mengangguk pelan atas jawaban dia pada ucapan rekannya itu. Dan Haikal pun tersenyum tipis menguatkan Rey seraya menepuk pelan pada punggung belakang Rey.


Rey mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya yang menangkup wajah nya itu, ia pun menarik nafasnya dalam-dalam agar ia bisa tenang.


"Latya kamu harus kuat sayang." batin Rey.


Ketika menunggu Latya yang tengah di bawa ke ruangan IGD, sebuah panggilan membuat Rey terkejut, di lihatnya ternyata panggilan dari nomor sang ayah. Rey pun mengangkat panggilan itu dengan cepat.


"Assalamualaikum ayah." sapa Rey.


"Wa'alaikumussalam, Kalian sudah di rumah sakit Rey?" terdengar suara Nisa di sebrang sana.


"Iya aku sudah di rumah sakit, Latya sedang di tangani." jawab Rey cepat.


"Kamu bawa ke rumah sakit mana?" tanya Nisa.


"Rumah sakit xyx, Bun." jawabnya lemah.


"Ya sudah bunda sama ayah ke sana sekarang! Assalamualaikum." balas nya.


"Ya aku tunggu. Wa'alaikumussalam." Tut panggilan pun terputus.


Di dalam ruangan IGD Latya yang sudah kehilangan cairan ketubannya pun terlihat sangat pucat.


"Ibu Latya, anda sudah banyak mengeluarkan cairan ketuban, Jangan terlalu banyak bergerak ya, tolong ibu menyamping ke kiri ya." titah dokter kandungan dengan lembut Latya pun mengikuti apa yang di sarankan oleh dokter itu.


"Kami akan menginfus anda dulu." ucap salah satu suster seraya menyuntikkan jarum infus pada tangan Latya.


"Coba anda telentang ya dan buka lebar-lebar kedua kaki nya." titah dokter itu.


Dokter itu pun merenggangkan kedua paha Latya dengan tangan nya, tangan dokter itu sudah memakai sarung tangan karet nya dengan perlahan memasukan jarinya nya pada lubang lahirnya sang bayi nanti.


"Tahan ya Bu." ucap dokter yang Latya ketahui bernama dokter Gina itu.


"Tahan ya Bu." ucap dokter itu. "Wah pembukaan nya sudah pembukaan enam. Sepertinya ibu sudah merasakan kontraksi sudah lama ya, anak pertama biasanya akan sedikit lama saat kontraksi." jelas dokter itu yang ia tahu jika pasien baru melahirkan anak pertamanya.


"Ayok sus siapkan semua alat-alat nya sepertinya bayi ibu Latya akan segera lahir ke dunia ini." ucap dokter itu membuat hati Latya tidak tadi cemas tersenyum bahagia.


"Aw huh huh huh." ringis Latya merasakan kontraksi kembali.


"Yang kuat ya Bu, rasa sakit anda akan terbayarkan ketika nanti anda sudah melihat bayi yang anda lahirkan." ucap dokter itu menenangkan.


Latya tersenyum dengan penuh semangat ketika dokter Gina berkata seperti itu, ia sudah tidak sabar melihat bayi nya.


"Wah pembukaan nya semakin bertambah, ibu Latya ikuti arahan saya ya, ketika saya bilang tarik nafas, anda harus menarik nafas dalam-dalam dan ketika saya bilang mengejan anda harus mengejan ya." titah dokter Gina lembut. "Pokoknya dengarkan ucapan saya." sambung nya.


Latya mengangguk, namun saat sebelum ia melahirkan anaknya ia meminta dokter agar suaminya masuk untuk menemani nya melahirkan.


"Sus bilang pada suami pasien jika Bu Latya ingin di temani oleh suaminya." titah dokter pada suster.


"Baik dok." ucapnya seraya keluar ruangan untuk memanggil suami pasien.


Di luar ruangan tunggu, Nisa dan Adam yang sudah berada di depan rumah sakit pun dengan cepat masuk ke dalamnya dan mencari Rey anaknya. Rey mengirim pesan jika dirinya tengah berada di IGD ruang persalinan.


"Rey, bagaimana Latya?" tanya Nisa sesaat mereka menemui Rey yang tengah menunggu Latya.


"Belum Bun, masih di tangani." jawab nya lemas.


"Hormat komandan!" Haikal memberi hormat pada Adam pimpinan nya. Adam hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu menemani Rey?" tanya Adam melihat anak buahnya bersama Rey.


"Siap, ya komandan." jawabnya.


Adam mengangguk. "Bagus!" ucapnya pendek.


"Siap! Terima kasih komandan." ucap Haikal dengan tangan nya memberi hormat lalu ia pun mundur memberikan ruang untuk komandan dan istrinya untuk duduk di kursi tempat menunggu.


"Tenang Rey semua akan baik-baik saja." ucap Nisa lembut, ia melihat Rey yang begitu sangat cemas, takut dan juga khawatir.

__ADS_1


Rey mengangguk. Ketika mereka sedang mendoakan Latya agar persalinan nya lancar, suster yang menangani Latya pun keluar.


"Dengan suami ibu Latya." panggil nya.


Mendengar panggilan atas nama suami Latya Rey langsung berdiri dan menghampiri suster itu.


"Ya saya sus, ada apa ya? Istriku baik-baik saja kan?" tanyanya tidak sabar.


suster itu tersenyum. 'Istri anda baik-baik saja pak, saya mau memberi tahukan jika pasien meminta bapak sebagai suaminya untuk menemani pasien saat melahirkan, karena sebentar lagi bayi anda akan dilahirkan." jelas suster itu.


"Ah baik." seru Rey senang dan penuh semangat.


"Ayok pak silahkan masuk." ucap suster itu sopan.


Rey pun mengangguk pelan, namun sebelum masuk Rey menatap ke arah kedua orang tuanya untuk meminta ijin mereka dengan tatapan nya. Nisa dan Adam pun mengangguk mengijinkan.


Setelah mendapatkan ijin dari kedua orang tua nya Rey pun masuk ke dalam ruangan persalinan dimana Latya akan melahirkan.


Rey masuk mengikuti suster itu, di dalam ruangan persalinan disana Rey melihat Latya yang tengah menatapnya dengan senyuman lemahnya. Rey dengan cepat menghampiri istrinya itu dan membelai pucuk kepalanya dengan kasih sayang nya.


"Sayang, aku yakin kamu kuat." bisik Rey di telinga nya. Latya hanya tersenyum tipis sebagai jawaban atas ucapan Rey yang memang membuat hati Latya bahagia.


"Pak anda temani istri anda saat melahirkan ya, karena pasien meminta kami untuk anda menemani istrinya anda." ucap dokter itu.


"Baik dok." jawab Rey cepat.


"Ah dokter sepertinya bayi ku akan keluar, Ahhhh sakit..." teriak Latya meringis.


"Ibu Latya anda siap ya, memang sepertinya bayi anda sudah tidak sabar untuk melihat dunia ini." ucap dokter melihat pembukaan tempat lahir bayi Latya sudah semakin terlihat rambut sang bayi.


"Ikuti arahan saya ya Bu..." ucapnya.


"Ah sakit..." teriaknya. Rey memegang erat tangan istrinya itu.


"Tarik nafas Bu, dan mengejan Bu, ayok semangat Bu Latya, lihat bayi anda akan segera lahir." dokter menyemangati Latya agar terus mengejan untuk mengeluarkan sang bayi.


Latya pun terus mengejan dengan sepenuh jiwa dan raga, ia sudah tidak sabar untuk melihat bayi nya lahir ke dunia ini.


Dengan keringat yang begitu membasahi seluruh tubuhnya Latya terus berusaha.


"Ayok Bu terus...bayi anda sudah terlihat." ucap dokter terus menyemangati Latya yang sedang berjuang untuk mengeluarkan bayinya itu.


Dan tak lama, suara tangisan bayi pun menggema di ruangan persalinan. "Oe...oe...oeeee."


Latya mendengar tangisan bayinya itu, ia pun mengeluarkan air matanya karena merasa sangat bahagia sudah menjadi perempuan yang sempurna.


Rey pun mengusap air mata istrinya itu dengan jari tangan nya.


"Selamat ya ibu Latya dan pak Rey, bayi kalian perempuan, dia sehat, sempurna dan juga cantik." ucap dokter memberi tahukan bayi nya.


"Anak kita perempuan sayang, cantik seperti kamu, terima kasih sayang sudah melahirkan anak ku dengan penuh perjuangan." lirih Rey berbisik di telinga Latya.


"Sama-sama bang Rey aku juga bahagia karena melahirkan anakmu." jawab nya lembut dan lemah.


"Sayang..." lirih Rey merasa terharu.


"Ini pak Rey bayi anda, anda bisa mengadzani dan mengikomah kan bayi anda, sebelum kami membedong nya." jelas dokter Gina.


Rey pun menggendong bayi berwarna merah itu, dengan sedikit gemetar saat ia menggendong nya karena ini kali pertamanya Rey menggendong seorang bayi apalagi bayi yang baru saja dilahirkan.


Bayi itu pun menangis saat sebelum Rey gendong, tapi setelah Rey mencoba menggendongnya, bayi itu pun sedikit terdiam dalam tangisan nya lalu Rey pun dengan cepat mengadzani bayinya itu, dan itu membuat bayi yang ada dalam dekapannya berhenti menangis begitu saja seraya dengan kedua mata yang merem melek seakan ia tengah merasakan, betapa menenangkan nya suara ayahnya yang sedang mengadzani nya itu.


Rey meneteskan air matanya saat mengadzani bayinya itu, ia sungguh bahagia, terharu dengan hadir nya seorang bayi di tengah keluarga kecil mereka.


Latya pun melihat bagaimana Rey yang sedang menggendong bayinya, ia sungguh sangat beruntung memiliki dua orang yang ada di hadapannya itu. Latya pun mengeluarkan air mata nya kembali melihat adegan penuh haru itu.


Setelah selesai Rey, bayi itu dokter berikan kepada Latya untuk pemberian asi pertama nya pada bayi mungil itu.


Di telungkup bayi mungil itu pada dada Latya, Latya tersenyum melihat bayinya itu sedang mencari pu...ting nya, terlihat lucu dan menggemaskan apalagi saat melihat mulut bayi kecil itu.


Rasa sakit melahirkan pun kini seakan tidak terasa jika melihat bayi mungil yang kini akan menemani hari-hari nya.


"Selamat datang sayang, semoga kamu selalu sehat dan menjadi putri kami yang membanggakan." gumam Latya seraya terus melihat ke arah bayi nya yang kini sedang mencoba pu...ting ibunya.


"Terima kasih sayang." bisik Rey seraya mengusap rambut Latya dengan penuh kasih sayang dengan senyuman bahagia nya.

__ADS_1


__ADS_2