
Rey diam tanpa mau mendengarkan penjelasan Andre padanya, Rey saat ini sedang kesal karena Latya dengan santainya memegang tangan laki-laki lain di depannya, dan ia terus saja memperhatikan Latya yang sedang mengobati tangan Andre dengan serius. Yang saat ini ia butuhkan adalah penjelasan dari Latya.
"Sudah selesai." ucap Latya melihat perban yang sudah melingkar di tangan Andre. Latya senyum-senyum melihat hasil karyanya membungkus tangan Andre dengan perban nya itu, tangan Andre terlihat lucu karena tangan kanannya terbungkus semua oleh perban.
Rey yang melihat Latya senyum-senyum seperti itu membuat nya semakin kesal, ia merasa jika Latya senang memegang tangan Andre.
"Eh sudah selesai ini. Makasih ya." balas Andre tersenyum namun seraya membalik-balikan tangan yang di perban itu. "Lucu sih tapi Abang bakalan gak bisa makan." sambung nya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe pakai tangan kiri aja untuk sementara. Maaf ya bang aku gak sengaja tadi, aku benar-benar minta maaf." ucapnya merasa bersalah.
"Gak apa-apa santuy aja. Malahan Abang senang jadi di rawatin sama kamu." goda nya sengaja membuat Rey semakin marah, ia kesal dengan sahabat nya itu saat tangan kanannya yang sakit Rey tepis begitu kasar hanya karena tangan nya di obati oleh Latya.
"Hehe yang rawat nya amatir bang." balas Latya polos.
Rey mendengus kesal. "Sudah selesai main dokter-dokteran nya?!" ucapnya ketus. Rey beranjak lalu berdiri menggeser kursi yang ia duduki lalu meraih tangan Latya dan menarik nya membuat Latya yang sedang duduk pun langsung refleks ikut berdiri.
Rey menarik tangan Latya membawanya untuk menjauh dari Andre sahabat nya itu, ia merasa tidak rela jika Latya lebih manis pada Andre ketimbang pada dirinya sebagai suami. Tanpa memperdulikan tatapan banyak orang yang berada di kantin.
"Lepas ah!" teriak Latya seraya menarik tangan nya yang Rey genggam.
"Gak!" balas nya ketus.
"Malu bang!" rengek Latya karena semua pengunjung kantin melihat ke arah dimana Rey dan Latya berada.
"Biarkan saja!" ucap nya tak mau kalah.
Semua orang yang berada di kantin melihat adegan Rey dan Latya yang seperti Ade dan kakak, karena memang mereka tahu jika Rey dan Latya sepupuan, tidak terkecuali Desti dan rekannya yang sama menyaksikan mereka berdua.
"Kenapa sih Rey tarik-tarik begitu sama sepupunya, lihat tuh mukanya aja galak begitu! Kenapa sih?" rekan Desti heran sekaligus penasaran apa yang membuat Rey terlihat marah.
"Mana gue tahu, coba elu tanyanya sama Briptu Andre pasti dia tahu." Desti cuek. karena Desti tidak mau ikut campur karena Latya Ade sepupunya kalau Rey terlihat dengan perempuan lain baru Desti akan bertindak.
"Ih memang elu gak gak mau tahu?" tanyanya dan Desti menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di tempat Rey dan Latya mereka masih saja kesal-kesalan.
"Lepas!" ucap Latya kesal.
Rey membawa Latya ke tempat dimana jarang orang lewati, letak nya di belakang taman kantin.
"Kenapa sih bang, kamu marah-marah?" tanya Latya aneh.
Rey membuang napasnya kasar. "Kamu masih tanya kenapa Abang marah?" tanya nya balik dengan nada kesal.
"Ya memang aku gak tahu Abang marah kenapa? Perasaan aku gak melakukan hal-hal yang aneh deh. Harusnya tuh aku yang marah sama Abang kenapa tarik-tarik aku tadi di depan orang, terus tadi Abang kasar banget sama bang Andre. Aku kan jadi gak enak sama bang Andre. Tangan bang Andre sakit gara-gara aku terus tadi Abang tepis begitu aja. Ih aku sebal sama Abang!" rutuknya kesal melihat sikap Rey yang berlebihan seraya pergi meninggalkan Rey dengan cepat karena pegangan tangan Rey padanya sudah terlepas, ia malu jika ada orang yang melihatnya sedang bertengkar. Apa kata mereka?
"Hei kamu mau kemana?" teriaknya karena Latya mencoba kabur. "Kamu ya yang bikin Abang kesel, sekarang malah kamu yang ngomel!" Rey menggerutu kesal karena tertahan ia sadar jika sekarang dirinya sedang ada di kantor. "Main pergi gitu aja lagi. Awas ya!" ancamnya.
"Latya... Latya." panggil Rey pelan mengikuti langkah Latya kemampuan ia pergi.
"Latya....hei tunggu Abang!" Rey berlari mengikuti Latya yang berlari.
Latya menghentikan langkahnya lalu berputar menghadap kearah Rey yang sedang melangkahkan kakinya menghampiri dirinya yang berlari.
"Stop bang Rey!" cegah nya berteriak saat Rey sudah mendekat.
"Kenapa, kita belum selesai bicara!" ucap Rey.
"Stop Abang ikuti aku! Nanti di rumah kita bicarakan lagi." ucapnya kesal. "Aku mau ke toilet bang, memang Abang mau ikut hah!" tantang nya.
"Ayok!" balas nya santai menantang tantangan Latya.
"Eh tunggu! Abang sana aja, ini kan toilet perempuan." ucap Latya sebal karena dia tidak menyangka suaminya itu akan berani dengan tantangan nya.
"Tadi kamu ajak Abang untuk ikut, ya ayok Abang anterin kamu sampai masuk ke dalam toilet sekalian Abang tunggu kamu selesai buang airnya!" serunya dengan senyum menantang.
"Aaaah udah sana hus hus hus pergi, jangan ikut aku ke toilet aku udah gak kuat." usirnya dengan mendorong tubuh rey agar dia pergi dan jangan sampai ia masuk ke dalam toilet untuk mengikutinya. Ya walaupun Latya yakin suaminya itu tidak akan melakukan hal seperti itu.
"Iya... iya Abang pergi." pasrah Rey seraya pergi karena di sana juga sudah banyak yang kan masuk ke toilet.
__ADS_1
***
"Bang Andre." panggil nya saat ia melihat Andre selesai berjalan menuju ke parkiran. Latya pun sudah selesai jam magang nya dan ia pun akan menuju parkiran yang sama dengan Andre untuk menemui Rey yang sudah berada di parkiran.
Andre menoleh ketika Latya memanggilnya. "Eh Latya ada apa?" tanyanya.
"Abang mau pulang? Bisa Abang bawa motornya? Tangan Abang lagi sakit begitu." tanya nya khawatir.
Andre tersenyum. "Emh bisa, tidak usah khawatir." ucapnya seraya mengusap kepala Latya dengan lembut.
"Maaf ya bang, aku jadi gak enak." lirih nya.
"Tidak apa-apa, Abang kuat." canda nya.
"Ya sudah ayok pulang, Rey pasti sudah menunggu kamu di parkiran." ujar Andre.
Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran dan Rey pun melihatnya, melihat Latya dan sahabatnya itu seperti sedang bercanda dengan tawa mereka menuju parkiran.
Rey mendengus kesal melihat nya dan memukul setir mobilnya dengan keras. "Latya..." geramnya.
Rey keluar dari mobil dengan wajah ketusnya. "Latya." panggil nya dengan suara tegas.
"Iya sabar bang Rey..." lembut nya menyahut karena mendengar panggilan suaminya itu terdengar sangat serius.
"Ayok pulang!" ucapnya lagi.
"Aku pulang dulu ya bang Andre." pamit Latya pada Andre.
Andre mengangguk. "Iya hati-hati." balas nya.
Latya menghampiri Rey dengan cepat sebelum suaminya itu marah, ya walaupun Latya tidak tahu bagaimana Rey marah.
Latya langsung masuk ke dalam mobilnya karena Rey pun sudah masuk ke dalam mobil.
Saat Latya masuk ke dalam mobil ia sudah di suguhkan dengan tatapan tajam dari mata elang Rey yang menatapnya.
Latya menghela nafasnya pelan bersiap untuk menerima keketusan suaminya.
Rey masih menatapnya dengan tajam karena bukan itu yang membuat ia begitu marah tapi melihat Latya sedang bercanda gurau dengan Andre di saat ia menunggu nya.
Tut tut Tut... Suara Latya di buat-buat seraya jari lentik Latya menusuk-nusukan pada pipi Rey yang sedang menatapnya tanpa ekspresi ramah padanya.
"Jangan marah dong bang nanti cepat tua lho, uban pada muncul, masa iya kita belum punya anak tapi Abang udah tua karena marah-marah terus." goda Latya sebisa mungkin dan selembut mungkin.
"Abang mau nanti anak kita panggil Abang dengan sebutan opah. Opa saranghaeyo." lanjut Latya dengan senyum menggoda Rey dengan jari ia buat seperti love.
Rey mulai terpengaruh dengan kata-kata manis Latya pada nya. Dia mulai menampakkan wajah yang terlihat santai tidak begitu keras membuat Latya tersenyum tipis.
"Jangan marah ya nanti aku kasih hadiah." tawar nya. " Mau hadiah apa?" tanyanya serius.
Rey tersenyum penuh arti mendengar penawaran istrinya itu. "Apapun?" tanyanya serius tertarik.
"Ya apapun." balas Latya.
"Ok deal." ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Latya.
Latya menerima uluran tangan dari Rey. "Ok deal." balas nya polos.
Rey menyunggingkan senyuman yang licik. Lalu dia pun mengusap pucuk rambut Latya dengan lembut. "Aku akan tagih hadiah kamu nanti." ucapnya dan Latya mengangguk mengiyakan saja agar Rey tidak terus marah padanya.
Rey pun menjalani mobil nya dengan suasana hati yang mulai senang karena sesuatu yang di janjikan oleh istri kecilnya itu.
Namun tak lama hatinya damai Latya yang melihat Andre yang sedang kesusahan saat ia akan mengendarai motor nya karena tangan kanannya yang masih terbungkus oleh perban buatan Latya.
"Bang berhenti!" teriak Latya kencang membuat Rey terkejut dan langsung mengerem rem mobil nya secara tiba-tiba.
"Ada apa sih?" tanyanya kesal.
"Itu lihat!' tunjuknya pada Andre yang kesulitan untuk membawa motor nya. "Kasihan bang Andre, pasti tangan nya sakit, aku jadi makin gak enak sama bang Andre." lirih Latya merasa sangat bersalah. "Abang gak tawarin bang Andre masuk mobil Abang anterin pulang gitu, kasihan lho nanti bang Andre gak bisa pulang." sambung nya lagi.
__ADS_1
Rey malas mendengar permintaan Latya itu. "Dia itu pasti minta bantuan pada yang lain jadi kamu gak usah khawatir." balas Rey acuh.
"Ih kenapa sih Abang gitu sama sahabat sendiri. Abang jahat!" kesal Latya dengan wajah yang cemberut seraya menatap ke arah luar mobil malas melihat suaminya itu.
Rey menghirup nafas nya panjang. Rey membiarkan Latya yang sedang kesal padanya. Ia lelah hari ini bertengkar dengan Latya terus.
Tak lama mereka sampai di rumah, Latya turun dengan cepat meninggalkan Rey dengan menghentakkan kakinya dengan kesal.
Rey menggelengkan kepalanya, istrinya itu benar-benar seperti anak kecil bagaimana bisa dia memberikan seorang bayi. Padahal tadi dia bahas anak tapi melihatnya seperti itu Rey harus berpikir ulang untuk menunda memiliki seorang bayi dari istrinya itu.
Dengan cepat Rey pun mengikuti Latya yang terus saja mengegrutu dan Rey pun mengangkat tubuh mungil istrinya itu seperti membawa karung berisi beras.
"Abang... turunkan aku!" teriak Latya terus meronta meminta untuk di turunkan.
Latya memukul-mukul punggung Rey agar bisa terlepas dari Rey, Rey bisa melepaskan nya. Namun salah, Rey bergeming tidak melepaskan Latya di punggungnya ia terus saja membawa Latya di punggungnya itu masuk ke dalam rumah, dengan tangan kiri ia gunakan untuk menggendong Latya sedangkan tangan kanannya ia membuka pintu yang terkunci.
Latya terus meronta ingin di lepaskan, tapi Rey menguatkan tangan nya agar Latya tidak jatuh karena Latya tidak bisa diam.
"Diam bisa gak? Kamu mau jatuh!" ancam Rey serius.
"Turunin aku bang." Rengek Latya.
"Gak akan Abang turunin, kamu hari ini udah bikin Abang kesal!" balas nya.
"Bunda... bunda Nisa... tolong aku Bun." teriak Latya memanggil Nisa.
"Bunda gak akan tolongin kamu." jelas Rey.
"Bunda... bang Rey jahat!" ucapnya terus saja meminta tolong pada Nisa, padahal Rey tahu jika Nisa dan adiknya serta ayahnya sedang tidak ada di rumah, mereka sudah memberikan kabar pada Rey saat Rey menunggu Latya tadi di parkiran, kemungkinan bunda, ayah dan adiknya akan kembali esok hari.
Rey mendudukkan Latya di atas meja yang berbentuk seperti bartender dan tubuhnya menahan Latya yang akan turun dengan paksa.
"Diam!" ucapnya tegas seraya menatap nya pada wajah Latya.
Latya melengoskan pandangannya itu, hati nya berdebar-debar saat suaminya menatapnya seperti itu.
"Kamu tahu kenapa hari ini Abang kesal sama kamu?" tanyanya dengan tatapan yang serius.
Latya kembali menatap Rey lalu menggelengkan kepalanya akan pertanyaan suaminya itu.
"Abang cemburu Latya." ucap Rey pelan setengah berbisik membuat tubuh Latya meremang seketika karena hembusan nafasnya terasa pada wajah Latya.
"Abang cemburu." bisik nya lagi dengan nafas beratnya.
Rey menatap wajah cantik istrinya yang begitu dekat itu, di rapihkan poni rambut Latya yang sedikit berantakan lalu menghela nafas nya dalam-dalam. "Kamu istriku, harus ada batasan jika kamu berinteraksi dengan laki-laki lain, ada aturan dan larangan yang akan Abang berikan untuk kamu bersentuhan dengan lawan jenis, kamu mengerti?!" tanyanya penuh penekanan.
"I...iya." sahut nya cepat.
"Jadi jika kamu istri ku, aku siapa kamu?" tanyanya.
"Su... suamiku." jawabnya gagap.
"Jika aku adalah suami mu, kamu adalah seorang...?" tanya lagi.
"I... istri." jawabnya gagap kembali.
"Itu artinya kamu harus nurut sama aku dan dengarkan apa yang Abang ucapkan. Kamu mengerti?" tanya nya.
"Me... mengerti." jawabnya.
Rey tersenyum, memandang istrinya yang terlihat gugup. Lalu tanpa banyak waktu yang di buang Rey langsung mencium bibir Latya dengan lembut. Latya memejamkan kedua matanya ia menikmati Rey yang sedang mencium nya dengan penuh perasaan membuat mereka berdua terhanyut dalam gelora cinta.
Lama, Latya mendorong dada Rey untuk menjauh, ia tersadar mereka melakukan hal seperti itu di tempat yang bisa saja tiba-tiba orang rumah datang dan melihat adegan mereka.
"Bang Rey." panggil nya pelan dan menatap pada kedua matanya yang sudah terlihat sayu karena menahan sesuatu yang membuat nya bisa gila.
"Apa sayang." balas nya dengan suara lembut.
Wajah Latya memerah karena mendengar panggilan sayang padanya karena Rey jarang sekali memanggil nya dengan kata sayang itu. Latya melihat ke arah kiri dan kanan pandangan nya mengelilingi setiap ruangan yang ada di sana terasa sepi. "Bunda mana? Kenapa di sini sepi sekali? Bagaimana kalau bunda atau ayah atau Rio lihat kita di sini melakukan hal tadi, aku malu." cicit Latya manja.
__ADS_1
Rey tersenyum gemas. "Mereka tidak ada, ayah, bunda dan juga Rio pergi ke rumah saudara Abang yang sedang sakit, paling besok atau lusa mereka sudah kembali." ujar Rey menjelaskan dengan tangan nya yang tidak bisa diam itu, Rey sedang mencoba membuka setiap kancing kemeja yang Latya pakai.
"Abang!" teriak Latya terkejut saat ia sadar melihat kemeja nya sudah setengah terbuka dan menampakkan tank top yang ia pakai karena ulah perbuatan Rey padanya yang mulai berani.