Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
terbakar api


__ADS_3

Setelah selesai mandi tengah malam, tapi tidak mandi kembang tentunya. Rey langsung menyiapkan dirinya untuk tidur di samping Latya. Namun sebelum ia memejamkan kedua matanya Rey memandang ke arah wajah Latya yang terlelap dalam mimpinya.


Rey tersenyum melihat Latya sedang tersenyum dengan masih memejamkan matanya, mungkin dia sedang bermimpi yang indah dalam mimpinya.


Saat Rey menatap ke arahnya tiba-tiba Latya memiringkan tubuhnya menghadap Rey yang sedang memandang nya. Rey terkejut karena ketahuan sedang menatap istri kecil nya itu namun dia lega karena Latya hanya berbalik arah tubuh nya saja tanpa membuka matanya.


Rey menghirup nafas nya panjang. "Huff untungnya dia masih tidur." batin Rey merasa lega.


Rey menguap karena ia sudah merasa sangat lelah dengan kegiatannya hari ini. "Huaaa." Rey menutup mulutnya yang sedang menguap namun nguap nya itu tertahan saat tiba-tiba Latya dengan cepat memeluk tubuh Rey yang sedang menghadap ke arah nya. Latya memeluk tubuh Rey dengan erat, Rey mencoba melepaskan pelukan itu karena ini akan membuat dirinya tersiksa.


"Haduh Latya..." gumam Rey frustasi. Ia jadi mengingat kejadian tadi saat tidak sengaja wajah nya membenam di dada istri nya itu, untung saja istrinya itu tidak sadar dan tidak bangun.


"Emh... ayah biarkan aku meluk, aku kan kangen sama ayah." ucapnya manja seraya terus menyelusup kepalanya ke dada Rey membuat Rey, bingung.


"Dia anggap aku ayahnya, huh dasar manja!" gumam Rey terkekeh melihat Latya dengan tingkah nya yang seperti itu.


Namun tidak mau nantinya bermasalah karena Latya salah paham, Rey mencoba melepaskan pelukannya itu dengan pelan dan sangat pelan karena takut membangunkan Latya.


Setelah pelukan itu terlepas Rey membalikkan tubuh nya membelakangi Latya. Tapi lagi-lagi Latya memeluk kembali tubuh Rey dari belakang dengan begitu nyaman nya.


Rey menghela nafasnya panjang. Lalu melihat ke arah Latya dengan menengok kepalanya pada arah Latya. Rey mendesah kasar. "Ya ampun Latya, kamu kenapa begini?" Rey membatin dalam hatinya.


Rey pasrah saja saat Latya memeluk nya dari belakang, bukan tidak mau melepaskan namun selain merasa menang dan takut esok hari Latya akan marah namun, Rey pun mengakui jika tubuh nya menikmati pelukan hangat dari Latya. Toh tidak dosa bagi mereka karena mereka pasangan yang halal, akan tetapi status hubungan mereka yang masih canggung membuat pasangan suami istri itu begitu kaku dalam sebuah hubungan yang dalam kategori sebuah yang intim.


Sampai esok hari, pagi-pagi sekali Rey bangun dan Latya pun sama-sama terbangun namun Latya tidak menyadari jika semalam sudah terjadi sesuatu antara dirinya dan juga Rey.


Namun Rey memiliki bukti jika Latya duluan yang sudah berani memeluk dirinya saat mereka tidur, diam-diam Rey memotret dengan kamera handphone nya saat Latya memeluknya, hanya sebagai kenang-kenangan saja.


"Lho kok aku tidur di sini sih?" tanyanya dengan ekspresi bingung.


"Mana Abang tahu." jawab Rey cuek seraya melewati Latya yang masih bingung untuk bergegas ke kamar mandi.


"Abang kok gak bangunin aku, suruh aku pindah kamar gitu!" sambung nya sebal dengan suara sedikit keras karena Rey sudah berada di kamar mandi.


"Kamu tidur udah kayak orang pingsan susah banget buat di bangun kan!" ejek Rey menggoda Nisa dengan teriak di dalam kamar mandi.


Latya mendengus kesal. "Kenapa juga aku bisa ketiduran di sini, seingat aku malam kan baca buku di sofa." Latya mencoba mengingat-ingat ketika malam tadi.


"Iya aku duduk di sofa. Terus kenapa aku bisa tidur di kasur? Atau jangan-jangan aku jalan sambil mimpi terus tidur di kasur tanpa aku sadari!" gumamnya masih teka teki.


Latya mulai mewaspadai ia pun melihat pada pakaian nya masih seperti yang ia pakai semalam dan tidak terbuka sama sekali. "Ah syukurlah pakaian ku masih utuh, berarti semalam tidak terjadi sesuatu." yakin nya dalam hati.


Latya beranjak dari kasur ia menghampiri meja rias yang sudah di sediakan oleh mertuanya sesaat sesudah menikah. Ia memandangi dirinya di depan cermin. ''Kaca ajaib siapa kah perempuan tercantik di dunia ini?'' tanya Latya merasa konyol mengisi kebosanan saat ia menunggu Rey selesai mandi.

__ADS_1


"Pasti kamulah Latya, Latya yang paling cantik walaupun kamu belum mandi." sahut Rey menjawab kekonyolan Latya pagi ini.


"Ih bang Rey main nyahut aja!" kesal Latya.


"Kamu pagi-pagi sudah berhalusinasi. Mending kamu bantuin Abang bawain handuk di lemari, tadi Abang lupa." pintanya tanpa ekspresi memohon dan hanya terlihat kepalanya saja yang terlihat di pintu yang sedikit ia buka.


"Lho ambil saja sendiri, atau kalau gak pakai aja baju yang tadi Abang pakai kalau Abang mau keluar." ucap Latya menolak dengan malas.


"Abang udah mandi Latya, kalau pakai baju tadi badan Abang kotor lagi." sahut nya.


"Iya itu urusan Abang kenapa bisa lupa bawa handuk!" ejek Latya merasa menang.


"Ok kalau kamu gak mau bawakan handuk untuk Abang, lihat saja Abang akan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang telanjang bulat!" ancamnya tidak main-main.


Latya panik mendengar ancaman Rey yang terdengar serius. "Eh tunggu!" cegah nya cepat. "Iya, ok aku akan ambilkan handuk Abang. Tunggu sebentar jangan keluar dulu!" tahan Latya dengan serius.


Latya pun dengan cepat bergegas mencari handuk di lemari yang Rey maksud. "Heh bisa-bisanya bang Rey mau keluar dengan telanjang bulat, mata indah ku akan kotor kalau melihat seperti itu!" gerutu Latya kesal seraya mengambil handuk yang sudah ia temukan.


"Ini!" Latya memberikan handuk yang ia pegang pada arah Rey yang masih di kamar mandi dengan jarak yang masih jauh.


"Itu kejauhan Latya, coba kamu mendekat!" titah Rey.


Latya melangkah lebih dekat. "Ini!" beri nya handuk itu pada Rey dengan menutup wajahnya dengan tangannya agar ia tidak melihat suaminya itu tidak memakai baju.


"Latya itu masih jauh Abang gak sampai!" ucapnya sedikit kesal.


"Aaaaa bang Rey..." teriak Latya seraya membalikkan tubuhnya membelakangi Rey yang terlihat bugil tanpa sehelai benang.


Rey hanya tersenyum, di tutup nya pintu kamar mandi itu dengan cepat lalu ia pun masuk kedalam kamar mandi.


Latya langsung pergi sambil menggerutu. "Ah tidak... tidak!" Latya menggelengkan kepalanya merasa terkejut dengan apa yang ia lihat barusan.


Rey keluar dari kamar mandi itu dan melihat Latya yang langsung berganti masuk ke dalam kamar mandi nya. Latya merasa sangat malu sekali sedangkan Rey masih saja tersenyum tipis menghiasi bibirnya.


***


"Oh ya Rey, Latya bunda sekarang mau pergi untuk melayat papa nya Maura apa kalian mau ikut juga?" tanya Nisa mengajak Rey dan juga Latya.


"Melayat papa Maura?" tanya Latya kaget.


"Iya papa nya Maura kemarin meninggal, Rey apa kamu belum cerita pada Latya?" tanya Nisa menatap Rey.


"Belum Bun semalam keburu tidur." jelasnya.

__ADS_1


"Oh Jadi kemarin Maura pingsan itu karena papanya meninggal Bun?" tanya Latya merasa kasihan juga tadi nya dia pikir karena ingin di perhatikan oleh Rey.


"Iya kasihan Maura, dia pasti sekarang sedih banget." lirih Nisa.


"Jangan berlebihan Bun, ingat ya kalian jangan lama-lama di sana." ucap Adam tegas membuat Latya dan juga Rey menjadi bingung kenapa Adam seperti itu.


Adam sudah tahu kabar Rangga meninggal dari Nisa sang istri yang tadi malam menceritakan padanya. Iya Adam merasa terkejut akan kabar ini, namun lebih terkejut nya lagi saat Nisa menceritakan Maura anak dari Rangga dan Nisa pun menceritakan bagaimana kecemburuan Latya pada Rey saat Rey dekat dengan Maura. Adam takut jika penilaian Nisa, jika Maura menyukai Rey itu benar, ia khawatir Maura akan menggangu hubungan pernikahan antara Rey dan juga Latya. Mengingat nya pada dulu ia bersama Nisa dan Rangga sempat mengganggu hubungan mereka.


"Iya ayah, kita cuma sebentar." jawab Nisa cepat ia tahu ketidaksukaan Adam terhadap Rangga.


***


Tak lama mereka pun sampai di kediaman Maura. Rumah yang begitu mewah menandakan jika Maura adalah anak dari seorang yang kaya. Nisa menghampiri Rahma dan juga Maura yang sedang menangis ketika peti mati berisikan jenazah Rangga itu datang, karena sebelumnya jenazah itu sudah menjalankan autopsi untuk penyelidikan pihak kepolisian.


"Maura yang sabar ya nak, kamu harus kuat mengikhlaskan kepergian papa kamu." tutur Nisa lembut seraya mengusap punggung Maura yang bergetar karena menangis.


"Rahma gue turut berdukacita ya, semoga pak Rangga di terima di sisi Allah." ucap Nisa mendoakan Rangga.


"Terimakasih ya Nis, maafkan atas segala dosa-dosa om gue sama elu dan juga pak Adam." ujar Rahma tulus.


"Aku sudah memaafkan pak Rangga semenjak dulu." balas Nisa dengan tersenyum.


Rey dam Latya pun menghampiri Maura yang berkabung atas apa yang ia rasakan saat ini.


"Maura." panggil Rey lembut membuat Maura langsung menghambur memeluk Rey tanpa sungkan, dia menangis di pelukan Rey. Rey yang merasa tidak enak jika Maura menangis seperti itu. Rey juga merasa terkejut karena Maura yang tiba-tiba memeluk nya. Rey membiarkan Maura menangis di pelukannya, dengan tangan mengusap punggung Maura, setelah kejadian kemarin Maura merasa dekat dengan Rey jadi ia tidak sungkan untuk memeluk Rey dan satu lagi karena Maura merasakan kenyamanan jika berada di dekat Rey.


Latya yang berdiri di samping Rey pun melengoskan pandangan nya pada arah lain, ia tidak mau melihat dan merasakan hatinya yang tiba-tiba saja merasa memanas. Rey melirik ke arah Latya ia menjadi bingung di sisi lain Maura yang sedang bersedih membutuhkan orang yang dapat menguatkan namun di sisi lain Rey melihat Latya dengan wajahnya cemberut dan terlihat kesal.


Latya mengibas-ibaskan tangannya di wajah nya ia berpura-pura sedang kepanasan. "Ekhemm." Latya berdehem. "Aduh kok tiba-tiba panas begini ya." ucapnya berpura-pura jika ia sedang kepanasan namun tatapan tidak mengarah ke arah dimana Rey dan juga Maura.


Rey merenggangkan pelukan Maura dari tubuhnya dan sedikit demi sedikit Rey melepaskan nya agar Maura tidak merasa kecewa. "Maura, aku turut berdukacita ya, semoga papa kamu bisa di terima di sisinya. Kamu tenang saja jika papa kamu memang korban pembunuhan aku akan mencari siapa yang sudah membuat papa kamu meninggal." tutur Rey mantap. "Kasus ini akan segera di tangani." sambung nya.


"Terima kasih Rey, aku berharap orang yang sudah jahat pada papaku akan segera di temukan!" lirih Maura dengan isak kesedihannya.


Latya yang terbakar api cemburu pun pergi keluar agar rasa panas nya berkurang. "Aku nyesel datang kesini, seharusnya aku tidak datang karena aku juga tidak di butuhkan di sini!" gerutu Latya seraya terus saja berjalan untuk keluar ruangan.


Saat sudah di luar ruangan karena Latya yang begitu kesal pun ia tidak menyadari jika ada orang yang akan masuk juga, Latya berjalan dengan cepat, tidak enak rasanya jika terus berada di dalam ruangan.


Brug... Latya menabrak seorang laki-laki muda yang sama-sama sedang berjalan dengan cepat. Mereka sedikit terpental tapi tidak sampai terjatuh.


"Sorry." ucap Latya cepat seraya pergi tanpa memperhatikan dan memperdulikan siapa yang ia tabrak barusan.


Si laki-laki muda itu memperhatikan Latya lalu ia tersenyum. "Who is she?" gumam nya bertanya. Lalu ia tersenyum. "Is beautiful girl." pujinya merasa senang bisa bertemu dengan gadis cantik yang menabraknya tadi.

__ADS_1


Setelah puas melihat Latya laki-laki itu pun masuk untuk menemui Rahma dan juga keluarga nya.


Sedangkan Nisa yang melihat Latya keluar, berjalan dengan cepat lalu melihat Rey dan Maura begitu dekat membuat Nisa menghela nafasnya panjang. "Ini yang aku dan mas Adam takutkan." batin Nisa.


__ADS_2