Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
doa istri


__ADS_3

"Rey?" panggil Adam saat mereka sudah sampai di rumah.


Rey membalikkan tubuhnya. "Iya ayah ada apa?" tanya Rey cepat.


"Nanti setelah kamu mandi dan juga makan, ayah mau bicara sama kamu, ayah tunggu di ruangan kerja ayah." ujarnya serius.


Rey mengerutkan dahi nya penasaran apa yang akan di bicarakan oleh ayahnya itu sepertinya hal yang serius. Rey mengangguk lemah. "Iya."


Latya yang lebih dulu masuk ke dalam kamar, setelah menerima beberapa pertanyaan dari Nisa yang merasakan bagaimana ia begitu khawatir dan begitu cemas.


"Ah akhirnya aku bisa istirahat di rumah juga." gumamnya seraya menyimpan tas yang tadi ia bawa di dalam mobil.


Dengan cepat Latya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari kotoran yang menempel.


Rey pun masuk ke dalam kamarnya, ia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi pertanda jika ada Latya yang sedang memakai kamar mandinya itu.


Rey menunggu Latya selesai menggunakan kamar mandi nya karena ia pun akan menggunakannya. Dengan posisi duduk di sofa yang ada di kamar, Rey menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, muka lebamnya terasa ngilu sekarang. Rey pun mengusap wajahnya yang terasa kaku.


Ceklek. Suara pintu dari arah kamar mandi terdengar dan terbukalah pintu itu.


Hanya berbalut handuk yang menutupi tubuh Latya seusai mandi. Ia tadi melupakan pakaian yang ia taruh di atas kasur, Latya baru ingat jika pakaian nya tertinggal setelah ia selesai mandi tadi.


Dengan pelan Latya membuka pintu kamar mandi itu. "Semoga saja bang Rey belum masuk ke kamar ini." gumam Latya penuh harap. "Pasti masih di ajak ngobrol sama bunda." batin nya.


Karena lampu tadi sebelum Latya masuk ke dalam kamar Balum ia nyalakan dan sekarang pun masih belum ada yang menyalakan hanya remang-remang saja penerangan nya otomatis Latya pun menghirup nafas nya lega.


"Hah amantos!" lega Latya merasa aman.


Ia pun keluar dengan langkah santai sesantai mungkin, karena ia pikir tidak ada orang di dalam sana.


Rey masih dalam keadaan sadar, dia hanya menyandarkan kepalanya saja namun ia tidak sampai tidur. Mendengar suara pintu di buka otomatis Rey pun membuka kedua matanya yang tadi ia pejamkan.


Rey melihat ke arah Latya yang tidak menyadari keberadaannya di sana, melihat tubuh Latya yang hanya berbalut handuk saja membuat Rey menelan saliva nya secara kasar, Rey terus menatapnya tanpa mau ia lewatkan.


"Ah sial kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini." batin Rey semakin ingin melihat lebih dari itu. Namun ia tepis dengan cepat pikiran kotornya sebelum apa yang ia inginkan terjadi. Karena saat ini Rey sedang melihat kegiatan Latya yang hampir membuka handuk yang ia pakai itu. Apalagi posisi nya Latya menghadap ke arah Rey yang sedang duduk di sofa. Rey berdiri tak jauh dari istrinya berdiri, ia tak kuasa jika akan melihat tubuh polos istrinya itu.


Prok. Suara tepuk tangan Rey membuat lampu otomatis Rey menyala dengan sempurna dan dengan terkejut Latya pun menjerit karena di kejutkan oleh penampakan yang ada di hadapannya itu yaitu Rey yang tiba-tiba ada di hadapannya berdiri tegak dengan menatap nya.


"Aaaa." Latya menjerit ia tidak menyangka jika suaminya sudah ada di dalam kamar tanpa ia ketahui.


Dengan cepat Rey melangkah dan menutup mulut Latya dengan tangan nya agar istrinya itu tidak berteriak. "Berisik kamu bagaimana kalau ayah sama bunda datang kesini." ucap Rey kesal.


"Mmmmmpt." Mulut Latya ingin bicara namun masih di bekap oleh tangan Rey.


Rey yang menyadari jika tangan nya masih membekap mulut Latya pun segera ia lepaskan.

__ADS_1


"Bang Rey sejak kapan ada di sini?" tanya Latya gugup dengan tingkah nya yang tidak nyaman, karena bagaimanapun Latya belum pernah memperlihatkan tubuhnya pada laki-laki termasuk Rey yang sudah menjadi suami nya yang saat ini ia hanya memakai handuk.


"Sudah cukup lama untuk bisa melihat kamu sampai berganti pakaian." goda nya.


"Kenapa bang Rey diam saja saat aku keluar kamar mandi, apa jangan-jangan bang Rey sengaja ya?" telak Latya menatap Rey tidak suka.


"Tidak, untuk apa Abang begitu, toh kalau aku mau pun tidak ada salahnya dan tidak ada yang melarang." balas nya merasa menang.


Mendengar jawaban Rey Latya langsung terdiam, ada benarnya dengan perkataan Rey itu karena mereka adalah suami istri jadi tidak ada salahnya dan tidak akan ada yang melarang, hanya saja hubungan mereka yang masih belum begitu normal layak nya suami istri pada umumnya.


Rey tersenyum merasa menang. Lalu ia pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya yang lelah dan mendinginkan otaknya yang hampir panas akan pikirannya yang kotor. Namun sebelum ia pergi meninggalkan Latya ia tersenyum kembali namun dengan senyuman jahil nya.


"Latya... awas kecoak!" teriak nya menakuti Latya yang ada di hadapannya itu.


Latya yang mendengar Rey berteriak menyebutkan kecoak pun langsung meloncat pada tubuh Rey, memeluknya, merangkul pinggang Rey dengan kedua kakinya sedangkan kedua tangannya merangkul pada leher Rey. Latya tidak sadar jika dirinya masih memakai handuk karena ketakutannya pada binatang itu.


"Ah aku takut!" teriak Latya dengan menyelusupkan kepalanya pada leher Rey dengan terus saja berteriak dan tubuh nya yang tidak bisa diam membuat dadanya yang terhalang handuk pun seolah ingin keluar. Rey yang melihat itu pun terus saja memalingkan wajahnya namun hasrat laki-lakinya membuat ia semakin penasaran dan ingin melihat pemandangan yang jarang sekali ia lihat, lumayan toh halal untuk di lihat.


"Aduh kena lagi gue!" umpat nya dalam hati. Hal yang tak terduga ini membuat Rey seperti orang bodoh saja. "Kecoak nya sudah lari Latya." ucap Rey memberi tahu padahal di sana tidak ada kecoak sama sekali.


Latya pun melihat ke bawah dimana tadi kecoak yang di kira Latya ada. "Beneran udah gak ada?" tanyanya dan di angguki oleh Rey dengan cepat karena ia sudah merasa frustasi dengan apa yang ada dihadapannya itu, otak Rey menjadi liar di buatnya.


Latya pun dengan cepat turun dari pangkuan Rey dengan memegang handuk yang ada di tubuhnya agar tidak terlepas, bisa bahaya jika itu terjadi. "Aku heran di rumah sebersih ini selalu saja ada kecoak!" gerutu Latya kesal.


***


Setelah selesai mandi Rey melihat istrinya itu tidak ada di kamar.


"Kemana dia?" Rey mengerutkan keningnya seraya mencari-cari keberadaan Latya namun ia tidak menemukan nya.


Ketika Rey sedang dalam pikirannya itu terdengar suara ketukan pintu dari luar dan terdengar suara ibunya yang mengingatkan jika ayahnya itu sedang menunggunya di ruang kerjanya.


"Iya Bun Rey akan keluar sekarang." sahut nya dari dalam dan membuat Nisa pergi untuk menemui suaminya lagi.


Tak lama Rey pun keluar, sekilas ia melihat kamar yang selalu di tempati oleh Latya, mencari tahu apa istrinya itu memang ada di kamar itu atau tidak. "Nanti sajalah aku cek." gumam nya seraya melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk menemui ayahnya.


"Bun ayah sudah di ruang kerjanya?" tanya Rey pada Nisa saat melihat ibunya itu sedang duduk sendiri sambil menonton televisi.


Nisa melihat Rey. "Iya ayah kamu sudah disana menunggu kamu." jawabnya. "Eh tunggu Rey." cegah Nisa dan Rey pun menghentikan langkahnya itu menatap ibunya kembali. "Latya sudah tidur belum?" tanyanya.


"Emh sudah." jawab nya gugup. Ia yakin Latya pasti berada di kamar yang dulu ia tempati karena ibunya pun duduk sendirian di sana dan menanyakan keberadaan menantunya itu.


"Emh ya sudah kamu sana temui ayah kamu!" usirnya lembut.


Rey pun tanpa menjawab langsung meninggalkan Nisa di sana dan dengan segera menemui ayahnya.

__ADS_1


Tok tok tok suara pintu di ketuk.


"Ayah ini aku Rey." ucapnya.


"Masuk Rey." balas Adam dari dalam ruangan.


Rey pun masuk setelah mendapatkan ijin dari ayah nya itu.


"Duduk Rey!" titah Adam saat melihat anaknya masuk dan berdiri di depan pintu.


Rey duduk tanpa bicara sepatah kata pun.


"Rey." panggil Adam dengan wajah yang serius.


"Ada yang ingin ayah sampaikan sama kamu." ujar Adam.


Rey menatap lekat wajah ayahnya itu. "Apa yang ingin ayah sampaikan?" tanyanya penasaran. "Dan soal apa yang ingin ayah bicarakan?" tambahnya.


Adam menghela nafasnya panjang. "Ini soal pekerjaan." jawabnya. "Apa kamu yakin Rey akan terus menyelidiki kasus kematian pak Rangga?" tanya Adam serius.


"Iya. Aku serius." jawabnya mantap dengan wajah yang sangat serius.


Adam menyandarkan tubuhnya pada kursi melihat keseriusan Rey anaknya itu. Benar-benar seperti dirinya dulu saat ia melihat Rey.


"Ayah tahu, jika ini adalah kesempatan emas untuk kamu, agar kamu bisa menaikkan pangkat kamu nantinya, penawaran ayah memang menggiurkan Rey, tidak hanya pangkat yang akan kamu dapatkan nantinya tapi uang juga bisa kamu dapatkan tapi... jika kasus ini membuat kamu terancam ayah merasa sangat khawatir sama kamu, apalagi bunda, kalau dia tahu ayah sudah memberikan kamu tugas seperti ini dia pasti akan marah pada ayah." ucap Adam merasa khawatir.


"Ayah meragukan ku sekarang?" tanya Rey menatap lekat ayah nya itu.


"Ayah tidak meragukan kamu hanya... ayah tidak tahu jika kasus ini, kasus yang cukup serius dan beresiko. Ayah pikir jika kasus ini sudah di selidiki dan kita mendapatkan siapa yang membunuhnya itu selesai sudah tapi nyatanya ini berbeda Rey mereka benar-benar berbahaya, sepertinya pelaku ini bukan orang biasa, dia menghalalkan segala cara untuk bisa terbebas dari hukum." jelas Adam memberitahu pada Rey agar ia mengerti.


"Lalu apa Rey harus mundur begitu saja? Rey ini polisi kan? Ayah selalu mengajarkan aku jika mengerjakan sesuatu itu jangan setengah-setengah apalagi ini kasus pembunuhan, keluarga korban berharap penuh pada Rey, dan sedikit lagi Rey pasti menemukan siapa pelakunya." ujar Rey semakin mantap untuk menangani kasus tersebut.


"Bukan pangkat dan tawaran yang menggiurkan. Tapi bagi Rey ini sudah tugas sebagai seorang polisi dimana seorang polisi itu harus menegakkan hukum, bagaimana jika kita sebagai polisi takut akan hal buruk yang menimpanya lalu lepas tanggung jawab begitu saja, bagaimana hukum bisa ditegakkan jika semua aparat seperti itu, coba ayah pikirkan sebagai atasan Rey, ayah pasti lebih tahu itu kan?" tanyanya membuat Adam pun terdiam.


Adam diam mendengarkan perkataan anaknya itu. Lalu ia pun menatap wajah Rey dengan penuh. "Iya kamu benar Rey, ayah bangga sama kamu. Ayah tidak menyangka jika anak ayah ini memiliki sifat tanggung jawab yang amat besar. Ayah akan mendukung kamu Rey, tapi ingat ya Rey jangan membuat ayah khawatir apalagi bunda kamu." puji nya merasa bangga akan sikap anaknya itu.


Rey tersenyum. "Ini yang aku butuhkan, doa dan dukungan dari keluarga ku." ucap Rey lega.


"Ada satu lagi yang harus kamu lakukan, meyakinkan Latya agar dia tidak mengkhawatirkan kamu. Karena tadi ayah melihat jika Latya merasa khawatir dan cemas sama kamu." ujar Adam.


Rey mengangguk penuh. "Iya, Rey akan meminta doa dan dukungan Latya juga agar aku bisa tenang menjalankan tugas ini." seru Rey mantap.


"Iya itu benar, doa istri dan dukungan istri akan membuat kita lebih bersemangat dalam bekerja." Adam membenarkan hal itu.


"Ya sudah itu saja yang ingin ayah sampaikan, tentang keamanan ayah akan memerintahkan anak buah ayah untuk memperketat nya dan soal bunda kamu ayah juga akan meyakinkan bunda agar mau mengerti akan tugas kamu." ujar Adam mendukung sepenuhnya. "Kamu juga harus lebih hati-hati lagi mulai dari sekarang!" ucapnya tegas dan di angguki penuh oleh Rey.

__ADS_1


__ADS_2