Kakakku sayang

Kakakku sayang
Episode 16


__ADS_3

Akhirnya kami sampai diBandara Yogja.Will memintaku turun lebih dulu dan dia mengikuti dibelakangku.


Setelah sampai diluar ternyata sudah ada taxi yang menunggu kami.


Sopir taxi memasukkan semua koper kami.Saat aku hendak masuk kedalam taxi,seseorang memanggilku.Kuurungkan langkahku dan menoleh.


Henry,dia berlari kearahku tergesa.


Dia tersenyum,Will memandangnya tidak suka


"Widya ,buruan masuk." panggil Will


yang sudah duduk duluan


"aku bolehkan ngomong bentar sama Widya.." Henry melongok ke dalam taxi meminta pada Will


Will acuh saja,dia memalingkan mukanya.


"Widya ,apa aku boleh minta no hp kamu..?" pinta Henry,aku terkejut.


Waduh ini sih nyariin aku masalah baru,Will pasti bakalan tambah marah kalo aku kasih no hpku,pikirku.


Aku menggeleng pelan,dan melirik Will.


"maaf ,aku tidak bisa.."


seperti maksud dengan ucapanku dia segera mengeluarkan kartu nama dari sakunya.


"o ya sudah gapapa , ini kartu namaku.Hubungi aku kalo kamu berubah pikiran.." dia tersenyum


Kuterima kartu nama itu.


"ok,selamat jalan.." dia mempersilahkan aku memasuki mobil.


Aku membalas dengan senyuman dan segera masuk.


Taxi berjalan perlahan meninggalkan Henry yang masih berdiri ditempatnya,


melepasku dengan pandangan.



Aku berjalan memasuki Rumah sakit ,bau khas Rumah sakit yang sangat menusuk.


Dulu beberapa bulan yang lalu,semua ini sangat akrab dihidungku.


Beberapa perawat masih mengenalku.


Begitu aku datang mereka menyapaku.


Aku segera ganti pakaian khusus ICU,


Will bagai pengawal yang selalu mengikutiku dari belakang.


Kutuju ruangan yang merawat ibu,


aku masuk dengan perlahan setelah terdiam beberapa saat didepan pintu.

__ADS_1


Aku harus bisa mengendalikan diri,gak boleh nangis.pikirku


Pertemuan dengan ibu,harus berkesan dan aku harus terlihat bahagia didepan ibu.


Ibu sudah bisa membuka mata,meski dia belum bisa bergerak dan berkomunikasi.


Setelah kurasa cukup tenang aku berjalan masuk,kudekati ibu yang terbaring tak berdaya.


Beliau terlihat sangat kurus.


Oh ibuku,


ibu memejam kan mata, tidurkah?pikirku.


Kusentuh lembut tangannya,aku duduk disampingnya.


Aku tidak ingin membangunkannya.


Will hanya diam,dia berdiri disamping ranjang menghadapku.


Tetap saja,, seberusaha apa aku untuk tidak menangis.Airmataku tetap tidak mau kompromi.Tanpa terasa butiran itu menetes dengan sendirinya.


Aku rindu sekali denganmu bu,bisikku.


Kuangkat dan kucium tangan ibu.


Mungkin ibu merasakan,jari tangan itu bergerak meski samar.


Ibu membuka matanya perlahan.


Will mengusap bahuku pelan,dia berusaha menenangkanku.


"ibu Widya kangen banget sama ibu."


bisikku pada ibu


Ibu cuma diam saja,tapi aku yakin ibu bisa mengerti dan mendengar,meski dia tidak bereaksi apapun.


Kucium kening ibu,kuciumi pipinya tiada henti.


Biarlah,biarlah aku puaskan dulu rasa rinduku.Pada orang yang teramat aku sayangi ini.


Kami hanya diberi waktu beberapa menit saja.


Perawat masuk dan meminta kami meninggalkan ruangan.


Berat rasanya,belum habis rasa rinduku.


Tapi aku turuti saja perintah perawat,toh masih beberapa hari lagi aku disitu.


Dan masih bisa menemui ibu.Setelah berpamitan pada ibu,aku keluar ruangan.



Rumah kecil ini.Bukan istana indah seperti milikmu Will,tapi rumaj ini memberiku banyak kenangan manis.


Tapi rumah ini bagiku bak istana,melebihi istana yang termegah sekalipun.

__ADS_1


Rumah ini masih terawat,karena semenjak aku mengikuti mama Lilian ke Jakarta.Tetangga samping rumahku yang baik hati,selalu siap menjaga rumah ini.Jika suatu hari aku pulang dia bilang.Rumah ini selalu akan bersih seperti semula.Dan itu terbukti.


Tetangga yang sudah seperti saudara.


Karena memang selama hidupnya,almarhum ayahku selalu baik pada semua orang.


Ayah tidak pernah punya musuh dan bermasalah dengan siapapun.


"kamu yakin akan tinggal disini?"


tanyaku pada Will


Will duduk dikursi tamu,melihat sekeliling rumah.Dan mengangkat alisnya ,tanda mengiyakan.


"kalo gitu terserah kamu deh.Aku siapkan kamarmu"


aku berjalan menuju kamar ayah dan ibu.Dirumah ini hanya ada dua kamar ,kamarku dan kamar orangtuaku.


Biar nanti Will tidur dikamarku,aku akan tidur dikamar lain.


Kutaruh barang-barangku di dalam.


Dan keluar menuju kamarku,kubuka jendelanya.


hmm,, masih sama.Tidak ada yang berubah.Aku kangen kamar ini.


Segera kurapikan lagi kamar ini.


Will berjalan masuk dia berjalan menuju ranjang


"yakin ,gak ambruk nih tempat tidur kutiduri.." dia duduk ditepi ranjang


"gak lah ,ini cukup kuat.Emang kamu mau tidur seperti apa.."


Ada-ada aja ini anak,memang ranjangku kecil hanya muat untuk 1 orang,gak seperti tempat tidur dirumahmu.Tapi itu masih kokoh.


Will berbaring tanpa melepas sepatunya.


Terserah deh,pikirku.


Aku segera berjalan,hendak keluar kamar


"Mau kemana....." tanya Will,dia duduk kembali


"aku capek,mau istirahat dulu.."


Will mengejarku ,dia pegang lenganku dan menariknya.


Aku meronta,"apa- apaan sih kamu.."


Will menatap wajahku dekat banget.


Aku jadi salah tingkah,,


gimanapun aku gak bisa menahan pesona ini anak.


oh,,Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2