
"Denis......" ucapku
yah itu Denis.. apa aku tidak salah lihat.
Bagaimana bisa,ini kebetulan atau apa,
seketika Henry dan Denis menatapku yang sedang berdiri didepan pintu.
"kamu.... Widya....."
tak kalah kaget dariku,Denis pun begitu.
Aku melangkah masuk.
Kudekati mereka berdua,
Henry mengalihkan pandangannya ke Denis
"kalian saling mengenal.."
"yaa..kita pernah satu sekolah diYogja dulu.." jelas Denis
Dia ulurkan tangannya padaku,
"apa kabar Widya,, lama sekali tidak berjumpa,,"
kusambut uluran tangannya.
"baik.. ya ,,lumayan lama.." kataku.
Kupandang Henry ,,
"Aku mengkhawatirkanmu,,apa kamu baik-baik saja,maafkan aku sudah melibatkanmu dalam masalah."
aku berkata seolah tak mau kehilangan waktu.
Waktu yang sangat pendek yang Will berikan padaku,kuhela nafas.
"tidak apa,aku baik-baik saja.Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
kalimat Henry terdengar datar dan tidak bersahabat lagi,seolah jarak pertemanan kita sudah semakin jauh.
"hai... jadi gara-gara Widya kamu ditahan..?" tanya Denis
Aku diam saja,
"sudahlah,, jangan dibahas.." Henry melangkah kearah jendela.
Pandangannya terhenti pada mobil Will diluar pagar.
"ternyata kamu membawa seseorang kesini.." ucapnya padaku
kudekati Henry,,
"aku demikian ingin menemuimu.Dan aku minta pada Will untuk mengantarkanku."
__ADS_1
Henry menatapku tajam,aku jadi takut.
"apa lagi yang ingin kamu ketahui,,"
ucapnya.
Suara itu membuatku diam tak bisa menjawab.Dia,marahkah..?
"sudahlah ,sekarang pergilah ,,"
dia mengusirku pergi.
Aku menunduk lesu ..rasanya sedih banget hatiku dengan perlakuannya.
Seakan tahu perasaanku Denis mendekatiku,
"jangan dipikirkan, sudah berlalu.Semua baik-baik saja kok " dia menepuk bahuku.
Kucoba tersenyum meski terpaksa.
"ya sudah ,, aku cuma ingin minta maaf.Henry maaf ya ,karena aku kamu jadi begini.Aku pamit."
aku beranjak
"Denis ,, aku pamit.senang bisa bertemu denganmu."
Denis mengangkat bahunya,tersenyum.
"its ok,, hati-hati ya.."
Masih acuh dengan tatapan dingin,demikian marahkah dia padaku.
Aku melangkah keluar dengan rasa tak menentu.Dan berbagai pertanyaan yang tak sempat kukemukakan.
Bagaimana bisa Denis dan Henry saling kenal.Kebetulan apa ini.
Kubuka pintu mobil dan duduk tanpa berkata apapun.
Will melihat jam tangannya.
"lebih 15 menit,, hukuman apa yang kamu inginkan.."
kutatap Will dengan tatapan protes,Will diam saja dan segera menjalankan mobilnya.
Rasanya pengin banget aku teriak,semua ini benar-benar bikin aku marah.
Tapi ini akibat aku tidak mau memikirkan dulu perbuatanku.
"Kita makan dulu.." ajak Will
Aku diam saja.
Will memarkir mobilnya disebuah rumah makan.
Aku makan tanpa selera sama sekali.
__ADS_1
Will cuma menatapku tanpa protes.
Dia terlihat menyelidik,tapi untunglah dia tidak banyak bicara.
"oke,,seperti perjanjian kita.Sekarang aku akan mengantarmu kembali kerumahmu,"
aku terkejut,Will akan mengantarku ke Rumah mama Maria.
Memang ini sudah janjiku,tapi berati aku juga harus siap dengan perjodohan itu.
Aku harus bagaimana.
Apa ada pilihan lain,
"Will,, " ucapku lirih
Will menatapku ,aku menunduk
"ada apa ..jangan bilang kalo kamu mau ingkar janji..." tuduhnya
aku diam saja,kupalingkan pandanganku.
Aku gak bisa mengucapkan itu,gak bisa mengatakan yang kutakutkan.
Aku menangis,kenapa aku demikian lemah.
"hei...kenapa kamu menangis,," ucap Will.Dia elus rambutku.
"katakan ,ada apa.."
aku menunduk,,
"aku....aku ..tidak mau kembali kesana."
Will tidak tampak terkejut,dia fokus dengan jalan lagi
"katakan alasanmu.." ucapnya.
aku rasa aku haus jujur pada Will
"mama telah menyiapkan perjodohan untukku,aku tidak mau itu.."
Will tersenyum getir,
"yang kudengar begith,bahkan perjodohanmu sudah ditetapkan sejak kamu masih kecil."
Jadi Will tahu semua itu..
Aku benar-benar sedih dan bingung.
Apa yang harus aku lakukan.
Aku bingung...
__ADS_1