
Tok tok tok
Kuarahkan pandanganku kepintu kamarku.
Siapa sih,aku daritadi malas keluar kamar.
Aku tidak punya hati yang kuat untuk menghadapi kebersamaan mereka.
Jadi kuputuskan untuk mengurung diri didalam kamar.
Tok tok tok
Lagi,apa aku diam saja dan pura-pura tidur saja.
Tapi ini sifat pengecut,cepat atau lambat aku tetap harus menghadapinya.
Kuusap-usap mukaku dengan berulang-ulang.
Widya,ayo hadapi.Jangan jadi pengecut.
Aku berjalan menuju pintu kamarku,kuhela nafas panjang.
Kubuka pintu dan berdiri Lay dihadapanku.
Dengan cepat didorongnya aku untuk masuk kedalam kamar dan ditutupnya kembali pintu kamarku.
Aku menatap tak mengerti.
Segera Lay memelukku dengan erat.
Aku diam saja mematung tak membalas pelukan Lay.
"Lay..."
Lay tak menyahut dia terus memelukku tanpa bicara.
Ini anak kenapa sih,gak biasanya nyosor gini deh.
Lay melepas pelukannya secara perlahan.
Ditatapnya wajahku dengan lekat.
"kamu tau gak sih,aku kangen banget sama kamu" diciumnya keningku.
Aku pejamkan mataku.
Tuhan,ternyata Lay memikirkanku.
Tapi segera selintas bayangan saat dirumah sakit dan peristiwa tadi sore melintas di benakku.
Aku palingkan pandangku darinya.
Dan segera kucoba melepaskan diri dari Lay.
"Maaf Lay,aku ..aku gak enak sama Cath.Sebaiknya kamu segera keluar"
Lay menatapku tak mengerti.
Dia berdiri mematung memandangku.
Widya,,apa sih yang kamu katakan.
Kamu itu nyakitin dirimu sendiri.
Bukankah ini kesempatan buatmu melepaskan rasa rindumu.
"apa..." hanya itu yang Lay katakan.
Aku segera menyadari keadaan.
"ehm..maksudku.Aku ..aku cuma gak enak.
Kalo Cath mikir kita terlalu jauh" ralatku.
Lay mendekatiku,dipegangnya kedua bahuku.
Ditatapnya aku dengan tajam.
Aku lihat matanya penuh dengan pertanyaan.
Aku takut dia akan menemukan rasa tidak sukaku pada Cath.
Kutundukkan pandanganku.
"Kenapa kamu jadi berubah?" bisiknya
Aduh,aku harus jawab apa.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi berubah begini.Kamu tau kan,aku melakukan semua ini untukmu.Tapi kenapa malah sekarang kamu seolah merelakanku untuknya"
Digoncangkannya tubuhku.
Aku pasrah saja tanpa bisa menjawab.
Aku tak bermaksud seperti itu sebelumnya.
Tapi aku juga sakit hati dengan apa yang terjadi.
Tampaknya hatiku memang tak setegar yang kupikirkan.
Kukira aku tak akan bisa merasa cemburu.
Tapi sekarang aku merasa sakit hati.
"Jawab aku,ada apa denganmu?" sekali lagi Lay berusaha bertanya.
Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya.
Lay terlalu kuat memegangku.
"Lepaskan Lay,sakit" kataku
Lay tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Dia selalu lembut,aku seperti sedang menghadapi sisi dari Lay yang lain.
"Sakit? sakit kamu bilang.Terus ini?Apa kamu pernah berpikir tentang ini?"tanya Lay sambil menunjuk kearah hatinya.
Aku diam saja,kuhela nafas panjang.
Lay memelukku lagi.
Aku diam saja,aku merasa tidak tau harus bagaimana.
" Kumohon,jangan seperti ini.Kamu benar-benar menyakitiku jika kamu begini"
Suara Lay terdengar serak.
Lay menangis?aku seperti tak percaya.
Tapi benar,aku telah menyakiti Lay.
Segera kubalas pelukan Lay,kuusap punggungnya pelan.
Lay melepas pelukannya dan kuusap pipinya.
Aku menggeleng,mencoba menyuruh untuk tidak menangis.
"Maaf kan aku.." kataku
Lay tersenyum simpul.
Diciumnya kedua tanganku.
"Kamu tidak bersalah.Keadaanlah yang salah"
Lay mencoba menyemangatiku.
Kupeluk Lay dengan hangat.
Lay usap punggungku dan dia cium ubun-ubunku.
Rasanya sudah lama aku melewatkan kehangatan ini.
Lay melepas pelukannya dan menatap wajahku dengan lekat.
Aku balas menatapnya.
Aku kangen wajah ini,sosok yang beberapa bulan ini selalu menghangatkan hatiku.
Lay mendekatkan wajahnya,semakin dekat,dan semakin dekat.
Aku tau ,anak ini ingin menciumku.
Rasanya tak tepat aku untuk menolak saat ini.
Jadi kubiarkan saja dia mencium bibirku.
Kupejamkan mataku,mencoba menikmati semua ini.
Nafas kami beradu jadi satu.
Pelukan Lay pada tubuhku semakin erat.
Nafasku semakin habis.
__ADS_1
Aku mencoba mengakhiri ciuman Lay.
Lay mengerti,dilepaskannya bibirnya.
Aku terengah mencari udara segar.
"Kamu lucu,jangan menahan nafas saat ciuman dong" Lay tertawa kecil.
Mungkin mukaku merah saat ini,karena malu.
Tok tok tok
Suara ketukan dipintu.
Aku dan Lay saling tatap.
Itu pasti Cath.
Tok tok tok
"Widya" suara Cath memanggilku.
Aku segera mendorong tubuh Lay.
"Lay,cepaf ngumpet" bisikku.
Lay diam saja,kutarik tangannya untuk bersembunyi.
Waduh mau kusembunyikan dimana ini.
Jangan sampe Cath melihat Lay ada dikamarku.
Dibawah kolong,ah jangan.Nanti kotor.
Kutarik kedepan lemari baju.
Kubuka pintu lemari.
Ini terlalu penuh,tidak bisa.
Aku tutup kembali.
Kupegang kepalaku.
"Widya" panggil Cath lagi.
Aku menatap Lay memohon.
Lay tersenyum
"Buka saja pintunya,jangan takut" bisik Lay.
Aku menatap Lay tak mengerti.
Diciumnya keningku,dan dia segera menuju jendela.
Membukanya dan keluar dari sana.
Ah kenapa tak terpikirkan olehku.
Segera kukunci kembali jendela kamarku.
Dan berjalan membuka pintu.
Cath berdiri didepan pintu kamarku.
Dia tampak risau dan berusaha meneliti kedalam kamarku.
"ya..." kataku
"ehm..kukira kamu sudah tidur.Maaf mengganggumu.Aku cari Lay,apa kamu tau dia dimana?"
Kuangkat bahuku,dan menggeleng.
"aku..aku tidak tau" jawabku singkat.
Cath tersenyum
"ya sudah,maaf.Silahkan lanjut istirahatmu"
Aku mengangguk dan segera menutup pintu.
Aku bernafas lega,huft hampir saja.
Maaf Cath,mungkin aku terlalu ketus padamu
Aku gak bisa menutupi rasa cemburuku.
__ADS_1
Aku gak bisa menerimamu ada diantara kami.