
Sejak hari itu,aku tidak melihat Will.
Kak Aska sudah kembali ke Singapura,
mama lebih banyak berdiam diri dikamarnya.
Akupun tidak semangat lagi untuk membahas apapun yang telah terjadi.
Karena bagiku ini tidak akan merubah apapun yang telah kujalani selama ini.
Aku lebih banyak menemani ibu,dan merawatnya.
Meski sudah ada perawat khusus yang merawat mama.
Siang ini aku pulang sekolah sendiri.
Aku larang sopir untuk menjemputku,aku ingin sendiri dulu.
Mungkin aku ingin sekedar jalan-jalan menghabiskan soreku.
Will sudah seminggu ini tidk pernah berangkat sekolah.
Hp nya juga tidak aktif,
kemana anak itu.
Apa segitu bencinya dia padaku hingga pergi tanpa mengatakan apapun.
Jujur ,,selama ini aku terbiasa dengan nya.
Meski dia cuek,acuh dan nyebelin.
Tapi aku merasa nyaman disisinya.
Dia selalu melindungiku
dengan caranya yang arogan dan kadang tak kumengerti.
Kakiku berjalan terus menyusuri jalanan yang panas.
Hiruk pikuk kendaraan dan lalu lalang orang-orang tak kuhiraukan.
Aku terus berjalan,biarlah kemana langkah ini kan membawaku.
Tak kuhiraukan perutku yang sudah keroncongan.
Tk terasa hari sudah sore,capek juga rasanya.
__ADS_1
Kuputuskan untuk pulang saja.
Aku berjalan memutar mencari jalan singkat untuk lebih cepat sampai rumah.
Dijalan besar aku dikagetkan
oleh mobil yang tiba-tiba mendekat dan berhenti didekatku.
Mobil siapa ini,aku menghindar.
Pintu mobil terbuka dan keluarlah Steven dari dalam mobil,
dia berjalan membuka pintu belakang.
Keluarlah seorang wanita yang langsung memelukku.
Aku tidak kenal,siapa dia.
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Dan aku mundur menghindar.
"siapa anda.. dan kamu...Steven.."
Steven memeluk wanita itu,wanita itu menangis
"sayangku..Widya ,, putriku..." kata wanita itu.
Jadi wanita ini yang mereka bilang,ini adalah ibu kandungku...
Aku menutup bibirku,aku tak dapat berkata apapun.
Pikiranku kacau,aku berusaha menguasai diriku.
Aku tidak boleh terpengaruh dengan semua ini.
Aku harus pergi, kuputar badanku dan berlari menghindari mereka.
"Widya...!" teriak Steven memanggilku.
Aku tak peduli,aku terus berlari.
"putriku....." kudengar wanita itu meratap memanggilku.
Aku menangis sambil terus berlari menghindar.
Kupercepat lariku,
capek sekali rasanya.
__ADS_1
Kubuka pintu gerbang dan segera masuk.
Nafasku masih memburu,aku terus berlari kekamarku.
Kubuang tasku ,kubuang semua yang ada dimeja belajarku.
Kenapa...kenapa ..semua harus seperti ini.Aku menangis dengan keras.
Aku menjerit.Gak ada yang tau perasaanku.Gak ada yang bisa kuajak bicara dan menghiburku.
Semua seolah memojokkanku,
dan tidak mau meminta pendapatku.
Mama masuk kekamarku,
dia melihatku dalam keadaan yang berantakan.
Dia langsung berlari memelukku.
"sayang...sayang,, " aku mundur.
Kulepaskan pelukan mama.
"sayangg... " mama menangis.
"keluar ma...aku pengin sendiri.." kataku.
"tinggalkan aku sendiri.."
"bagaimana mama bisa meninggalkanmu,kamu kacau begini.."
Mama mendekatiku dan berusaha memelukku.
"pergi ma....keluarlah....!" teriakku.
Mama menutup mulutnya,dia menangis.
"sayang..maafkan mama,,mama tak memperhatikanmu akhir-akhir ini..tapi percayalah.Mama sayang banget sama kamu.." mama memelukku.Aku berusaha menghindar.
Tapi aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Semua gelap dan terasa tenang.
Aku merasa tenang.
Aku sangat capek.
Capek sekali....
__ADS_1