
Widya masih enggan beranjak dari gundukan tanah basah didepannya.Bagai sebuah mimpi buruk baginya,kehilangan orang yang paling dekat dengannya.Sosok ayah yang penyayang dan selalu ada buatnya.Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis.Tania yang setia selalu ada di dekatnya ,memeluk Widya
"sabar ya ,,kamu harus kuat.Ayo kita balik kerumah..." bisik Tania
Widya tak menghiraukan Tania,dia tetap menangis dan tidak beranjak.
Tania menyadari semua pasti begitu sulit untuk diterima oleh Widya.
Orangtuanya kecelakaan saat hendak pulang kembali ke Yogja. Ayahnya meninggal ditempat,sementara ibunya masih koma di Rumah sakit.
Widya anak tunggal,dia tidak punya saudara kandung.Orangtuanya sangat menyayanginya,terutama ayahnya.
Hingga kejadian ini bagaikan mimpi buruk yang menimpanya.
Tiba-tiba disamping Widya ada yang ikut jongkok dan menggenggam tangan Widya dengan lembut.
"Aku ikut berduka cita atas semuanya..." suara yang mengejutkan Widya.
Widya menatap Denis,, dia ada disampingnya.
Tapi rasa berduka lebih mendalam dirasanya,hingga tak lagi dia rasakan detak gugup yang biasa dia rasakan saat bertemu Denis.
"makasih yaaa..." suara Widya serak menahan sesak akibat kesedihan yang mendalam.
Tania yang biasanya bete dengan kehadiran cowok diam saja,terpaksa menerima kehadiran Denis disamping Widya.
__ADS_1
Gerimis kecil yang ikut menyaksikan rasa sedih yang dialami Widya.Para pelayat sudah meninggalkan pemakaman.
Widya tetap enggan beranjak,seakan ingin selalu menemani ayahnya disitu.
Bajunya sudah hampir basah oleh siraman rintik hujan.
"Ayo kita pulang,,masih ada ibumu yang harus kita perhatikan.Jangan sampai kamu sakit nantinya." lirik Tania mencoba membuka percakapan.
Widya mengangguk dan beranjak bangkit.
Denis masih setia dengan Soni dibelakangnya.
Mereka mengikuti dua wanita tersebut meninggalkan pemakaman.
Tiba dirumah Widya,suasana berduka sangat terasa.Beberapa saudara Widya menyiapkan acara doa tahlil untuk nanti malam.
Hingga magrib Denis pamit,
Widya mengantarnya dengan senyum kecil yang terlihat terpaksa dia sunggingkan.
"aku tidak apa-apa jika kamu mau pulang Nia,, "
kata Widya.
"nggakk... aku mau disini aku temani kamu.."
__ADS_1
Tania memang sahabat yang baik,dia berteman dengan Widya sejak mereka sama-sama masuk SMP, hingga sekarang sama-sama diSMA yang sama.
Dia begitu mengerti Widya butuh teman untuk bersandar saat ini.
Meski saudara-saudaranya ada disitu saat ini,tapi Widya tidak terlalu dekat dengan mereka.
Dikarenakan jarak saudara yang saling berjauhan,hingga jarang sekali berjumpa.
Widya sangat ingin sekali ke Rumah sakit melihat ibunya.
Tapi saat ini dirumah sedang dilaksanakan doa tahlil.
Jadi dia putuskan mungkin setelah acara selesai baru dia akan kerumah sakit.
Jarak Rumah sakit dari rumahnya lumayan jauh, untung ada Tania yang selalu siap jadi tukang ojeknya.
Dirumah sebenarnya ada kendaraan,tapi Widya tidak bisa memakainya.
Trauma saat berlatih motor dan jatuh membuatnya enggan belajar lagi.
__ADS_1