
"kampus kalian kan lebih dekat dari sini,jadi daripada rumah ini tidak terpakai.Lebih baik kalian saja yang tinggal disini"
"uhukk,,, uhukkk.." aku tersedak kaget mendengar kata-kata tante Vani.
Kuletakkan botol air mineral dan segera mendekat ke arah tante Vani.
"yang benar saja tante,masa aku harus tinggal sama Lay.." bantahku
Mama mendekatiku dan merangkul pundakku.
"emang kenapa? ada masalah..?" tanya mama
Kutatap mama dengan pandangan protes.
"ya iyalah ma,,kita kan bukan muhrim.Gimana nanti kata tetangga.." kataku
Mama dan tante Vani saling berpandangan dan akhirnya tertawa.
"hahaaha... lucu banget anak kamu.." kata tante Vani pada mama.
Mama mengelus rambutku lembut.
"sayang,, disini tidak seperti diIndo***.Sudah,,, nurut sama mama,oke.." kata mama
Percuma aku protes,semua barangku sudah dibawa kesini.
Kulihat Lay datang bersama paman John,mereka membawa koper.
Mungkin itu barang-barang Lay.
Kulihat muka Lay juga kusut,kayak nya sama sepertiku gagal protes.
Lay masuk dan berjalan melewati kami.
Dia langsung menuju kekamarnya.
"kenapa Lay...?" tanya tante Vani,begitu om John muncul.
Om John hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab.
Aku segera mengambil koperku dan membawanya ke kamar disebelah kamar Lay.
*********
Kutaruh begitu saja koperku,lalu aku rebahan ditempat tidur.
Lumayan capek juga hari ini,seharian bersihin rumah ini.
Gak tau juga kalo bakal aku tinggal disini.
Kenapa ya kok semua kaya direncanakan oleh mereka.
Dari awal aku ketemu Lay semua terasa terencana.
Apa benar dari awal dugaanku kalo Lay itu yang akan dijodohkan denganku...
Aku segera duduk
"pasti iya,,pasti dia.." gumamku
"apanya yang pasti..." aku terkejut,Lay sudah ada dipintu kamarku.
__ADS_1
Ditangannya ada selimut,diletakkannya selimut itu didekatku
"ini tadi tertinggal didepan..mereka kira kamu tidur.Jadi tidak membangunkanmu,, mereka sudah pulang,,,,sekarang kamu istirahatlah.." katanya
Dia hendak keluar ,aku segera bangkit dan kupegang tangannya
"sebentar ,sebentar Lay..." tahanku
Lay menoleh dan berhenti
”ya..."katanya
Aku diam,bingung.
Tapi aku harus nanyain semua biar jelas.
"L ..Lay,, apa kamu yang.. yang dijodohkan denganku...?" tanyaku hati-hati.
Lay tertegun memandangku
Dia menghela nafas panjang.
"jawab Lay,,jawab yang jujur.Karena aku merasa semua hal yang berhubungan denganmu.Seakan semua terencana.."
Lay menatapku tajam
"iya..." jawabnya
Sudah kuduga dari dulu,batinku.
"kenapa...kenapa kamu gak jujur dari dulu? kenapa kamu mesti boong.."kataku marah
Lay mendekat dia berusaha memegang bahuku,aku menolaknya.
"dengarkan aku,, kumohon.Aku punya alasan kenapa aku harus bohong sama kamu.Tapi aku gak bermaksud nyakitin kamu.Percayalah sama aku.." kata Lay
Aku menangis,kecewa.
Aku memang sudah sempat menduga Lay adalah jodoh yang ditetapkan buatku.
Tapi aku sudah terlanjur menganggapnya teman yang menyenangkan.
"dengar,, meski kamu tak suka.Kita bisa tetap berteman kan.." kata Lay lembut.
Kutatap mata Lay,dia begitu tulus dan baik.
Lay tersenyum dan mendekatiku.
Aku tak bisa menolak orang setulus ini,dipeluknya aku.
Kupejamkan mataku,rasa nyaman ini.
Sama saat aku bersama Will.
"sudahlah ,jangan menangis.Aku tau kamu tidak setuju dengan perjodohan kita.
Dan lagi kamu sudah punya pacar.Aku tidak akan memaksamu.." kata Lay.
Jadi Lay berfikir aku jalan dengan Will.
Ini baik ,ini bisa jadi alasanku untuk menolaknya.
__ADS_1
Jadi aku tidak perlu bilang pada Lay kalo aku dan Will tidak pernah jadian.
Biarlah Lay berpikir begitu.
Dilepaskan pelukannya dan dipandangnya aku
"dengar ,, kita jangan bilang apa-apa sama orangtua kita.Didepan mereka tetaplah jadi anak yang baik." Lay berusaha menasehatiku
Aku mengangguk mengiyakan.
"anak pintar.." dielusnya pipiku,aku tersenyum.
**********
Benar juga kata mama,jarak dari rumah ini kekampus cukup dekat.
Aku kuliah disebuah kampus ternama dinegara ini.
Dalam beberapa minggu kemarin,Lay selalu mengajariku bahasa inggris.
Sekarang aku lebih pintar dan tau.
Lay anak yang baik,dia sopan dan memperlakukanku dengan baik.
Selama kita tinggal bersama,dia lah yang sering memasak untuk kita makan.
Ya gimana lagi,katanya masakanku gak enak.
Tapi untuk tugas beres-beres rumah itu tugasku.
Dalam beberapa hari mama atau tante Vani terkadang mengunjungi kami.
Akhirnya aku pun terbiasa hidup berdua dengan Lay.
Kami satu kampus tapi beda kelas.
***********
Dua bulan kemudian
"hai.. tunggu.." aku menghentikan langkahku.
Kulihat seorang wanita berlari mnghampiriku.
Cewek ini putih dan sangat cantik.
"ya.. ada apa..?" tanyaku
Wanita itu tersenyum dan mengajakku minggir.
"kenalin,,aku Catherin.." Dia menyodorkan tangannya.
Kujabat tangannya "Widya.."
Catherin tersenyum manis sekali
"e.. aku..,,apa kamu saudara Lay..?" tanya Catherin,aku menatapnya dan mengangguk.
Catherin tertawa senang..
"aahh.. syukurlah...hahhaaha.." dia terlihat bahagia.
__ADS_1
Aku tak mengerti dengan perkataannya.
Anak yang aneh.