
Sudah hampir dua minggu dan aku belum tahu kabar dari Lay.
Kami memutuskan supaya tidak menyakiti satu sama lain untuk tidak saling memberi kabar.
Hari-hariku rasanya sepi jauh dari Lay.
Semua kulalui sendiri.
Kemarin mama datang dan menanyakan Lay.
Aku masih harus berbohong dan mengatakan jika Lay sedang ada kegiatan kampus.
Mama sepertinya tidak curiga.
Tapi hari ini tante Vani bilang dia akan mampir untuk mengajak kami jalan-jalan.
Aku harus mencari alasan baru.
Oh Lay,kenapa harus seperti ini.
Harusnya aku tak sebodoh ini hingga melepaskanmu untuk pergi.
Tapi rasa bersalah dalam hatiku kepada Cath tak bisa kuhindari.
Dari awal Cath meminta bantuanku untuk dekat denganmu.
Dan aku pernah menyetujuinya.
Aku tak tau jika perasaanku pada Lay akan berubah jadi sayang.
Jika aku tau semua akan jadi seperti ini.
Aku tak akan pernah menjanjikan sesuatu pada Cath.
Dan sekarang aku hanya bisa pasrah pada keadaan.
Semoga Cath dapat segera sembuh.
****
Rasa rindu membuatku nekat datang kesini.
Dengan menggunakan taksi aku datang ke rumah Cath.
Aku ingin tau keadaan Cath.
Dan ingin memastikan Lay baik-baik saja.
Aku berdiri diluar gerbang rumah Cath.
Aku belum berani melangkah masuk.
Kuhela nafas panjang ,seolah akan memulai sebuah pertempuran.
Rasanya aku harus menguatkan hatiku.
Kulangkahkan kakiku pelan.
Seorang tukang kebun menghampiriku.
"Cari siapa?" tanyanya
Aku segera menghentikan langkahku.
"Em.. saya mau bertemu Cath.." jawabku.
Tukang kebun itu mengamatiku.
"Saya belum pernah melihat anda sebelumnya.Tapi baiklah,nona kami belum pulang dari rumah sakit"jelasnya.
Aku sedikit terkejut,jadi Cath belum sehat.
" Bisakah saya dapat alamat rumah sakitnya?"
Bapak tua itu mengangguk dan segera masuk kedalam rumah.
Aku menunggu saja disitu.
__ADS_1
Dan bapak tua itu kembali datang dengan membawa secarik kertas disodorkannya padaku.
Aku menerimanya,memgucapkan terima kasih dan segera pergi dari situ.
*****
Rumah sakit yang lumayan besar,aku segera mencari kamar tempat Cath dirawat.
Kususuri tiap lorong dengan seksama.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah ruang yang sedikit terbuka.
Kulihat Lay dan Cath.
Aku mencoba mengintip dan lebih mendekat.
Lay sedang menyuapi Cath,untunglah.
Berati keadaan Cath sudah lebih baik.
Lay itu tipe penyayang,dia selalu lembut pada siapapun.
Harusnya aku tak boleh cemburu.
Tapi menyaksikan mereka bergurau,tertawa dan kulihat senyum bahagia di wajah Cath.
Kenapa hatiku serasa panas dan sakit.
Tanpa terasa airmataku menetes.
Kuurungkan niatku untuk masuk.
Aku mundur perlahan.
Sudah cukup aku mengetahui tentang keadaan Lay.
Dia baik-baik saja disini.
****
Sepanjang jalan pulang,aku terus memikirkan apa yang tadi kulihat.
Aku berusaha untuk ikhlas,aku tidak boleh egois.
Aku harus percaya pada Lay.
Lay tidak mungkin mengkhianatiku.
Tapi tetap saja airmataku tak bisa kubendung.
Aku tak ingin pulang dulu.
Aku berhenti disebuah taman.
Aku duduk disitu cukup lama.
Hingga kuputuskan untuk menelepon Will.
Aku kangen Will,aku butuh dia sekarang.
"halo,Will...." sapaku,aku tak bisa bicara.
Aku sekuat hati menahan tangisanku.
"Widya,ada apa?kamu menangis?" Will bertanya dengan nada cemas.
Aku tak bisa bicara,rasanya dadaku sesak.
"ada apa Widya,apa yang terjadi,apa Lay menyakitimu?"
Aku menghela nafas panjang dan mencoba menata hatiku.
Jangan sampai Will salah paham pada Lay.
"tidak...bukan.. bukan itu.." aku mencoba bicara.
"Cerita,ada apa?"
__ADS_1
Aku sandarkan tubuhku dan mencoba lebih rilexs.
Dan akhirnya kuceritakan semua resah hatiku pada Will.
Aku tetap gak bisa memungkiri,Will selalu bisa jadi penenangku.
Aku merasa agak tenang saat ini.
Will sempat menyalahkanku karena membiarkan Lay pergi
Namun dia akhirnya bisa juga membuatku merasa tenang dengan kata-katanya.
Bagaimanapun ini harus terjadi.
Disini tidak ada yang salah dan benar.
Semua proses yang harus dijalani.
****
Aku pulang kerumah agak telat sore ini.
Tadi ada tambahan mata kuliah.
Dengan tergesa aku memasuki rumah.
Rassnya aku sudah ingin mandi setelah seharian beraktifitas.
Hei,kenapa pintu rumah tidak dikunci?
Apa tadi pagi aku lupa menguncinya.
Tidak mungkin.
Apa aku lupa ya...
Aku melangkah masuk,rumah masih rapi.
Untung tidak ada pencuri yang masuk.
Aku segera masuk keruang makan dan mengambil air minum.
"hai...." suara seorang wanita.
Aku letakkan gelasku dan menoleh.
Betapa aku sangat terkejut,Cath.
Lay muncul dari dalam kamarnya.
Dia berdiri dibelakang Cath.
Aku rasanya ingin mendatangi Lay dan segera memeluknya,aku kangen banget.
Tapi menyadari ada Cath kuurungkan niatku.
"Em..Widya,maaf.Mulai sekarang,Cath akan tinggal bersama kita."
Bagai sebuah tamparan keras untukku.
Aku tak bisa bicara,kutatap Lay tak percaya.
Tapi segera aku menguasai keadaan.
Kutahan sekuat hati air yang ingin keluar dari mataku.
Mataku mungkin sekarang berkaca-kaca.
Aku berusaha menyembunyikan itu semua.
Aku berbelok arah menuju kamarku.
"Baguslah,jadi lebih dekat dengan...dengan kampus.." ucapku.
Aku segera masuk kamar dan menguncinya.
Aku terduduk dibalik pintu kamar.
__ADS_1
Aku menangis,kenapa?
Kenapa harus seperti ini?