
Seminggu sudah aku disini ,,dirumah mama Maria ibu kandungku.
Hari-hari terasa begitu membosankan,terlalu banyak aturan dan larangan.
Aku benar- benar bisa gila jika terus begini.
Stev selalu mengawalku kemanapun aku pergi.
Mama demikian takut jika aku kabur lagi dari sisinya.
Pagi ini pengacara datang menyerahkan surat kuasa atasku,
seakan aku barang yang tidak punya hati.
Kini aku resmi harus tinggal disini selamanya.
"ambil ini... " sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Kutatap piring berisi kupasan buah didepan mukaku,Stev ...dia sebenarnya penyayang dan begitu perhatian.
Tapi menurutku terlalu keras dan otoriter.
Kuraih piring itu dan kuletakkan ke meja didepanku.
Stev menatapku tajam,aku tak peduli
"makanlah... " ujarnya
Kuambil garpu itu dan kutusuk buah itu dengan gemas.
Tidak ada selera makan sama sekali,
kusuap dengan malas.
Hanya untuk menghindari perdebatan dengan Stev.
Stev duduk didepanku,mengamatiku.
Membuatku jengah dan risih.
"liatin apa sihhh... " gerutuku
"kamu ...." Stev menyilangkan kakinya.
"aku kenapaaa ,, " kutatap Stev balik
"Boleh aku tanya ,,sesuatu ?"
Aku mengangguk
"kenapa kamu begitu tidak ingin bersama kami .."
Aku terhenyak,,hampir saja aku tersedak.
Kuatur nafas dan tidak langsung kujawab.
Setelah beberapa menit kulihat Stev yang masih setia menunggu jawabku.
"bolehkah aku tidak menjawabnya.."
__ADS_1
kataku ,,Stev angkat bahu.
"terserah ... " bisiknya
"Apa pentingnya bagimu tahu aku bahagia atau tidak ? Apa selama ini kamu dan mama pernah peduli padaku ?"
kataku keras.
Stev diam saja
"apa pernah kalian memikirkan perasaanku,
Kalian tidak pernah menganggapku ada bukan ? kenapa sekarang kalian jadi begitu peduli padaku ?"
aku seperti begitu ringan setelah mengatakan semua ini.
Stev duduk dengan tegak dan mengambil buah dipiringku,
dia makan beberapa.
Ekspresinya datar saja,
sudah kuduga dia itu tak punya hati.Percuma ngomong sama orang kaya gini,batinku.
Aku berdiri ,, Stev menatapku
"mau kemana , sudah selesai pertanyaanmu?"
katanya ..
"aku mau kekamar,, percuma ngomong sama kamu." sahutku
"Aku akan jawab semua itu, duduklah."
aku sedikit terkejut ,,
lalu duduk kembali.
Stev menatapku,, dia diam beberapa saat.
"kamu ingat ulang tahunmu pernah dirayain di sekolah saat kamu masih kecil?
Kamu ingat pernah punya sepeda warna biru ? kamu ingat pernah dapat hadiah yang misterius
pada tiap ulang tahunmu?"
aku tatap Stev dengan pandangan tak mengerti.
"itu semua mama yang berikan,dan tidak pernah sedikitpun mama memaksa pada ibumu untuk memberitahumu jika
itu mama yang mengirim untukmu."
Mama ,,?? Kenapa ibu tidak bilang ??
Aku tau alasan ibu,
pasti supaya aku tidak mengetahui adanya mama.
Ya disurat perjanjian itu aku tidak boleh tau sebelum usiaku 17 tahun.
__ADS_1
Aku merasa seakan dipermainkan oleh takdir.
Perkataan Stev terus mengalir satu per satu tanpa henti,
membuatku seakan tersudut oleh keadaan yang mau atau tidak harus bisa kuterima.
Stev mendekatiku ,,pertama kalinya dia usap lembut rambutku,dia rangkul aku.
"dengar ,,kami sayang sama kamu.Mama adalah ibu kandungmu,tidak mungkin mama tidak menyayangimu.Bahkan sangat kamu melebihi aku.Kamu harus tau itu.Mama butuh kamu disampingnya " bujuk Stev
Aku cuma diam,entah rasanya aku masih tidak rela dengan semua ini.
Cepat atau lambat aku memang harus bisa menerima semua ini.
Mungkin inilah waktunya.
Tuhan ,, tolong berikan aku hati yang kuat untuk bisa melihat dan menerima semua ini.
Aku tidak boleh membenci siapapun,semua ini sudah dituliskan oleh takdirku.
"sudah.. jangan menangis.." bisik Stev.
*************
Setelah hari itu aku begitu merasa bersalah dengan mama,aku terlalu keras hati.
Aku ingin sekali menemui mama dan meminta maaf,tapi mama belum pulang dari perjalanan bisnisnya.
Aku keluar kamar dan segera mencari Stev.
Tapi dia tidak ada dimana-mana.
Kemana anak itu,, mungkin dikamarnya.
Kutuju kamar Stev , kuketuk pelan.
Tidak ada jawaban.
Apa dia tidur ? tidak biasanya Stev pergi tanpa bilang padaku.
Aku tidak mungkin mencarinya,
bahkan keluar halaman saja aku tidak pernah.
Rumah selalu dikunci oleh Stev,huft.
Aku berbalik arah dan hendak berlalu,
ketika didalam Stev kudengar ada suara keras.
Berati Stev ada didalam,tapi kenapa tidak menyahut.
Kuketuk lagi pintunya,,
masih tidak sahutan.Mungkin tidak dikunci.
Kucoba buka dan ternyata tidak terkunci.
kudorong pintu dengan pelan.
__ADS_1
Dan ..