
Bahuku disentuh dari belakang, aku sangat terkejut.Kak Aska...
"sedang apa kamu disini....."
ku tutup mulut kak Aska,"ssssttt ,, "
Kak Aska menatapku tak mengerti.
Kutarik tangannya menjauh dari situ.
"ada apa sih. .." kak Aska makin penasaran.
Aku ceritakan semua yang terjadi.
Kak Aska mendengarkan dengan seksama.
"Steven.... " kak Aska bergumam
"jadi. . kak Aska kenal dia.."
belum sempat kuselesaikan ucapanku kak Aska bangkit dan melangkah menuju ruang tamu.
"untuk apa lagi kamu kesini,bukankah semua sudah selesai kita bicarakan.."
kak Aska tiba-tiba menghardik pria itu,ternyata dia bernama Steven.
Aku memegang tangan mama,
Mama menangis, kupeluk mama.
"tidak ,semua belum selesai.Aku masih menuntut keadilan.Aku harus memenuhi permintaan almarhum papaku.."
"permintaan apa,itu semua sudah dibahas dan papamu setuju untuk merubahnya.." kak Aska semakin marah.
Tiba-tiba Will muncul.
"kamu lagi.... " kata Will pada steven.
Ternyata mereka semua mengenal Steven.
"sudah ,, sudah.jangan berdebat lagi.Lebih baik sekarang kamu pulang dan bicara dengan mamamu.Dia bisa menjelaskan semuanya." kata mama
menengahi.
Steven bangkit berdiri,dia tersenyum sinis
"ok aku pergi,tapi ingat.Aku tidak akan tinggal diam saja.Apapun yang aku inginkan.Itu harus jadi milikku",
Will terlihat marah dan hendak memukul Steven,kak Aska memegangnya
" sudah,,cepat keluar dari sini " teriak mama.
Suasana tegang dan membuatku takut..
"tante gak perlu mengusirku,aku akan pergi dari sini.." Steven melangkah pergi.
Sebelum pergi dia menatapku dengan tatapan tajam,seakan ada yang ingin dia katakan padaku.
__ADS_1
Mama terduduk dan menangis..
Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini.
Tapi mau bertanya pun aku takut.
"sudahlah ma,,jangan dipikirin.biarkan saja." kak Aska berusaha menghibur mama.
Will melihatku dan memberi kode dengan mata supaya aku mengikutinya.
Aku segera berjalan mengikuti Will.
Dia naik kelantai atas dan melonggarkan dasinya.
Dia duduk setengah merebah diatas sofa.Dan menarik nafas panjang.
Aku diam saja melihatnya.
"kenapa..?kenapa kamu tidak tanya apa yang terjadi?" tanya Will
Aku mengernyitkan keningku
aku gak paham maksud Will.
"maksud kamu apa?" tanyaku
Will berdiri dan berjalan kearahku.
dia merunduk diatas mukaku.
"harusnya kamu nanya,, nanya ada apa..!" kenapa Will marah
"apa- apaan sih,kenapa kamu marah-marah padaku.." kataku tak mengerti,
Will mendudukanku kembali.
Aku semakin bingung,kenapa Will kasar begini sih.
"Kamu mau tau,ini semua gara-gara kamu.Mama sampai nangis,sedih gitu.ini semua gara-gara kamu.!"
Aku makin bingung,ada apa denganku..
Kak Aska tiba-tiba datang,dan mendorong Will menjauh dariku.
Aku ketakutan sampai aku menangis.
Kak Aska memelukku,Will menendang meja yang ada didepanku.
Aku benar-benar takut saat ini.
"Will..kamu gak seharusnya bersikap seperti ini pada Widya.."
"Kenapa..kenapa gal boleh..benar kan yang aku bilang.ini semua gara-gara dia." Will bicara sambil menunjuk kearahku.
"sudah cukup, masuk kekamarmu." kak Aska membentak Will.
Will pergi dengan muka marah.
__ADS_1
Kak Aska menenangkanku.
"jangan dipikirkan omongan Will barusan.."
aku menatap kak Aska..
"sebenarnya.. ada apa sih kak..?" kataku
Mama tampak sedih,Will terlihat acuh dan marah padaku.
Sementara kak Aska duduk disampingku,dia pegang tanganku dengan lembut.
Aku menangis begitu mereka bicara tentang kebenaran ini.
"kenapa,, kenapa mama tidak bercerita dari dulu.." kataku
Ternyata Steve adalah kakak kandungku.
Aku bukan anak kandung ayah dan ibuku.
Ayah ku dulu tidak mempunyai anak,dia mandul.Dan sebagai sahabat ,mama Lilian mencarikan solusi.Atas permintaan ayah dan ibu.
Karena kebetulan saat itu teman mama lilian yaitu orang tua steve baru melahirkan anak kembar.
Aku punya kembaran,tapi dia lemah dan diusianya 3 tahun dia meninggal.
Perjanjian jika usiaku 17 tahun,aku harus kembali kekeluarga asliku.
Papa kandungku sudah meninggal
Sebelum meninggal dia bilang untuk membiarkanku menentukan pilihanku sendiri.Dan tidak boleh memberitahuku sampai waktunya tiba.
Tapi mamaku kandung tidak setuju,dan tetap aku harus kembali padanya.
Sebelum aku bersekolah disitu,mama lilian pernah menemui mama kandungku untuk membiarkanku dan melepaskanku demi ibu.
Karena kondisi ibu yang sakit.Tapi waktu itu mama kandungku diam saja.
Dia tak memberi jawaban apapun.
Dan sekarang kak Steve datang lagi menjelang dua bulan lagi usiaku 17 tahun.
Will tidak suka karena mama lilian harus terlibat dengan masalah seperti ini.
Dia sangat menyayangi mamanya.
Tapi apa dia pernah memikirkan gimana perasaanku.
Kenapa dia harus marah denganku.
"aku tidak mau pergi ma.. aku gak mau ninggalin ibu." kataku.
Aku berlari kekamarku.
Aku tidak mau pergi,aku tidak mau kemana-mana.
__ADS_1