
Kembali ke rutinitas.
Aku dikenal dengan pribadi yang tertutup oleh rekan-rekan di kantor. Aku hanya akrab dengan beberapa orang saja dan tidak banyak berbagi cerita pribadi. Aku juga bukan tipe orang yang ingin ikut-ikutan tren. Aku selalu merasa sayang jika aku harus menghabiskan uangku untuk hal-hal yang tidak terlalu penting menurutku.
Beberapa gadis yang dekat denganku di kantor, beberapa kali mengajakku untuk hang out tapi sering aku tolak. Aku beberapa kali ikut mereka jika tujuan mereka hanya ke cafe saja. Aku akan tolak mentah-mentah jika
tujuannya untuk ke bar ato ke tempat disko-disko itu. Aku takut ketagihan gaiss, hahaha.
Kerjaanku di kantor lancar-lancar saja, semakin aku mahir semakin banyak bonus yang kuterima. Penampilanku pun semakin berubah dan aku semakin cantik dan semakin modis saja. Puji diri sesekali tidak apa-apa yah.
Aku tidak memikirkan banyak hal-hal kecuali pekerjaan dan keluargaku. Teman-teman kantor beberapa kali mengenalkanku dengan pria-pria jika kami sedang hang out. Aku hanya menyapa sekedarnya saja dan tidak ingin berbasa-basi di chatting ato telpon. Aku tidak ingin memberi harapan pada mereka karena aku tahu dari beberapa pria itu ada yang berniat serius mendekatiku, tapi aku langsung memasang tembok tinggi untuk hal-hal romansa.
"Romansa akan berjalan baik jika aku dan kamu satu level, jika harkat dan martabat
keluargamu dan keluargaku selevel." Itulah yang kutanamkan dalam pikiranku dan aku belajar hal itu dari masa lalu.
"Yna, sepupuku sedang buka usaha cafe jaman now, kita kesana ya Sabtu ini?" Melda teman satu kantor yang saat ini berdiri di hadapanku mengajakku.
Aku diam dan fokus ke dokumen yang di antarnya. Dia dari divisi marketing sedang menyerahkan laporannya.
"Liat ntar ya Mel, kalo aku gak malas." Selalu ini jawabanku untuk ajakan-ajakan mereka.
"Jangan dekam di kamar terus, uang kamu gak bakalan ada yang nyuri, lemarinya jangan dijagain terus," selorohnya.
"Iya, aku baru beli emas dua kilo, ntar kalo aku tinggal ada yang nyuri," jawabku mengimbangi
Melda hanya berdecak.
"Jam tujuh malam aku jemput, no refuses!" katanya sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya kearahku. Hadeh pemaksaan lagi.
Bukan hanya sekali aku di paksa oleh mereka, tapi rata-rata keikutsertaanku selama ini adalah hasil paksaan.
"Dina, Jane dan Sari juga ikut, udah oke, tinggal loe doang," lanjutnya.
"Please deh, Yna, jangan terlalu kuno. Hidup only once. Harus di nikmati lah!"
katanya lagi.
"Sepupu kamu yang mana, nih? Perasaan sepupu kamu banyak bangat dah," tanyaku mengingat beberapa waktu lalu aku pernah dikenalkan dengan sepupunya. Udah dua kali pulak itu. Aku sengaja tidak menanggapi kalimat terakhirnya.
Soal pengalaman hidup, walau aku masih seperempat abad, tapi aku udah sangat kenyang. Mungkin Melda belum pernah mengalami hal seperti yang ku alami.
"Sepupu aku banyak, aku punya keluarga besar, so, bersiaplah akan gue kenalin ke banyak orang terutama cowok," katanya gak mau kalah.
-----------------------------------
Sabtu malam, Rindu Cafe
__ADS_1
"Hai Girls, kenalin sepupu aku!" Melda si gadis ceriwis datang membawa seorang gadis cantik tapi ganteng. Rambutnya cepak dan pakaiannya seperti laki-laki.
"Hai... gua Rindu," sapanya sambil melambai tapi datar.
"Have fun yah, jangan sungkan-sungkan, khusus opening hari ini loe loe semua gua kasih 50% off," katanya lagi dan teman-teman pemburu diskonku mersorak ramai.
Rindu, gadis cantik yang tomboy itu meninggalkan kami dan menyapa pelanggan lain.
Aku memuji kesuksesannya dalam bisnisnya ini.
"Ini cafe keduanya loh girls dan disini kita bisa berekspresi," tunjuknya ke arah panggung. Disana ada pengunjung yang ingin menunjukkan bakat bernyanyi.
Benar, cafe ini menyediakan panggung bagi mereka-mereka yang punya talenta atau bakat-bakat nyanyi, stand up atau main musik.
Kami menikmati malam ini dengan diskon lima puluh persen. What the hell.
Ini udah hampir tengah malam, dan aku sudah bersiap mengajak teman-temanku pulang, tanpa kuduga Melda si gadis perusuh itu naik ke panggung seolah-olah punya bakat saja. Hadehh sadar diri neng.
"Teman gue yang disana, teman gue yang kuno B-G-T, pecinta emas murni dan es batu di kantor, Ynara Ramsey, Gue tantang loe nyanyi ato stand up disini. Taruhannya tas kesayangan yang gue pegang nih,"
tantangnya sembari mengangkat tas tangan mungil yang kutahu harganya sebulan gajiku.
Dasar, perasaan tadi minumnya kopi, kok bisa mabok sih.
Teman-teman laknatku yang lain malah lebih heboh, dukungan tepuk tangan juga aku terima dari pengunjung lain.
Aku berdiri mengatupkan tanganku dan menunduk, aku minta maaf karena menolak tantangan.
Seketika....
HUUUUUUU suara dari pengunjung.
Gadis itu, Melda kimprit menyeringai diatas panggung.
Dengan terpaksa aku melangkah ke panggung. Rasanya kepalaku tambah besar.
Ku akui, nyaliku ciut. Lebih baik bagiku menghadapi partner kerja yang garang yang tidak ramah dari pada berdiri disini. Stand up? Tidak berbakat sama sekali. Nyanyi? Mungkin bisa, karena aku sering konser dikamar
mandi, Main musik? Bisa dong, kan dulu di sekolah belajar musik dan kesenian. Litel-litel sih ai ken lah.
"Well, mari kita dengarkan, bisa apa si es batuini," tantang si Melda kimprit.
Baiklah kawan, bersiaplah kehilangan tas kesayangan
pujaan hatimu itu, jangan menangis nanti.
"Aku terima tantanganmu!" Tantangan di terima dengan sangat formal.
__ADS_1
Aku menyanyikan "Set Fire to The rain" by
Adelle.
Dan pada akhirnya, tas kesayangan pujaan yang di
elus-elus itu mendarat cantik di pundakku.
*****
"Gue kira lo cupu, ternyata suhu."
Pujian dari Rindu terdengar datar. Bukan hanya suaranya yang datar tapi wajahnya juga.
Ini seperti memuji tetapi tidak dengan iklas.
"Thanks, pujiannya." Aku tersenyum tipis padanya. Berharap senyumku menular pada wajah datarnya.
"Nih, save nomer loe disini!" Kurang ajar, minta nomor ponsel kayak lagi
malakin.
"Sorry, aku ng---"
"Gue nggak terima penolakan!" Kan, emangnya siapa kamu, main paksa-paksa?
Dan pada akhirnya, aku yang mengalah. Aku menyimpan
nomer ponselku di ponsel yang dia sodorkan padaku.
"Bukannya ngejelekin mereka ya, mereka teman gue juga walau sebagian baru kenal. Tapi karena gue lihat loe berbeda dari mereka, makanya gue pengen bilang ini sama loe. Saran gue, berteman
dengan mereka boleh, tapi jangan terlalu mengikuti gaya hidup mereka. Gak
bakalan cocok buat loe."
Aku melihat ke arah yang dia tunjuk, disana teman-temanku sedang ngobrol dengan beberapa pria. Sepertinya mereka sangat akrab sampai-sampai tidak ada batasan.
"Loe tau ONS nggak?"
ONS? Apaan sih? pikirku.
"Jangan sampai loe mencoba-coba. Sekali Loe coba, bakalan ketagihan. Mereka itu korbannya," lanjutnya.
"ONS itu apa?" tanyaku pada akhirnya.
"Ngamar satu malam dengan siapa aja, bahkan yang nggak loe kenal."
__ADS_1