
Di Rumah Nara
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita selesai sampai disini."
Nara gadis yang pasif yang tidak bisa mengekspresikan apa yang dirasakannya. Matanya hanya menatap lurus ke layar televisi yang menghitam.
Padahal sedari tadi sejak dia pulang dari cafe sudah ribuan kali dia mengumpati Nathan.
Nathan menatap Nara dengan mata membola. Telinganya belum sakit, kan?
Berakhir?
Selesai?
Benar, Nathan sudah menyakitinya, katakanlah sudah menipunya selama dua tahun ini. Tapi, haruskah berakhir? Tidak adakah kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya?
"Sayang, tolong jangan katakan itu. Beri aku
waktu untuk menjelaskan," Nathan memelas.
Nara bergeming. Menjelaskan apa lagi? Alasan menipunya? Dia tidak butuh itu. Fakta dan kebenarannya sudah terungkap di depan
matanya. Untuk apa lagi memberikan penjelasan?
"Saya---"
"Stop memanggilku sayang, hatiku sakit
mendengarnya ketika aku tahu bahwa itu bukan milikku!" Nara memotong
ucapan Nathan tanpa menolehkan wajahnya pada Nathan. Kaleng soda di tangannya
hampir remuk karena di genggam kuat.
"Please, jangan bilang begitu, aku tidak mau
kita berpisah. Aku tau aku salah sudah berbohong padamu, tapi aku punya alasan. Please sayang, kasih aku kesempatan
lagi ya. Kamu tahu kan, aku itu serius sama kamu. Aku benaran cinta sama kamu.
Only you my sweety!"
Nathan berusaha meyakinkan Nara. Apapun akan dia lakukan agar kekasihnya bisa menerimanya kembali. Dan mereka melanjutkan impian mereka yaitu menikah.
Nathan bangkit dan berjalan mendekati Nara. Dia duduk dengan dengkulnya dan mengambil tangan Nara dan menggenggamnya.
"Aku tau aku pria tidak tau malu karena meminta kesempatan kedua sama kamu padahal jelas-jelas sudah berbohong. Tapi sungguh, aku tidak rela dan tidak terima jika kamu minta pisah. You know how much i do
love you. Aku nggak bisa sayang jika
harus berpisah dari kamu." Nathan menumpukan wajahnya di tangan Nara.
"Please Ynara, aku akan selesaikan secepatnya dengan Delia. Ku mohon beri aku waktu."
Nara menggeleng dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Nathan.
"No Nathan. No second chance. Kita selesai,"
__ADS_1
Nara berdiri dan hendak meninggalkan pria itu sendirian disana. Pikirannya
sudah penuh dengan kalimat Nathan yang barusan, 'aku akan selesaikan secepatnya dengan Delia.' Jika Nara memberikan waktu dan kesempatan pada Nathan dan menunggu pria itu menyelesaikan urusan dengan istrinya, itu artinya Nara benar-benar membuka pintu kepelakoran bagi dirinya sendiri.
"Pulanglah! Perbaiki hubunganmu dengan istrimu. Seperti katamu tadi, Delia istrimu adalah pilihan orang tuamu. Aku akan katakan satu hal padamu, pilihan orang tua bisa jadi yang paling tepat untuk kita."
Akhirnya Nara setara dengan keledai sekarang. Dia jatuh pada hal yang sama untuk kedua kalinya. Beberapa tahun lalu dia mengalami hal ini, dia kalah dari pilihan orang tua kekasihnya. Saat ini juga, dia juga
kalah dalam hal yang sama.
"Terima kasih untuk dua tahun ini, jangan datang kesini lagi dan
bawa itu!" lanjut Nara dan menarik tangannya kasar dari genggaman Nathan, kemudian
meraih amplop yang ada di meja dan
menjejalkannya pada Nathan.
Nara melangkah dengan pelan menuju kamarnya di lantai dua. Jika ditanya bagaimana keadaan hatinya sekarang, jawabannya, sudah hancur berkeping-keping. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa dia mengalami hal yang sudah pernah terjadi. Hatinya menjerit, kenapa aku bisa
sebodoh itu? Kenapa harus lelaki yang terikat dengan perempuan lain yang datang
padaku? Kenapa aku harus lagi-lagi menjadi orang yang di kalahkan?
"Ynara, apa kamu lupa janjimu?" Ucapan Nathan menghentikan langkah Nara yang baru akan menginjak tangga pertama. Tanpa
menoleh pada Nathan, Nara berdiri menunggu kelanjutan kalimat dari pria yang
sudah menipunya itu.
"Bukankah kamu sudah berjanji untuk tetap ada di sisiku dalam keadaan apapun? Apa kamu sudah lupa?" Nara tidak lupa,
kekasih orang lain, ini bahkan suami orang lain. Apakah Nara masih waras jika
bertahan dengan pria itu?
"Aku dan Delia menikah saat aku baru pertama kali bertemu denganmu. Itu pernikahan yang sudah di rencanakan dari beberapa tahun silam, tapi aku selalu mengulur waktu karena aku tidak mencintai Delia pun sebaliknya." Nathan memulai kisah pernikahannya walau Nara tidak
memintanya untuk bercerita.
"Perusahaan papa sedikit terguncang karena papa tiba-tiba sakit dan di tipu oleh rekannya. Papanya Delia membantu dan meminta
aku yang membayarnya dengan menikahi anaknya. Aku meminta waktu dan tentunya
itu hanya alasan. Aku bekerja keras dan mati-matian dengan tujuan agar aku bisa
menstabilkan perusahaan papa dan mengembalikan dana yang di berikan."
Posisi keduanya masih sama. Nathan berdiri menghadap punggung Nara. Tidak ada respon dari Nara. Bahkan untuk berbalik saja dia tidak mau. Apa dia tidak tertarik dengan kisah yang sedang di katakan Nathan?
"Para orang tua itu ternyata menjeratku. Di belakangku, mereka bahkan memulai kerja sama yang lain, proyek yang sekarang ada di Surabaya dan Medan. Setelah di sepakati, mereka melimpahkannya padaku dan orang tua Delia minta bayarannya saat itu juga."
Nathan menunduk karena menyadari bahwa dia pria yang lemah yang tidak bisa menolak desakan orang tua. Tidak berani menyuarakan keinginannya
karena seluruh anggota keluarga akan mejadi lawannya.
"Aku tidak bisa menolaknya Ynara karena sesuatu hal. Mulutku tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak karena apapun itu yang keluar dari mulutku hanya
terdengar omong kosong bagi mereka." Kali ini Nathan benar-benar menitikkan air mata.
__ADS_1
"Saat aku sudah pasrah dengan jalan hidup yang sudah di tentukan, aku bertemu denganmu ketika meeting. Aku tidak tahu sihir apa yang kamu miliki di senyummu. Aku seolah-olah mendapat kekuatan dan
kehidupan baru. Aku jatuh cinta padamu saat itu dan bertekat akan mendapatkan
cintamu padahal pernikahanku sudah di depan mata."
Nathan mendengus sejenak lalu bergumam, "aku benar-benar pria brengsek, kan?"
"Sepanjang malam, setiap hari, aku memikirkan bagaimana cara untuk bisa dekat denganmu. Dan aku terlena karena cintaku. Aku memilih untuk berbohong padamu, berharap segera apa yang di tugaskan padaku
bisa selesai secepatnya dan pergi membawamu ke tempat lain jauh dari
orang-orang disini. Aku bahkan tidak keberatan jika harus tinggal di kampung
halamanmu dan melepas semuanya itu. Tapi, ..."
Nathan menunduk dan memijit pelipisnya sendiri.
"Kebohongan tetaplah suatu kebusukan yang suatu saat akan terbongkar. Hari ini, kesialan terbesar dalam hidupku terjadi."
"Bukan hanya kesialan untuk dirimu. Tapi hari
ini juga kesialan bagiku. Aku sungguh menyesal sudah mengenal dan sudah jatuh
cinta padamu. Selamat Nathan, you broke my heart in to a pieces."
Nara berputar usai berucap. Terlihat wajahnya sangat memerah pun dengan matanya. Dia tersenyum dengan raut datar tanpa ekspresi.
"Nathan, aku menghargai dan berterima kasih atas cintamu yang besar padaku. Tapi maaf, aku tidak berniat untuk tetap berdiri di
sisimu saat sisi itu adalah milik wanita lain. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku."
"Sayang, i told you, i never felt in love with
Delia. Please Ynara, tolong tarik ucapanmu. Please just say if you give me a
second chance. Aku janji sayang, aku akan menyelesaikannya secepatnya. Apa kamu
ingat selama dua tahun ini kita bersama, apa aku pernah berbohong padamu? Aku
selalu jujur, aku hanya berbohong soal status menikahku padamu, aku---"
"Dan itulah masalah kita sekarang!"
Nara berteriak memotong ucapan Nathan.
"Kamu bilang kamu jujur? Heh! Apa mulutmu tidak bergetar mengatakan itu? Kamu tidak jujur Nathan. You Lied to me." Nara
menarik napas dan juga buang napas. Sejenak dia memejamkan matanya untuk
mengembalikan emosinya.
"No second chance for liar like you. Silahkan
keluar dari rumahku!" Nara mengusir Nathan dengan datar.
"Ynara..."
"KELUAR!!!"
__ADS_1