
Makan siang bersama yang tidak pernah di harapkan oleh Jonathan. Tidak masalah jika ada acara makan malam keluarga tapi makan
siang begini dengan dua wanita yang sungguh sangat ingin di hindarinya
merupakan mimpi buruk baginya.
"Kenapa tidak pulang saja makan siang, Jo? Kan rumah ke kantor dekat. Lebih sehat dan higienis." Nyonya Marta memulai pembicaraan sekaligus memecahkan keheningan di antara mereka bertiga.
"Kalau siang macet, bisa makan waktu lama juga. Lebih baik di kantor. Kan ada kantinnya. Itu juga higienis." Nathan menjawab tanpa menoleh pada Mamanya.
Keheningan kembali menyapa ketiganya untuk beberapa saat. Masing-masing mereka sedang memikirkan apa yang akan di ucapkan untuk mencairkan suasana. Nyonya Marta jelas tau bahwa Jonathan saat ini kurang nyaman. Dia tahu sejak dari kecil,
Nathan tidak pernah nyaman pada dirinya.
Sementara Delia, dia sedang memikirkan, apakah yang di katakan Nathan benar atau tidak. Siapa yang tau, bisa saja Nathan sering
makan berdua dengan Nara di suatu tempat tersembunyi. Sama seperti dia dan Langit.
"Jo, tadi Mama habis dari rumah kalian."
Kalimat singkat nyonya Marta akhirnya mengundang perhatian Jonathan. Dia
mengangkat wajahnya dan memandang Mamanya sambil mengunyah pelan. Alisnya
terangkat seperti bertanya, Lalu?
"Mama tadi keliling dan banyak sekali yang
perlu di renovasi disana, Mama tadi udah bilang Delia. Nanti bisa kalian bicarakan."
Delia mengangguk samar pada ucapan mertuanya.
"Mama suruh panggil tukang taman dan bikin
taman di samping juga tukang yang bisa bikin gajebo di dekat kolam," ujar
Delia seraya menatap Nathan.
"Lakukan saja! Mana baiknya saja."
Apa yang bisa Nathan katakan selain iya? Jika mereka ingin merenovasi ya renovasi saja, toh itu rumah pemberian mereka. Atas nama Delia juga itu. Biar mereka yang atur saja.
"Apa setelah ini kamu sibuk di kantor,
Jo?" tanya nyonya Marta.
"Ya!"
Nyonya Marta hanya menghela napas berat melihat sikap Nathan yang tidak berubah bahkan sudah dua puluh tahun lebih. Kata-kata yang sudah di susunnya untuk di bicarakan dnegan Jonathan dan Delia kembali tertelan.
Ketiganya menghabiskan waktu makan siang dan lebih banyak diam. Sungguh keluarga yang terlihat harmonis di luar tapi berperang
batin.
"Mama ada acara, sudah janjian. Bisakah kamu antar Delia pulang, Jo?"
Sebenarnya Jonathan sungguh ingin menggebrak meja, tapi bahkan berdecak tanda kesal pun dia tak sanggup.
"Ya!" Hanya jawaban singkat itu yang bisa
dia berikan. Dua wanita disana tahu betul bahwa itu tidak iklas.
*****
"Maaf ya, Jo. Tadi mama bilang akan mengantarku pulang, makanya aku ikut di mobil Mama." Delia yang tidak tahan duduk
dalam keheningan akhirnya buka suara. Sudah setengah jam perjalanan menuju ke
rumah dan ini kalimat pertama yang terdengar di dalam mobil Nathan.
Benar kata Nathan, kalau siang macet. Jarak tempuh dari restoran mereka makan tadi ke rumah bisa saja tiga puluh menit jika tanpa
adanya macet-macet begini.
"Ya, tidak apa-apa."
Sebenarnya Nathan sungguh ingin menanyakan tentang
Langit. Tapi dia tidak menemukan kata yang cocok sebagai pembukaan. Akhirnya
__ADS_1
dia memilih diam hingga mereka memasuki komplek perumahan mereka.
"Delia," panggil Nathan pelan dan
menghentikan tangan Delia yang hendak membuka pintu mobil.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Nathan saat
pandangan mereka bertemu.
"Tentu!" jawab Delia dengan senyum yang
sayangnya sangat sia-sia karena tidak ada balasan.
Keduanya kini duduk di ruang makan. Sebelum sepatah
kata keluar dari mulut Nathan, Bi Narti datang dan membawa dua cangkir kopi.
"Terima kasih, Bi." Nathan mengangkat
cangkir itu dan menyesap kopi hitam itu.
Delia bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa yang akan di bicarakan oleh Jonathan? Apakah akan jujur mengenai Nara?
"Delia, aku ingin membicarakan mengenai
ucapanmu waktu itu mengenai kamu punya pacar. Waktu itu, kita belum membahasnya
karena aku terdesak oleh suatu hal." Nathan mengatakannya tanpa menatap Delia.
"Apa kekasihmu itu serius padamu? Maksudku, jika kalian hanya bermain-main dan hanya untuk bersenang-senang saja, akan sulit meminta izin bercerai pada orang tua kita."
"Kami serius. Hanya saja kami tidak bisa
melanjutkannya ke tahap selanjutnya karena kami terhalang statusku," jawab Delia.
"Apa kamu memberitahukannya?"
"Iya, sejak awal kami memutuskan untuk
berhubungan, aku langsung memberitahukannya," jawab Delia jujur.
Sebenarnya, Nathan sudah bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan jika dia membicarakan perceraian. Selain makian, segala hal kebaikan keluarganya padanya akan di ungkit dan perceraian itu tidak akan
berjalan mulus. Tapi, waktu terus berjalan, sampai kapan dia dan Delia akan
terjebak pada pernikahan dan rumah tangga semu ini.
"Aku sudah bisa prediksi, ini tidak akan
berjalan baik dan mulus, terutama dari keluargaku. Jika nanti mereka menolak,
bisakah kamu bertahan untuk meminta cerai? Artinya, kita harus melawan
mereka."
"Oke, aku ngerti. Haruskah aku katakan bahwa aku punya kekasih jika di tanya kenapa kita tidak bisa melanjutkan pernikahan?" tanya Delia. Sebenarnya dia ingin memancing Nathan supaya nathan juga mengakui bahwa dia punya kekasih walaupun dia tidak memberitahukan siapa orangnya.
"Aku rasa tidak perlu, nanti bisa berimbas pada Langit," tanpa sengaja Nathan menyebutkan nama kekasih dari istrinya dan
itu membuat Delia kaget dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya
melotot pada Nathan seperti mempertanyakannya?
"...!!! Kamu tau?"
"Ya." Datar Nathan menjawab. Tidak terlalu
menanggapi reaksi terkejut dari Delia.
Delia jadi berpikir, mungkinkah Nara yang
memberitahukannya? Sudah sejak kapan Nathan tahu bahwa Dia berpacaran dengan
Langit? Mulutnya terbuka hendak menanyakan dari mana Nathan mengetahuinya.
"Aku baru tahu akhir-akhir ini." Nathan
memotong Delia yang belum menyuarakan pertanyaannya. Nathan tersenyum saat melihat Delia yang menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
"Aku melihat kalian beberapa hari yang lalu di
club." Di club? Mungkinkah?
"Apa selama ini Langit tahu bahwa aku dan kamu menikah?" tanya Jonathan lagi lagi memutus Delia yang hendak bertanya.
Sedari tadi, dia berharap Jonathan mengatakan soal Nara. barusan dia sudah
punya kesempatan untuk menyinggung tapi sepertinya Jonathan mengetahui isi
pikirannya. Jonathan selalu langsung bertanya ketika pertanyaan delia sudah
berada di ujung lidahnya.
"Hmm, tahu. Sudah ku bilang, saat kami
memutuskan untuk berhubungan, kami saling jujur satu sama lain."
"Sudah berapa lama?"
"Hmm? Berapa lama hubungan kami?" tanya
Delia seraya menunjuk dirinya sendiri.
Jonathan mengangguk mengiyakan pertanyaan Delia.
"Hmm, hampir satu tahun mungkin, atau udah
lebih."
"Aku minta maaf ya Del, karena aku sangat
lambat menangani proyek orang tua kita. Aku jadi fokus kesana dan menunda
perceraian kita. Aku senang, kamu tidak
terjebak dalam tali pernikahan kita yang tanpa arah ini. Aku juga senang, kamu
mendapatkan seseorang yang kamu cintai dan mencintai kamu. Lebih lagi, dia bisa
menerima kamu, menerima status kamu." Ada rasa senang tetapi ada juga
sedihnya. Jika Delia bisa di terima oleh Langit, kenapa kamu tidak bisa
menerimaku, Ynara? tanya Jonathan dalam hati.
Delia merasakan kesenduan dari kalimat Jonathan. Dia hanya tersenyum canggung menanggapinya. Sepertinya, menyinggung soal Ynara bukanlah hal yang tepat sekarang, batinnya.
"Aku harap kamu juga menemukan seseorang yang kamu cintai dan mencintai kamu, Jo."
"Tapi, aku tidak seberuntung kamu, Del. Dia
marah saat mengetahui aku sudah menikah, walau aku sudah menjelaskan bagaimana
pernikahanku, tetap saja dia mendorongku menjauh."
"Mungkin kamu kurang berusaha."
"Aku bahkan di usir dari rumahnya malam
itu."
Delia berharap Jonathan lupa dengan siapa dia bicara saat ini. Dia berharap Jonathan mengakui Ynara sebagai kekasihnya.
"Two years, tapi itu belum cukup baginya untuk memaafkan aku."
"Maksud kamu? Maksudnya dua tahun berpacaran?"
"Hmmm"
"Bahkan sebelum kita menikah?"
"Nggak, aku jatuh cinta padanya saat tanggal
pernikahan kita sudah di tentukan. Dan akhirnya aku berbohong demi bisa
mendapatkan cintanya."
"Lalu?"
__ADS_1
"Dia Ynara, kamu pasti kenal."