KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
37. KEJUJURAN LANGIT


__ADS_3

"Jadilah pria sejati, jangan pengecut!" Kalimat Nara beberapa hari yang lalu selalu berputar-putar di pikiran Langit apalagi setiap kali dia melihat Nara duduk manis di mejanya sambil bekerja.


Dasar! Pengen sekali dia memaki Nara dan berkata jangan sok tahu tapi lagi-lagi apa yang di ucapkan Nara itu benar. Apalagi Nara di dukung oleh pernyataan Andy yang merupakan sepupu kental Langit.


Sore itu saat Nara tidak masuk kantor.


"Mas!" Panggil Langit pada Andy.


"Bisa bicara sebentar?" Andy hanya mengangguk dan berjalan ke ruangannya di ikuti oleh Langit.


Sesampai di ruangan, Langit malah diam. Tidak tau haru memulai dari mana.


"Mau diam sampai kapan? Bukannya tadi kamu minta waktu untuk bicara?" Andy memecah keheningan di antara mereka.


Langit menatap Andy sejenak, mulutnya terbuka lalu tertutup lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ada banyak yang ingin dia tanyakan pada sepupunya ini, tapi kata untuk memulainya belum dia temukan.


"Jangan buang-buang waktu terlalu banyak Langit. Kalau memang kamu belum punya pertanyaan atau kalimat untuk di ucapkan, lebih baik kamu keluar. Aku tidak punya waktu untuk menunggumu bicara."


"Apa mas Andy mengenal Sisca sebelumnya?" Langit bertanya pelan. Sejak membaca pesan yang di kirim Sisca semalam, dia juga jadi kepikiran.


"Apa maksudmu?" Alis Andy menyatu saat bertanya.


"Aku hanya bertanya, karena aku mendengar kamu menyebutkan nama lengkapnya semalam."


"Dasar bodoh! Diakan tamu disini, saat pertama masuk, dia meninggalkan KTP nya di bawah di meja resepsionis. Kebetulan aku lagi di loby. Jadi aku tanya siapa, dan Jane menunjukkan KTPnya dan bilang dia itu tamumu."


Langit mengangguk tanpa melihat ekpresi wajah Andy yang tersenyum sinis mengejeknya karena sudah percaya.


"Cuma mau tanya itu sampe perlu waktu untuk berpikir. Emangnya kenapa dengan kekasihmu itu? Apa dia mengenalku juga atau pernah melihatku di suatu tempat gitu?" pancing Andy.


Langit hanya mengendikkan bahu.


"Sebenarnya, bukan itu tujuanku mau ajak kamu bicara, Mas. Hanya saja aku tiba-tiba teringat itu makanya aku tanyakan. Sebenarnya, aku mau ajak kamu ke rumah Nara, Mas. Aku nggak berani pergi sendirian kesana."


Andy mengerutkan kening saat Langit menatapnya.


"Aku mau minta maaf dan mau ajak dia kembali ke kantor. Aku tidak mau dia resign, Mas."


"Bukannya kamu mau memecatnya?"

__ADS_1


"Itu --- itu-- itu karena aku emosi, Mas. Jadi asal keluar aja dari mulutku. Kamu tahu kan, mulut Nara itu pedas. Aku nggak siap dia mendengarkan omelannya yang akan terus memojokkan aku, makanya aku teriak semalam dan bicara kelepasan."


"Ck, Kurang baik apa Nara sama kamu Lang Lang. Dia itu kompeten. Aku kira dia akan mudah cari kerja lain di luar sana. Tapi dia setia sama kamu dan sabar menghadapi kamu yang masih labil antara mau jadi pimpinan disini atau jadi berandalan kaya-raya."


Langit menunduk. Benar kata Andy. Sejak papanya pensiun, Nara bisa saja cari kerjaan lain di luar.


"Aku rasa kamu tidak sadar. Sering Nara mendorongmu untuk lebih berani dan dia berusaha untuk menyadarkan mu bahwa kamu mampu dan pantas, bukan malah merasa selalu di paksa untuk duduk disini. Bahkan dia selalu melaporkan perkembanganmu pada om Anwar, walaupun itu bukan hasil kerjamu. Tujuannya apa? Supaya kamu makin di akui dan di puji mampu."


Langit seharusnya berterimakasih pada Nara, kan? Langit bodoh! Malah kamu udah nyakitin Nara semalam, ucap Langit dalam hati.


"Aku akan temani kamu kesana, karena jujur, aku juga tidak ingin kehilangan Nara. Aku tidak mau repot menghadapimu. Dari aku pribadi, karena aku lihat kamu menikmati posisimu, maka jadilah pemimpin yang cerdas dan berani Lang. Jangan jadikan posisi kamu disini sebagai alasan kamu di kendalikan orang tuamu. Sangat tidak pantas berpikir begitu, karena kamu menikmatinya."


Back to now:


"Kurang sejati apa aku, Nar? Sisca dan perempuan lainnya itu sampai berteriak-teriak merasakan kesejatianku," gumam Langit.


"Kalau kamu kurang yakin, kamu bisa mencobanya, heheheh," lanjutnya seolah-olah sedang bicara langsung pada Nara.


Sudah tiga hari Nara masuk kerja setelah libur dua hari. Tapi kecanggungan masih terasa di antara keduanya. Apalagi setiap kali Nara keruangan Langit. Matanya selalu mengarah ke arah sofa dan bayangan kejadian beberapa hari lalu masih belum hilang dari mata dan pikirannya.


Langit sudah mencoba mencairkan kecanggungan mereka tapi masih belum berhasil. Gadis itu masih saja bekerja dengan wajah datarnya.


Para karyawan di kantor bahkan ada yang berpikir kalau Langit dan Nara sedang bertengkar karena Langit mempunyai perempuan lain. Dengan kata lain, mereka mengira Nara dan Langit punya hubungan khusus. Apalagi selama ini, mereka melihat Nara dan Langit sangat dekat, bahkan Nara tak segan-segan melotot pada bosnya itu.


Ya, sejak kejadian itu. Sisca belum berani menampakkan wajahnya di kantor Langit. Dia malu pada Nara.


Apalagi jika mengingat wajah datar Andy saat menyebut namanya. Sungguh hal menakutkan.


*****


Pikiran Langit belum tenang. Nara berhasil memporak porandakan mentalnya. Akhirnya dia membuat suatu keputusan.


"Pa, ada yang mau Langit omongin," ujar Langit saat makan malam bersama di rumah orang tuanya. Akhir-akhir ini dia sangat sering berkunjung ke rumah orang tuanya dan tentu saja mamanya sangat senang dan semakin rajin memasak.


"Apa sangat penting?" Tuan Anwar bertanya.


"Sangat!"


"Aku mau jujur tentang problema diriku sendiri, berarti ini sangat penting. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku tidak mau dibayang-bayangi oleh kalimat kedua orang itu. Bisa pecah kepalaku," lanjut Langit dalam hati.

__ADS_1


"Sekarang aja! Papa ada kerjaan nanti habis makan,"jawab tuan Anwar sambil terus menyuapkan makan malamnya.


"Kerja apaan? kan udah pensiun. Bilang aja gak mau diganggu 'metime' bersama mama. Udah tua juga masih


berlagak sok muda," dumel Langit dalam hati, masih tak punya nyali protes langsung.


"Langit punya pacar, pilihan Langit sendiri, Lang gak mau di jodohkan sama Dewi, lagian Lang nggak punya perasaan apa-apa sama Dewi." To the point tanpa pembukaan.


"Akhirnya aku udah jadi gentlemen Nara," sorak Langit dalam hati.


Detik itu juga denting sendok nyonya Melinda berhenti. Wanita paruh baya itu menatap putra sulungnya meminta penjelasan. Jelas saja butuh penjelasan lebih lanjut karena beberapa kali Langit pergi berdua dengan Dewi dan  Dewi selalu melapor padanya. Karena itulah, nyonya Melinda berharap besar karena sudah mengira sudah ada perkembangan hubungan anaknya dan Dewi.


"Langit nggak punya rasa Ma sama Dewi, udah coba beberapa kali jalan bareng, udah ikutin saran Mama, cuma Langit rasanya flat gitu, Mam. Langit udah mau ngomong ini dari kemarin pertama jalan sama Dewi tapi Langit nggak enak sama Mama, makanya Langit coba lagi tapi tetap nihil." Langit sambil menatap mamanya berharap sang mama mengerti.


"Apa yang kurang dengan Dewi, Bang? Dia gadis mandiri dan  punya karir yang bagus."


Langit hanya menggeleng.


Nyonya Melinda menghembuskan napas pelan setelah meletakkan sendok di piring.


"Kamu nggak ngapa-ngapain dia kan, Bang? Kamu nggak lagi lepehin kan?" tanya mamanya was-was.


Wajar sih sampai was-was begitu, karena sudah tahu kemana Langit membawa Dewi.


Langit membuang napas pelan,begini nih nasib kalo keburukan udah terdengar sampe ke telinga orang tua.


Apa-apa dicurigai. Lagian si Dewi kok gitu sih, childish bangat, masa curhatnya sama mamaku, batinnya.


"Gak lah, emang Langit pria apaan?" Langit mensetting wajahnya pura-pura kesal karena di curigai.


"Mama tau sepak terjang kamu, Bang" lanjut nyonya Melinda masih belum percaya dan tuan Anwar hanya diam


mendengar saja.


"Benaran, Ma. Langit berani sumpah dah, lagian Langit juga pasti mikir dua kali sebelum apa-apain dia. Atau dia ada ngomong sesuatu sama Mama? Kalian kan teman curhat," sindir Langit di akhir kalimatnya.


Mama hanya berdecak, tidak terima dengan pernyataanku.


"Kalau nanti ketemu Dewi, ngomong langsung! Jangan dikasih harapan. Papa liat kayaknya dia senang dijodohin sama kamu. Kalau kamu udah beres ngomong, nanti Papa yang ngomong ke Om Rapi."

__ADS_1


"Syukur pada Tuhan, ternyata papaku pengertian sekali," ucap Langit dalam hati sambil mengangguk senang.


"Trus itu pacarmu, kamu gak lagi main-mainkan? Pikirkan nama baikmu kedepannya, nama baik keluargamu, keluarganya dan juga perusahaan," lanjut tuan Anwar kalem tapi membuat Langit ketar ketir. Apa Sisca benar-benar diselidiki?


__ADS_2