KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
58. 200 JUTA


__ADS_3

"Sudah tenang?"


Nara bertanya pada pria yang bersandar di bahunya.


"Kamu berat, bahuku sakit!" ucapnya datar dan pelan.


Pria itu mengangguk samar. Sebelum dia mengangkat kepalanya, terlebih dahulu Nathan mencium pundak gadis itu hingga terdengar bunyi kecupannya. Persis seperi bayi yang di paksa mencium tantenya demi sebuah hadiah.


"Apa kamu bisa menyetir? Oh, kamu kesini naik apa?"


Nathan membolakan matanya usai mendengar kalimat pengusiran yang teramat halus itu.


"Yang, apa aku boleh menginap?" Nathan dengan wajah putus asanya bertanya.


Dia berlari ke rumah Nara dengan kecepatan di atas rata-rata hanya untuk mendapatkan pelukan dan dukungan saat ini tapi apa? Malah di usir.


"Aku bukan saudaramu Nathan, bukan juga teman atau sahabatmu apalagi aku bukan orang baik yang akan memberikan tumpangan pada orang asing. Pulang lah!"


Nara melangkah mundur dan tidak mempersilahkan Nathan untuk masuk.


"Ynara, kenapa kamu kejam sekali? Aku baru saja bertengkar dengan papaku dan aku baru saja di buang dari keluarga Sagara. Haruskah kamu ikut-ikutan membuang aku juga?" Nathan nyaris berteriak kesal karena kerasnya kepala Nara.


"Saat aku meninggalkan rumah papaku, tempat pertama yang aku ingat untuk menjadi tujuanku dan mendapat cinta dan kasih sayang adalah rumah ini dan pengisinya. Tapi, apa aku di buang juga dari sini? Tega sekali kamu Ynara."


Bertengkar dengan papa, di buang dari keluarga. Kepala Nara hampir pecah karena dua kalimat itu. Pikirannya langsung berkata, mungkinkah karena Nathan merealisasikan perkataannya waktu itu?


"Apa ini ada hubungannya denganku?" tanyanya dengan alis terangkat.


"Hehehe, ada, sedikit!" jawab Nathan sambil melangkah.


"Ijin nginap ya, Sayang! Aku tidak punya tujuan lain."


"Apartemen kamu kan ada? Rumah kamu kan ada?"


"Di rumah ada Delia. Di apartemen bayangan kamu selalu mengganggu. Disini aja. Aslinya langsung. Bukan bayangan."


Nara berdecak karena jawaban Nathan.


Otaknya berpikir keras, kira-kira apa alasan lain untuk mengusir pria yang semakin tampan karena tersenyum ini.


"Senyum-senyum lagi, aku jadi berpikir, jangan-jangan tadi hanya sandiwara kamu."


"Astaga, Yang! Aku beneran. Lihat ini, pipiku masih merah bekas tamparan nyonya Sagara." Nathan menoleh ke samping guna menunjukkan bekas tamparan di pipinya.


Ada sedikit sisa kemerahan di pipi kiki Nathan. Tangan Nara gatal ingin menyentuh pipi itu.


Seolah tahu keinginan kekasihnya, Nathan meraih tangan Nara dan meletakkannya di pipinya.


"Hanya di sentuh begini sama kamu, udah langsung sembuh rasaku," ucap Nathan sambil menutup matanya sendiri.


"Gombal," jawab Nara pura-pura kesal tapi bibirnya berkedut karena menahan senyum.


*****


"Kamu habis ini pulang, Rindu nggak ada di rumah." Nara menahan kompres di pipi Nathan. Keduanya duduk di sofa ruang tengah.


"Kemana dia?"


"Pulang ke rumahnya mungkin. Cuma tadi dia text. Nggak pulang, makanya aku matikan lampu semua. Malah kamu yang datang di larut malam."


Nara mengomel tapi tangannya tetap menahan kain pengompres di pipi Nathan.


"Ini kamu kenapa bisa sampai di tampar?"


tanya Nara ingin tahu. Mampus aku kalau ini gara-gara aku, batinnya.


"Aku dan Delia ke rumah. Kami minta ijin cerai. Tapi ..." Kalimat Nathan menggantung. Dia menatap Nara yang tertunduk dan pengompres itu sudah tidak di pipinya lagi.


Nathan mengambil pengompres itu dan menempelkan sendiri di pipinya sebentar kemudian di letakkan di baskom di atas meja.


"Seperti yang aku bilang. Aku dan Delia sudah sepakat. Delia juga ingin segera meresmikan hubungannya dengan bos kamu. Tapi sedikit sulit, papa nggak kasih ijin. Jadinya kami ribut."

__ADS_1


Nathan meraih tangan Nara.


"Sayang, ada satu hal lagi yang ingin aku kasih tau ke kamu. Aku nggak mau lagi kamu mengetahui ini dari orang lain." Nathan menatap Nara.


"Sebenarnya..." Kalimatnya terhenti. Nathan menarik napas berat. Ini sebenarnya rahasia. Dan aib keluarga Sagara. Tapi, jika sampai Nara mengetahuinya dari orang lain contohnya Delia yang sudah mendengar kebenaran yang terungkap tadi. Nara pasti akan menilai Nathan tidak jujur.


"Mamaku yang sekarang bukanlah ibu kandungku!" ungkapnya seraya menunduk. Ibuku bernama Hanna dan sudah meninggal saat aku SMA karena depresi berkepanjangan."


Mendengar suara sendu Nathan. Nara mendekat lalu memeluk Nathan.


'Syukur aku masih punya orang tua hingga sekarang. Aku bisa merasakan kasih sayang lengkap dari orang tua bahkan hingga aku berumur menjelang tiga puluh', batin Nara.


"Ibu depresi karena di tipu oleh papaku dan mama Marta mengambilku," lanjut Nathan. Dia pernah mendengar cerita itu ketiga ibunya membaik. Ibunya menceritakan kelicikan keluarga itu. Dan meminta Nathan untuk tidak meniru sifat papanya.


Tapi, Nathan malah hampir mengulang sejarah.


"Maaf kan aku Sayang karena menipumu kemarin. Aku tidak bermaksud. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan dengan Delia dalam diam. Dengan begitu, tidak ada orang yang membicarakan kamu ataupun Delia yang berhubungan dengan Langit saat masih berstatus istriku."


*****


Nathan memandangi wajah cantik yang terlelap di pelukannya. Tangannya yang kebas di tahankannya demi bisa memberi kenyamanan pada Nara yang masih terlihat sangat pulas. Untung hari ini hari minggu, jadi tidak perlu ke kantor.


Tangan kanan Nathan terangkat dan menyisihkan helaian rambut Nara yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kamu semakin cantik. Rasanya sudah sangat lama aku tidak menyentuh wajah cantikmu ini," gumamnya.


"Aku harap, tanda yang sudah aku sematkan di wajahmu ini sebagai tanda kepemilikan ku, masih ada dan bertahan sebentar lagi. Aku akan menjadikanmu satu-satunya milikku," lanjut Nathan dan mengecup sekali pipi Nara.


'Mengurus perceraian dengan Delia tidak akan sulit,' batinnya.


Nathan tersenyum saat melihat mata Nara sedikit bergerak dan akhirnya terbuka perlahan.


Nathan terkekeh karena sambutan selamat pagi yang di ucapkan Nara.


"Huff, lagi-lagi terpengaruh sama ini orang. Kayaknya pelet kamu jitu," ucapnya kala menyadari dia yang sudah luluh bahkan mereka tidur bersama.


"Aku senang sekaligus bangga mengakui kekuatan pelet yang ku miliki. Sepertinya aku harus memperkuatnya lagi biar kamu nggak oleng-oleng lagi."


Hadiah lima jari di lengan Nathan oleh Nara.


"Jangan harap aku bisa luluh lagi. Tadi malam aku khilaf dan belum berdoa sebelum kamu datang."


Nathan membalasnya dengan tawa dan pelukan yang makin mengerat, sesekali bibirnya mendarat di kepala gadis itu. Tangan gadis itu juga terangkat dan membalas pelukan Nathan. Entah sadar atau tidak tapi kepalanya kini semakin menempel di dada Nathan.


Apa hatinya sudah terbuka kembali menerima Nathan?


*****


Nara sedang berbelanja di salah satu mini market yang bertebaran di pinggir jalan. Tidak banyak yang akan dibeli hanya bahan-bahan penting untuk mengisi stok kulkas karena sepertinya orang yang biasa mengisinya lupa atau pura-pura lupa. Nara memilih beberapa minuman kaleng bersoda dan beberapa cemilan.


"Rindu sangat suka ini, sebaiknya aku beli lebih dari satu," gumamnya melihat kemasan keripik yang biasa di tenteng oleh Rindu.


Tidak ada ikan atau daging disini. Juga sayuran segar. Dan Nara tidak terlalu ambil pusing karena di rumah masih ada dan cukup untuk persediaan tiga hari ke depan untuk berdua atau bertiga jika Nathan datang.


Sejak tiga hari lalu, Nathan jadi lebih sering berkunjung setelah lampu hijau yang mulai menyala dari Nara.


Saat dia datang, Nara kadang mengomel tapi di tanggapi Nathan dengan santai,


"Aku sekarang pengangguran dan sedang proses cerai, jadi kemana aku pergi cari makan gratis selain ke rumah kekasihku?"


Saat akan pulang, Nara seperti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Ynara?" Seseorang itu memanggil dengan


nada ragu-ragu.


Nara menoleh ke sumber suara dan melihat seorang wanita paruh baya dan gadis pirang sedang menatapnya. Nara menunjuk dirinya


sendiri memastikan apakah benar yang di maksud oleh wanita itu adalah dia atau tidak.


"Iya, kamu," jawab wanita itu dengan elegan.

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar " tanyanya sambil


melirik ke sekeliling dan kemudian mengarahkan tangannya ke sebuah cafe kecil di seberang mini market.


Nara mengangguk dan berkata akan menyimpan belanjaannya dulu di mobil. Lalu dia berjalan mengikuti dua wanita beda generasi itu.


Ketiganya duduk di meja paling sudut.


"Saya Marta dan ini putriku Sarah," kata


sang nyonya lalu melambaikan tangan ke pelayan. Tidak ada pembicaraan lain


sampai pesanan selesai di catat.


'Ah iya, aku pernah melihat dua orang ini saat di cafe Rindu, pantesan aja aku tadi merasa seperti pernah melihat. Huf, keluarga Nathan,' monolog Nara dalam hatinya.


"Saya mamanya Jonathan dan ini adiknya,"


lanjut sang ibu sebagai lanjutan perkenalan. Bisakah ini di katakan agar mengenal lebih dalam?


"Ibu tiri," ucap Nara dalam hati. Kepalanya mengangguk dan bibirnya tersungging memberikan senyum tipis sebagai jawaban.


"Terulang lagi," batin Nara saat merasa seperti dejavu pada kejadian beberapa tahun silam. Jika hari itu hanya ibu dari kekasihnya yang mengajaknya ngopi, sekarang ada tambahan pemain yaitu adik dari kekasihnya. Pesanan sama, Kopi. Hari itu tidak ada adegan siram menyiram dengan kopi ataupun uang. Apakah kali ini ada perubahan? Apakah kopi yang seharusnya di minum jadi dimandikan?


"Ternyata masalah ini akan semakin rumit. Nathan belum resmi bercerai, aku sudah di temukan. Persis seperti di drama-drama, bedanya, aku tidak di labrak istri sah, batin Nara Lagi.


"Kapan kamu mengenal Jojo?"


Jojo? Panggilan sayang yang bagus juga.


"Sekitar dua tahun lalu, Tante."


"Sejauh apa hubungan kalian?"


"......."


Nara punya dua versi untuk pertanyaan ini, sejauh apa? Bisakah lebih jelas?


Lama memikirkan, Nara akhirnya menjawab dengan tidak yakin.


"Sejauh sudah di lamar, tante."


Nyonya Marta terlihat menghembuskan napasnya berat, sementara gadis pirang itu hanya menatap Nara lekat tanpa menyuarakan apapun.


"Dari dekat, dia terlihat lebih cantik. Dia juga terlihat elegan dan bisa menguasai diri," ucap Sarah dalam hati.


"Tinggalkan Jojo dan ambil ini, pergilah jauh,


tak baik bagimu mengencani dan menerima suami orang," ucap nyonya Marta seraya mengeluarkan sebuah kertas yang familiar di mata Nara. Sepertinya ini sudah di rencanakan dengan matang. Ceknya sudah di simpan di tempat yang gampang terjangkau. Terlihat dari cara nyonya Marta mengambilnya.


"Mama?" teriak gadis pirang itu karena tidak menyangka mamanya akan berbuat seperti itu. Mulutnya yang hendak protes tertutup kembali saat telapak tangan mamanya terangkat di depan wajahnya.


Nara melirik cek yang di atas meja.


"Wow, aku mendapatkan cek dua ratus juta dengan syarat yang sangat mudah," ucap Nara dengan senyum tipis.


Satu tangannya memegang cek dan satu lagi


bergerak membuka tas dan mengambil ponsel. Tanpa mempedulikan kesopanan, dia melakukan panggilan.


"Nathan, ada cek dua ratus juta di tanganku. Syaratnya cuma satu, ambil dan tinggalkan  Jojo, what should i do? Padahal aku sudah meninggalkanmu tanpa meminta cek untuk imbalan kerugian karena sudah kamu tipu selama dua tahun kurang lebih." Nara mengangkat cek itu dan menerawangnya seperti mengecek keasliannya.


"Ini asli Nathan. Sore ini aku dapat imbalan karena sudah menjadi simpananmu selama tujuh belas bulan lebih."


Panggilan terputus, dan dengan santainya Nara mengambil cek itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.


Kedua wanita di depannya melongo melihat kelakuan Nara.


"Sebenarnya, tanpa cek ini pun saya sudah meninggalkan Jonathan karena tidak sudi menjadi orang ketiga. Tapi karena anda berbaik hati memberikannya, maka akan saya ambil. Dua ratus juta jumlah yang banyak. Aku bisa makan tidur di rumah tanpa bekerja selama setahun. Terima kasih, nyonya." Nara berdiri dan membungkuk hormat.


Sebelum dia benar-benar melangkah, Nara berucap pelan.

__ADS_1


"Sebenarnya tiga malam lalu, Nathan datang ke rumahku dan bercerita dia baru saja di buang dari keluarganya karena ingin bercerai dengan nona Sisca. Karena itu, aku berpikir untuk menerimanya kembali dan cek ini akan kami gunakan seperlunya. Sekali lagi, terimakasih atas kemurahan hati anda nyonya."


__ADS_2