KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
56. TENTANG JONATHAN


__ADS_3

Seisi rumah dilanda keheningan.


Tuan Robert berdecak dan kemudian tertawa sinis.


"Anak tidak tau di untung, aku memilihkan yang terbaik untuknya bukannya


berterima kasih malah membangkang," ujar tuan Robert sedikit emosi.


Tak habis pikir dengan anak lajang yang sudah di didik keras sedari kecil. Selama ini Nathan menurut saja apa yang dia katakan, kenapa sekarang berubah? Apa penyebabnya?


"Cari tau apa yang dilakukan Jonathan


akhir-akhir ini, dengan siapa dia bertemu dan kemana saja," titahnya melalui panggilan telepon dan langsung memutuskan panggilan. Tuan Robert yakin, pasti ada pemicu yang menyebabkan anaknya tiba-tiba membangkang apalagi ingin bercerai.


"Menentukan pilihan mau jadi apa? Hahaha. Mau jadi arsitektur? Arsitektur pant*tku."


Arsitektur adalah cita-cita Jonathan. Nathan sempat meminta ijin untuk kuliah jurusan arsitektur tapi di tolak mentah-mentah oleh papanya.


Gadis pirang yang sedari tadi duduk tenang di


samping tuan Robert hanya bisa mengelus-elus lengan  papanya. Berusaha meredakan emosinya demi kesehatan sang papa.


"Pa, tenang! Ingat kesehatan Papa," ucapnya menenangkan sang kaisar yang sedang naik pitam pada anak sulungnya itu.


"Jangan emosi,  bicara pelan-pelan, dari hati ke hati, coba Papa bersabar dan dengar apa maunya," sambungnya lagi.


"Dengar apa maunya? Dia kan baru saja meminta untuk bercerai. Pokoknya papa tidak kasih ijin. Tidak boleh bercerai!" jawab tuan Robert penuh emosi.


Tidak ada yang berbicara setelah itu. Semua sedang mencerna kejadian ini dalam pikiran masing-masing.


Sarah adik Jonathan tidak menyangka kakaknya akan membicarakan hal ini di meja makan.


"Kamu memilih waktu yang salah ka, Jo," lirihnya sangat pelan.


"Aku harap, kejadian ini tidak berimbas pada gadis itu. Mudah-mudahan suruhan Papa tidak menemukan mereka yang pernah berlibur bersama," batin Sarah.


Dalam keheningan, terdengar langkah mendekat. Sarah mendongak dan mendapati kakak dan kakak iparnya berjalan mendekat


"Apa emosinya sudah reda?" gumam Sarah melihat lebih fokus pada kakak lelakinya yang rautnya sudah sedikit santai.


"Kami pulang, selamat malam."

__ADS_1


Nathan berjalan ke arah neneknya yang sudah sepuh.


"Nek, Jojo pulang dulu, ya! Nenek jaga kesehatan. Jangan ambil hati kejadian malam ini. Anggap itu bunga tidur nenek," ucap Nathan lalu mencium kening sang nenek.


Bagaimana bisa itu menjadi bunga tidur? Bunga tidur penuh duri?


Sang nenek hanya bisa mengangguk dengan raut sedih. Di umur yang sudah sepuh, hal yang paling di inginkannya adalah kedamaian keluarganya, keturunannya.


"Ma, Pa, Sarah, kami pulang!" Nathan berlalu tanpa salim pada orang tuanya. Setengah jam lalu dia baru saja mengibarkan bendera perang tidak mungkin langsung di turunkan, kan?


Yang di pamitin juga diam, hanya Sarah yang mengangguk sebagai respon.


Delia meraih tasnya dan menyampirkan di bahu seraya berkata,


"Nek, Pa, Ma. Kami pulang ya. Maafkan Jojo yang bersikap kurang sopan dan sudah bentak-bentak tadi. Tapi, apa yang Jojo ucapkan hari ini adalah kebenaran. Bahwa selama dua tahun pernikahan kami, kami tidak pernah saling menerima walau sudah mencobanya. Kami memutuskan untuk bercerai agar tidak semakin terbelit tali pernikahan ini yang tidak ada arah ini."


"Delia, jujur sama Papa. Apa selama ini kalian tinggal serumah atau pisah rumah?" tanya tuan Robert dengan nada mengintimidasi.


"Kami serumah, Pa. Setiap malam, Jojo pulang walau kadang-kadang sudah larut."


"Kamu tidak bohong kan, Del?"


"Nggak, Ma. Jojo memang pulang tiap hari. Bahkan kadang di antar sama Arthur."


"Panggil Jojo kemari!" titah tuan Robert.


Delia yang sudah bersiap-siap pulang akhirnya keluar rumah dan memanggil Jonathan.


"Jo, papa minta kamu masuk sebentar!"


Delia berteriak pada Jonathan yang bersandar di kap mobilnya dengan ponsel yang menyala terang memantul ke wajahnya.


Terlihat sangat tampan dan bersinar. Di dukung oleh tubuh Jonathan yang jauh dari lemak-lemak menimbun.


Jonathan terlihat seperti lelaki baru lulus kuliah. Siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa Nathan sudah berada di umur tiga puluhan.


"Kamu tampan, Jo! Benar-benar tampan. Ynara sangat beruntung di cintai oleh kamu!" gumamnya dengan pandangan tetap mengarah ke orangnya langsung.


"Jo!" panggilnya sedikit keras. Yang di panggil menoleh.


"Masuk bentar, papa mau ngomong."

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Nathan kemudian berdecak kesal seraya melangkahkan kakinya.


"Nggak tau!"


Delia menunggu Jonathan di ambang pintu masuk. Lalu mereka masuk bersama- sama.


Keduanya melangkah ke ruang keluarga. Disana keluarga semua sudah berkumpul dan sudah siap menyidang mereka berdua.


"Dengar Jonathan, kalian tidak akan bercerai. Papa tidak akan ijinkan kalian bercerai. Jika kamu nekat," ucapan tuan Robert berhenti sejenak. Menatap tajam pada Nathan yang malah dengan santainya bersandar pada sandaran kursi dengan jari mengusap-usap dagu.


"Jika kamu tetap ingin bercerai, papa akan mencoretmu dari daftar keluarga, papa akan ambil semua yang ada padamu. Papa akan menutup akses keluarga Sagara untukmu dari segala arah. Ingat itu! Papa nggak main-main."


"Silahkan saja! Aku juga tidak pernah memintanya pada kalian, kan? Kalian lah yang menyeretku kesini."


"Jonathan!" teriak nyonya Marta seraya berdiri. Dia berjalan cepat ke arah Jonathan dan


Plak


Satu tamparan di pipi Jonathan sebagai hadiah karena kelancangan mulutnya.


Semua orang terkesiap akan tindakan nyonya Marta terutama Delia.


"Berani-berani kamu bicara seperti itu!" murka nyonya Marta. Dadanya kembang kempis karena amarah yang menggebu.


"Apa aku salah nyonya Sagara?" tantang Jonathan dengan senyum tipis. Tangannya mengusap pipi yang baru saja di tampar.


Delia meraih tangan Nathan untuk tidak melanjutkan perlawanan agar tidak menambah kekisruhan di rumah mertuanya itu.


"Sudah, Jo. Ayo kita pulang saja!" bisiknya. Dalam pikiran Delia, Jonathan harus segera di jauhkan agar tidak terjadi perdebatan yang semakin parah. Memisahkan pihak-pihak yang sedang emosi adalah salah satu cara untuk meredam emosi itu.


"Apa aku pernah mengemis untuk semua yang ada di keluarga Sagara? Bukankah aku dulu memilih hidup sederhana asal aku bisa bersama ibuku? Tapi kalian menyeretku kesini dan memisahkan aku dengan ibuku. Kenapa anda marah saat aku bicara fakta, Nyonya?"


Nyonya Marta membelalak mendengar ucapan Jonathan. Delia jangan di tanya lagi?


Fakta apa ini? Apakah Jonathan bukan anak kandung keluarga ini?


Nathan berdiri, dia mengeluarkan dompet dari sakunya dan meletakkan kartu kredit dan atmnya.


"Ini semua fasilitas perusahaan. Aku kembalikan. Jika kalian ingin membuang aku dari keluarga ini, silahkan.


Terimakasih karena pernah memberiku kehidupan yang tidak bisa di berikan oleh ibuku. Permisi."

__ADS_1


Jonathan meninggalkan rumah itu. Rumah yang di tempatinya selama puluhan tahun dan rumah yang membuatnya lupa secara perlahan akan kehidupan masa kecilnya.


"Ibu, maafkan Jojo karena ingkar janji."


__ADS_2