
"You good?" tanya Nathan sambil melepas pelukannya.
"As you see."
"Kangen bangat sama kamu, Yank!" katanya lagi dan sekali lagi memberi pelukan.
"Hmmmm" jawab gadis itu dan tidak menolak pelukan sang kekasih.
"Baru dua minggu gak ketemu udah kangen, sampe mau mati rasanya, gimana nanti kalo aku lebih lama lagi di Surabaya daripada ini," lanjut pria itu sambil mengeratkan pelukan.
Pasangan yang sedang kasmaran itu melepas rindu setelah dua minggu berjauhan. Nathan yang katanya mengembangkan bisnisnya ke Sumatera, baru kembali hari ini dan langsung menemui gadisnya yang sangat dirinduinya itu, dan setelahnya akan pergi lagi ke Surabaya mengurus bisnis lainnya.
"Kangen kamu juga," balas gadis itu. "Lepasin dulu!" katanya kemudian namun berbeda dengan tangannya yang masih melingkar erat di pinggang kekasihnya.
"Bentaran dikit, Yang," kata si pria kemudian mendaratkan bibirnya di kepala si gadis.
Nyaman, itu yang dirasakan keduanya.
Pelukan itu bertahan sebentar sebelum si gadis melepaskan belitan tangannya. Pria yang katanya kangen itupun melepaskan pelukan dengan tidak rela.
"Udah makan?" tanya si gadis sambil memasang seat beltnya.
"Hmm, di pesawat tadi," jawab si pria yang masih terus memandangi gadisnya.
"Kenapa?" tanya si gadis, bingung melihat kekasihnya yang menatapnya terus.
"Gak pa-pa, kamu cantik," katanya seraya mengusap kepala gadis itu.
" Lebay deh, " jawabnya cuek tapi tersipu. Pipinya merona padahal ini bukan kali pertama dipuji cantik. Dasar woman, gak bisa dengar sedikit pujian.
Pria itu menyetir dengan santai, sebelah tangannya menggenggam erat tangan Nara. Sesekali membawa tangan itu ke bibirnya. Menciumi dan sesekali di gigit mesra, membuat dua insan itu tertawa dan terlihat bahagia saat bersama.
"Gak mampir dulu?" tanya si gadis setelah mereka tiba di depan rumah Nara.
"Maunya gitu, mau peluk kamu semalaman juga, tapi pasti gak di bolehin sama kamu." Nathan yang sudah tahu bahwa itu hanya ajakan basa-basi kekasihnya hanya menimpali dengan fakta yang sebenarnya.
"Hehehehe" Gadis itu terkekeh sebelum mengalungkan tangannya di lengan Nathan. Menyandarkan kepala di lengan itu. Gantian dia yang genggam jemari si pria, menepuk-nepuk telapak tangannya sendiri menggunakan tangan Nathan. Keduanya masih duduk nyaman di dalam mobil di depan rumah Nara.
Berpelukan di dalam mobil seperti ini sudah menjadi rutinitas keduanya jika bertemu. Tidak ada hal lain yang di lakukan jika bertemu, pelukan dan sesekali berciuman. Sampai hari ini baik Nara maupun Nathan tidak pernah meminta hal yang aneh-aneh seperti layaknya cara kebanyakan orang berpacaran jaman sekarang. Keduanya masih sadar batasan. Sesekali Nara akan diajak mampir ke apartemen Nathan. Memasak makan malam bersama dan menonton bersama. Lalu jika sudah larut, Nathan akan mengantarkan Nara pulang.
Tujuh Bulan berpacaran, Nathan menjaganya dengan baik, tidak pernah memintanya menginap dan Nara juga tidak pernah menginginkannya. Bertemu dua atau tiga kali dalam seminggu sudah lebih dari cukup selama komunikasi diantara mereka tetap terjaga. Dalam waktu tujuh bulan ini, ada juga sesekali mereka berdebat tentang sesuatu hal dan itu wajar. Mencari solusi dan saling meminta maaf pada akhirnya.
"Liburan yuk, Yank," ajak Nathan tiba-tiba. "Yang deket - deket aja!" lanjutnya berharap disetujui.
__ADS_1
"Kemana?" Nara yang sedang merasa nyaman bersandar di lengan Nathan menanggapi, sekarang posisi kepalanya bersandar di dada pria itu sementara kedua tangannya sibuk memainkan jemari pria yang
mengalungkan tangannya pada si gadis.
"Singapore?" jawabnya memberi ide. "Kan deket, jumat malam brangkat trus balik minggu sore atau malam,"
lanjutnya sambil berdoa dalam hati semoga idenya kali ini diterima. Jarang-jarang gadis itu langsung merespon seperti ini, biasanya hanya akan menjawab, 'kapan-kapan aja', 'kantor lagi sibuk', 'aku lagi malas gak kepengen
pergi-pergi' dan banyak alasan lainnya dengan satu tujuan, MENOLAK.
"Oke, kapan?" tanya si gadis sontak membuat si pria heran, biasanya si gadis akan memberi seribu satu alasan. Bahkan liburan ke puncak yang dekat saja di tolak tanpa berpikir dua kali.
"Sekarang?" Mumpung mau pikir si pria. Dalam hati semakin berteriak berdoa.
"Masih ada tiket?" Dengan ragu-ragu Nara bertanya. Sebenarnya tadi hanya menanggapi asal, kenapa jadi serius begini?
"Bentar aku cek." Dan si pria bergegas cek apa masih ada penerbangan untuk malam ini. And binggo. Thanks God, ada.
"Packing gak usah banyak-banyak, yang penting-penting aja, nanti kita beli aja kalo ada yang kurang," katanya
sambil melakukan pembelian tiket.
God, kok serius begini sih jadinya? batin Nara.
Bukannya menilai Nathan buruk, tapi kan ini liburan berdua loh.
Kalo keasyikan nanti gimana?
*****
Nathan yang kegirangan dan tak mau buang kesempatan ini langsung tancap gas ke Airport.
"Gak ke apart dulu?"
"Gak usah, masih ada baju bersih di koper di bagasi."
"Passpor?" tanya Nara lagi.
"Di tas," jawab Nathan singkat.
"Kamu udah planning ini sebelumnya, ya? Kan dua minggu ini kamu ke Medan, nggak pake paspor kalau kesana, kenapa sekarang paspor ada di tas? Di bawa kemana-kemana terus?" tanya Nara dalam satu tarikan nafas.
Nathan hanya tertawa dan mengangguk.
__ADS_1
"Iya, soalnya kamu nggak bisa di tebak kayak sekarang. Syukur deh, aku cerdas, kepikiran sampe kesitu."
Jawaban yang hanya di respon dengan guliran bola mata oleh gadis itu.
--------------------------
"Kok pesannya cuma satu kamar?" tanya Nara mulai was-was. Pikiran buruk yang sempat singgah di otaknya tadi kini udah mulai merambah lagi.
"Full, Yank. Lagian kenapa, sih? Takut? Nggak percaya sama aku?" Nathan bertanya dengan wajah datar. Apa selama tujuh bulan ini Nara belum bisa percaya padanya? Bisakah dia merasa kecewa?
"Ng--gak takut, cuma i-ini kan gak normal," jawab Nara sedikit terbata. Suasana berubah menjadi sedikit canggung.
"Aku bisa nahan diri, gak perlu takut, lagian ini di Singapore. Siapa yang tau kalo kita sekamar?" Nathan berusaha
mengontrol diri dan berusaha memahami kekasihnya yang sedikit kolot.
"Ayo!" Nathan merangkul gadis yang sedikit gemetaran itu dan berjalan ke arah lift.
"Dasar, emangnya aku ini predator. Jauh banget mau ngapa-ngapain kamu sampai bawa ke Singapore.
Di Jakarta juga bisa kalau aku mau nekat," ucapnya pelan dengan sedikit kekehan untuk menghilangkan kekhawatiran Nara yang terlihat kikuk rangkulannya. Tangan kanan menekan tombol angka lantai tujuan mereka.
"Aku hormat sama kamu, Yank. Aku cinta sama kamu. Aku akan jaga kamu dan nggak pernah berniat sedikit pun rusak kamu sebelum kita sah," jawabnya sambil mengelus rambut Nara. Untung saja di dalam lift hanya ada mereka berdua.
Tidak sampai satu menit, mereka sudah tiba di lantai tujuan. Tangan kanan yang sedari tadi menyerat koper kecil itu dengan lincah menempelkan keycard ke pintu dan mendorongnya. Sementara tangan kiri tetap
melekat di pundak kekasihnya.
"Kalo aku niatnya untuk itu, udah dari awal aku minta ke kamu, paksa kamu atau rayu kamu sampai aku dapat apa yang aku mau," lanjutnya setelah mereka berada di dalam kamar. Nathan memutar tubuh Nara untuk
menghadap padanya. Dia meraih kedua tangan Nara dan mengecupnya pelan.
"Aku serius sama kamu, kamu tau itu. Atau, gimana kalo aku ke kampungmu saja dalam waktu dekat ini dan lamar kamu ke orang tuamu?" tanya Nathan dengan senyum di wajahnya. "Aku juga ingin segera memilikimu
secara sah, biar kamu nggak takut kalau aku sewa satu kamar kayak gini," lanjutnya masih dengan senyum di wajahnya.
"I-tu, i-tu, itu nanti saja, a- ak- aku belum siap. " Nara tergagap.
"Belum siap karna apa?" tanya Nathan semakin mendekat dan Nara mundur setiap kali Nathan melangkah sampai akhirnya punggung Nara menabrak dinding.
Nara semakin salah tingkah dan sedikit was-was, ini di negeri orang, Nara tidak hapal arah, kalau - kalau Nathan nekat gimana?
"Love you!" ucap Nathan tiba-tiba dan Nara mendongak, kok tiba-tiba i love you, sih?
__ADS_1
Tanpa memberi waktu bagi Nara untuk bertanya atau menjawab ungkapan cintanya Nathan menempelkan bibirnya dan mencium Nara dengan penuh perasaan. Nara yang awalnya kaget dengan aksi Nathan perlahan-lahan menutup mata dan menikmati ciuman yang diberikan oleh Nathan.