
Tak terasa tiga hari sudah. Dan selama tiga hari itu. Nara bertugas menjadi penjaga malam. Nathan sudah di pindahkan di ruang rawat setelah sadar dari komanya.
Walau begitu, keluarga Sagara dan juga Nara masih sedikit khawatir karena sepertinya Nathan mengalami amnesia ringan akibat benturan di kepalanya.
"Belum dapat di pastikan, tapi dugaan saya ini hanya sementara karena benturan di kepalanya," ucap dokter waktu itu ketika tuan Robert bertanya mengenai ingatan Nathan. Tuan Robert menanyakannya karena melihat Nathan yang hanya bengong setelah sadar.
Hingga dua hari setelah sadar, tetap juga seperti itu, bahkan Ynara juga sepertinya tidak di kenali.
"Hai, gimana hari ini?" tanya Ynara saat baru saja tiba di ruangan itu. Ini sudah jam delapan malam dan anggota keluarga Sagara yang tersisa si ruangan ini hanya Sarah.
Sarah bertugas jaga malam karena orang tuanya sudah tua dan tidak sanggup lagi begadang. Tapi, salah satu alasan Sarah mau jaga malam adalah karena bisa mengajak Nara tanpa babibu untuk menolaknya. Selama tiga malam ini dia bersama Ynara. Sarah bisa lihat betapa tulusnya perempuan itu pada kakaknya.
"Hari ini aku capek bangat, debat sama asisten kamu si Arthur itu. Muka kamu yang lempeng saat meeting ternyata masih kalah sama dia. Dia lebih irit senyum dan sangat miskin ekspresi. Aku heran, kalian pria-pria dingin itu berasal dari mana, sih?" Sarah tersenyum mendengar curhatan Nara. Setiap malam, selalu aja ada curhatannya dan selalu mengajak Nathan untuk bicara walau Nathan hanya melihatnya dan sesekali berkedip.
"Masa sih ka, kak Arthur begitu? Perasaan nggak deh, ka," sangkal Sarah. Dia kenal betul dengan Arthur. Pria itu jauh lebih ramah dari Jojo.
"Serius, Sar. Astaga, aku sampai jengkel. Malah dia kayak sengaja gitu bertanya banyak-banyak kayak mau berdebat. Padahal selama ini, kalau lagi sama Nathan. Dia nggak pernah begitu," balas Nara. Sesekali dia juga mengekspresikan kegeramannya pada Arthur tadi.
"Bagus deh kalau gitu. Biar cewek-cewek nggak suka dia," balas Sarah sambil terkekeh.
"Kamu suka, ya?" tebak Ynara dan tanpa di jawab pun dia bisa tau jawabannya apa.
"Tapi kamu harus hati-hati loh, Sar. Cewek-cewek suka sama cowok yang kayak gitu. Cool gimana gitu," saran Ynara sambil memuji sikap dingin Arthur.
Tanpa keduanya sadari, sang pasien yang mendengar curhatan itu sedikit geram. Terlihat dari urat di tangan dan lehernya menonjol. Mulutnya terbuka lalu tertutup. Dia sangat kesulitan mengucapkan apa yang mau dia katakan.
Nara yang menolehkan kepalanya ke arah Sarah tidak melihat ekspresi Nathan itu. Dan malah bablas bercerita mengenai cowok-cowok dan sifat-sifatnya yang menjadi kriteria para cewek.
"Jadi kaka sama ka Jojo, suka karena Jojo cool, gitu?" tanya Sarah dengan suara meledek.
"Sejujurnya nggak, aku suka karena dia ulet. Walau sudah aku tolak berkali-kali, malah dia tetap maju. Akhirnya aku mau karena aku percaya kata-katanya dan juga aku bisa melihat dari sikap dia sama aku. Tapi ternyata..." Nara menunduk tak melanjutkan kata-katanya malah mendengus karena masih ada sisa-sisa rasa kesalnya pada kebohongan Nathan.
"Pembohong ini memang sangat pandai menutupi semuanya. Tidak ada celah, mungkin aku tidak akan pernah tahu jika malam itu aku tidak datang ke cafe. Bahkan jika teman - temanku melihat itu, mereka tidak akan peduli karena mereka tidak tahu hubungan kami." Sarah menganga mendengar curhatan Nara. Benar kah? Sarah tidak percaya, masa tidak ada yang tahu. Itu omong kosong, batinnya menyangkal ucapan Nara.
"Serius tidak ada yang tahu?" Sarah bertanya untuk memastikan.
"Ya, hanya Arthur."
__ADS_1
"Wah,, kalian sangat ahli dan profesional," ucap Sarah seraya bertepuk tangan.
"Udah berapa lama kalian pacaran, ka?" tanyanya ingin tahu.
"Hampir satu setengah tahun. Kenal udah ada sekitar dua tahun. Tapi, kami tidak langsung pacaran. Kayak yang aku bilang tadi, dia gigih, akhirnya aku mau. Selama hampir enam bulan aku menolaknya berkali-kali secara halus, tapi dia malah makin ngotot," jawab Nara.
"Jadi sekarang?" tanya Sarah dan di hadiahi dengan putaran bola mata malas dari Ynara.
"Masih perlu di perjelas?" tanya Ynara pura-pura jengkel.
"Iya dong. Terus ceritain juga, gimana proses balikannya!" pintanya makin tidak tahu diri.
"Ck ternyata cerita kita tadi nggak bisa kamu simpulkan, ya!"decak Ynara pada Sarah.
"Habisnya aku penasaran, ka. Pertama lihat kalian jalan bareng, aku bisa lihat aura bahagia Jojo."
"Dimana?" tanya Nara cepat. Jangan bilang Sarah juga melihat mereka di paris.
"Singapore!"
"Berarti kamu udah tahu dari lama?" tanya Nara dengan mata membola.
"Hmm, habis itu, aku ikutin kalian ke Paris. Aku tadi mikirnya kalian udah nikah karena malah satu kamar. Aku nginap di samping kamar kalian. Kemana kalian pergi, aku ikut juga. Jadi, aku sudah tau semuanya!" Sarah memperlambat ucapannya pada kalimat terakhir.
Nara menepuk jidat sendiri, kemarin tantenya Delia, sekarang Sarah. Astaga, besok siapa lagi yang akan mengaku melihat mereka di Paris.
Nara berbalik, dia mendekatkan wajahnya pada Nathan yang sedang menatapnya. Nathan tersenyum tipis melihat kepanikan di wajah itu. "Kita ternyata ketahuan, astaga!" ucap Nara sedikit berbisik.
Nathan menggeleng dan berusaha bicara walau terbata-bata apalagi mulutnya masih tertutup alat bantu nafas.
"Ti-dak a-a-ap-a-pa," ujarnya terbata-bata.
"Kok?" Nara malah cemberut karena Nathan sangat santai. Nara tidak menyadari Nathan yang sudah bisa meresponnya.
"Ko, Jojo bisa respon!" Sarah berseru karena barusan tersadar.
"Hah?" Nara malah makin bengong dan beberapa detik berikutnya dia langsung memeluk Nathan dengan wajah haru.
__ADS_1
"Finally, you come back!" ujar Nara di dada Nathan.
"Aku takut kamu bakal beneran lupa," lanjutnya lagi masih sedikit terisak.
Dengan pelan Nathan mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas punggung Nara. Sesekali tangannya turun untuk mengelus punggung itu.
"Kamu beneran ingat aku sekarang? Ingat ini siapa?" tanya Nara seraya menunjuk dirinya kemudian Sarah.
Sambil tersenyum Nathan mengangguk dan mengkode untuk segera membuka alat bantu napasnya.
"Aku nggak berani, kami panggil dokter atau suster aja, ya," ucap Nara seraya berdiri dan membenahi diri sebelum keluar. Karena panik dan senangnya, dia sampai lupa bahwa ada tombol yang bisa di tekan untuk memanggil perawat.
"Ka," ucap Sarah mendekat. Sedari tadi air matanya tidak berhenti. Dia sangat lega karena kakaknya sadar. Rasa bersalahnya sedikit berkurang.
"Maafin Sarah, ya!" ucapnya seraya menunduk. Menggenggam tangan Nathan dan menciumnya, "Kakak bisa begini karena Sarah yang bikin. Sarah salah mengartikan kata-kata papa, Ka!" isaknya menyesali sikapnya yang gegabah. Padahal dia tidak tahu saja, sebenarnya papanya memang punya niat buruk. Tapi karena pandai bersilat lidah, akhirnya yang di salahkan dalam peristiwa ini adalah Sarah yang bertindak gegabah.
Nathan menepuk-nepuk pundak adiknya. Bersyukur dia menerima panggilan adiknya malam itu. Jika tidak, bisa saja Nara celaka. Nathan sedikit banyaknya tahu sepak terjang papanya dan Tito.
Hal yang harus di pertanyakan oleh Nathan nanti. Tujuan sebenarnya Tito ada disana.
"Ka," panggilan Sarah membuyarkan pikiran Nathan. Dia menoleh ke arah adiknya itu. "Setelah sadar dari koma, kakak sempat amnesia. Kakak nggak ngenalin siapapun. Apa sekarang kakak beneran udah ingat? Bukan ingatan baru karena kami yang temani kaka disini tiga malam ini." Sarah masih belum yakin seratus persen. Bukan tidak bersyukur, hanya saja, ingatannya kembali secepatnya ini sangat mengagetkan.
"Kakak ingat. Dari awal, kaka ingat semua hanya saja badan kakak tidak bisa di gerakkan. Kakak pura-pura biar Ynara bisa ada disni," jawab Nathan jujur. Jika dia tidak pura-pura maka ayahnya akan menyuruh orang lain menjaganya. Tapi karena nggak ingat, makanya mengijinkan Ynara disini karena dia pikir tidak akan ada untungnya.
"Sarah harap nanti kakak jujur sama Ynara. Jangan berbohong lagi."
Nathan mengangguk dan menoleh ke arah pintu dimana Ynara masuk bersama seorang dokter dan suster.
Usai pemeriksaan dan dokter sudah keluar, Ynara berbicara, "Apa nggak sebaiknya hubungi keluarga kalian? Kabari saja Nathan sudah oke dan udah ingat semua."
Sarah menggeleng tidak setuju. Jika dia mengabari, mama dan papanya akan datang kesini dan Ynara mungkin akan pulang karena tidak nyaman dengan keberadaan orang tua Nathan.
"Oke. Besok saja aku kabari," ucap Sarah lalu berpamitan ke kafetaria. Dia bertujuan nya untuk memberikan waktu bagi pasangan itu.
Tak berapa lama di kafetaria, dia kembali ke.kamar Nathan dan betapa kagetnya dia melihat pemandangan di dalam sana.
"Dasar,"
__ADS_1