KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
17. NEW BOSS


__ADS_3

Author POV


            Gadis cantik yang selalu berwajah kaku  dan sering disebut es batu oleh karyawan itu duduk sambil sesekali menghela. Seperti punya beban hidup yang berat. Wajah kakunya yang sempat berseri-seri itu beberapa waktu sebelum ini semakin kaku saja nampaknya. Terlebih setelah pria urakan bernama Langit itu resmi menjadi bossnya.


            Ya, Langit resmi menjabat sebagai Direktur di perusahaan Nara bekerja. Sudah di resmikan tiga bulan lalu. Langit sebenarnya orang yang cerdas tetapi seperti katanya sejak awal, bahwa menjadi pemimpin disini bukanlah passionnya. Dia lebih menyukai menjadi berandalan yang bebas kesana kemari dengan pakaian mahal


dan uang berlimpah.


            "Pa, Langit nggak yakin bisa handle ini, kasih Mas Andy aja,ya. Langit iklas!" ucapnya kala dia menolak permintaan papanya.


            "Iklas juga di potong uang saku hingga nyaris tidak di beri uang saku?" Pertanyaan papanya bagai sebuah vonis yang mengharuskan Langit berada di kantor itu.


            Tidak ada pilihan lagi setelah segala fasilitas dari orang tua dibekukan sebagai langkah awal ancaman orang tuanya. Maka dia bersedia menjadi direktur di perusahaan keluarga yang di besarkan oleh ayahnya itu.  Langit beberapa bulan lalu  rutin  kekantor seperti karyawan lainnya hanya untuk belajar bagaimana


menjalankan roda perusahaan ini.  Dia dididik keras oleh ayahnya dan juga Andy.


            Sebenarnya Langit bukan anak bodoh, dia cepat tanggap, hanya satu permasalahan hidupnya, dia


tidak ingin terikat seperti ini, namun setelah ceramah panjang lebar dari ibunya yang dengan air mata pura-puranya, hati pria bebas itu lunak juga dan berjanji akan menuruti kemauan orangtuanya, bersedia belajar dan nanti menjadi boss.


            Andy yang dulunya berperan sebagai wakil Pak Anwar kini menjadi asisten Langit dan sepertinya dia lebih layak menjadi direktur . Tapi sekali lagi ini adalah perusahaan keluarga dan keluarga itu masih memiliki putra mahkota sebagai pewaris yang sah.


Andy dan sang sekretaris-Nara- berusaha  mengikuti alur kerja boss baru yang lebih banyak berbuat salah. Baru- baru ini Nara sampai marah padanya karena asal tanda tangan kerja sama tanpa meneliti lebih dahulu apakah akan menguntungkan atau tidak. Langit tidak berkutik saat di ceramahi oleh sekretarisnya.  Dia tahu seberapa mampunya sekretarisnya ini dan dia terima saja di ceramahi oleh orang yang dia gaji.


Dasar sekretaris kurang ajar.

__ADS_1


"Papa masih lebih percaya dengannya daripada kamu," kata Pak Anwar waktu itu dan Langit diam saja mendengar pembelaan papanya terhadap perempuan itu.


"Jadi jika dia sedikit keras, itu hasil didikan Papa," lanjut pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu. Karena sadar


diri akan kemampuannya yang kurang, akhirnya Langit pasrah saja jika Nara dan Andy mengomel.


"Lagi?" Haaaah


Nara membuang napas kasar dihadapan bossnya, hari ini Andy cuti keperluan pribadi dan bossnya -Langit- membuat kesalahan yang sudah berulang kali terjadi.


Langit hanya menatapnya, dan memperlihatkan wajah bingung dengan  pertanyaan gak jelas dari sekretarisnya.


"Ini, Pak, harus di cek sampe detail dulu baru di tandatangan, " terangnya sambil menunjukkan  dokumen yang baru di periksanya. Untung di periksa sebelum kirim ke kantor rekanan. Jika sampai terkirim bukan hanya


jutaan tapi ratusan juta akan hilang dalam sekejab mata.


Nara menjelaskan panjang lebar dengan kesabaran yang mulai menipis.


Lelah batin dan raganya, tapi harus terima karena sadar dia hanya seorang pekerja di perusahaan ini.


"Thanks, Nar, aku akan belajar lebih lagi," jawabannya sok akrab, Aku-aku lagi.


"Thanks, Nar, aku akan belajar lebih lagi," Nara mengulang kalimat bossnya dengan pelan dan pasti sudah diluar kepala, karena ini bukan yang pertama, yang kedua bahkan bukan yang ketiga kalinya.


"Maaf ya, Pak, saya bukannya menggurui, hanya saja untuk ke depannya sebaiknya Bapak lebih teliti lagi.  Saya bukannya berlagak sombong dan ingin berkuasa -karena saya masih tau batasan- tetapi ketelitian dan fokus itu harus, Pak." Dengan sabar dan suara datar, Nara mengingatkan bosnya lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Mohon bantuannya, Nar, ini juga si Andy pake acara cuti segala," rungutnya sambil berterimakasih. Tulus atau hanya formalitas hanya dia yang tahu. Nara tidak menanggapi lagi dan memilih untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan bosnya.


"Nar, menurut kamu, aku cocok gak jadi boss disini?" tanyanya tiba-tiba dan gerakan tangan Nara berhenti sejenak,


kepalanya mendongak dan melihat bossnya intens. Pertanyaan apa sih? Emang kalau aku jawab gak ada pengaruhnya? batin Nara.


Dasar si bambang, ini udah bulan ke empat setelah resmi baru ditanya. Seharusnya sebelum resmi bambang, batin Nara lagi. Nara terdiam sambil geleng kepala. Seandainya kesopanan dihilangkan, dia pasti akan


berdecak dihadapan bossnya ini.


"Cocok, Pak. Kalau tidak cocok, pak Anwar pasti tidak akan percayakan perusahaan ini pada Bapak, " jawab Nara tanpa tedeng aling, fokusnya kembali ke dokumen yang di depannya.


Mereka sedang berada di ruangan Langit dan Nara sedang memperbaiki kontrak yang sempat di tanda tangan oleh Langit.


"Aku sebenarnya juga udah mulai nyaman, tapi jiwa petualanganku kayaknya masih lebih dominan."


"....."


"Aku seperti terkurung disini, tapi jujur ya, Nar, kalo aku gak ambil posisi ini, aku belum siap jadi gembel. Aku suka


berpetualang tapi aku gak bisa mengisi kantongku sendiri, aku hanya ingin heppi-heppi," lanjutnya curhat, sementara yang di curhati  acuh tak acuh karena fokusnya berada pada dokumen di depannya.


"Aku sedih saat mama ku curhat, katanya dari muda dulu belum pernah senang-senang  dengan papaku, gak pernah punya waktu panjang untuk liburan, gak pernah ini, gak pernah itu, sementara aku? Lulus sekolah bukannya kerja atau cari bakat seperti si Angkasa, aku malah lebih senang menghambur-hamburkan uang papaku tanpa berniat tahu seberapa capeknya papaku kerja sampe-sampe gak punya waktu untuk mamaku."  Bagus! Ternyata punya pikiran juga.


"Dulu waktu kecil, disekolah, aku selalu berprestasi, saat itu papaku melihat kemampuanku dan aku di tuntut keras untuk bisa nanti menggantikannya di kantor ini, aku jadi terikat, gak bebas mau ngapain aja, aku harus nurutin mereka mau sekolah jurusan apa, pokoknya semua yang ada dalam hidupku mereka yang atur."  Langit bercerita seolah-olah dia dan Nara adalah teman dekat, apa dia lupa Nara ini karyawannya? Atau lebih tepatnya mata-mata ayahnya.

__ADS_1


"Aku menuruti semua sampai suatu saat aku mendengar Angkasa minta izin ingin melanjutkan kuliahnya nanti di Paris, dia ingin menjadi chef handal dan orang tuaku setuju, mendukung seratus persen."


"...." lebih baik menjadi pendengar setia, setidaknya itu berguna untuk mereka yang ingin sekali punya teman curhat. Kadang menjadi pendengar lebih berarti daripada penasihat yang  belum tau  cerita sesungguhnya.


__ADS_2