KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
25. SISCA


__ADS_3

Tidak bisa melawan apa yang di titahkan oleh orang tua.


Langit sesekali mengajak Dewi  menonton


film, makan malam berdua dan sesekali pergi ke club. Dewi menikmati dan merasa


bahwa apa yang dikatakan oleh orang tuanya akan terwujud. Perjodohan. Dewi


merasa Langit membuka diri dan  seperti


menerima perjodohan ini.


Bagi Dewi, Langit adalah tipe pria yang di sukainya. Tidak kaku, tidak monoton dan sedikit humoris. Langit bisa memberikan apa yang merupakan keinginannya. Itu artinya mereka satu server, kan?


"Nonton yuk Sabtu besok kak Lang!" ucap Dewi melalui sambungan telepon pada Langit. Ajakan yang kesekian kali dan enggan di tolak karena takut ada laporan tidak mengenakkan pada para tetua.


"Ada film apa aja?" tanya Langit.


Sungguh merepotkan saat pergi menonton dengan gadis pecinta romance. Dewi akan memilih cerita-cerita yang berbau cinta dan cerita yang monoton menurutku.


"Ya sudah, Sabtu ku jemput ya Dew," Langit segera memutus panggilan. Gadis remaja yang masih sangat muda, yang hobinya banyak bertanya .


Diseberang sana, Dewi bersorak kegirangan, karena sepertinya keinginan hatinya sudah ada di depan mata dan siap untuk di raih.


Dewi  tidak dapat melihat, bahwa apa yang dijalaninya ini semata-mata hanya sebuah tanda kepatuhan Langit kepada orang tuanya dan juga sebagai kesenangan bagi Langit.


Langit bisa menikmati  waktu bersama


Dewi, melakukan banyak hal tanpa di protes dan itu sangat menyenangkan baginya.


Selama berkencan dengan Dewi, tak sekalipun Langit menikmatinya. Terasa Hambar!


Tapi demi orang tuanya, Langit bersedia mengajak Dewi keluar rumah dan bersikap seolah-olah sangat menikmati kencan mereka. Langit juga tidak terlalu suka dengan gadis yang sok dekat dan terlalu mudah untuk di dapat.


Jika saja tidak memikirkan konsekuensi ke depan, Langit bisa saja membawa gadis itu menjadi penghangat ranjangnya. Namun otak


encernya masih berfungsi dengan benar, walau Dewi  memberi akses padanya. Langit  belum memikirkan pernikahan, terlebih saat


ini ada seseorang yang bisa mengerti dirinya, mengerti kebutuhannya dan


...mengerti kesenangannya...


...********...


Tak .. tak .. tak .. tak ..


Hentakan sepatu yang berirama masuk ke pendengaran Nara, dia mendongak dan mendapati seseorang berhenti di hadapannya. Anggun sekali dan sangat elegan. Samar-samar Nara seperti pernah melihat perempuan


ini, tapi dimana? Tak ingin membuat tamu menunggu, Nara mengenyahkan pikirannya


dan segera berdiri menyambut tamu cantik ini.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?" Nyaris seperti si Jane di lantai satu yang berprofesi sebagai  customer service di kantor ini, Nara menyambut tamu dengan senyum ramah khas seorang cs.


"Langit ada?" tanyanya sambil mengamati Nara, meneliti dari atas hingga atas perutnya karena kakinya terhalang meja.


Tatapannya membuat Nara kurang nyaman, apakah ada yang salah dengan pakaiannya


hari ini?


"Dengan siapa Nona? Dan keperluan apa?" Tetap menjaga kesopanan walau rasa kurang nyaman itu timbul apalagi setelah menunggu


beberapa saat belum juga ada jawaban dari perempuan anggun itu.


"Pacar Langit," jawabnya singkat pada


akhirnya. "Ketemu pacar saya harus ada keperluan juga? Sekalian aja tanya


udah ada appointment atau belum?"

__ADS_1


" ....." Nara terdiam memandangi perempuan


itu sambil memikirkan jawaban. Entah kenapa, suara judes perempuan itu seperti


membekukan otak encer Nara.


"Gue, Pacar langit, keperluan gue kesini mau


ketemu Langit, mau peluk Langit dan nyium Langit, harus sedetil itu?" ujarnya


pongah dengan tangan terlipat di dadaa. Dimana perginya 'jaim' perempuan ini? Haruskah


menyebutkan aktifitas yang akan dilakukannya. Huuuh, zaman emang udah makin edan.


"......."


"Langit ada kan?" ulangnya lagi tak


sabaran karena Nara belum memberi jawaban malah bengong melihat perempuan itu.


Inhale exhale, akhirnya dia kembali ke akal


sehatnya.


"Ada Nona, sebentar saya infokan pak Langit, ya,


silahkan duduk dan tunggu Nona!" Selayaknya sekretaris yang sudah tahunan


bekerja, Nara menjalankan tugas sesuai SOP.


Nara bergegas ke ruangan Langit, beberapa detik


kemudian dia keluar dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Silahkan Nona!" ujarnya sopan sambil


berdecak beberapa kali.


Beberapa detik kemudian Andy yang awalnya berada di


ruangan Langit keluar dengan wajah  datar


dan kalemnya.


"Dewi yang lain, Mas?" tanya  Nara sambil tersenyum dan kemudian


mengalihkan pandangan kearah pintu ruangan bosnya.


"Maybe," jawabnya acuh "Aku pulang


ya, Nar, ntar kalo dengar suara aneh-aneh pasang  headset aja!" lanjutnya sambil terkekeh,


kekehan yang jarang di tunjukkan selama  bekerja dengan Nara.


"I see," jawab Nara yang sudah tau arah


pembicaraan Andy.


Nara memang sudah mendengar bahwa bossnya yang sudah


setahun lebih ini menjabat adalah pria flamboyan yang sering gonta-ganti


pasangan.


*****


Nara melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan apa


yang terjadi di dalam ruangan itu. Dan benar saja, ada suara aneh yang sampai

__ADS_1


terdengar keluar yang selama ini tidak pernah  terdengar, seperti suara gelas terjatuh dan


pecah atau benda-benda lainnya yang berakhir di lantai. Nara membiarkannya


saja  selama tidak ada teriakan minta


tolong dari dalam.


Traakk, suara pintu tertutup.


Nara menolehkan kepala ke belakang dan mendapati sepasang  kekasih yang tampilannya sudah acak-acakan.


Astaga apa dua orang ini tidak tau tempat? batinnya.


"Nar, aku mau keluar dulu, tidak ada meeting


lagi, kan?" Langit bertanya santai dan sebelah tangan di saku dan satunya


lagi menggandeng tangan kekasihnya.


'Boss urakanku yang ternyata ganteng, tolong lain


kali sebelum keluar ruangan itu resleting di cek dulu' batin Nara. Berharap


matanya yang suci seperti embun pagi tidak tergoda dengan pandangan di bawah perut


bosnya.


Bossnya yang tadi siang masih rapi, kini satu sisi


kemejanya keluar dan kancing - kancing kemeja bawahnya tidak terkancing. Dan,


omegat resleting pak Boss!


"Clear, Pak" jawab Nara, kemudian dia


berujar pelan  "Make yourself tidy


pak boss, you look messy!" kata Nara dan pura-pura sibuk di komputernya.


Langit yang mendengar itu langsung memeriksa diri dan ...


"Oooh shiit!" makinya pada diri sendiri


dan merapikan tampilan, gadis di sampingnya juga sibuk merapikan diri sambil


menggulingkan bola mata seraya mencebikkan bibirnya. Menatap Nara yang


tampilannya sangat kuno. Lihat rok hitam selutut dan blezer hitam yang


sepertinya sudah tua. Rambutnya digelung seperti ibu-ibu.


"Nar, dia Sisca, next time, kalo dia datang,


langsung okein aja masuk ruangan aku, ya!" ujar Langit setelah membalikkan


badan, sudah terlihat rapi dan kemudian menggandeng tangan perempuan bernama


Sisca itu berjalan meninggalkan Nara.


Gadis yang katanya bernama Sisca itu berlalu begitu


saja dan Nara tidak mempermasalahkannya. Dia sudah bekerja di bagian ini untuk


beberapa tahun dan dia sudah sering menghadapi orang-orang jutek  menyebalkan seperti ini.


"Baik," jawabnya datar walaupun mungkin


sudah tidak didengar lagi oleh sejoli yang sepertinya sedang terburu-buru itu.

__ADS_1


__ADS_2