
Tidak bisa melawan apa yang di titahkan oleh orang tua.
Langit sesekali mengajak Dewi menonton
film, makan malam berdua dan sesekali pergi ke club. Dewi menikmati dan merasa
bahwa apa yang dikatakan oleh orang tuanya akan terwujud. Perjodohan. Dewi
merasa Langit membuka diri dan seperti
menerima perjodohan ini.
Bagi Dewi, Langit adalah tipe pria yang di sukainya. Tidak kaku, tidak monoton dan sedikit humoris. Langit bisa memberikan apa yang merupakan keinginannya. Itu artinya mereka satu server, kan?
"Nonton yuk Sabtu besok kak Lang!" ucap Dewi melalui sambungan telepon pada Langit. Ajakan yang kesekian kali dan enggan di tolak karena takut ada laporan tidak mengenakkan pada para tetua.
"Ada film apa aja?" tanya Langit.
Sungguh merepotkan saat pergi menonton dengan gadis pecinta romance. Dewi akan memilih cerita-cerita yang berbau cinta dan cerita yang monoton menurutku.
"Ya sudah, Sabtu ku jemput ya Dew," Langit segera memutus panggilan. Gadis remaja yang masih sangat muda, yang hobinya banyak bertanya .
Diseberang sana, Dewi bersorak kegirangan, karena sepertinya keinginan hatinya sudah ada di depan mata dan siap untuk di raih.
Dewi tidak dapat melihat, bahwa apa yang dijalaninya ini semata-mata hanya sebuah tanda kepatuhan Langit kepada orang tuanya dan juga sebagai kesenangan bagi Langit.
Langit bisa menikmati waktu bersama
Dewi, melakukan banyak hal tanpa di protes dan itu sangat menyenangkan baginya.
Selama berkencan dengan Dewi, tak sekalipun Langit menikmatinya. Terasa Hambar!
Tapi demi orang tuanya, Langit bersedia mengajak Dewi keluar rumah dan bersikap seolah-olah sangat menikmati kencan mereka. Langit juga tidak terlalu suka dengan gadis yang sok dekat dan terlalu mudah untuk di dapat.
Jika saja tidak memikirkan konsekuensi ke depan, Langit bisa saja membawa gadis itu menjadi penghangat ranjangnya. Namun otak
encernya masih berfungsi dengan benar, walau Dewi memberi akses padanya. Langit belum memikirkan pernikahan, terlebih saat
ini ada seseorang yang bisa mengerti dirinya, mengerti kebutuhannya dan
...mengerti kesenangannya...
...********...
Tak .. tak .. tak .. tak ..
Hentakan sepatu yang berirama masuk ke pendengaran Nara, dia mendongak dan mendapati seseorang berhenti di hadapannya. Anggun sekali dan sangat elegan. Samar-samar Nara seperti pernah melihat perempuan
ini, tapi dimana? Tak ingin membuat tamu menunggu, Nara mengenyahkan pikirannya
dan segera berdiri menyambut tamu cantik ini.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?" Nyaris seperti si Jane di lantai satu yang berprofesi sebagai customer service di kantor ini, Nara menyambut tamu dengan senyum ramah khas seorang cs.
"Langit ada?" tanyanya sambil mengamati Nara, meneliti dari atas hingga atas perutnya karena kakinya terhalang meja.
Tatapannya membuat Nara kurang nyaman, apakah ada yang salah dengan pakaiannya
hari ini?
"Dengan siapa Nona? Dan keperluan apa?" Tetap menjaga kesopanan walau rasa kurang nyaman itu timbul apalagi setelah menunggu
beberapa saat belum juga ada jawaban dari perempuan anggun itu.
"Pacar Langit," jawabnya singkat pada
akhirnya. "Ketemu pacar saya harus ada keperluan juga? Sekalian aja tanya
udah ada appointment atau belum?"
__ADS_1
" ....." Nara terdiam memandangi perempuan
itu sambil memikirkan jawaban. Entah kenapa, suara judes perempuan itu seperti
membekukan otak encer Nara.
"Gue, Pacar langit, keperluan gue kesini mau
ketemu Langit, mau peluk Langit dan nyium Langit, harus sedetil itu?" ujarnya
pongah dengan tangan terlipat di dadaa. Dimana perginya 'jaim' perempuan ini? Haruskah
menyebutkan aktifitas yang akan dilakukannya. Huuuh, zaman emang udah makin edan.
"......."
"Langit ada kan?" ulangnya lagi tak
sabaran karena Nara belum memberi jawaban malah bengong melihat perempuan itu.
Inhale exhale, akhirnya dia kembali ke akal
sehatnya.
"Ada Nona, sebentar saya infokan pak Langit, ya,
silahkan duduk dan tunggu Nona!" Selayaknya sekretaris yang sudah tahunan
bekerja, Nara menjalankan tugas sesuai SOP.
Nara bergegas ke ruangan Langit, beberapa detik
kemudian dia keluar dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Silahkan Nona!" ujarnya sopan sambil
berdecak beberapa kali.
Beberapa detik kemudian Andy yang awalnya berada di
ruangan Langit keluar dengan wajah datar
dan kalemnya.
"Dewi yang lain, Mas?" tanya Nara sambil tersenyum dan kemudian
mengalihkan pandangan kearah pintu ruangan bosnya.
"Maybe," jawabnya acuh "Aku pulang
ya, Nar, ntar kalo dengar suara aneh-aneh pasang headset aja!" lanjutnya sambil terkekeh,
kekehan yang jarang di tunjukkan selama bekerja dengan Nara.
"I see," jawab Nara yang sudah tau arah
pembicaraan Andy.
Nara memang sudah mendengar bahwa bossnya yang sudah
setahun lebih ini menjabat adalah pria flamboyan yang sering gonta-ganti
pasangan.
*****
Nara melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan apa
yang terjadi di dalam ruangan itu. Dan benar saja, ada suara aneh yang sampai
__ADS_1
terdengar keluar yang selama ini tidak pernah terdengar, seperti suara gelas terjatuh dan
pecah atau benda-benda lainnya yang berakhir di lantai. Nara membiarkannya
saja selama tidak ada teriakan minta
tolong dari dalam.
Traakk, suara pintu tertutup.
Nara menolehkan kepala ke belakang dan mendapati sepasang kekasih yang tampilannya sudah acak-acakan.
Astaga apa dua orang ini tidak tau tempat? batinnya.
"Nar, aku mau keluar dulu, tidak ada meeting
lagi, kan?" Langit bertanya santai dan sebelah tangan di saku dan satunya
lagi menggandeng tangan kekasihnya.
'Boss urakanku yang ternyata ganteng, tolong lain
kali sebelum keluar ruangan itu resleting di cek dulu' batin Nara. Berharap
matanya yang suci seperti embun pagi tidak tergoda dengan pandangan di bawah perut
bosnya.
Bossnya yang tadi siang masih rapi, kini satu sisi
kemejanya keluar dan kancing - kancing kemeja bawahnya tidak terkancing. Dan,
omegat resleting pak Boss!
"Clear, Pak" jawab Nara, kemudian dia
berujar pelan "Make yourself tidy
pak boss, you look messy!" kata Nara dan pura-pura sibuk di komputernya.
Langit yang mendengar itu langsung memeriksa diri dan ...
"Oooh shiit!" makinya pada diri sendiri
dan merapikan tampilan, gadis di sampingnya juga sibuk merapikan diri sambil
menggulingkan bola mata seraya mencebikkan bibirnya. Menatap Nara yang
tampilannya sangat kuno. Lihat rok hitam selutut dan blezer hitam yang
sepertinya sudah tua. Rambutnya digelung seperti ibu-ibu.
"Nar, dia Sisca, next time, kalo dia datang,
langsung okein aja masuk ruangan aku, ya!" ujar Langit setelah membalikkan
badan, sudah terlihat rapi dan kemudian menggandeng tangan perempuan bernama
Sisca itu berjalan meninggalkan Nara.
Gadis yang katanya bernama Sisca itu berlalu begitu
saja dan Nara tidak mempermasalahkannya. Dia sudah bekerja di bagian ini untuk
beberapa tahun dan dia sudah sering menghadapi orang-orang jutek menyebalkan seperti ini.
"Baik," jawabnya datar walaupun mungkin
sudah tidak didengar lagi oleh sejoli yang sepertinya sedang terburu-buru itu.
__ADS_1