
Delia berjalan cepat ke arah Nathan kembali.
Dan dengan sedikit usaha yang jelas tidak mengganggu tidur Nathan dia berhasil melihat siapa yang ada di bingkai itu.
"Kalian?" Delia tersenyum getir. Duduk di lantai dengan perasaan tak karuan.
"Jadi, kalian adalah pasangan?" tanyanya pada Nathan yang tertidur. Kepalanya terangkat dan menatap bingkai besar yang di gantung di dinding sejajar dengan pintu. Itu adalah foto Nara dan Nathan ketika mereka berlibur. Nara berada di punggung Nathan yang menggendongnya dan sedang merentangkan tangan sambil menatap ke kamera. Keduanya tersenyum lebar dan di belakangnya nampak jelas bangunan-bangunan putih dari batu. Apa itu di Yunani?
"Sejak kapan kalian berhubungan?" Delia bertanya pada dua orang yang ada di bingkai foto.
"Apa ini yang membuatmu uring-uringan, Jo? Apa karena kekasihmu mengetahui status kita?"
Delia yang duduk di lantai mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Dia berdiri karena melihat ada tiga bingkai kecil di meja kerja Nathan. Delia berjalan dan melihat semua itu.
Ada foto keluarga Nathan. Ada foto Nathan sewaktu kecil bersama seorang ibu dan juga foto Nara dan Nathan.
"Paris," gumamnya melihat poto itu.
"Bahkan kamu sudah melamarnya?" Dengan mata berkaca-kaca dia mengangkat poto itu dan melihat lebih dekat.
Ada cincin melingkar di jari Nara dan tangannya di angkat ke arah kamera. Senyum keduanya sangat cerah.
Delia meletakkan bingkai itu dan berjalan keluar dari kamar itu. Tujuan awalnya ke bawah ambil air minum kini terlupakan. Delia masuk ke kamarnya lalu mencoba menerka-nerka semua kejadian ini.
Nathan uring-uringan, mungkin kah karena Nara memutuskannya setelah malam itu? Nara juga berubah jadi lebih murung. Ya, pasti karena masalah ini, batin Delia.
*****
Nara berdiri di depan mejanya menyambut bosnya. Wajahnya masam dan menunjukkan permusuhan. Tatapannya tajam.
"Pagi Nar, kaku benar tu muka," sapa Langit
mencoba terlihat santai walau sudah mewaspadai tatapan Nara. Dalam hati dia berdoa semoga bawahannya itu lupa dengan kejadian tadi malam.
"Pagi, pak bos Langit," suaranya terdengar jengkel, kemudian dia langsung membacakan agenda hari itu.
"Santai Nar, nanti di ruangan aja seperti
biasa," jawab Nathan mengenai jadwal hari ini. Biasanya Nara akan mengikuti Langit ke ruangan lalu membacakan agenda harian Langit setelah dia duduk dengan tenang.
"Itu muka kamu kenapa sih, Nar? Rileks-in dikit, kayak orang kurang org*sme aja kamu," lanjut Langit lagi tanpa perasaan. Dan tetap bersandar di meja Nara sambil memainkan ponselnya.
Muka Nara yang kesal semakin memerah karena marah, seingatnya sudah ada dua orang yang mengatainya kurang org*sme. Emang orang yang sering org*sme gimana? Cerah kayak matahari pagi? Lentur dan kenyal kayak pantat bayi?
"Itu muka bapak udah kering, kerutan juga,
Bapak kayaknya kebanyakan org*sme, deh" sahut Nara tak mau kalah. Dan yang disindir malah tertawa terbahak-bahak.
"Nar, yang semalam mau di kenalin ama kamu, dia minta kontakmu, boleh?" Sopan sekali hari ini pake minta izin segala.
"Gak boleh! " jawab Nara cepat.
__ADS_1
"Ntar dia kayak bapak, minta di org*sme-in
terus, ogah, " lanjut Nara sambil bergidik ngeri.
Yang di sindir malah santai dan tertawa,
"Enak tau, Nar, coba deh sekali-kali,"
jawab Langit enteng tak tau malu. Kemudian berjalan ke ruangannya. Pintu belum di
tutup Langit berbalik lagi.
"Nar, nomor kamu udah keburu aku share, sorry!" lanjutnya seraya menutup pintu.
******
Siang hari Sisca datang dan kali ini matanya benar-benar mengarah terus ke Nara. Benarkan poto yang di lihat kemarin adalah Nara? Dia mengamati jari gadis itu. Tidak ada
cincin di jari manisnya. Tapi dia yakin yang di poto itu adalah Nara. Sisca masuk ke ruangan Langit dan langsung bertanya
"Kamu yakin Nara gak punya pacar, Beb," to the point tapi tak lupa memberi kecupan di bibir Langit.
"Kamu katanya gak kesini hari ini, tapi kok
datang?" Langit membalas kecupan itu saat menyambut kedatangan kekasihnya.
"Beb, kayaknya ide ngenalin Nara ke teman kamu di batalin aja, deh!" Delia yang biasa di panggil Sisca oleh Langit menyinggung soal niat mereka yang mencomblangi Nara dengan Basten.
Delia berpikir, apakah dia harus menceritakan temuannya tadi malam?
"Kamu ingat nggak sejak kapan Nara berubah jadi lebih pendiam?"
"Ada apa, sih? Langsung ngomong aja, Bebi!" Langit sungguh tak ingin berteka-teki saat ini. Kalau ditanya sejak kapan Nara berubah, udah jelas sejak dia memergoki Langit sedang nana nina dengan Sisca.
"Kamu ingat sua-eh Jonathan, kan?"
Panggilan suami di ralat sebelum terjadi perang.
"Jelas lah, kan rekan kerja sama. Kenapa lagi dengan suami kamu itu? Bukannya kata kamu, kamu udah bilang sama dia kamu punya pacar?" Langit memberondong Sisca dengan beberapa pertanyaan.
Sejak mengenal Sisca dan ternyata mereka cocok. Sebelum mereka memutuskan untuk berhubungan, Sisca menjelaskan siapa dia dan tentu saja Langit terkejut apalagi setelah tau bahwa suami wanita itu adalah rekan kerjanya. Tapi karena sudah cinta dan nyaman, menjadi orang ketiga pun dia rela asalkan cinta Sisca ada padanya. Dan benar saja, belum setahun pun mereka berhubungan tapi mereka benar-benar merasa cocok.
Karena itulah dia pernah berkata pada Nara, bahwa sekali lagi dia akan memberontak orang tuanya. Karena apa? Karena pacarnya bukan gadis biasa tetapi istri orang.
Saat orang tuanya menyinggung secara tersirat mengenai pacarnya dan agar memikirkan nama baik masing-masing ke depannya. Saat itu lah Langit bicara pada Sisca untuk jujur pada Jonathan. Tujuannya agar status Sisca jelas.
"Aku udah bilang tapi nggak bilang siapa. Dia janji akan segera menyelesaikan hubungan kami. Sabar yah, Beb." Sisca tersenyum meyakinkan kekasihnya.
Selama ini, walau dia serius dengan Langit, tapi jika ada kesempatan bersama Jonathan sudah pasti dia akan bersama Jonathan. Tapi sejak tadi malam, setelah melihat fakta siapa cinta Jonathan dan bagaimana keadaan Jonathan yang sangat down karena mungkin berpisah dengan Nara, Sisca sudah bertekad untuk mundur dan berjuang dengan Langit.
Dia memilih bersama orang yang pasti saja dari pada menunggu Jonathan yang tidak pernah ada kepastian.
__ADS_1
Langit mengangguk menanggapi Sisca.
"Minta surat resminya nanti ya, Beb," usul Langit.
"Pasti. Tapi yang mau aku bilang sama kamu mengenai Jonathan, bukan soal perpisahan kami. Tapi..."
Langit mengangkat alis menunggu kelanjutan 'tapi' dari kalimat Sisca yang menggantung.
"Jonathan pacaran sama Sekretaris kamu, Beb," ucapnya pelan dan sangat jelas. Pena di tangan Langit terjatuh, tentu dia
terkejut. Dua tahun lebih menjadi bosnya
dan ada kerja sama dengan Jonathan, keduanya bahkan tak pernah menunjukkan
keakraban selain karena partner.
"Kamu bilang apa barusan?" Langit menatap Sisca dengan mata melotot.
"Jonathan dan Nara berpacaran bahkan sudah tunangan, kayaknya ---"
Plak
Kalimat Sisca terpotong karena Langit memukul meja kerjanya.
"Tau dari mana, Beb? Gak mungkinlah, mereka itu hanya rekan kerja sama. Nggak ada tanda-tanda mereka sedang pacaran." Langit benar-benar menyangkal info terbaru ini.
"Penasaran, kan?" tanya Delia seraya tersenyum pada Langit. "Tapi itulah faktanya, Beb!" lanjutnya.
"Akhir-akhir ini Jonathan mabok dan tadi malam aku lihat pintu kamarnya terbuka, jadi aku ngintip dan keterusan masuk kamarnya. Disana ada foto-foto mereka berdua, bahkan ada poto pas Nara di lamar di Paris," ucapnya sedikit kesal yang di sembunyikan. Sedikit kesal karena bahkan sampe dua tahun pernikahan, Jonathan tak pernah membawanya ke toko perhiasan, tak pernah
mengajak liburan kemana pun.
"Aku harus tanya Nara," Langit berdiri dan hendak melangkah dan di halangi oleh Sisca.
"Jangan dong, Beb" larang Sisca sambil menarik tangan Langit.
"Kayaknya mereka udah putus, makanya Jonathan mabok-mabokan, dan aku kayaknya tau penyebabnya."
"...!!!" Langit mengangkat alis
"Kemungkinan Jonathan berbohong soal statusnya dan terbongkar pas ulang tahun nenek waktu itu, disana ada Nara juga," ucapnya mengingat-ingat kemudian berseru riang.
"Iya bener, bener, pasti ketahuan disitu,
waktu itu dia nyanyi, lagunya lagu sedih dan aku ingat Jonathan berubah sejak malam itu."
"Nara nyanyi?" Langit meragukan pendengaran
"Hm, bagus suaranya, bisa main piano lagi," jawabnya seolah lupa dengan issue yang dibahas tadi.
"Kamu benar-benar banyak kejutan, Ynara."
__ADS_1