KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-

KALI KEDUA -CINTA DALAM KASTA-
27. TRAVELING BERDUA


__ADS_3

Selama sepuluh hari ini Nara dan Nathan akan memanfaatkan waktu berdua. Mereka berencana akan berkeliling Eropa sebisanya.  Dengan modal tidak pernah mengambil cuti tahunan, Nara di bebaskan dari tugas selama sepuluh hari ini.


Satu bulan lalu.


"Kamu mau kemana?" tanya Langit saat menandatangani berkas yang di angsurkan Nara.


"Pulang kampung, Pak, ada acara," jawabnya berbohong sambil melirik gadis yang saat ini duduk sambil bermain ponsel di sofa ruangan Langit.


"Harus bangat yah mendadak begini?" Menggerutu seeakan tidak rela jika gadis itu bebas tugas.  Itu artinya, dia yang akan bekerja keras di dampingi Andy yang cerewetnya seperti ayahnya -Anwar-


"Sekali-kali, Pak. Lagian masa saya mau di romusa terus, bonus gak di naikin," jawabnya tak segan-segan pun mimik wajahnya yang dibuat sedramatis mungkin.


"Bonus apa gak di naikin, aku tau bonus kamu melebihi bonus saya, Ynara." Langit bersungut-sungut pada hal yang sebenarnya terjadi. Mata melotot ke arah Ynara saat dia mendongak sejenak karena harus merespon penyangkalan Ynara.


"Bapak suka aneh, gimana bisa anak buah punya bonus gedean dari boss?" Tak ingin mengakui besaran bonus yang diberikan pak Anwar.


"Saya ini memang bossmu, tapi itu di atas kertas aja, di lapangan kamu sama Andy bossnya, Emangnya kamu pikir saya nggak tau," sungut Langit lagi sambil menandatangi dokumen yang entah kenapa bisa sebanyak ini. Tangannya serasa kebas sedari tadi mencorat-coretkan tandatangan.


"Terima nasib ajalah kalo gitu, Pak," jawab Nara lagi tak segan-segan dan makin kurang ajar dan wajahnya juga di buat tanpa ekspresi, tangannya aktif mengambil lembar demi lembar kertas yang sudah ditandatangani.


"Bonusnya dikit, tapi di luar kantor kan mengalir bagai air terjun, Pak,"ujar Nara lagi sambil mengambil dokumen


yang sudah selesai di tandatangan. Dia merapikan dokumen itu di atas meja Langit dan mengetukkannya ke meja guna meratakan sisinya.


"Nah, sekarang yang ini, tolong tanda tangan  surat cuti saya, Pak, mau saya kirim ke HRD!"  Nara mengangsurkan


secarik kertas kehadapan Langit.


Sambil bersungut-sungut, Langit menandatangai surat cuti Nara. Dan disinilah Nara sekarang, di negeri terakhir sebelum kembali, berdiri dibalkon hotel yang mengarah langsung ke Menara Eiffel.  Salah satu keajaiban dunia yang pernah di pelajarinya saat masih sekolah. Nara tidak menyangka akan berada di depan menara ini seperti sekarang.


"Ini seperti mimpi. Tiga keajaiban dunia sudah aku lihat langsung hanya dalam beberapa hari. Uang memang berkuasa atas segalanya. Huh... " Nara berbicara sendiri sambil menyandarkan tubuh bagian depannya di pembatas balkon. Angin malam menerpa tubuhnya dan terasa dingin menusuk hingga ke tulang.

__ADS_1


Sebenarnya sih dia pengen teriak kencang dari atas balkon, tapi takut di cap kampungan sama penghuni yang lain maupun yang mendengarnya. Atau bisa saja di laporkan karena sudah membuat kegaduhan, kan?


"Bu, doakan Nara punya uang banyak, biar nanti kita bisa kesini sama-sama," ucapnya sambil merentangkan tangan seperti ingin meraih menara itu dengan kelima jarinya. Detik kemudian, dia megulurkan kedua tangannya  seolah-olah membingkai menara itu. Matanya menyipit seperti sedang membidik target.


Saat dirinya asik melamun dan mengucapkan beberapa harapan. Tiba-tiba, tubuhnya menghangat kala sepasang tangan mengalung di perutnya. Tak perlu kaget itu siapa, karena dia sudah tahu. Nara memiringkan kepala menyambut kedatangan pria itu dengan seyum tipis dibibirnya.


"Kenapa bangun?" tanyanya kemudian pada pria yang kini menyandarkan kepala di bahunya. Tangan kanannya bergerak membelai kepala pria itu. Mengusap rambutnya pelan dan kemudian memijit kulit kepalanya dengan lima jari kanannya.


"Kamu nggak ada, kerasa dingin," jawab Nathan sambil mengeratkan pelukannya. Sesekali hidungnya seperti mengisap bau tubuh Nara.


"Selama ini juga tidur sendiri gak papa kayaknya, nggak tiba-tiba gedor pintu aku pas tengah malem begini karena merasa dingin," balas Nara dengan satu tangan masih di kepala pria itu, satu lagi menyentuh tangan Nathan yang ada di perutnya.


"Pengen sih gedor pintu kamu kalo malam, tapi takut besoknya langsung di cuekin kamu sampe semingguan," jawab Nathan  teringat saat dia pulang dari club mampir kerumah Nara di tengah malam. Sumpah! jika bukan karena Rindu, Nathan pasti akan tertidur di teras karena di usir Nara.


Nara hanya mendengus saja mendengar keluhan Nathan, jika di ladeni akan banyak kalimat-kalimat yang menyindir Nara keluar dari mulut Nathan.


Selama liburan ini, mereka memang tinggal dalam kamar yang sama. Berbeda dengan waktu lalu, dimana Nara sangat ketakutan saat pertama kali menginap bersama Nathan. Kali ini, karena dia sudah percaya, dia


tidak protes. Bahkan ketika tidur, tidak ada guling pembatas lagi di antara mereka.


Mereka menikmati keheningan dan mempertahankan posisi seperti semula, - Back hug -


"Marry me, Nar!" Di tengah keheningan, Nathan mengungkapkan keinginannya.


Persetan dengan apa yang tengah di hadapinya, gadis di pelukannya ini yang di inginkannya saat ini dan nanti.


"Hmm?" jawab Nara gak yakin, Apa dia salah dengar?


"Marry me!" ulang Nathan seraya memutar tubuh Nara untuk menghadap ke arahnya.


"With all my heart, I ask you Ynara Ramsey to be wife!" ulang Nathan sungguh-sungguh sambil menggenggam kedua tangan Nara. Yang ada di pikirannya adalah jika Nara mengatakan Yes, dia akan langsung menikahi gadis itu besok di negara ini. Urusan restu dan orang tua itu bisa belakangan.

__ADS_1


"Kamu kayaknya  mabok, deh!" jawab Nara seraya bersiap membalikkan badan keposisi semula dan itu mengecewakan Nathan, karena dia tahu gadis ini tengah menolak lamarannya.


Walau sudah memprediksi akan di tolak, tapi dia tidak menyangka respon Nara akan seperti itu. Nathan membayangkan Nara mengatakan Yes, walau menolak keinginan Nathan menikah besok harinya. Setidaknya, ada jawaban Yes yang bisa Nathan pegang.


Sementara itu, sambil memandang menara yang sudah mulai mengabur, Nara berusaha menahan sesak di dadanya dan mengedipkan matanya agar tidak berair. Bukan dia tidak mencintai Nathan, tapi, rasanya di lamar


sekarang sungguh tidak masuk akal.


Nara bukan gadis yang asal menerima ajakan seperti itu, dan Nathan tau itu. Nara gadis yang menghormati orang tua dan tidak akan pernah melangkah tanpa restu orang tua. Nara tidak khawatir dengan orang tuanya, tapi apa itu bisa di dapatkan Nathan dari orang tuanya?


"Aku serius Ynara, menikahlah denganku!" ulangnya sekali lagi dan memutar tubuh itu kembali agar saling berhadapan. Dia menatap mata Nara dan dengan tulus mengulang sekali lagi permintaannya. Nara terdiam, dia bukannya tidak mau menjawab, tapi masih banyak hal yang belum jelas diantara mereka terutama masalah orang tua.


"Kamu cinta aku kan, Nar? Tolong jawab aku!" Nathan menahan lengan Ynara yang hendak berputar kembali.


"Aku cinta sama kamu, aku mau menikah dengan kamu tapi tidak sekarang atau dalam waktu dekat," tolak Nara halus.


Nathan menunduk setelah mendengar jawaban itu. Seperti prediksinya.


"Aku punya aturan sendiri untuk diriku sendiri, tidak ada pernikahan tanpa restu orang tua, karena  aku bukan hanya menikah denganmu tapi dengan keluargamu," lanjut Nara.


"Memang, sudah setahun bahkan sudah lebih kita bersama. Aku tahu kamu serius menjalani hubungan ini denganku. Aku juga begitu. Tapi, masih banyak hal yang kurang dalam hubungan kita Nathan. Saling mencintai


saja tidak akan pernah cukup," ujar Nara lagi dan Nathan tetap terdiam.


"Aku akan sangat dengan yakin menjawab pertanyaanmu jika memang keluargamu memberi restu kepada kita, kamu tidak perlu memikirkan restu orang tua ku karena itu bukan hal sulit untuk di dapatkan, disini yang sulit adalah orang tuamu, karena apa? Karena banyak alasan, banyak hal-hal yang tidak pernah terpikirkan akan muncul saat kamu memintanya pada orang tuamu, terutama karena aku tidak selevel dengan kamu, keluargaku tidak selevel dengan keluargamu, karena aku tidak berasal dari bibit bebet bobot seperti kamu berasal, karena aku ..." Nara tidak sanggup melanjutkan keluhannya, dia menunduk dan air mata menetes dari matanya. Luka lama itu ternyata masih ada, Nara hanya melupakannya sejenak tapi tidak menghapusnya dari ingatan.


"Ak- aku punya pengalaman seperti ini sebelumnya, Tak kusangka akan datang kembali untuk kali kedua." Nara


terkekeh dengan  datar, menertawakan dirinya yang terbuai cinta Nathan sehingga lupa pada masa lalunya. Cinta yang besar dan tulus dari Nathan membuatnya lupa bahwa ada perbedaan kasta di antara mereka.


Nathan yang mendengar semua apa yang di ungkapkan oleh Nara tersadar bahwa semunya benar. Dia mengesampingkan semua itu karena rasa cintanya yang besar. Karena rasa nyaman yang diberikan gadis itu. Dia

__ADS_1


berpikir, bahwa cinta saja cukup.


Nathan membawa Nara kepelukannya dan membisikkan kata-kata cinta dan maaf untuk menenangkan gadis yang berurai air mata tanpa suara itu.


__ADS_2